
"Kau boleh tidur, tapi kau masih harus menjalani terapimu dulu."
Ucapan Grim membuat tubuh Cessa menegang. Apa Grim akan melakukan itu lagi dengannya? Di kamar apartemennya sendiri?
Grim melihat raut wajah
wanita itu agak berubah dan terkekeh. Bibirnya mencium kening Cessa dan
menarik perhatian wanita itu, "Kau ingin terapimu seperti waktu itu?"
"T-tidak! Cukup sekali. Aku tidak mau dua kali," balas wanita itu.
"Sayangnya, Princess ... itu tidak akan pernah terjadi."
Cessa membelalak mendengarnya, "Aku bukan kekasihmu atau simpananmu. Kenapa kau sangat memaksaku?"
"Dan aku sudah bilang kalau aku menginginkanmu, suka atau tidak. Jangan terlalu sering protes, Princess. Kau cukup membiasakan diri denganku."
Wanita itu memutar bola
matanya dan merasakan tangan Grim yang tadi mengelus kepalanya kini
mengelus pahanya. Ia mendelik pada Grim yang sedang tersenyum lebar,
"Kau mencoba memanfaatkan situasi?"
"Menurutmu?" Grim mencium bibir Cessa, "Melihatmu dalam piyama seperti ini aku jadi ingin menerkammu sekarang. Boleh?"
"Aku tidak mau."
"Tapi kau tidak punya
hak untuk menolak." Grim melumat bibir wanita itu lagi, kali ini lebih
lembut dan membuat Cessa mengerang karena Grim benar-benar pandai
membuatnya ketakutan sebelum kemudian menerima sentuhannya.
Grim menyentuh dadanya
dan meremas gundukan kenyal yang ada di baliknya. Bibir Grim tidak
meninggalkan bibir Cessa dan menelan semua protes wanita itu. Ketika
ciuman itu berhenti, Cessa menggunakan tangannya untuk memukul bagian
belakang leher pria itu.
"Hei, kenapa kau memukulku?"
"Kau bilang aku harus
tidur. Ini sudah jam tidurku dan kau menggangguku dengan terapi
sialanmu," ujar wanita itu, "Kau berniat dihajar Chris besok pagi?"
"Dia sering ke apartemenmu setiap pagi?" tanya Grim polos.
"Dia kakakku. Sudah
jelas dia akan selalu memeriksa keadaanku di pagi hari." wanita itu
menjawab sambil memutar bola matanya, "Dan bila dia menemukanmu di sini,
kau akan langsung dihajarnya tanpa mau mendengarkanmu lebih dulu."
Grim terkekeh mendengar
ucapan Cessa yang terdengar ingin melindunginya. Entah wanita itu sadar
atau tidak, tapi Grim lebih suka mengambil resiko. "Tidak masalah. Asal
aku bisa lebih dekat denganmu. Tapi karena ini memang sudah jam tidurmu,
terapimu kali ini hanya menerima sentuhan dan ciumanku saja. Sekarang,
berbaringlah. Aku mau memelukmu sambil tiduran."
Mulut wanita itu hendak
menyuarakan protes untuk ke sekian kalinya sebelum mengembuskan nafas
dengan kasar karena Grim sudah menariknya berbaring dan memeluknya
seperti guling.
"Kau benar-benar menyebalkan, Grimvon," desis wanita itu.
"Terima kasih. Aku memang menyebalkan, tapi setidaknya aku tidak seperti kedua bajingan yang membuatmu trauma."
Cessa terdiam
mendengarnya. Dia mengalihkan pandangannya kearah lain mengingat ayah
dan kakak tirinya sampai tidak sadar kalau tubuhnya gemetar.
"Princess."
Kepala Cessa menoleh dan melihat Grim tersenyum lembut padanya. Tunggu. Tersenyum lembut?
"Hanya ada aku di sini.
Jadi jangan takut," bisik Grim, "Mulai sekarang hanya aku yang bisa
melihat tubuh seksimu itu. Jangan pernah memperlihatkannya pada orang
lain termasuk managermu."
"Chris pernah melihat tubuhku," balas Cessa datar, "Saat dia membantuku mandi setelah penyiksaan kedua bajingan itu."
"Tapi itu sudah lama.
Dan untuk sekarang aku tidak mau orang lain melihat tubuhmu." Grim
merengut, "Kalau tidak aku akan memasukimu selama dua hari penuh."
"Dasar bajingan!"
Grim tertawa mendengar
nada suara wanita itu. Diciumnya lagi bibir Cessa dan menarik kepala
wanita itu ke dalam pelukannya, "Sekarang tidurlah!"
Cessa mendengus. Tapi
rasa kantuk memang sudah kembali menyerangnya sehingga dia memejamkan
matanya. Aroma kayu manis dari tubuh Grim membuatnya sedikit tenang
sebelum ia tertidur pulas dalam pelukan pria itu.
Grim hanya diam sampai
Cessa benar-benar tertidur. Ditatapnya wanita yang berada dalam
pelukannya saat ini dan memejamkan mata. Dia benar-benar gila ingin
__ADS_1
memiliki wanita ini. Andai dia bisa, dia akan merantai Cessa dan
mengurungnya di dalam kamar dan tidak akan pernah mengizinkannya keluar.
"Kau benar-benar seperti candu, Princess. Sama seperti wanita itu ...."
Ia mencium kening Cessa
dan melepaskan pelukannya dengan hati-hati. Diletakkannya kepala Cessa
di atas bantal dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Dia sendiri lalu
bangkit dari tempat tidur dan merapikan pakaiannya. Dia lalu keluar
dari kamar wanita itu dan berjalan menuju pintu depan. Dia masih punya
kartu kunci apartemen wanita itu, jadi mudah baginya untuk kembali ke
sini kapan saja tanpa mendapat protes dari Cessa. Pegawai apartemen
pasti tidak akan mempermasalahkan kalau dia mengambil benda itu.
Dengan santai, Grim keluar dari apartemen dan langsung menuju lift.
***
Keesokan paginya, Chris
datang ke apartemen Cessa dan mendapati wanita itu masih berada di dalam
selimut. Walau begitu, Chris mengembuskan nafas lega. Dia pikir pesan
yang dikirim dari nomor ponsel Cessa kemarin malam itu bohong, tapi
melihat Cessa benar-benar sudah di apartemen pagi ini membuatnya lega.
Pria itu melepas jaket parasutnya dan berdiri di sisi tempat tidur Cessa, "Cessa, bangun. Sudah pagi."
Chris menggerakkan bahu
Cessa dan wanita itu langsung membuka matanya. Cessa menguap dan duduk.
Sebelah tangannya mengucek matanya yang masih terasa pedih karena masih
mengantuk.
"Selamat pagi," sapa Chris terkekeh melihat sikap Cessa.
"Selamat pagi ...." Cessa memejamkan mata dan membukanya lagi. "Kapan kau datang, Chris?"
"Baru saja. Kau tidak menyadarinya karena tidur seperti bayi besar," balas pria itu.
"Hmm ...," wanita itu mengangguk-angguk, "Ah, di mana dia?"
"Dia? Dia siapa?"
Cessa mengerjap lagi. Baru sadar dia kelepasan bicara, "T-tidak apa-apa. Aku hanya melindur."
Chris mengangkat sebelah
alisnya mendengar jawaban itu tapi tidak bertanya banyak. "Kalau begitu
sebaiknya kau mencuci mukamu. Aku akan membuatkan sarapan."
Cessa mengangguk dan
bangkit dari tempat tidur lalu menuju kamar mandi. Ia kembali menguap,
merasa mengantuk padahal tadi malam dia sudah tidur cukup. Tidak,
tidur. Untung saja pria itu sudah tidak ada lagi di sini dan Chris
sepertinya tidak bertemu dengannya.
Ia menggelengkan kepala,
berusaha mengusir rasa kantuk. Dia menghampiri wastafel dan membuka
kerannya. Percikan air dingin membuatnya merasa segar kembali. Setelah
mencuci muka, menggosok gigi, dan berganti pakaian dengan kemeja biru
berbahan tebal dan celana katun, Cessa keluar dari kamar mandi dan
langsung menuju dapur. Chris sudah berada di sana dan sedang meminum
kopi sambil mengutak-atik ponselnya di atas meja.
"Hari ini aku tidak ada
kegiatan, 'kan?" tanya Cessa sambil menyambar kopi milik Chris dan
membuat pria itu melongo sebentar, "Kopinya pahit."
"Tentu saja pahit. Aku
tidak menambahkan gula atau susu sepertimu," balas Chris dan mengambil
kembali gelas kopinya. "Kau memang tidak punya kegiatan hari ini, tetapi
ini jadwal rutinmu pergi ke psikiater."
Cessa meringis mendengarnya. Dia mencomot satu tangkup roti isi yang ada di atas meja sebelum membalas, "Hari ini, ya?"
"Memangnya kau tidak ingin mengecek kondisimu? Terakhir kali kau check up,
mentalmu masih sama seperti sepuluh tahun lalu, bahkan lebih parah,"
ujar Chris, "Kau tidak boleh membantah, Cessa. Hari ini kau harus pergi
ke psikiater."
"Baik, Kak ...." Cessa tersenyum manis dan membuat Chris menggeleng-gelengkan kepalanya.
Setelah sarapan, mereka
berdua menuju rumah sakit di mana Cessa biasa berkonsultasi dengan salah
satu psikiater di sana. Wanita itu menyapa ramah beberapa perawat yang
dia kenal baik dan duduk di kursi tunggu bersama Chris setelah pria itu
mengurus berkas-berkas kesehatannya. "Oh ya, kabar Ayah dan Ibumu
bagaimana, Chris?"
"Kabar mereka berdua
baik. kau saja yang jarang mengunjungi mereka lagi," jawab Chris, "Ibuku
bahkan bertanya-tanya kenapa kau jarang berkunjung ke rumah."
Cessa menggaruk-garuk
kepalanya yang tidak gatal, "Kalau begitu besok aku akan berkunjung ke
rumah. Aku sudah lama tidak makan masakan Beliau."
__ADS_1
"Aku akan mengatakannya nanti," Chris tersenyum.
Beberapa saat kemudian
nama Cessa dipanggil. Wanita itu lalu berdiri dan masuk ke dalam ruangan
yang berada tepat di samping bangku yang ia duduki. Seorang dokter
wanita paruh baya duduk di balik meja kerjanya. Terdapat sebuah papan
nama bertuliskan nama sang dokter, Kristal Wilson. Dokter wanita itu
mengangkat wajahnya dan tersenyum pada Cessa.
"Sudah lama sekali Anda tidak berkonsultasi, Nona Princessa," ujarnya, "Bagaimana kabarmu?"
"Baik, Dok." Cessa tersenyum dan duduk di kursi di hadapan Dokter Kristal.
"Baiklah, langsung saja
kita mulai," beliau menatap berkas di tangannya sebelum kemudian kembali
menatap Cessa, "Apa belakangan ini Anda merasa lebih baik?"
"Tidak juga. Kurasa sama saja seperti biasa," jawab Cessa, "Dokter, boleh saya bertanya sesuatu?"
"Tentu saja, Dear. Tanyakan saja apa yang menjadi keluhanmu saat ini."
"Anda bilang kalau saya menjalani terapi yang tepat, trauma saya akan cepat sembuh. Apa itu benar?" tanya wanita boneka itu.
"Ya. Jika kondisinya
memungkinkan dan Anda secara sukarela mau menjalani terapi tersebut,"
jawab Dokter Kristal, "Apakah Anda sudah menemukan terapi yang tepat?"
"Entahlah. Saya juga
tidak tahu apakah hal itu bisa disebut terapi atau tidak." Cessa
menjawab sambil merenung. Ia tidak menyadari raut wajah Dokter Kristal
yang sedikit berubah mendengar jawabannya.
"Kalau begitu, Anda
harus memikirkannya apakah terapi yang Anda jalani benar-benar efektif
menyembuhkan trauma Anda. Saya secara pribadi menyarankan agar Anda
memulainya dengan langkah-langkah yang ringan dan bisa Anda lakukan
sendiri. Karena trauma Anda ini sudah melekat selama lebih dari sepuluh
tahun, saya menyarankan untuk tidak terburu-buru."
"Begitukah?" Cessa kembali merenung. "Berarti jika saya mau dan bila kondisinya memungkinkan, terapi itu bisa dijalankan?"
"Benar, Nona Princessa.
Tetapi bila Anda mau, saya akan menulis resep obat yang biasa dengan
beberapa tambahan. Anda bisa langsung menggunakan obat itu jika trauma
Anda terlalu berat ketika terapi sedang berjalan," ujar Dokter Kristal.
Beliau lalu menatap
berkas di tangannya dan catatan yang ditulisnya selama mengobrol,
"Sepertinya suasana hati Anda lebih baik dari sebelumnya, dan itu hal
yang bagus. Saya sarankan untuk terus dalam kondisi seperti ini agar
trauma Anda cepat sembuh."
"Kurasa itu cukup." Cessa mengangguk, "Terima kasih atas saran Anda, Dokter."
"Sudah tugas saya untuk
membuat orang-orang yang berkonsultasi dengan saya menjadi lebih baik."
Beliau tersenyum lagi, kemudian menuliskan resep obat di atas selembar
kertas sebelum memberikannya pada Cessa, "Hanya minum obat ini jika
trauma Anda terlalu sulit ditanggung. Jika dalam dua atau tiga bulan
Anda masih merasa terapi yang Anda pilih itu belum efektif, Anda bisa
kembali lagi."
Cessa menerima kertas
itu dan berterima kasih pada beliau. Ia lalu berjalan keluar dan
langsung menghampiri Chris, "Ayo, kita langsung pulang."
Pria itu mengangguk dan berjalan bersisian dengan Cessa keluar dari rumah sakit, "Bagaimana hasilnya?"
"Dokter bilang aku harus
tetap dalam kondisi seperti ini agar traumaku cepat sembuh. Ada
beberapa obat yang harus ditebus, tapi semuanya obat yang sama seperti
yang kemarin. Nanti biar aku saja yang membelinya sendiri," jawab Cessa.
"Baguslah," pria itu mengangguk-angguk, "Aku senang kalau kau sudah merasa lebih baik, Lass. Jangan sampai traumamu kembali lagi."
Cessa tersenyum manis mendengarnya, "Ah ya, Chris,"
"Hm?"
"Kurasa ... kurasa aku akan mencoba berkencan." Kata wanita itu, "Tidak apa, 'kan?"
"Kau mau berkencan?"
Chris melebarkan matanya, "Apa itu terapi yang ingin kau terapkan?
Berkencan dengan pria yang tak dikenal dan melakukan one night stand bersama mereka?"
"Tidak, Bodoh. Maksudku,
benar-benar berkencan. Aku harus membiasakan diri disentuh pria. Kurasa
itu terapi yang cukup tepat, tapi kalau denganmu, itu tidak dihitung.
Mengingat aku yang selalu menempelimu setiap waktu," ujar Cessa.
Chris terkekeh mendengarnya, "Harga diriku benar-benar tersakiti, Cessa. Lalu, kau ingin berkencan dengan siapa?"
"Entahlah ...,bagaimana kalau Grimvon Verleon?" jawab Cessa, yang sukses membuat senyum diwajah Chris menghilang seketika.
__ADS_1