
Sebulan berlalu dengan cepat. Dan hari ini adalah hari pernikahan putra kedua Verleon, Grimvon dengan wanita pilihannya, Princessa Angelia. Para tamu sudah berkumpul di salah satu ballroom hotel milik Verleon yang dikelola oleh Zerfist. Sebagian besar tamu memang berasal dari relasi dan orang-orang yang berhubungan dengan Verleon. Semua orang penasaran siapa wanita yang berhasil memikat sang putra kedua Verleon.
Sementara itu, wanita yang sedang dibicarakan sedang berada di salah satu kamar hotel. Mengenakan gaun pengantin berwarna krem, Cessa tampak menawan dan anggun. Rambutnya yang biasa dibiarkan berwarna coklat mahoni sekarang dicat dengan warna pink lembut. Sebuah tudung pengantin yang dihiasi mahkota bunga mawar putih juga menghiasi kepalanya. Mrs. Scott yang datang sebagai salah satu wali Cessa tidak bisa tidak mendesah senang melihat putrid kesayangannya akan bersanding dengan orang lain.
"Kau tampak cantik, Sayang," ujar beliau sambil menyentuh bahu Cessa yang duduk di depan meja rias, "Aku tidak menyangka kau benar-benar akan menikah, walau bukan dengan Chris tapi dengan orang yang kau cintai."
"Mmm, terima kasih, Agatha." wanita boneka itu tersenyum manis.
"Panggil aku Mom, Cessa. Kau sudah seperti putriku sendiri, jadi jangan terlalu formal padaku. Aku sudah berulang kali mengatakannya padamu." balas Agatha.
Cessa tersenyum lagi. Ia menghadap Agatha dan menangkup tangan kanan wanita itu dalam kedua tangannya, "Ini sudah kebiasaanku dan aku tidak bisa menhentikannya. Walau begitu, kau tetap kuanggap seperti ibuku sendiri, Agatha. Aku sangat senang punya ibu sepertimu."
Senyum haru tersungging di bibir wanita tua itu. Ia mengelus pipi Cessa dengan sayang, "Kau harus bahagia, apa pun yang terjadi nantinya kau harus tetap tegar. Berjanjilah padaku."
"Tentu," Cessa mengangguk.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka, menampilkan Chris dan ayahnya datang bersamaan mengenakan setelan jas berwarna krem yang sama seperti Cessa. Chris tersenyum lebar dan menghampiri wanita itu sebelum kemudian memeluknya.
"Kalau Grim memperlakukanmu dengan buruk, beritahu aku dan aku akan menghajarnya." kata Chris.
"Chris, sudahlah. Ini hari bahagia Cessa. Kenapa kau malah menakut-nakutinya seperti itu?" tegur William, kemudian mencium kedua pipi Cessa, "Kau tampak cantik. Dan aku bangga memiliki putri secantik dirimu."
Cessa kembali tersenyum manis. Kemudian mereka semua sama-sama keluar dari kamar tersebut menuju ballroom. William menaruh tangan Cessa di lengannya dan mereka berjalan masuk ketika pintu ballroom terbuka, menampilkan karpet merah yang memanjang sampai ke tempat di mana Grim berdiri menunggunya. Mata Cessa menatap pria yang sudah berhasil mencuri hatinya itu dengan perasaan haru.
Menikah. Cessa tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya sampai Grim melamarnya waktu itu.
William membawa Cessa menuju altar dan kemudian menyerahkan tangan Cessa pada Grim, "Kuserahkan dia padamu,Nak. Jaga dia baik-baik."
Grim mengangguk mantap. Dia menatap Cessa, yang wajahnya sedikit terlindungi oleh tudung pengantinnya. Pria itu tersenyum lembut kemudian mencium punggung tangan Cessa yang tertutupi sarung tangan, "Kau cantik sekali, Princess."
Cessa membalas pujian pria itu dengan senyuman. Keduanya lalu menghadap pendeta yang berdiri di hadapan mereka. Karena Grim tidak mau repot-repot menyelenggarakan pesta di dua tempat, pemberkatan pernikahan dan juga pestanya dilaksanakan di satu tempat saja. Walau Cessa yakin bukan hanya itu tujuan Grim menyelenggarakan dua acara di satu tempat, tapi dia tidak peduli. Yang pasti ini hari bahagianya dan Grim. Itu saja sudah cukup.
__ADS_1
Pemberkatan itu berjalan lancar, begitu pula pestanya. Para tamu memberikan selamat pada mereka berdua, beberapa bahkan tidak bisa mengalihkan pandangan pada Cessa, yang dikenal sebagai desainer muda berbakat yang terkenal yang jarang muncul di hadapan publik kecuali diperlukan. Bahkan sangat sedikit data pribadi mengenai sang desainer muda. Begitu melihat seperti apa rupa Princessa Angelia, semua orang berdecak kagum. Wanita itu benar-benar mirip boneka hidup.
Cessa berdiri di samping Grim dan walau kakinya sudah merasa lelah karena memakai sepatu berhak tinggi cukup lama, wanita itu tidak bisa mengeluh. Secara diam-diam dia bersandar di samping Grim dan pria itu melingkarkan lengannya di pinggang mungil wanita itu.
"Kau lelah?" bisik Grim.
"Sedikit, tapi tidak apa-apa," wanita itu tersenyum, "Aku masih kuat berdiri."
"Hmm ...," Grim mencium puncak kepala Cessa yang masih tertutupi tudung pengantin, "Sebentar lagi pestanya selesai, dan itu waktunya kita bersenang-senang berdua saja."
Pipi Cessa rasanya memanas mendengar kalimat terakhir pria itu diucapkan dengan suara serak. Dia mencubit pinggang pria itu, tidak memerdulikan ringisan pelan Grim yang terdengar di telinganya, "Kau menyebalkan. Bisa tidak, jangan membahas hal itu di tempat seperti ini?"
Pria itu hanya terkekeh dan menarik Cessa lebih dalam ke pelukannya. "Kau tahu aku sudah tidak sabar untuk memasukimu."
"Grim!" Cessa mendelik pada Grim yang dibalas pria itu dengan senyuman lebar.
Hampir tiga jam berlalu, dan pesta sudah berakhir. Grim membawa Cessa ke kamar hotel tempat wanita itu berdandan tadi dan menutup pintunya. Cessa tiba-tiba merasa gugup. Padahal dia sudah sering berhubungan intim dengan Grim. tapi kenapa pria itu sekarang tampak lebih ... mendominasi? Ini sama seperti saat Grim melamarnya sebulan lalu.
"Auramu terasa mendominasi," balas Cessa jujur, "Aku merinding memikirkan apa yang akan kau lakukan padaku."
"Bukankah kita sudah sering melakukannya?" Grim tertawa geli, "Jangan takut begitu, kau malah terlihat lucu."
"Dan sekarang kau mengejekku," Cessa memutar bola matanya, "Kau ini benar-benar ... tunggu, kenapa kau menurunkan gaunku dulu?"
Tangan Grim memang menyentuh lengan gaunnya dan menarik benda itu turun dari tubuhnya dengan satu kali tarikan. Diam-diam dia mengutuk diri sendiri kenapa harus membuat gaun pengantin seperti ini di hari pernikahannya? Ia juga menyesal kenapa mau mengikuti saran Grim ketika melihat rancangan gaun pengantinnya dan menyuruh mengganti beberapa bagian?
Cessa mengerucutkan bibirnya, "Kau menyebalkan. Tidak sabaran. Pemaksa!" umpat wanita itu sambil memukul dada Grim yang masih tertutup pakaian sementara dia sendiri nyaris telanjang bulat.
"Masa bodoh, Princess. Sekarang, waktunya kita bersenang-senang." Grim lalu menggendong Cessa dan merebahkannya di atas tempat tidur. Ia sendiri melepas jas dan dasinya, berlanjut pada kemeja dan celananya sebelum ikut bergabung dengan wanita itu di ranjang, "Apa kau memikirkan sesuatu yang nakal, Princess?"
"Entahlah. Kau pikir saja sendiri." elak Cessa dengan wajah memerah.
__ADS_1
Grim terkekeh dan mengecup leher Cessa dan membuat wanita itu menggigil, "Kalau begitu, kita akan mulai seperti pertama kali kita melakukannya."
***
Menjelang tengah malam, Cessa terbangun. Tubuhnya berkeringat dingin, padahal dia merasa tidak ada sesuatu yang membuatnya ketakutan. Tapi kenapa rasanya suhu di kamar ini sangat dingin?
Kau tidak bisa kabur ... suara itu membuat Cessa tersentak bangun dan menoleh ke sekeliling, Kau tidak bisa kabur. Kau tahu apa yang akan terjadi bila kau kabur ...
"Tidak ...," wanita itu menggeleng keras, "Jangan lagi ... kumohon jangan lagi ...."
Cessa mengulurkan tangannya dan menggapai botol obat miliknya. Membuka tutupnya dengan terburu-buru, Cessa mengeluarkan dua pil dan menenggaknya. Jantungnya berdebar keras dan kepalanya terasa pusing. Dia perlu menenangkan diri sebentar. Traumanya memilih waktu yang salah untuk bangkit, dan Cessa membenci hal ini.
"Princess?" Grim terbangun dan melihat tubuh Cessa yang menggigil, "Ada apa? Tubuhmu gemetar."
Cessa menoleh kearah Grim dan mnyembunyikan wajahnya di dada pria itu, "Traumaku ... kambuh. Aku mendengar suara-suara yang sama seperti yang biasa kudengar saat traumaku muncul."
Pria itu segera melingkarkan lengannya di bahu Cessa dan merengkuhnya. Trauma yang dimiliki wanita ini benar-benar melekat kuat. Entah penyiksaan apa yang diterima Cessa ketika itu, yang jelas, Grim sendiri belum bisa sepenuhnya memulihkan Cessa secepat yang dia harapkan.
Cessa bergelung nyaman dalam pelukan Grim dan merasakan aroma pria itu membuatnya cukup tenang, "Maaf. Karena trauma sialanku ini kau jadi terbangun."
"Tidak apa-apa, Princess. Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak keberatan kau menangis atau bahkan memukulku, asalkan kau kembali tenang."
Cessa mengangguk pelan. Perhatian Grim membuatnya tersentuh, dan diam-diam dia bersyukur Grim-lah yang berhasil menarik sebagian dirinya keluar dari trauma yang membelenggunya selama sepuluh tahun.
"Grim, kau berjanji untuk tidak meninggalkanku?" tanya wanita itu lirih, "Aku takut kalau aku kembali sendirian lagi, aku ... aku akan ...."
"Ssh ..., Princess. Sudahlah, sekarang kau kembali tidur. Aku akan memelukmu sampai pagi."
Sekali lagi Cessa mengangguk. Dia membiarkan Grim kembali memeluknya dan menjaganya sampai dia kembali tertidur. Sementara wanita itu tertidur, Grim memikirkan sesuatu mengenai trauma Cessa. Terutama pembicaraan sebelum mereka menikah. Dia harus menyelidiki keluarga tiri wanita itu untuk mendapatkan satu informasi penting yang dia rasa nyaris terlewatkan.
Menatap wanita dalam pelukannya sekali lagi, Grim memejamkan mata dan mencium kening Cessa sebelum ikut tidur bersamanya.
__ADS_1