
"Kau ... apa? Janin?"
Grim hampir tidak memercayai pendengarannya. Matanya menatap lurus Cessa yang balas menatapnya dengan ekspresi datar.
"Ya, Tuan Grimvon Verleon. Bonekamu ini baru saja mengatakan kalau dia sudah menggugurkan kandungannya yang baru berumur sebulan tadi siang," kata Cessa, "Dan tentu saja aku bercanda."
Kali ini Grim benar-benar tercengang. Cessa mengatakannya tanpa merasa bersalah sama sekali, dan raut wajahnya tetap sedatar tembok. Pria itu mengeratkan genggaman kedua tangannya dan menatap istrinya itu dengan tatapan geram, "Kau merasa ini lelucon, Princess?"
Cessa balas menatap Grim dengan raut wajah datar, hanya matanya yang bersinar marah, "Kau pikir aku tidak sedang bercanda? Jika aku benar-benar hamil, apa kau akan kembali kepadaku? Tidak, bukan?"
"Kau mungkin membandingkanku dengan Latiava, atau mungkin ..., cinta pertamamu?"
Dua kata terakhir yang diucapkan wanita mungil itu seketika membuat Grim sedikit menegang. Cessa melihat sikap tubuh suaminya yang berubah, kemudian melanjutkan, "Kau ternyata memang punya cinta pertama, dan sampai sekarang pun kau tetap memilikinya. Katakan padaku, Grim, siapa cinta pertamamu?"
"Kau tidak perlu tahu tentang itu," kata Grim cepat.
Cessa mendengus. Dia selesai menjahit sebaris renda pada pinggang gaun di hadapannya, "Kalau begitu, maka kau sudah mengkhianatiku. Mulai detik ini, aku tidak peduli kau mau menanggapinya atau tidak, aku akan pergi dari sini. Kau berani menyentuh Chris dan keluarganya, maka kau tidak akan mendapatiku berada di tempat kau melihat. Kau juga tidak akan bisa menemukanku di Negara ini lagi jika aku mau."
"Kau tidak akan berani," ujar Grim.
"Aku berani," Cessa berkata menantang, "Kau mau mencobanya?"
Grim menatap mata boneka milik Cessa dan berbalik. Pria itu membanting pintu dengan keras hingga menggetarkan beberapa barang yang digantung di dinding. Cessa sendiri hanya menatap kepergian Grim dengan ekspresi kosong. Ia kembali menatap gaun setengah jadi di hadapannya.
Setitik airmata mengalir dari sudut matanya. Ia cepat-cepat menghapus airmata itu dan menarik nafas dalam-dalam sebelum mengembuskannya.
"Kau tidak tahu, Grim," kata Cessa lirih, "Kau tidak tahu apa-apa."
---
Sebelumnya, di rumah sakit ....
Mata Cessa terbuka ketika semua orang sudah pergi dari ruangan tersebut. Ia melirik kearah pintu dan menarik nafas. Pingsan di saat dia trauma sudah biasa dia rasakan, tapi dia masih ingat kalimat yang diucapkan Latiava sebelum ia kehilangan kesadaran.
"Kalau kau terus seperti ini, kau sama saja membiarkan traumamu menang atas dirimu. Apa kau tidak merasa harga dirimu tercoreng hanya karena trauma sialan yang kau idap itu?!"
"Ternyata dia cukup perhatian juga," kata Cessa lirih, "Hanya saja cara penyampaiannya yang salah."
Wanita itu kemudian menatap langit-langit ruangan tempatnya berada sekarang. Tanpa sadar tangannya mengelus perutnya yang rata dan merenung. Dia ingat, ada sesuatu yang lain yang dia rasakan sesaat sebelum dia pingsan.
Rasa mual yang sama dengan morning sickness.
Mendadak ingatan Cessa teringat saat pertama kali ia mengandung. Kejadiannya hampir sama, dan bahkan persis seperti yang dia alami sekarang. Dia memang hampir tidak pernah tidur dengan Grim lagi selama beberapa bulan terakhir ini, tapi nyaris sebulan dia tidak mendapat haid seperti biasanya, jadi ....
"Aku ... hamil?"
Mata Cessa mengerjap menyadari satu kemungkinan tersebut.
Tidak. Dia tidak boleh hamil sekarang. Tidak saat ini. Cessa yakin, jika dia menyatakan diri hamil, situasinya akan menjadi lebih kacau. Tentu dia tidak mau sampai anak yang dikandungnya merasakan apa yang sedang ia rasakan sekarang. Cessa juga tidak mau bila anaknya lahir tanpa kasih sayang dari seorang ayah.
Cessa tidak mau calon anaknya mengalami hal seperti itu. Dia tidak mau!
Memaksakan diri untuk duduk, ia menekan tombol di atas tempat tidur. Menunggu beberapa lama, seorang perawat masuk dan segera menghampirinya.
"Ada yang bisa saya bantu, Miss?" tanya perawat tersebut.
" ... berikan aku obat untuk aborsi."
Perawat tersebut tertegun mendengar ucapan Cessa, "Obat aborsi?"
__ADS_1
Cessa mengangguk mantap, "Obat aborsi yang paling ampuh. Aku memerlukannya untuk menggugurkan kandunganku."
Ingatan Cessa berakhir ketika jarinya tanpa sengaja tertusuk jarum. Ia meringis melihat setitik darah yang keluar dari luka kecil di jarinya. Dibersihkannya darah tersebut dengan menekan jarinya. Pandangannya berpindah ke perutnya, rasa bersalah menekan perasaannya begitu kuat.
"Maafkan aku," Cessa mengelus perutnya dengan tangan bergetar, "Aku ... terpaksa harus membunuhmu."
***
Latiava baru saja pulang dari agensinya dan terkejut mendapati kakak angkat Cessa, Chris, berdiri di lobi. Pria berambut pirang itu cukup menarik perhatian orang-orang yang melewatinya. Apalagi Chris tampan, dan tubuhnya kekar. Rasanya tidak cocok bila Chris hanya berprofesi sebagai asisten sekaligus manager Cessa. Pria seperti Chris seharusnya menjadi model atau bahkan aktor, mengingat tubuhnya yang begitu menggoda mata kaum hawa.
Namun bukan itu yang ada di dalam pikiran Latiava saat ini.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Latiava saat dia sudah berdiri di samping Chris.
Pria itu menoleh dan Latiava mengumpat dalam hati. Mata Chris menatapnya tajam dan lagi-lagi dia merasakan aura mencekam tapi menggoda dari pria tersebut.
"Ternyata kau memang bekerja di agensi ini. kupikir informanku berbohong," ujar Chris, "Kau tak perlu takut. Aku tidak akan memarahimu seperti tadi saat di rumah sakit."
"Lalu, kau mau apa?" Latiava kembali bertanya.
"Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu, mengingat sekarang kau tahu kondisi mental Cessa," Chris berdiri tegak, "Ikut aku, aku akan mentraktirmu makan malam."
"Aku tidak perlu makan malam."
"Perlu. Jangan katakan kalau seorang model harus kurus dan langsing, beralasan diet adalah hal paling utama untuk menjaga penampilan tetap sempurna," Chris mendecak, "Aku sudah terlalu sering mendengarnya dari setiap model yang kutemui, dan asal kau tahu, Cessa malah yang paling menentang bila setiap model yang bekerja sama dengannya sekurus tiang lampu taman."
"Kau sedang mengejekku?" Latiava mengerutkan keningnya tak suka.
"Mungkin. Ayo, ikut aku,"
Latiava hanya bisa diam ketika dilihatnya Chris melenggang pergi tanpa mendengarkan protesnya. Beberapa teman kerjanya sempat berhenti untuk menanyakan siapa Chris kepadanya.
"Dia manager Princessa Angelia," jawab Latiava dengan suara datar.
"Princessa? Desainer berbakat itu? Dan pria tadi adalah managernya?"
"Ya, memangnya kenapa?" Latiava menoleh kearah temannya, "Jangan katakan kau mau menyerangnya."
"Well, aku tidak segila itu menyambar pria yang berada di dekat Princessa Angelia," ujar temannya tertawa.
Latiava memutar bola matanya dan berjalan keluar dari agensi. Sebuah mobil sedan putih sudah menunggunya dan Chris berada di balik kemudi. Ia membuka pintu di samping pengemudi dan memasang seatbelt. Setelah memastikan Latiava memasang sabuk pengaman itu dengan benar, Chris melajukan mobilnya menjauh dari kantor agensi.
"Jadi, kau mau berbicara soal apa mengenai si pendek itu?"
"Pendek?" Chris tersenyum geli, "Rupanya ada satu lagi orang yang memberinya julukan sesuai tinggi tubuhnya."
Latiava diam. Dia menunggu Chris menjawab pertanyaannya.
"Seperti yang kukatakan tadi, aku ingin membahas masalah kesehatan mental Cessa," ujar Chris, "Dan karena kau adalah satu dari sekian banyak alasan traumanya kembali, maka aku ingin menegaskan sesuatu."
"Apa itu?"
"Aku ingin membuat perhitungan dengan pria brengsek yang sudah membuat Cessa, dan mungkin juga dirimu, ke dalam masalah."
"Apa? Kenapa aku?"
"Aku hanya menebak," Chris mengedikkan bahu, "Kita cari makan terlebih dulu, setelahnya kita bisa bicara dengan santai."
"Tapi kenapa harus sambil makan?" tanya Latiava untuk ke sekian kalinya.
__ADS_1
"Karena sesuatu yang kubicarakan padamu ini bisa dibilang menguras emosi dan tenaga. Jadi kuharap kau tidak menolak. Aku yang akan mentraktirmu."
***
Cessa kembali ke kamarnya ketika malam sudah sangat larut dan mendapati Grim berada di sana. Suatu hal yang membuatnya terkejut. Dia pikir tadi Grim sudah pergi entah ke mana. Pria itu tengah berdiri di samping tempat tidur dan membelakanginya.
"Kenapa kau ada di sini?"
Grim menoleh kearah Cessa, di tangannya Cessa melihat botol kecil bening dan berisikan beberapa butir obat. Melihat botol itu, ia mengumpat dalam hati. Itu botol obat yang ia dapatkan dari rumah sakit.
"Princess, apa ini?" tanya Grim balik.
"Sekali lihat kau pasti tahu, 'kan? Itu obat." Jawab Cessa.
Pria itu menggeleng. Sorot matanya tampak berbahaya bak predator buas. Ketika Grim mendekat, tanpa sadar wanita mungil itu mundur ke belakang. Satu langkah Grim mendekat, satu langkah pula Cessa mundur hingga akhirnya terjebak diantara pria itu dan pintu di belakang punggungnya.
"Jelaskan. Apa. Ini." tekan pria itu sambil menunjukkan botol obat di tangannya, "Kau mau mati?!"
Cessa memilih untuk tidak menjawab. Sikap Cessa ini membuat Grim menggertakkan giginya. Ditolehkannya secara paksa wajah wanita itu hingga menghadapnya, "Jelaskan kenapa kau punya obat seperti ini di mejamu, Princess. Atau kau akan menyesal!"
"Memangnya apa yang harus kusesali? Obat itu obat penenangku." Cessa kembali membalas.
"Ini bukan obat penenang, Princess! Ini obat penggugur janin!"
Grim menarik nafas dan mengembuskannya dengan keras. Dia tidak habis pikir kenapa Cessa bisa sedemikian keras kepala seperti ini. Demi Tuhan, apa yang dipikirkan kepala wanita mungil ini?
Cessa masih tetap diam. Dia menjulurkan tangannya dan mengambil botol obat tersebut dari tangan Grim. Dia cukup terkejut masih bisa tenang sampai saat ini. Biasanya dia akan melontarkan kata-kata pedas dan tajam hanya untuk bertengkar dengan suaminya ini.
"Apa ini masalah untukmu, Tuan Verleon? Bukankah kau hanya menginginkan tubuhku?" ujar Cessa, "Katakan, Grim. Apa kau pernah sadar kalau aku cukup menderita karena kau ternyata masih memikirkan cinta pertamamu? Tidak. Kau tidak pernah tahu."
"Aku iri dengan cinta pertamamu. Sepertinya dia begitu dicintai, berbeda denganku yang sudah kotor sejak awal."
"Princess," panggil Grim dengan nada berbahaya.
"Apa? Kau ingin menyangkal apa lagi?" tantang wanita mungil itu, "Apa yang kulakukan sekarang bukan urusanmu lagi. Sudah kubilang kau tidak pernah mencintaiku. Kau hanya menginginkan tubuhku, dan seharusnya kita tidak pernah seperti ini sejak awal."
"Princess, hentikan." Grim memejamkan matanya, "Kau boleh mencaciku, menghina, atau apapun, tapi jangan sangkut-pautkan dengan Eve."
"Ah, jadi nama cinta pertamamu Eve?" Cessa tertawa kecil, "Bagus. Satu informasi lain sudah kudapatkan. Terima kasih, sekarang tinggalkan aku sendiri."
"Kita belum selesai."
"Tentang apa? Soal obat ini? Bukankah sudah kukatakan kalau ini obat penenangku?" balas Cessa..
"Itu obat penggugur janin. Jangan kau pikir bisa membodohiku." Grim membalas. "Kau benar-benar ... hamil?"
"Dan aku akan membunuhnya." Nada suara Cessa tiba-tiba berubah dingin, "Kau pikir aku mau mempunyai anak bila keadaanku seperti ini? Apa kau pikir aku ingin mempunyai anak jika ayahnya sendiri seperti kau?"
Grim diam mendengarnya. Cessa berjalan melewati pria itu dan menyimpan botol obat itu di dalam laci meja di samping tempat tidur setelah mengambil dua butir obat sekaligus, "Jangan khawatir. Aku tidak akan membuatmu repot. Begitu janin ini kugugurkan, setidaknya kau tidak perlu memikirkan bahwa benihmu pernah ada di dalam tubuhku."
"Jangan gugurkan."
"Percuma, Grim. Aku tidak akan mendengarmu kali ini."
Cessa menenggak kedua tablet tersebut sebelum Grim sempat mencegah. Wanita itu menatap Grim dengan sorot mata terluka setelahnya, "Kau puas membuatku menderita, Tuan Grimvon Verleon?"
Grim membuka mulut hendak mengatakan sesuatu, tapi tidak ada kata yang keluar. Pria itu akhirnya tidak bisa mengatakan apa pun bahkan ketika Cessa naik ke tempat tidur dan berbaring membelakanginya. Wanita itu tidak peduli seperti apa ekspresi suaminya saat ini, dan bahkan tidak peduli ketika didengarnya Grim lagi-lagi membanting pintu, keluar dari area pribadinya.
Sekuat tenaga Cessa menahan diri untuk tidak terisak. Tidak ada gunanya dia menyesali apa yang dia lakukan sebelumnya karena menurutnya, ini yang terbaik.
__ADS_1
"Maafkan aku," bisik wanita itu lirih, "Maafkan aku ...."