The Hope

The Hope
Chapter 40


__ADS_3

Dokter sudah menunggu di dalam ruangannya ketika Grim datang. Pria itu langsung duduk dan tanpa banyak bicara, dokter dengan nametag Hudson itu memperlihatkan foto rontgen pada Grim.



"Ini hasil pemeriksaan kedua kaki Nyonya Verleon," ujar Dokter Hudson, "Dengan sangat menyesal saya harus memberitahu Anda bahwa tempurung lutut kedua kakinya mengalami retak yang sangat parah. Anda lihat garis-garis yang tampak tak beraturan ini? Retak yang dialami kedua tempurung lututnya nyaris menjadi permanen dan saya tidak bisa menyangkal bahwa Nyonya Verleon akan cacat seumur hidupnya."



Grim menatap foto rontgen itu dengan tatapan terkejut, ia bolak-balik menatap foto tersebut dan juga wajah Dokter Hudson, "Cacat? Princess-ku ... cacat seumur hidup?"



"Benar, Tuan Verleon," Dokter Hudson mengangguk, "Dari cerita yang disampaikan Dokter Kristal tadi, Nyonya Verleon mengalami penyiksaan yang parah. Kedua kakinya dipukuli dengan tongkat dan juga benda tajam. Belum lagi menurut Dokter Kristal, Nyonya Verleon memiliki trauma parah karena tindakan pemerkosaan dan juga kekerasan fisik yang diterima ketika dia masih kecil. Trauma parah tersebut bisa memengaruhi otaknya untuk berpikir menyembuhkan diri."



Grim mengerutkan kening mendengarnya. Apa trauma parah yang dialami Cessa berpengaruh sebesar itu?



"Saya sarankan selama penyembuhannya, Nyonya Verleon tidak terlalu berpikiran berat. Dia juga harus terus diawasi, atau ditemani agar tidak memiliki pikiran negatif yang membuatnya melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Mengenai obat-obatan yang harus diminum, saya sudah berkonsultasi dengan Dokter Kristal. Obat anti-depresi yang ia minum akan tetap saya masukkan dan ditambah beberapa resep obat lainnya."



Grim menerima secarik kertas berisi obat-obatan yang harus diminum Cessa. Pria itu menelitinya sebentar.



"Maaf sekali saya tidak bisa membantu apapun untuk ... kelumpuhan Nyonya Verleon," Dokter Hudson terdengar bersalah, "Jika bisa, saya hanya menyarankan agar kakinya diamputasi dan diganti dengan kaki buatan, tetapi penyesuaian dengan kaki buatan pun memerlukan waktu yang cukup lama."



"Tidak apa-apa, saya menghargai usaha Anda," Grim tersenyum tipis, "Jika tidak ada lagi, saya akan kembali ke kamar Princess."



"Tentu, Tuan Verleon. Bila ada sesuatu, Anda bisa menghubungi saya ataupun Dokte Kristal selaku dokter terapis Nyonya Verleon."



Grim mengangguk. Ia berdiri dan beranjak pergi dari ruangan tersebut. Otaknya masih memikirkan kondisi Cessa yang diyakininya pasti akan membuat wanita mungil itu terpukul.



Cacat. Sebuah kondisi yang tidak pernah diinginkan oleh seseorang, apalagi wanita selincah istrinya. Kalau dia memberitahu hal ini pada Cessa, dia pasti akan sangat terpukul dan mungkin akan mendiamkan orang-orang sampai entah kapan, termasuk dirinya.



Grim tidak suka memikirkan hal itu.



Ia sampai di depan pintu kamar rawat Cessa dan mendengar Chris menceritakan sesuatu hingga membuat istrinya tertawa walau lemah. Grim menarik nafas dan mengembuskannya sebelum membuka pintu, membuat dua kepala di dalam ruangan menoleh kearahnya.



"Cepat sekali kau kembali," Chris melihat raut wajah Grim yang tampak suram, "Ada apa kau berwajah seperti itu?"



"Kau bisa ikut aku sebentar?" tanya Grim balik.



"Ada apa?"



"Aku perlu membicarakan sesuatu denganmu," kata Grim, "Ini penting."



Chris menyipitkan matanya, kemudian mengedikkan bahu. Ia menoleh kearah Cessa dan menepuk punggung tangan wanita itu, "Beristirahatlah. Nanti malam aku akan membawakanmu makanan sehat."



"Makanan di rumah sakit sudah pasti tidak ada rasanya, apalagi makanan yang akan kau bawa," sungut Cessa dengan raut cemberut.



Chris terkekeh kemudian mengikuti Grim keluar dari kamar rawat Cessa, "Sekarang, apa yang ingin kau bicarakan?"



"Ini mengenai kondisi kaki Princess," Grim memulai, "Dokter mengatakan kalau kedua kakinya mustahil untuk disembuhkan."



Grim menceritakan apa yang dikatakan dokter kepadanya. Chris mendengarkan dengan seksama. Aura gelap seperti menguar keluar dari pria pirang itu tanpa bisa dicegah. Kedua tangan Chris terkepal di kedua sisi tubuhnya.



"Ini gara-gara Glenn," geram Chris, "Pria brengsek itu senang menyiksanya sejak dulu!"



"Sekarang, aku bingung harus mengatakan apa pada Princess. Melihat dari sifatnya, ia tidak mudah menerima kabar buruk ini."



"Sangat," Chris mengangguk setuju, "Andai ada pengobatan yang bisa menyembuhkan kakinya ... ah, tunggu."



Grim menatap Chris yang terlihat seperti mendapat sebuah ide bagus.



"Kurasa aku tahu tempat yang cocok untuk mengobati kedua kaki Cessa," ujar Chris, "Tapi masalahnya, apa kalian orang Amerika percaya dengan hal-hal mistis atau tidak."



"... apa?"



***



Dua hari setelah Cessa dirawat di rumah sakit, ia diperbolehkan pulang dan dengan satu kertas penuh berisi resep obat-obatan yang harus ia minum. Cessa hanya bisa mematuhi apa saran dokter, dia tidak mau sampai harus disuruh kembali ke rumah sakit lagi karena tidak suka dengan aroma tempat tersebut.



Cessa duduk di kursi roda, karena kakinya tidak bisa berjalan, ia harus puas duduk di kursi roda dan menunggu seseorang untuk membantunya, setidaknya sampai kedua kakinya pulih totoal.



Tetapi, Cessa sangsi kalau kedua kakinya akan sembuh. Wajahnya tampak murung menatap kedua kakinya yang tidak bisa digerakkan bahkan setelah dia berusaha sekeras mungkin.



"Kau sudah siap rupanya,"



Kepala Cessa mendongak dan melihat Grim berdiri di depan pintu. Pria itu mengenakan kemeja lengan panjang yang digulung hingga siku berwarna biru gelap dan juga celana jins. Tampak lebih tampan dari biasanya dan Cessa hanya bisa merutuk dalam hati melihat ketampanan pria itu.



"Hm? Apa ini? Kenapa wajahmu memerah?" Grim melihat pipi Cessa yang memerah, "Ah, kau terpesona padaku? Jelas kau harus, karena aku suamimu."



"Terkadang aku berpikir apa kau dulu lahir dengan satu baut di kepala hilang," Cessa memutar bola matanya, "Kau terlalu percaya diri, Grim."



Grim hanya tersenyum lebar, dia mencium kening wanita itu dan menepuk kepalanya seperti menepuk kepala anak kecil, "Aku percaya diri karena memang itu kenyataannya. Aku tampan, kaya, dan tidak bisa ditolak oleh para wanita. Seharusnya kau bersyukur karena kau memiliki pria tampan kedua di keluarga Verleon."


__ADS_1


"Haruskah?" Cessa pura-pura tidak tertarik.



"Kau harus, atau aku akan membuatmu di sini berkeringat dan tidak sanggup untuk perjalanan bulan madu kita."



"Kita benar-benar akan pergi berbulan madu?"



"Sekali berjanji, aku akan berusaha menepatinya." Ujar pria itu, "Apa yang kita perlukan sudah disiapkan, kita hanya perlu pergi ke bandara dan naik pesawat pribadiku."



"Tapi ... kita mau ke mana? Kau tidak mengatakan padaku ke mana kita akan pergi." Kata Cessa.



"Indonesia."



***



Kota Jakarta ketika di siang hari terasa terik, tetapi setidaknya Grim dan Cessa tidak perlu berpanas ria karena sebuah mobil berjenis Mercedes-Benz sudah menunggu mereka tepat di depan gerbang Bandara Soekarno-Hatta. Pria itu mendorong kursi roda Cessa dan memapah wanita itu ketika akan masuk ke dalam mobil.



Cessa melihat keadaan kota Jakarta yang tertata rapi dan walaupun matahari lebih terasa terik di sini, matanya tidak bosan melihat pemandangan baru. Bukan berarti dia tidak pernah ke Indonesia, dia bahkan berkali-kali datang ke Negara ini untuk mencari model yang cocok untuk peragaan busananya. Namun perjalanan yang sama sekali bukan untuk pekerjaan ini membuat Cessa lebih sering menatap keluar untuk menyegarkan matanya.



"Apa gedung-gedung di luar sana lebih menarik dibanding diriku?"



Kepala Cessa menoleh dan melihat Grim menyandarkan kepala di bahunya, "Aku cemburu pada gedung-gedung itu, boleh kuhancurkan mereka agar kau tetap melihat kearahku?"



"Kau konyol. Untuk apa cemburu pada benda mati?" Cessa memutar bola matanya, "Kenapa kau tiba-tiba jadi manja seperti ini?"



"Biasanya kau yang bermanja denganku, sekarang giliranku." Grim tersenyum lebar, "Setelah menaruh barang kita di hotel dan makan siang, kita akan pergi ke suatu tempat untuk memeriksakan kakimu."



"Apa di negara ini ada pengobatan yang mujarab?"



"Menurut Chris ada, tetapi aku mendapat info lebih lengkap dari Trace," jawab pria itu, "Katanya di Indonesia ada sebuah ilmu yang mampu membuat tulang yang hancur sekalipun dapat disembuhkan. Karena itu kupikir tidak ada salahnya untuk mencoba. Bukankah di Jepang juga ada kepercayaan terhadap hal-hal mistis seperti info yang dikatakan Trace?"



Cessa manggut-manggut. Di Jepang memang banyak hal-hal mistis, terutama urban legend yang mampu membuat orang-orang di luar Negara itu merinding ketakutan. Cessa tidak yakin apakah di Negara ini juga ada hal mistis seperti itu.



"Dan setelahnya baru kita bisa menikmati bulan madu berdua." Kata Grim lagi, "Kau akan kuajak ke suatu tempat yang mungkin bisa membuatmu tersenyum lagi."



"Begitukah?"



"Aku akan memastikan hal itu terjadi."



Cessa hanya memutar bola matanya mendengar ucapan penuh percaya diri pria itu.




"Hm?"



"Tatap aku,"



"Tidak mau."



"Ayolah," Grim menyentuh dagu wanita mungil itu dan memaksanya menatapnya, "Kau lucu jika cemberut begini,"



"Apa kau hanya ingin mengomentari wajahku yang sedang cemberut?"



"Tidak, aku mau melakukan ini," pria itu mendekatkan wajahnya dan membuat Cessa berjengit dengan tubuh gemetar. Grim mengurungkan niatnya ketika melihat mata Cessa tertutup rapat. Ia menghela nafas dan mengalihkan ciumannya ke kening.



"Traumamu masih ada?" bisik Grim.



Cessa hanya diam, tidak mau menjawab.



Grim menarik Cessa dan mendekap tubuh mungil wanita itu ke dalam pelukannya, "Glenn Lahemian tidak akan bisa menyentuhmu lagi. Aku jamin itu. Chris juga pasti sependapat denganku."



"Nii-sama pasti akan menemukanku lagi," Cessa berkata dengan suara lemah, "Sekali dia mendapatkanku, maka dia akan terus menemukanku di manapun aku berada."



"Kenapa kau tampak patuh padanya?" Grim mengerutkan kening.



"Kau pikir penyiksaan yang kudapat saat aku berusia lima belas tahun dan waktu itu tidak berdampak apa-apa padaku?" Cessa menggigit bibir bawahnya, "Setiap hari aku dikurung di kamar dengan rantai yang melilit kedua kaki dan tangan, bahkan leherku dipakaikan kalung untuk anjing. Aku mencoba berteriak minta tolong, tapi Glenn Nii-sama dan Otousan ...."



Cessa menggeleng kuat-kuat, bayangan ketika ia disiksa masih terpatri jelas dalam ingatannya, "... mereka pernah membuat luka-luka yang cukup dalam daripada ini. Bahkan dulu tulang rusukku banyak yang patah, untuk bernafas pun aku sulit melakukannya. Jika aku tidak menuruti perintah mereka, aku tidak akan diberi makan selama berhari-hari, dan bila aku menolak untuk melakukan ... itu, kedua tangan dan kakiku akan disayat sampai aku memohon mereka untuk melakukannya."



Grim mengetatkan rahangnya mendengar cerita istrinya. Kedua tangannya langsung memeluk Cessa erat-erat dan mengecup puncak kepala wanita itu, "Cukup. Aku tidak mau mendengarnya, Princess."



"Aku tidak akan membiarkan bajingan itu menyentuhmu lagi," janji Grim, "Jadi, kau tidak perlu takut."



"Apa aku harus percaya pada kata-katamu lagi?" tanya Cessa.



"Aku pernah bilang, walau aku brengsek, aku tidak pernah ingkar janji. Kau bisa pegang kata-kataku." Balas Grim.



Cessa hanya diam, tetapi dia membenamkan wajahnya di dada pria itu ketika Grim memeluknya lebih erat.

__ADS_1



***



Setelah mengurus beberapa berkas dari salah satu perusahaan cabang yang ada di Jakarta, Grim dan Cessa melihat seorang wanita dengan blus hitam dan celana jins sudah menunggu di lobi perusahaan. Wanita berambut hitam itu melihat mereka dan tersenyum sopan.



"Anda pasti Tuan dan Nyonya Verleon," wanita itu mengulurkan tangan, "Saya Miranda Fatmasari. Guide sekaligus penerjemah untuk Anda berdua selama di Indonesia. Saya juga bekerja di perusahaan cabang Verleon di Negara ini."



Grim mengangguk dan menjabat tangan Miranda. Wanita berambut hitam pendek itu juga menyalami Cessa yang membalasnya dengan senyum kaku.



"Kalau begitu, kita langsung saja pergi ke tempat Pak Haji Arga. Mari, Tuan dan Nyonya Verleon,"



Miranda menuntun mereka ke sebuah mobil yang cukup komersil di Indonesia. Miranda duduk di samping kursi pengemudi yang sudah siap mengantarkan mereka. Grim sengaja meminta supir untuk memakai mobil yang tidak terlalu mencolok, dia tidak terlalu suka jika ada orang yang tahu bahwa ia berada cukup jauh dari Amerika. Mengingat banyaknya musuh keluarga Verleon yang tersebar di berbagai Negara, bukan hal aneh jika dia meminta sesuatu yang tidak mencolok untuk membuatnya sedikit leluasa bergerak.



Perjalanan yang membutuhkan waktu kurang lebih satu jam itu terasa cepat bagi Grim. Diliriknya Cessa yang duduk di sebelahnya dan menatap ke luar jendela. Entah apa yang dipikirkan kepala wanita mungil itu, tapi Grim berharap Cessa tidak memikirkan bagaimana caranya untuk mengakhiri hidup. Well, karena depresinya akan lebih parah dari sebelumnya karena disekap Glenn selama dua minggu dengan kedua kaki yang tidak dirawat dengan baik, sudah tentu Grim khawatir.



Mobil yang membawa mereka sampai di depan sebuah rumah di kecamatan Cibubur, Jakarta Timur. Rumah itu tampak kecil, jika Grim membandingkannya dengan mansionnya, tetapi melihat beberapa orang yang tampak mengantri di depan rumah tersebut, ia bertanya-tanya, apa ini adalah tempat orang yang dimaksud.



Miranda melepas seatbelt-nya dan menoleh ke belakang, "Di sini tempatnya, Tuan Verleon. Saya akan berbicara sebentar dengan Pak Haji. Beliau yang akan mencoba menyembuhkan Nyonya Verleon."



Grim hanya mengangguk dan membiarkan wanita berambut hitam itu keluar dari mobil. Ia kembali menoleh kearah Cessa yang masih diam tidak bergerak, "Princess,"



"Hm?"



"Kau tidak apa-apa?"



"Entahlah," jawab Cessa pendek, "Aku ... aku lelah. Boleh aku tidur?"



"Kita tidak bisa tidur dulu. Kau ingin kakimu sembuh, 'kan?" kata Grim.



Cessa lagi-lagi diam. Ketika Miranda kembali dan mengatakan kalau dia sudah berbicara pada Pak Haji Arga, Grim membantu Cessa turun dari mobil. Beberapa orang yang berada di depan rumah Kakek Arga melihat mereka dengan tatapan penasaran tetapi tidak berani mengatakan apa-apa. Miranda membawa mereka masuk ke dalam rumah tersebut dan melihat seorang pria tua dengan rambut yang nyaris memutih seluruhnya duduk di atas karpet dan sedang memeriksa seorang anak laki-laki yang kakinya dibebat perban. Grim dan Cessa hanya membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit sebelum kakek itu berbalik menghadap mereka.



"Pak, ini Tuan Verleon dan istrinya. Mereka berdua datang kemari untuk meminta pengobatan dari Kakek," ujar Miranda.



"Oh, iya ..., iya ...," Pak Haji Arga manggut-manggut, "Maaf kalau tempatnya kecil dan sempit. Tapi beginilah keadaan rumah saya. Mohon maaf saya tidak bisa menyuguhkan apa-apa untuk orang sebesar Anda berdua."



Miranda mengartikan ucapan Pak Haji Arga ke dalam bahasa Inggris dan Grim mengangguk.



"Tidak apa-apa. saya ingin Anda menyembuhkan kaki istri saya. Apa Anda bisa melakukannya?"



Miranda kembali bertindak sebagai penerjemah. Beliau manggut-manggut dan kemudian meminta Cessa untuk turun dari kursi roda dan duduk di atas kasur tipis yang ada di hadapannya. Tangan pria tua itu memeriksa luka di kaki Cessa dan menyentuhnya pelan.



"Akh!!"



Cessa meringis merasakan rasa ngilu yang berasal dari tempat yang disentuh Pak Haji Arga. Sentuhannya hanya sentuhan pelan, tetapi Cessa hampir menangis karena rasa sakitnya.



"Cukup parah, tetapi saya akan berusaha mengobatinya," kata beliau.



Cessa melihat tangan Pak Haji Arga mengurut sebelah kakinya dan ia tersentak, kesakitan. Grim melihat raut wajah istrinya yang kesakitan dan langsung menggenggam tangan wanita itu.



"Anda harus tahan, mungkin ini akan sangat sakit," kata Pak Haji Arga lagi, yang diterjemahkan oleh Miranda.



Wanita mungil itu hanya mengangguk kecil. Kembali ia memekik kesakitan saat Pak Haji kembali mengurut kakinya. Ia mencengkeram erat-erat tangan Grim sambil menahan airmata yang mulai keluar dari sudut matanya. Grim mengelus punggung Cessa dan menguatkan istrinya agar bertahan.



Setelah beberapa lama, beliau selesai mengurut dan menyentuh ujung jari kaki Cessa, "Coba Anda gerakkan lutut Anda. Pelan-pelan saja,"



Cessa mengangguk pelan dan mencoba mengangkat lututnya. Walau masih meringis kesakitan, dia merasakan ada perbedaan, lututnya mulai bisa digerakkan, dan ia mengerjap, "Lututku ... bisa ...."



Grim juga melihatnya dan dia juga terkejut, ternyata yang dikatakan Chris dan Trace memang benar. Di Negara ini ada pengobatan yang lebih mujarab daripada pengobatan modern.



Pak Haji Arga melihat ekspresi di wajah sepasang suami-istri tersebut dan tersenyum, "Jika bisa, tolong datang lagi minggu depan agar saya bisa mengobatinya lagi. Paling tidak kalian harus datang kemari tiga kali lagi agar kaki nyonya ini bisa pulih total."



Miranda menerjemahkan ucapan Pak Haji dan Grim langsung mengiyakan. Miranda segera menyampaikan ucapan Grim pada beliau dan mereka mencapai kesepakatan mengenai kapan mereka akan kembali berkunjung dan juga bayaran untuk beliau. Setelah selesai, Grim kembali memapah Cessa ke kursi roda dan mereka meninggalkan tempat itu.



"Kau punya harapan untuk bisa kembali berjalan," kata Grim, "Walau sakit, kau harus bisa menahannya."



Cessa mengangguk untuk ke sekian kalinya. Dia bersandar di dada Grim ketika pria itu memapahnya masuk ke dalam mobil. Miranda membantu menyimpan kursi roda Cessa ke bagasi mobil.



"Besok kita pergi ke suatu tempat," kata Grim, "Aku dengar ada sebuah tempat unik di Indonesia yang sedang menjadi trend di media sosial. Kau mau pergi ke sana?"



"Apa tempat itu jauh?" tanya Cessa.



"Mungkin. Kau mau ke sana?"



Cessa berpikir sebentar kemudian mengangguk, "Aku mau,"



__ADS_1


__ADS_2