
Hampir sebulan berlalu, dan kini adalah hari pernikahan Zerfist dan Bella. Gaun pengantin buatan Cessa menempel pas di tubuh Bella yang langsing dan semampai. Ia cukup bangga dengan hasil karyanya. Cessa bahkan mendatangi Bella secara khusus ketika wanita itu mengenakan gaunnya di ruang ganti untuk memastikan tidak ada kesalahan di setiap detil pakaian buatannya.
Dan melihat hasilnya yang bisa dibilang memukau semua orang, Cessa merasa hal itu sepadan.
Kini ia berdiri di samping Grim, ketika pemberkatan sedang berlangsung di gereja. Setelah ini mereka akan pergi ke hotel ternama milik Verleon yang disewa khusus untuk acara pernikahan sulung Verleon. Banyak wartawan yang terdengar dari balik pintu gereja dan membuat Cessa tak nyaman. Ia menggenggam lengan jas Grim dan suaminya langsung merengkuhnya tanpa kata.
Berpindah tempat menuju hotel, Cessa berusaha agar tidak banyak wartawan yang berhasil memotretnya. Setiap kali pernikahan pangeran Verleon dilaksanakan, selalu saja ada wartawan, tetapi tidak sebanyak ini. Wajah Cessa nyaris seputih kertas ketika melihat kerumunan wartawan yang bagai lautan manusia di depan gereja ketika datang.
"Kau masih pucat," kata Grim ketika mereka masuk ke dalam mobil di belakang mobil pengantin Zerfist dan Bella, "Kau baik-baik saja, 'kan, Princess."
"Para wartawan itu membuatku takut," ujar Cessa, "Kenapa harus ada wartawan di mana-mana?"
"Zerfist memperbolehkan mereka untuk meliput," jawab Grim, "Karena itu mereka ada di mana-mana."
Cessa menarik nafas dalam-dalam sebelum menghembuskannya, "Baiklah, sekarang aku tahu kenapa wajahku mulai terpampang di berbagai media."
Grim terkekeh dan mencium kening Cessa, "Tenang saja. Kau jarang terekspos."
"Ya, dan Latiava yang menanggungnya." Cessa menatap Grim, "Kau memberitahunya kalau hari ini pernikahan Zerfist, 'kan?"
"Ya, ya ..., aku sudah memberitahunya." Grim mengedikkan bahu, "Siapa sangka kau butuh babysitter-mu itu saat ini, huh?"
"Jangan membuatku kesal, Grimvon."
Lagi-lagi pria itu terkekeh.
Mobil mereka meluncur menuju sebuah hotel di mana para karyawannya telah menanti. Setiap tamu dilayani dan dibawa ke sebuah aula besar di hotel tersebut dan disuguhi hiburan sambil menunggu resepsi dimulai.
Cessa dan Grim berada di satu lantai yang disewa khusus untuk keluarga pengantin. Cessa menghampiri pintu di mana Bella berada dan melihat wanita itu tengah didandani oleh make-up artist dan dibantu untuk mengenakan gaun yang juga buatannya oleh para pelayan.
"Cessa,"
"Sepertinya kau butuh bantuan," Cessa melirik make-up artist yang membungkuk hormat padanya, "Biar aku yang membantumu memasang gaun itu."
"Tidak perlu, para pelayan bisa—"
"Perlu. Karena aku yang membuat gaun itu," sela wanita mungil itu sebelum kemudian menoleh kearah Grim, "Sebaiknya kau pergi ke tempat Zerfist atau kau perlu kutendang dari sini?"
"Hei, kenapa kau sekarang jadi lebih galak, Princess?"
"Pergilah. Aku mau membantu Bella memasang gaun, dan kau tidak mungkin terus berada di sini, bukan?"
"Bella jelas bukan tipeku. Lagipula aku lebih suka dirimu." Balas Grim, "Bagaimana kalau setelah ini kita melanjutkan terapi?"
"Grimvon, seriuslah!"
Pria itu terkekeh dan mencium bibir Cessa singkat sebelum pergi keluar. Wanita mungil itu menoleh dan terlihat tampak malu ketika didapatinya Bella tersenyum-senyum memandangnya.
"Maafkan suamiku yang brengsek itu," kata Cessa, "Dia tak pernah kenal tempat dan waktu untuk memamerkan kemesraan."
"Tidak apa-apa, aku malah iri dengan kemesraan kalian." Balas Bella, "Kalian tampak saling ... mencintai."
__ADS_1
"Mungkin," Cessa melihat bagian kerutan yang tak rapi di pinggang Bella dan merapikannya, "Lagipula kehidupan rumah tanggaku lebih rumit, dan semoga kau tidak mendapatkan masalah karena berada di keluarga Verleon."
"Oh ya? Mengapa?"
"Ada rahasia yang disembunyikan oleh keluarga Verleon. Dan beruntungnya, atau mungkin sialnya, aku sudah mengetahuinya." Cessa meminta tiara yang dipegang oleh salah satu pelayan dan memasangkannya di kepala Bella ketika rambutnya sudah ditata.
"Rahasia?" Bella mengerutkan kening, "Rahasia apa yang disembunyikan?"
Cessa hanya tersenyum muram. Lagi-lagi dia mengingat ucapan Grim mengenai Eve, "Bukan hal penting untuk saat ini. Mungkin kau bisa mendapatkan cerita itu dari Zerfist, bila dia mau membicarakannya."
"Oh," Bella manggut-manggut.
Setelah sang pengantin selesai didandani, Cessa menggiring Bella menuju aula, di mana semua orang sudah berkumpul. Cessa menyerahkan tangan Bella yang ia tuntun pada Zerfist yang sudah menunggunya. Dilihatnya sepasang pengantin baru itu dalam diam sebelum menghampiri Grim yang ia lihat berdiri tak jauh dari pintu masuk aula.
"Kau menunggu lama di sini?" tanya wanita itu saat mendekati Grim.
"Tidak. Aku baru saja mengobrol dengan beberapa relasi perusahaan," pria itu menyesap segelas wine di tangannya, "Kau terlalu bekerja keras. Kenapa kau sampai harus membantu Bella berdandan tadi?"
"Tugasku adalah memastikan bahwa gaun buatanku membius orang-orang yang melihatnya. Ketika Bella ditanya dari mana ia membuat gaun pengantinnya, ia pasti akan menjawab dari butikku, dan kemudian klien akan berdatangan."
"Rupanya itu taktik promosimu," Grim terkekeh mendengar penjelasan Cessa.
"Taktik seperti itu memang diperlukan dalam bisnis."
Grim tersenyum dan menarik Cessa lebih dekat padanya, "Kalau begitu, apa kau siap berbisnis denganku?"
"Tapi kau menyukainya." Balas Grim.
"Dan sialnya, jawabannya memang benar." Gerutu Cessa, "Jangan coba-coba untuk mencium atau merabaku saat ini, Grimvon. Kita berada di pernikahan Zerfist dan aku tidak mau terkena tatapan mematikan kakakmu itu."
"Oh, kau takut padanya?" Grim mengangkat sebelas alisnya, "Kukira kau hanya takut pada bajingan Lahemian itu."
"Bisakah kau tidak membahas Nii-sama? Aku ... kau tahu sendiri aku memang masih takut padanya."
"Hmm ...," Grim mencium puncak kepala Cessa, "Dan aku juga sudah pernah bilang kalau bajingan itu tidak akan pernah bisa menyentuhmu lagi."
Cessa menatap Grim yang menyandarkan dagu ke puncak kepalanya dan mengedikkan bahu, "Well, karena aku memercayakan kepercayaanku padamu sekali lagi, kurasa aku akan memegang kata-katamu."
***
Resepsi pernikahan Zerfist berjalan lancar. Tidak ada kekacauan yang berarti terutama dari para wartawan yang terus meliput pernikahan sulung Verleon tersebut. Cessa memilih untuk tidak terlihat dari para wartawan yang bak ikan piranha, siap menyantap apa saja yang terjatuh ke dalam air. Wanita itu lebih memilih duduk di sudut aula pesta sambil menyesap white wine di tangannya.
Cessa tidak mau soal penculikan dan juga masa lalunya diangkat dan diumbar di depan banyak orang. Ia membenci masa lalunya, tetapi dia juga tidak mungkin berterima kasih pada masa lalu tersebut karena kalu tidak ia tidak akan bertemu dengan sosok brengsek tapi memikat seperti Grimvon.
Yaah ..., semuanya memang sangat penasaran dengan sosoknya karena sampai saat ini Cessa tidak pernah melihat foto dirinya di berbagai media cetak maupun digital.
Suatu hal yang bagus, karena dia benci menjadi terlihat.
"Princess,"
__ADS_1
Cessa menoleh dan melihat Grim mendekatinya, "Kau mau kita pulang? Ini sudah lebih dari tiga jam kita berada di pesta."
Wanita itu melirik jam tangan mungil yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Memang benar, sudah lebih dari tiga jam dia berada di satu pesta dan tidak mendapati rasa panik yang biasa ia rasakan.
"Kau mau pulang?" tanya Grim lagi.
"Ya, kita pulang," Cessa menaruh gelas wine-nya di dekat kaki kursi dan menerima uluran tangan dari suaminya.
Mereka berdua mendekati Zerfist dan Bella. Wanita itu tengah menggendong Lamia yang setengah tertidur.
"Zerfist, Bella," Grim memanggil mereka berdua, "Aku dan Cessa akan pulang. Ini sudah lebih dari tiga jam dan aku tidak mau istriku kenapa-kenapa."
Zerfist menatap Cessa yang berdiri di samping Grim, "Dia punya ketakutan dengan keramaian?"
"Kurang lebih," Grim mengedikkan bahu, "Selamat atas pernikahan kalian berdua. Semoga kalian bahagia."
"Terima kasih," jawab Zerfist, "Aku akan menyuruh beberapa orang untuk menyiapkan mobilmu di depan hotel."
"Tidak apa-apa, aku bisa melakukannya sendiri," ujar Grim, "Sampai jumpa lagi, Zerfist, Bella."
Zerfist mengangguk pelan, sementara Bella tersenyum manis, "Kalian berdua hati-hati selama di jalan."
"Tentu," Cessa tersenyum mendengar ucapan Bella.
Dia dan Grim kemudian beranjak pergi dari aula tersebut, dan lagi-lagi Cessa merasakan perasaannya tidak enak. Aneh. Padahal selama sebulan ini dia tidak merasakan perasaan tidak enak, tapi sekarang dia kembali merasakannya. Dan Cessa tidak menyukai sensasi yang dia rasakan di tubuhnya ketika perasaan itu muncul.
"Ada apa, Princess?" tanya Grim yang berjalan di sampingnya.
"Tidak ada apa-apa," Cessa menggeleng, "Aku hanya merasakan perasaan yang tidak mengenakkan."
"Kau sedang memikirkan show-mu berikutnya?"
"Tidak, bukan itu. Hanya saja aku ... aku tidak tahu kenapa perasaanku tidak enak selama ini. Rasanya akan ada sesuatu yang terjadi, tetapi aku tidak tahu apa." jawab Cessa.
"Menurutku itu karena kau kelelahan," Grim melingkari bahu Cessa dengan sebelah tangan, "Sebaiknya kau istirahat total selama beberapa hari, aku akan menemanimu."
"Dan melanjutkan terapi, aku benar, 'kan?" Cessa menatap Grim dengan tatapan menuduh.
"Well, itu juga. Tetapi aku lebih senang jika kau tidur dan beristirahat dari aktivitasmu sejenak."
"Oh, baiklah," Cessa menghembuskan nafas, "Aku akan menuruti kemauanmu."
"Itu baru Princess-ku," Grim menunduk dan mencium pipi Cessa yang terlonjak kaget, "Setelah kita pulang, kita akan bersantai. Kau mau aku tidur di kamarmu malam ini?"
"Terserah kau saja." Jawab Cessa.
Grim tersenyum lebar dan menuntun Cessa menuju keluar hotel. Cessa hanya berharap perasaan tidak enak yang menggelayut di hatinya bisa hilang secepatnya. Dia tidak suka jika harus merasakan sesuatu yang mungkin terjadi di masa depan dan mungkin ia akan menyesalinya.
Seandainya jika memang semudah itu ....
__ADS_1