The Hope

The Hope
Chapter 15


__ADS_3

"Apa harus kau mengatakan soal itu saat ini?"



Cessa merasa tidak nyaman dengan pembahasan yang dikatakan Grim. Dia melirik ke sekitar, menyakinkan bahwa tidak ada seorang pun yang mendengarkan pembicaraan mereka terutama Chris.



"Kenapa kau tampak tak senang begitu?" balas Grim, "Apa kau tidak suka dengan pembahasan ini?"



"Di sini bukan tempatnya," jawab wanita itu, "Lagipula kenapa kau mengungkit soal itu?"



"Aku ingin memberikanmu terapi setelah ini," ujar Grim enteng.



"Setelah ini ... maksudmu setelah pesta?"



"Tentu saja. Jadi jangan coba-coba untuk kabur bersama managermu. Jika dia curiga, katakan saja kau akan pulang lebih dulu. Aku akan menunggu di luar hotel," kata pria itu.



Cessa terdiam mendengarnya. Dia membuka mulut hendak protes tapi tidak jadi. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan menatap ke depan.



"Pakai!"



"Apa?"



"Pakai cincinnya," ujar pria itu, "Kalau tidak, aku yang akan memakaikannya untukmu."



Cessa memutar bola matanya dan mengeluarkan cincin itu dari dalam kotak kemudian memasangnya di jari telunjuknya. Cincin itu terlalu besar untuk jari kelingkingnya, di mana ia biasa memasang aksesori cincin di sana. Grim melirik sekilas ketika wanita itu memasang cincin di jarinya dan tersenyum samar. Satu rencananya sudah berhasil.



"Sudah kupakai. Kau puas sekarang?" kata wanita boneka itu.



"Cukup puas. Selanjutnya masalah terapimu," balas Grim.



"Oh, please! Ini bukan saatnya untuk membicarakan hal itu, 'kan?" Cessa mendelik saat mengatakannya.



"Aku harus membuatmu terbiasa dengan sentuhanku, dan aku tidak peduli kau suka atau tidak." Grim menjawab dengan enteng, "Lagipula, kau juga menikmatinya."



Pipi wanita itu memerah dengan cepat. Dia ingin memukul wajah pria yang tengah menyeringai padanya itu tetapi dia menahannya. Grimvon Verleon benar-benar menyebalkan!



"Kau menyebalkan!"



"Terima kasih atas pujiannya."



Cessa memutar bola matanya dengan perasaan jengkel dan menyesap champagne-nya. Pesta itu berlangsung sampai nyaris tengah malam. Beberapa orang bahkan sudah mabuk dan membuat Cessa merasa tidak nyaman. Ia lalu berdiri dan mencari Chris untuk pulang bersama ketika pria yang duduk di sebelahnya menahan tangannya. "Kau mau ke mana?"



"Mencari Chris. Aku mau pulang," balas Cessa.



"Biar aku yang mengantarmu," Grim berdiri dan meletakkan gelas wine-nya yang sudah kosong di atas meja di dekatnya, "Hubungi saja managermu lewat telepon. Bilang kalau aku yang akan mengantarmu."



"T-tapi ... tunggu, Grim!" Cessa tidak memiliki kesempatan untuk mengeluarkan protes ketika pria itu menarik tangannya dan membawanya keluar dari hotel. Tidak ada yang menyadari kalau mereka berdua sudah tidak lagi ada di ballroom hotel tersebut.



"Grim, tunggu! Lepaskan tanganku!"


__ADS_1


Cessa menyentak tangannya dari genggaman Grim dan menatap pria itu dengan mata disipitkan, "Kau gila, ya? Kenapa kau suka sekali memaksaku?"



"Karena jika aku tidak melakukannya, aku yakin kau akan kabur," balas pria itu, "Sudahlah, jangan banyak protes. Ayo kita langsung ke mobilku. Ambil barang-barangmu di lokermu sekarang."



Cessa mencibir tanpa suara dan mengambil mantel serta tas tangannya dari dalam loker. Dengan perasaan dongkol dia mengikuti Grim keluar dari hotel dan ikut masuk ke dalam mobil yang entah sejak kapan sudah berada di depan pintu masuk hotel. Grim membuka pintu mobil untuk Cessa dan membuat wanita sukses mengangkat alisnya. "Kau sedang mencoba beramah-tamah denganku?"



"Menurutmu?" Grim tersenyum lebar, "Aku tidak akan menerkammu di sini, Princess. Aku masih tahu batasannya."



Wanita itu kembali memutar bola matanya dan masuk ke dalam mobil. Grim menutup pintu di samping Cessa dan berjalan memutar menuju pintu pengemudi. Pria itu duduk di balik kemudi dan melihat Cessa mengetik sesuatu di ponselnya sebelum kemudian melemparkan benda itu kembali ke dalam tas.



"Siapa yang kau hubungi barusan?" tanya Grim sambil menyalakan mesin mobil.



"Chris. Aku mengatakan padanya kalau kau menculikku dan dia akan menungguku di apartemen," balas Cessa.



"Kau bercanda." Pria itu terkekeh, "Kau tidak akan mungkin melakukannya, mengingat sifatmu yang terlalu tertutup dengan lawan jenis."



Cessa tidak membalas ucapan Grim. Ia memilih untuk memejamkan matanya. Tubuhnya benar-benar lelah setelah pesta barusan, dan walau tak suka dia bersyukur Grim mengeluarkannya dari ballroom itu sebelum beberapa tamu menghampirinya dalam keadaan mabuk.



Grim melirik sekilas kearah Cessa yang tampak diam dan menyadari wanita itu setengah tertidur. Ia membiarkan Cessa beristirahat sejenak. Dengan sengaja dia memperlambat laju mobilnya begitu mendengar suara nafas yang teratur dari wanita yang duduk di sebelahnya. Grim mengemudikan mobilnya menuju apartemen Cessa dan begitu sampai di sana dia langsung menggendong wanita itu dengan lembut, takut Cessa terbangun dan malah berontak dari pelukannya. Matanya melihat petugas keamanan yang bernama Hudson berjalan kearah mereka.



"Bisa antarkan saya ke lantai apartemennya berada?" kata Grim pada Hudson yang baru sampai di hadapannya.



Tanpa kata, Hudson menunjukkan jalan. Ia juga meminjam kartu kunci cadangan apartemen Cessa pada resepsionis di lobi dan kemudian masuk ke lift bersama Grim. Mereka sampai di lantai delapan dan Hudson menuju sebuah pintu apartemen di samping lift dan memasukkan kartu kunci ke panel di sebelah pintu.



"Terima kasih, dari sini biar saya saja yang menangani," ujar Grim,"Biar saya yang memegang kartu kunci itu. Terima kasih atas bantuan Anda."




Grim tidak membuang waktu. Ia masuk ke dalam apartemen Cessa dan menuju kamar wanita itu. Kakinya melangkah seolah-olah dia sudah sering mengunjungi apartemen wanita itu, tapi kenyataannya dia meminta rekaman cctv dari apartemen Cessa dan juga blueprint dan denah gedung apartemen tersebut dari arsiteknya. Itu bukan hal sulit, mengingat ia berasal dari Verleon. Hanya dengan menyebutkan nama keluarganya, semua orang akan gemetar ketakutan dan melakukan apa saja.



Pria itu menyalakan lampu kamar dan mengernyit melihat tak banyak barang yang ada di kamar dengan dinding serta benda serba putih itu. Tetapi melihat pintu lain selain pintu kamar mandi di dekat lemari pakaian, Grim menduga di sanalah tempat Cessa biasa bekerja atau sekedar menghabiskan waktu selain di ruang tamu.



Grim merebahkan Cessa di atas tempat tidur dan wanita itu bergumam dalam tidur. Wanita itu sepertinya benar-benar kelelahan karena sampai saat ini dia tidak terbangun bahkan karena suara sekecil apa pun. Pria itu menggeleng-geleng melihat wajah Cessa yang tampak polos dan duduk di sisi tempat tidur. Tangannya menyentuh pipi Cessa. "Kau benar-benar mirip boneka. Apa kau tidak sadar kalau kau seharusnya mengikuti terapiku?"



Dia hendak menyentuh pipi Cessa lagi ketika wanita itu terbangun dan langsung terperanjat kaget. Cessa terduduk tegak dan menjauh dari Grim dengan ekspresi ketakutan yang begitu kentara di wajahnya. Grim mengernyit melihatnya. Kenapa wanita ini kembali bersikap defensif seperti dulu?



"Hei, ini aku. Kau mengenalku, 'kan?" tanya Grim.



Cessa masih menatapnya dengan sorot ketakutan. Detik itu juga ia sadar kalau wanita ini kembali teringat traumanya. Menyadari ini membuat Grim mengembuskan nafas. Sepertinya membuat Cessa benar-benar melupakan traumanya adalah hal yang cukup sulit ... dan menantang. Setidaknya dia bisa mengalihkan perhatiannya dari wanita itu untuk saat ini.



Grim mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi Cessa hingga wanita itu tersentak keras. Cessa nyaris memiting lengan Grim seperti yang pernah dia lakukan di butiknya waktu itu tetapi Grim lebih cepat. Tangan pria itu menarik lengan Cessa dan menariknya ke dalam pelukannya. Wanita itu berusaha mendorong Grim menjauh.



"Sssh ..., Princess. Tidak apa-apa. Kau kenal sentuhanku, 'kan?" bisik pria itu, "Jangan takut. Tidak ada yang menyentuhmu selain aku."



Awalnya Cessa masih tidak mengenali suara Grim. Namun elusan di punggungnya terasa mirip dengan elusan tangan Chris yang selalu menenangkannya. Matanya lalu mengerjap sekali, kemudian dua kali, hingga akhirnya kesadaran meresap seutuhnya dalam benak Cessa. Sedetik ia mendapatkan kesadarannya, detik itu juga dia kembali mencoba melepaskan diri dari Grim. Sayang pelukan pria itu terlampau erat dan kuat, nyaris membuatnya sesak nafas.



"G-Grim, lepas ...," Cessa mendorong dada pria itu menjauh dari pandangannya. Aroma parfum Grim yang khas menyeruak masuk ke dalam penciuman dan membuat Cessa merasa malu dan takut, kalau-kalau Grim ingin melanjutkan terapinya sekarang.



"Hm? Padahal aku lebih senang memelukmu seperti ini. Kau ternyata benar-benar seperti boneka hidup, ya?" ujar pria itu sambil terkekeh.

__ADS_1



"Kau mengejekku atau sedang menghinaku?"



"Mungkin dua-duanya."



"Kau ini—" aliran kata-kata Cessa terhenti ketika bibirnya dilumat oleh Grim. Matanya membulat merasakan lidah Grim membuka bibirnya. Ciuman Grim terasa lembut di bibirnya walau dia tidak membalas.



Hampir tiga puluh detik setelah ciuman itu dan Cessa merasakan pipinya memanas. Kening pria itu bersandar di dahinya sementara mata mereka berdua terkunci satu sama lain. Grim-lah yang memecah keheningan di antara mereka dengan kekehannya. "Kau sudah tampak lebih baik dari beberapa hari yang lalu."



"Kau curang."



"Aku tidak tahu kalau aku berbuat curang. Yang kulakukan adalah membuatmu diam dan menurut, selayaknya boneka," balas pria itu.



"Aku bukan boneka!" desis Cessa tak terima.



"Dengan tubuh mungil dan mata bulat besar seperti itu apa kau tak merasa seperti boneka?" Grim membalas lagi, "Tak perlu membantahnya lagi. Kau memang boneka hidup."



Cessa memutar bola matanya. Dia sekali lagi mencoba melepaskan diri dari pelukan Grim, "Kenapa kau senang sekali memelukku secara paksa?"



"Karena aku yang mau. Kenapa kau selalu menolak padahal ini termasuk bagian terapimu?"



"Kau selalu membalikkan kata-kataku. Menyebalkan."



"Terima kasih, Princess. Sekarang kau ganti gaunmu dan hapus riasan di wajahmu. Sudah waktunya kau tidur, 'kan?"



Wanita itu memiringkan kepalanya dan memberikan ekspresi lucu, "Kenapa kau tahu sekarang waktu tidurku? Ah, tunggu. Kau pasti sudah menyelidikiku."



Grim tersenyum lebar dan mencium pipi Cessa, "Kau tahu tak ada yang tidak kutahu. Sudahlah. Pergi berganti pakaian, aku akan menunggumu."



Grim melepaskan pelukannya dan Cessa segera menjauh dari pria itu. Ia berlari ke kamar mandi di kamarnya dan mengunci diri di sana. Membelakangi pintu, Cessa menepuk kedua pipinya yang terasa panas. Dalam hati, dia benar-benar mengutuk dirinya sendiri karena mau saja menuruti perintah pria itu tanpa menolak. "Rasanya menyebalkan."



Ia lalu mengganti pakaiannya dengan piyama satin berwarna biru muda dan menghapus riasan di wajahnya. Hanya sepuluh menit dan dia keluar dari kamar mandi dan mendapati Grim masih ada di kamarnya dan sedang bersandar ke dinding di atas tempat tidurnya.



"Kau tidak pulang ke rumahmu?" tanya Cessa, "Menjauh dari tempat tidurku."



"Aku mau menemanimu malam ini. Terapimu masih harus dilanjutkan, Princess," balas pria itu.



Cessa mengerucutkan bibirnya. Dia tidak mau disuruh terapi lagi dari pria itu, tetapi pria itu memberikan tatapan yang membuatnya merinding, dan sekali lagi Cessa harus mengutuk dirinya sendiri karena mau saja menuruti keinginan tanpa kata pria itu untuk mendekat. Dia duduk di samping Grim dan pria itu menariknya mendekat.



"Grim!"



"Tak apa. Lagipula kau harus terbiasa dengan sentuhanku. Jadi jangan membantah!"



Cessa mengurungkan niat untuk protes lagi dan mendesis kesal. Tangan Grim yang merangkul bahunya hanya diam, sementara tangannya yang lain mengelus kepalanya dengan lembut. Ia baru sadar akan hal ini dan menatap pria itu dengan kepala dimiringkan.



"Kenapa? Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya pria itu melihat Cessa menatapnya.



"Tidak." Cessa menggeleng, "Kurasa aku hanya lelah. Aku mau tidur."

__ADS_1


__ADS_2