
Sudah sangat larut malam ketika Cessa kembali ke mansion. Karena tidak mau membuat Chris terus menunggunya di butik, ia dengan sangat terpaksa membujuk pria itu untuk pulang dengan dia sendiri juga harus ikut.
Sekarang, Cessa berada di mansion dan dia merasakan perasaannya semakin tidak enak. Ia berusaha menepis hal itu karena mengira dia kecapekan, namun tetap saja dia tidak tahu kenapa, dia merasa akan terjadi sesuatu malam ini.
Wanita itu sudah sampai di depan pintu kamarnya dan Grim ketika dia mendengar suara desahan dan racauan Grim ... dan suara wanita lain. Tangan Cessa langsung memegang kenop pintu dan membukanya. Pemandangan yang ada di depannya benar-benar tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Grim berada di atas tempat tidur, bersama seorang wanita berambut pirang yang kini berada di bawah pria itu, telanjang tanpa sehelai pakaian pun.
Kedua orang yang sedang bercinta itu kaget karena pintu terbuka dan Cessa berdiri di sana. Grim segera menyingkir dari wanita di bawahnya dan menghampiri Cessa saat wanita mungil itu menepis tangannya.
"Jangan menyentuhku!"
Cessa terkejut dengan suaranya yang terdengar cukup keras padahal sedetik yang lalu otaknya terasa kosong melihat pemandangan menakjubkan di depannya. Matanya menatap Grim dan wanita pirang itu bergantian, kemudian meringis dalam hati.
Inikah alasan sikap Grim padanya berubah? Karena wanita pirang itu?
"Princess," suara Grim membuat Cessa memusatkan perhatiannya kembali pada pria itu.
"Aku akan tidur di kamar tamu. Lanjutkan saja kegiatan kalian." kata Cessa cepat dan segera berbalik menuju kamar tamu yang berada di lantai pertama. Kejutan lain bahwa dia merasa tenang menanggapi hal mengejutkan seperti ini.
Tapi, saat ini otak Cessa masih terasa kosong. Dia dengan cepat berjalan menuju kamar tamu dan mengunci pintunya sebelum kemudian duduk di tepi ranjang, mendengarkan suara Grim yang mengetuk pintu.
"Princess, kita harus bicara," ujar Grim di balik pintu.
Wanita itu hanya menatap pintu kamar dengan tatapan menerawang, dan tanpa menjawab panggilan Grim, dia mengambil sebuah vas bunga kecil di dekatnya dan melemparkannya kearah pintu.
"Jangan coba-coba membuka pintu atau aku akan melemparmu dengan sesuatu," kata Cessa setengah mengancam, "Pergi. Besok saja kita bicara."
"Princess,"
"Pergi, Grim. Pergi!"
Tidak ada sahutan lagi dari balik pintu dan Cessa yakin Grim sudah menyerah untuk membujuknya. Ia menghembuskan nafas dan menanggalkan mantel yang ia kenakan dan juga meletakkan tasnya di atas meja di dekat tempat tidur. Otaknya kemudian mulai bekerja lebih baik dan mencerna apa yang baru saja dia lihat dan apa yang terjadi tadi.
Dan mengingat semuanya, airmata tanpa sadar jatuh dari sudut matanya.
***
Pagi harinya Cessa berjalan keluar dari kamar tamu dan berjalan menuju kamarnya dan Grim. Dilihatnya para pelayan sedang membersihkan tempat itu, ketika melihat Cessa mereka membungkukkan badan dan kembali bekerja. Wanita itu sendiri tidak ambil pusing dan membuka lemari pakaian, menyambar semua pakaiannya dan menyuruh seorang pelayan mengisi lemari pakaian di ruang tamu dengan miliknya. Dia juga menyuruh pelayan lain yang sudah menyelesaikan pekerjaannya untuk membawa semua barangnya yang berada di kamar itu untuk dibawa ke kamar tamu.
Entah kenapa Cessa perlu melakukannya, sejak kemarin malam yang ia tahu hanya menjauhkan semua barang-barangnya dari kamar ini dari jangkauan Grim.
"Apa yang kau lakukan?"
Cessa menoleh dan melihat Grim berdiri di depan pintu dengan kening berkerut menatap para pelayan yang membawa barang-barang wanita itu dan menuju kamar tamu yang ditempati Cessa kemarin malam.
"Membereskan barang-barangku." jawab Cessa datar.
__ADS_1
"Kau masih marah?" tanya pria itu lagi.
Cessa hanya diam walau dalam hati dia mencaci Grim. Tapi dia tidak mengatakannya. Ekspresi datarnya membuat Grim tidak bisa membaca apa yang dipikirkan wanita itu. Ketika pelayan selesai membereskan barang-barangnya dari kamar tersebut dan pergi, ia berbalik menghadap Grim dan hendak mengatakan sesuatu saat suara manja datang dari belakang punggung pria itu.
"Sayang, bukankah kau harus ke perusahaan hari ini?"
Mata Cessa langsung bertatapan dengan mata biru wanita pirang yang kemarin bercinta dengan suaminya. Rambut wanita pirang itu digelung ke belakang dan memperlihatkan leher jenjangnya yang menggoda. Gaun satin berwarna biru yang senada dengan warna matanya sangat indah.
Apa gaun itu pemberian Grim? Cessa bertanya-tanya dalam hati, tapi dia memaki diri sendiri untuk tidak memikirkannya.
Grim melihat kearah wanita itu, kemudian tersenyum lembut. Kali ini Cessa benar-benar tertegun. Senyum lembut itu ... senyum lembut yang sama seperti yang selalu diperlihatkan pria itu padanya.
Apa ini? Apa artinya ini?
"Pergilah ke ruang makan lebih dulu. Aku ingin bicara dengan Princess," jawab Grim.
"Oh," wanita pirang itu menatap Cessa sebentar, "Baiklah. Kalau kau sudah selesai, segeralah ke ruang makan dan kita bisa sarapan."
"Tentu," Grim mencium pipi wanita itu dan membuat Cessa merasa hatinya ditinju dengan keras.
Setelah wanita pirang itu pergi, Grim kembali menatap Cessa yang masih memasang ekspresi datar. Tapi dia bisa melihat sinar mata Cessa yang berbeda.
"Itu tadi Latiava. Latiava Evander," kata Grim, "Dia ... istriku juga."
Pernyataan itu membuat Cessa menatap tajam pada pria itu, "Apa?"
Tentu saja dia keberatan. Tapi dia hanya menatap Grim dengan tatapan setajam pisau dan menghitung satu sampai tiga sebelum kemudian kembali berbicara, "Sejak kapan kalian berhubungan dan menikah tanpa sepengetahuanku?"
"Setahun yang lalu."
Cessa memejamkan matanya, menahan amarah yang sudah mulai menyembur keluar dari bibirnya, "Kau berhubungan dengannya tanpa sepengetahuanku, membawanya kemari, dan berkata dengan mudahnya bahwa kalian sudah menikah? Lelucon apa ini? Kau bilang aku satu-satunya bagimu, Grim."
"Aku hanya sedikit bosan padamu, Princess. Jujur saja, kau terlalu penurut." ujar pria itu, "Dan aku mulai bosan dengan sikapmu itu."
"Hanya karena aku penurut kau berselingkuh di belakangku? Hebat, Grim. Hebat sekali." Cessa tertawa dingin, "Kau sadar apa yang sudah kau lakukan?"
"Sangat sadar," Grim mengedikkan bahu.
Kali ini Cessa tidak bisa menahan amarahnya. Wanita itu mengangkat tangannya dan menampar wajah Grim. Bunyi tamparan itu cukup keras dan jejak tamparan di pipi pria itu begut jelas. Nafas Cessa memburu karena marah, "Kau bajingan, Grim. Kau pikir kau bisa bertindak sesukamu seperti ini sementara aku sudah menjadi istrimu?!"
Grim mengusap pipinya yang terasa panas. Tamparan wanita itu cukup keras, nyaris membuat sudut bibirnya robek. Entah dari mana tenaga wanita mungil itu berasal, tetapi Grim harus mengakui, tenaga Cessa cukup besar untuk ukuran wanita mungil sepertinya.
Memikirkan hal ini membuat Grim tersenyum sinis dan menatap istrinya, "Kau berani menamparku?"
"Aku melakukannya untuk melampiaskan amarahku," geram Cessa, "Kalau kau ingin bersama Latiava, aku tidak punya alasan lain untuk tinggal di mansion ini. Nanti siang aku akan mengepak semua barangku dan kembali ke apartemenku."
Cessa masih ingat apartemennya yang diurus oleh Chris setelah dia menikah. Karena apartemen itu adalah tempat tinggal yang ia beli dengan uang hasil kerja kerasnya sendiri dan memiliki kesan yang sangat mendalam, ia tidak berniat menjualnya pada orang lain dan meminta Chris mengurusnya. Jadi ketika sewaktu-waktu ia bosan dengan suasana mansion dia bisa pergi ke apartemen dan bersantai di sana sambil memikirkan ide-ide untuk rancangan pakaiannya berikutnya.
__ADS_1
Tapi siapa sangka dia akan dikhianati seperti ini?
Mendengar ucapan Cessa, raut wajah Grim langsung berubah, "Kau tidak bisa pergi." desisnya.
"Atas dasar apa kau melarangku?" balas Cessa datar, "Walau kita suami-istri sekalipun, tapi kau lupa satu hal, aku bukan wanita yang akan menurut ketika suaminya berselingkuh dengan wanita lain. Karena itu aku akan pergi secepatnya dari mansion ini."
Wanita itu melangkah hendak melewati Grim ketika pria itu mencekal lengannya dan menariknya masuk kembali ke dalam kamar. Tangannya segera mengunci pintu kamar dan membuat Cessa menatapnya waspada.
"Mau apa kau, Grim? Kenapa kau mengunci pintunya?"
Grim tidak menjawab pertanyaan Cessa dan mendekati wanita itu. Secara refleks Cessa melangkah mundur. Raut wajah dan aura Grim tampak berbahaya. Instingnya mengatakan pria itu marah besar padanya. Tapi, Grim duluan yang membuatnya marah. Jadi sebenarnya siapa yang salah di sini dan harus dipersalahkan?
"Menjauh dariku, atau aku tidak akan segan-segan menamparmu lagi." ancam Cessa.
"Kau ingin menamparku lagi?" Grim tersenyum dengan sebelah bibir, "Princess, kau benar-benar liar saat ini."
Cessa menggertakkan giginya. Benci dengan nada bercanda Grim yang tampak tidak peduli dengan apa yang dia rasakan sekarang.
Kemudian dia mendengar suara jeritan dan saat matanya melihat wajah Grim begitu dekat dengan wajahnya, baru Cessa sadari suara jeritan tadi adalah suaranya sendiri dan kini dia sedang berada dalam pelukan Grim. Sebelah tangan pria itu memeluk pinggangnya dengan sangat erat.
"Lepaskan aku! Lepas!"
Cessa mengangkat tangannya hendak mendorong Grim menjauh tapi pria itu dengan sigap menahan tangannya dengan sebelah tangannya yang bebas, "Princess, tolong jangan tampar aku. Tamparanmu cukup menyakitkan, kau tahu?"
"Persetan denganmu!" umpat Cessa, "Lepaskan aku, bajingan. Atau aku akan berteriak!"
"Kau mau berteriak minta tolong? Percuma saja, Princess. Kau tidak lupa kalau ini adalah mansionku, 'kan?"
Ucapan itu membuat Cessa terdiam. Tapi raut wajahnya tetap tak berubah. Wanita itu terus berusaha melepaskan diri dari Grim dan membuat pria itu kesal. Dengan kasar dia membanting tubuh Cessa ke tempat tidur dan menahan wanita mungil itu di bawahnya.
"Berhentilah menyakiti dirimu sendiri, Princess. Kau tahu, boneka mungil sepertimu terlalu rapuh dan bisa saja terluka setiap saat." ujar Grim.
"Kau bajingan! Lepaskan aku dan biarkan aku pergi!"
"Jika kukatakan aku tidak mau? Princess, jika kau berniat memberontak, aku tidak akan segan-segan membuatmu menderita." balas pria itu.
"Aku tak peduli. Kau benar-benar membuatku muak! Menjauh dariku!"
"Oh, berarti kau tidak keberatan kalau aku menyengsarakan hidup Chris dan kedua orangtua angkatmu?"
Rontaan Cessa terhenti dan matanya menatap Grim dengan terbelalak, "A-apa maksudmu?"
"Aku akan membuat hidup Chris dan kedua orangtua angkatmu menderita jika kau berusaha kabur dari sini," Grim kembali berkata dengan senyum dingin, "Kau ingin melihat mereka menderita sebagai ganti kau pergi dari sini, Princess?"
=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=
__ADS_1