
"Chris, mulai hari ini kita akan tinggal di sini,"
Chris menatap rumah bergaya Jepang kuno di depannya. Truk-truk yang membawa barang-barang mereka berada tepat di samping pintu pagar rumah tradisional tersebut.
"Kita akan tinggal di sini selama beberapa tahun, setidaknya sampai pekerjaan Daddy-mu selesai di salah satu universitas Negara ini." Agatha meremas pundak Chris yang masih berdiri mematung di depan rumah baru mereka.
Chris hanya mengangguk. Dia melihat salah seorang petugas yang memindahkan barang-barang mereka membawa kardus mainannya.
"Mom, aku mau bermain bola di taman di dekat sini, boleh ya?" tanya Chris.
"Tentu," Agatha mengangguk, "Bagaimana kalau kau juga mengajak tetangga kita, keluarga Lahemian? Kudengar mereka memiliki dua orang anak."
"Lahemian?" kening anak laki-laki berambut pirang itu berkerut.
Belum sempat Agatha menjawab, seseorang menepuk bahunya dari belakang. Ketika berbalik, ia menatap manik cokelat seorang wanita paruh baya yang mengenakan midi-dress berwarna pastel dan menggandeng seorang anak perempuan yang terlihat berusia lebih muda dari Chris.
"Naomi!" Agatha memeluk wanita Jepang itu erat, kelihatan sekali bahwa mereka berdua saling mengenal satu sama lain.
"Kau memelukku terlalu kencang, Agatha-san," balas Naomi sambil tertawa, "Kau benar-benar pindah ke Jepang kali ini."
"Tentu saja," Agatha mengangguk, "Kau semakin cantik dan awet muda. Astaga ..., aku benar-benar iri pada wanita Asia yang bisa menjaga kecantikannya seperti masih berusia dua puluh tahun."
Naomi tertawa renyah. Pandangan wanita itu kemudian tertuju pada Chris yang berdiri di belakang ibunya, "Apa dia putramu?"
Agatha menoleh ke arah Chris dan mengangguk, "Namanya Christopher. Chris, ini Naomi Lahemian, teman lama Mommy ketika kuliah."
"Halo, Nyonya Lahemian," sapa Chris sopan.
"Salam kenal, Chris-kun. Namaku Naomi Lahemian," kata Naomi, kemudian menepuk kepala anak perempuan yang berdiri di sampingnya, "Ini Princessa. Kau bisa memanggilnya Cessa atau Hime. Dia biasa kupanggil begitu karena namanya berarti seorang putri."
Gadis kecil itu tersenyum manis dan membungkuk sopan pada Agatha dan Chris, "Salam kenal, Agatha-san, Chris-san, namaku Cessa."
Chris hanya diam. Dia menatap Cessa lekat-lekat. Gadis kecil itu berwajah mirip boneka. Chris baru sadar bentuk wajah dan tinggi tubuh gadis kecil itupun menunjukkan dia bisa menjadi boneka hidup.
"Chris mau bermain di taman di sini ..., apa kau bisa mengajaknya bermain, Cessa?" tanya Agatha.
"Tentu!" Cessa mengangguk antusias, kemudian meraih tangan Chris, "Ayo, ikut aku. Di dekat sini ada taman yang luas dan banyak bunga-bunganya. Apa kau suka bunga?"
"Lumayan," balas Chris.
Cessa tersenyum lebar, "Kalau begitu, kau pasti akan suka dengan taman itu. Ayo, kita ke sana!"
***
Tinggal di Negara yang bukan tanah kelahirannya sudah menjadi makanan Chris sejak dia kecil, tak terkecuali ketika ayahnya diminta menjadi dosen tamu selama beberapa tahun di Jepang. Selama itu juga Chris mengenal sosok Cessa yang tidak pernah melepaskan senyum lebar di wajahnya. Gadis itu selalu menemaninya bermain, permainan apa pun itu mereka selalu berdua. Bahkan tak jarang Cessa menginap di rumah Chris bila sudah ketiduran di sana. Baik Agatha maupun Naomi tidak keberatan. Bagi kedua wanita paruh baya itu, kedekatan keduanya sudah cukup membuat mereka memikirkan rencana masa depan.
Hari ini Cessa kembali berkunjung ke rumah Chris. Setelah pulang dari Gakuen, biasanya dia akan menyempatkan diri mengunjungi rumah keluarga Scott. Selama lebih dari tiga tahun, setiap ia berkunjung, Agatha selalu menyediakan kue-kue cokelat favoritnya atau pudding buah segar yang cocok dimakan di saat musim panas.
"Selamat siang, Agatha-san," sapa Cessa saat memasuki dapur dan melihat sepiring kue cokelat hangat di atas meja, "Waah ..., ada raspberry-nya."
"Chris bilang kau juga suka buah beri, karena itu aku mencoba membuatnya," Kata Agatha melepaskan celemek yang dia pakai, "Aku akan memotong kuenya untuk kalian berdua. Chris sedang di ruang belajarnya bersama Tanaka-san."
"Kalau begitu aku akan membuatkan minuman untuk mereka juga."
Tanpa permisi, Cessa ikut membantu di dapur. Gadis itu sudah biasa. Dia juga sudah menganggap rumah keluarga Scott sebagai rumah keduanya.
Lima belas menit kemudian, Cessa membawa nampan berisi cemilan dan teh yang mengepulkan aroma rosemary ke ruang belajar Chris di lantai dua. Ketika sampai di depan pintu, gadis itu mengetuk dan membukanya dengan sedikit kesulitan. Dilihatnya Chris sedang serius mengerjakan sesuatu di buku tulis sementara seorang pria muda berambut sedikit panjang melebih kerah pakaiannya duduk di depan pemuda itu.
"Permisi," Cessa tersenyum sopan pada Tanaka-san yang menyadari kehadirannya, "Saya membawakan cemilan."
"Ah, Lahemian-san," Ichiro membungkuk sedikit, "Seharunya Anda tidak perlu repot-repot."
"Sama sekali tidak repot," Cessa meletakkan nampan yang dibawanya ke atas meja lain di ruangan itu, lalu duduk di samping Chris, "Hari ini Chris mempelajari tentang apa?"
"Kimia dan Fisika Tingkat Lanjut," jawab Chris tanpa mendongak dari bukunya.
"Uh ..., aku benci menghitung," Cessa cemberut, "Kenapa kau betah sekali dengan pelajaran itu?"
"Aku perlu mendapat beasiswa, jadi aku bisa pergi kuliah tanpa harus membebankan biaya pada Daddy dan Mommy."
"Baiklah, baiklah ..., aku tidak akan memaksamu." Cessa memutar bola matanya dan memperhatikan Chris yang tetap serius belajar.
Tanaka melihat interaksi kedua remaja di depannya hanya terkekeh. Sudah bukan rahasia lagi di sekitar sini bahwa nona muda dari keluarga Lahemian sangat dekat dengan pemuda bernama Christopher Scott. Bahkan ada yang bilang bahwa mereka berdua adalah sepasang kekasih, dan melihat interaksi keduanya di depan mata, Tanaka mau tidak mau mengakui dalam hati.
"Pelajaran hari ini sudah selesai, Chris-kun," kata Tanaka, "Aku memberimu tugas untuk mengerjakan lima soal dalam bab yang baru kita bahas. Besok aku akan memeriksanya."
Chris mengangguk. Dia kemudian membereskan buku-bukunya dan menarik Cessa yang akan menyantap kue bagiannya.
"Hei, apa yang kau lakukan?"
"Kau perlu diberi pelajaran," kata Chris sambil mencubit pipi Cessa, "Kau masih harus ikut les piano, 'kan? Kenapa kau malah kemari?"
"Aduduh ..., sakit, Chris. Kau tidak malu pada Tanaka-san?" Cessa mencubit balik tangan Chris yang mencubit pipinya, "Chris, lepas ...!"
"Tidak mau,"
Lagi-lagi Tanaka terkekeh. Memang menjadi hiburan tersendiri melihat interaksi keduanya. Tetapi dia harus pergi ke rumah murid lain yang diajarnya. Setelah meminum teh dan memakan sedikit kue yang disajikan, beliau pamit dan meninggalkan Cessa dan Chris berdua saja.
Cessa mengelus pipinya yang dicubit oleh Chris. Memang tidak sakit, tetapi dia yakin pipinya memerah. Matanya menatap tajam Chris yang menikmati kue bagiannya sendiri.
"Dasar kejam, kau membuat pipiku merah, Chris!"
"Dasar kulit bayi." Balas Chris.
Cessa mencebik. Dia memakan kuenya dan selama beberapa saat tidak ada yang berbicara.
"Aku ingin membolos les," kata Cessa, "Kita pergi ke Shinjuku, bagaimana?"
"Jaraknya cukup jauh."
"Tapi aku mau melihat-lihat ke sana. Aku sudah lama tidak pergi ke luar Tokyo," Cessa meringis, "Otousama dan Glenn-Niisama tidak mengizinkanku pergi sendirian. Okaasama sedang sakit, jadi tidak bisa mengajakku pergi ke luar."
"Kalau begitu ajak saja kakakmu,"
"Aku mau denganmu saja," balas Cessa, "Kalau denganmu, aku yakin Otousama mau meluluskan permintaanku. Boleh, ya, Chris?"
Wajah memelas dengan mata berkaca-kaca adalah senjata utama Cessa untuk membujuk Chris. Pemuda itu sering sekali tidak bisa menolak senjatanya ini, dan Cessa sudah melihat dengan jelas mata Chris yang menatapnya lekat sebelum menghembuskan napas perlahan.
"Tidak," kata Chris, sukses membuat sorakan dalam hati Cessa berhenti seketika.
"Apa? Kenapa?"
"Glenn mengingatkanku untuk membawamu ke tempat les. Jadi, kau tidak bisa kabur untuk membolos." Kata Chris,
"Tidak adil! Aku mau jalan-jalan, aku mau pergi ke Shinjuku, aku mau bermain!"
"Sekali tidak tetap tidak," Chris mendecak, "Kau sudah berusia lima belas tahun, dan kau masih ingin bermain?"
"Biar saja. Lagipula permainan yang kulakukan tidak seperti kalian para pria," balas Cessa tidak mau mengalah.
Perdebatan tetap berlanjut, bahkan sampai Chris mengantarkan Cessa ke tempatnya les piano. Chris sukses membuat Cessa tidak bisa berkutik dan mengikuti les pianonya dengan ekspresi cemberut. Chris hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat manjanya Cessa. Ya ... walaupun tidak selalu manja, tetapi gadis itu selalu menunjukkan sifat manja kepada Chris.
Dan Chris baru tahu kalau Cessa hanya bersikap manja bila dengannya saja.
Entah Chris harus mengatakan apa tentang itu. Tetapi satu yang pasti, Chris selalu menatap Cessa dengan tatapan lain semenjak mereka mulai naik ke kelas tiga. Tidak ada yang istimewa, sebenarnya. Tetapi semua orang yang melihat mereka juga bisa menebak dengan mudah apa yang terjadi di antara mereka berdua.
Kalimat 'cinta ada karena terbiasa' mungkin harus disematkan pada mereka berdua. Perlahan-lahan, Chris mulai menyadari perasaannya sendiri. Berbanding terbalik dengan Cessa yang tetap menganggap Chris sebagai teman sekaligus kakak keduanya, perasaan Chris yang awalnya hanya sebatas teman kini berubah ke arah yang lebih serius.
"Cessa,"
"Hm?" Cessa membolak-balik majalah Teen Vogue di tangannya.
"Kalau ada pemuda yang menyatakan cinta padamu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Chris.
"Kenapa kau menanyakan itu?" tanya Cessa menoleh ke arah Chris.
"Ada ... temanku yang ingin menyatakan perasaan pada gadis yang dia sukai," Chris berdeham dan pura-pura membaca manga—komik yang ada di tangannya.
Cessa manggut-manggut, "Mungkin aku akan menerimanya, jika dia memang pantas dan aku sudah mengenalnya sebaik aku mengenal keluargaku sendiri."
"Alasannya?"
"Karena bila dia hanya menyatakan cinta berdasarkan penampilan fisikku, maka dia tidak berharga," kata Cessa lagi, "Mencari seseorang yang melihat tidak hanya dari satu sisi itu lebih susah dibandingkan mencari permata terbaik di antara gunungan permata jelek di depan mata."
Chris diam mendengar jawaban Cessa, "Kalau aku, apa termasuk berharga di matamu?"
Cessa menatap Chris agak heran. Aneh sekali. Kenapa pemuda itu menanyakan hal-hal aneh padanya?
Apa mungkin ...
"Kau berharga, Chris," Cessa tersenyum, "Sangat berharga. Tetapi aku tidak mau merusak apapun yang ada di antara kita hanya karena satu alasan klise."
Chris manggut-manggut, "Baguslah."
"Kenapa kau bertanya begitu?" kali ini Cessa yang bertanya.
"Hm ..., mungkin karena aku ingin tahu saja seperti apa rasanya ditolak," kata Chris, "Temanku itu benar-benar menyedihkan, ya?"
"Mungkin juga,"
Semenjak obrolan mereka hari itu, Chris tidak bisa lagi menyembunyikan perasaannya. Tetapi, entah Cessa yang tidak pernah peka atau mungkin tahu, tetapi tidak pernah menunjukkan perhatian lebih, membuat Chris merasa ... sakit.
Chris tidak tahu pasti, namun dia selalu merasa tidak bisa tidak melihat Cessa semenit saja. Katakanlah dia gila, tetapi kegilaan ini juga sangat menyiksanya. Ini membuat Chris menjadi lebih tertutup pada siapapun selain keluarganya. Agatha-lah yang mengetahui pertama kali sesuatu yang disembunyikan oleh putranya, dan dia tidak bisa berbuat apa-apa melihat Chris yang entah bagaimana berubah dari anak yang baik menjadi anak yang sangat pendiam.
Cessa juga tidak pernah mempermasalahkan sikap Chris yang mulai berubah protektif setiap kali mereka bertemu. Walau sedikit aneh dengan perubahan sikap Chris, tetapi Cessa tidak mau bertanya lebih jauh. Lagipula dia memiliki tambatan hati sendiri yaitu kakaknya, Glenn Lahemian.
Gadis itu sadar, menyukai kakaknya sendiri bisa dibilang adalah suatu kelainan, incest. Tetapi dia tidak peduli. Lagipula mereka juga tidak mirip dalam berbagai aspek terutama fisik. Tidak ada yang mengira bahwa dia adalah adik dari Glenn Lahemian jika mereka berdua disandingkan.
Dan hal ini membuat Chris lebih sering diam bahkan ketika gadis itu menceritakan apa saja yang dialaminya bersama Glenn. Cemburu, kah? Bisa jadi. Tetapi Chris tetap saja merasakan gemuruh asing di dadanya.
Dia ... membenci hal ini.
Tapi, Chris tidak bisa berbuat apa-apa karena perasaannya pada Cessa makin membesar setiap harinya. Dia sama sekali tidak mau memberitahu Cessa tentang apa yang dia rasakan. Pikirnya, lebih baik mengatakannya jika mereka berdua sudah lebih dewasa. Lagipula bisa saja perasaan yang dirasakan Chris bukanlah perasaan cinta seperti yang orang lain bilang.
Bisa jadi itu hanya cinta monyet.
Ya ..., bisa jadi.
***
"Chris," Cessa masuk ke dalam kamar Chris ketika baru saja pulang dari sekolah, seperti kebiasannya setiap hari.
Tetapi, Chris tidak ada di kamarnya. Cessa hanya melihat tumpukan buku-buku pelajaran eksakta dan juga kamus tebal yang bisa dijadikan pengganti bantal.
"Ke mana Chris?"
Cessa memeriksa kamar mandi di dalam kamar juga tidak ada. Dia langsung memasang wajah cemberut. Padahal Cessa ingin menceritakan sesuatu pada Chris, tetapi pemuda itu tidak ada di manapun.
Baru saja Cessa ingin mengomel, Chris datang sambil membawa kantung plastic berisi es krim dan juga makanan manis lainnya. Wajah Cessa sumringah begitu melihat Chris datang.
"Kau ke mana saja? Aku mencarimu dari tadi." Kata Cessa.
"Berbelanja persediaan cemilan di kulkasku," balas Chris sambil menghampiri kulkas mini yang ada di dekat meja belajarnya, "Memangnya kenapa?"
"Aku ingin menceritakan sesuatu padamu," kata Cessa sambil tersenyum manis begitu mendapatkan satu kotak es krim dari Chris, "Aku menyukai Glenn-Niisama."
"Tentu saja, itu karena kau adalah adiknya." Cetus Chris.
"Maksudku bukan perasaan suka seperti itu," Cessa menggeleng, "Aku menyukainya ... sebagai seorang pria."
Chris yang sedang menata cemilan ke dalam kulkas langsung menghentikan gerakannya dan menatap Cessa, "Apa?"
"Aku menyukai Glenn-Niisama," kata Cessa lagi, "Ya Tuhan, Chris. Jangan membuatku mengulangi ucapanku berkali-kali!"
"Maaf," Chris berdeham, "Kau menyukai Glenn, kau sadar kalau kau adalah adiknya? Bukankah aku sudah mengatakannya berkali-kali padamu?"
"Aku tidak peduli," Cessa mengedikkan bahu, "Lagipula cukup aku saja yang merasakannya. Aku tahu perasaanku ini salah, tetapi mau bagaimana lagi? Dia pria pertama yang membuatku seperti ini."
Chris yakin jika Cessa tidak ada di sini dia akan membenturkan kepalanya ke dinding.
Cessa tetap berceloteh walaupun sebagian besar celotehannya adalah tentang Glenn dan Glenn. Chris hanya diam, sesekali tersenyum dan membalas. Jiwanya seakan tidak berada pada tempatnya. Bahkan sampai gadis itu pulang, Chris masih terlihat seperti mayat hidup.
"Chris, kau kelihatan pucat," Agatha yang melihat Chris menaiki tangga menyapa, "Apa kau ingin dibuatkan lemon tea hangat?"
"Tidak, Mom. Aku ... hanya ingin sendiri." Kata Chris tersenyum tipis.
Agatha diam. Dia memperhatikan Chris yang naik ke lantai dua menuju kamarnya, dan begitu mendengar pintu kamar yang ditutup, ia mengembuskan napas.
"Ya Tuhan ... apa yang sebenarnya terjadi pada putraku itu?"
Agatha hanya bisa berdoa apapun yang sedang dialami Chris tidak berdampak buruk pada kondisi kejiwaannya. William pernah mencoba membujuk Chris untuk pergi ke psikiater mengingat sikap protektif Chris yang semakin mengkhawatirkan. Namun, saat ini Agatha dan William sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya agar Chris tidak terlalu tenggelam dalam sikap yang dilakoninya selama ini.
Tentu mereka berdua tahu akar dari sikap protektif Chris berasal dari Cessa. Gadis manis itulah akar dari permasalahan yang dimiliki Chris.
Dan, lagi-lagi Agatha hanya berharap semoga baik Chris maupun Cessa menyadari kejanggalan itu sendiri.
***
Hari-hari bisa dibilang berjalan terlalu lancar, damai, dan tentram. Cessa masih sering berkunjung ke rumahnya, dan seringkali ibunya menyeletuk ringan bahwa gadis itu cocok dengannya. Chris hanya akan meringis dan kemudian pergi ke kamar diikuti gadis yang dimaksud sambil tertawa.
Namanya juga anak remaja, seperti itulah tanggapan orang-orang yang melihat interaksi keduanya. Cinta monyet pun juga diucapkan kala melihat perlakuan Chris pada Cessa.
Tetapi ada yang aneh akhir-akhir ini. Cessa tampak murung dan lebih sering tersenyum sopan dibanding mengobrol tanpa jeda sepanjang hari.
"Kau sakit?" tanya Chris saat Cessa kembali berkunjung ke rumahnya.
Cessa menggeleng. Gadis itu hanya menyantap satu mangkuk penuh es krim yang disediakan Chris di dalam kulkas mini di kamarnya sementara si pemilik kamar sedang membaca buku pelajaran fisika karena sebentar lagi mereka akan menghadapi ujian.
__ADS_1
"Lalu, kenapa kau murung saja akhir-akhir ini?" tanya Chris lagi.
Cessa mengerutkan kening, "Okaasama sedang sakit. Dan aku merasa sikap beliau padaku akhir-akhir ini sangat aneh."
Kali ini giliran Chris yang mengerutkan kening. Setahunya, Naomi Lahemian tidak pernah bersikap di luar kebiasaannya. Dia memang pernah mendengar dari ibunya kalau ibu Cessa sedang sakit, tapi dia tidak pernah tahu beliau terkena penyakit apa.
"Mungkin itu pengaruh dari penyakitnya. Kau tidak perlu khawatir tentang hal itu," hibur Chris, "Setahuku, orang yang sedang sakit cenderung bersikap agak aneh bahkan cenderung manja. Siapa tahu ibumu juga demikian."
Cessa masih diam. Kali ini dia menggigiti ujung sendok es krimnya, "Menurutmu begitu?"
"Kau yakin saja, ibumu pasti akan sembuh dan akan bersikap seperti biasa lagi," Chris menepuk-nepuk kepala Cessa, "Kalau kau bosan, kau bisa kemari kapan saja ... tunggu, kau sudah kemari setiap hari dan merecokiku dengan mulut cerewetmu itu."
Cessa terbahak mendengarnya. Raut suram di wajahnya sedikit menghilang mendengar ucapan pemuda itu.
"Aku tidak tahu ternyata kau menjulukiku cerewet," kata Cessa, "Ucapanmu membuatku merasa sedikit lega. Terima kasih, Chris."
Chris tersenyum tipis, "Itu gunanya teman, 'kan?"
"Teman, ya ...," Cessa memiringkan kepalanya, "Hei, Chris, boleh aku minta tolong padamu?"
"Kau ingin minta tolong apa?"
"Bagaimana rasanya berciuman?"
"Ci—apa!?" Chris menatap Cessa seolah-olah gadis itu baru saja mengeluarkan tanduk besar di kepalanya, "Kenapa kau menanyakan hal itu?"
"Tidak, hanya saja ... aku pernah melihat Glenn-Niisama berciuman dengan kekasihnya, dan aku ... kau tahu, penasaran."
Wajah Cessa memerah seperti kepiting rebus, tetapi Chris hanya bisa memaki dalam hati. Bagaimana bisa Cessa menanyakan hal itu dengan raut wajah polos seperti tadi?!
"Kalau begitu, coba saja dengan Glenn," kata Chris setelah mendapatkan pikirannya kembali, "Kenapa kau malah menanyakan itu kepadaku?"
"Karena aku yakin Niisama akan menertawakanku," balas Cessa, "Chris, kita coba berciuman, bagaimana?"
"Kau gila!?"
"Aku tidak gila. Ayolah, Chris ..., aku ingin merasakan seperti apa berciuman." Rengek Cessa.
Chris ingin memaki, menghina, atau apa saja. Kenapa Cessa malah merengek meminta hal seperti itu padanya? Kalau boleh jujur, Chris ingin memaki Tuhan karena membuatnya mendapatkan godaan seperti ini.
Sial sekali, ini godaan yang luar biasa indah.
***
Tapi seperti dugaan Chris. Ada yang aneh pada Cessa. Gadis itu lebih sering melamun, mulai jarang bercerita tentang apa yang dia lakukan sehari-hari atau sekedar membuat Chris jengkel dengan tingkah kekanakannya. Sudah hampir sebulan Cessa menjadi seorang yang berbeda.
Puncaknya ketika Naomi Lahemian meninggal sebelum hari ulang tahun Cessa. Ditinggalkan oleh ibu yang sangat dekat dengannya membuat Cessa begitu terpukul. Chris ikut melayat ke kediaman Lahemian bersama kedua orangtuanya, dan orang yang pertama ia cari adalah Cessa.
Chris mencari sosok mungil Cessa di antara orang-orang yang berkabung atas kematian Nyonya Lahemian. Tetapi dia tidak menemukan Cessa. Aneh sekali ...
"Chris, kau sedang mencari siapa?"
Chris menoleh, mendapati salah seorang tetangganya menyapa, "Saya sedang mencari Cessa, Bi. Apa Anda tahu di mana dia?"
Wanita paruh baya itu mengerutkan kening, kemudian menunjuk ke sebuah arah. Chris mengikuti arah yang ditunjuk dan melihat sosok yang dia cari sejak tadi. Setelah mengucapkan terima kasih, Chris berjalan agak cepat ke arah Cessa yang berdiri di pinggir kolam teratai dalam balutan gaun hitam tanda berkabung.
"Aku mencarimu ke mana-mana," kata Chris, membuat Cessa yang sedang melamun tersentak kaget.
"C-Chris?"
"Kau pasti melamun lagi," Chris menggeleng-gelengkan kepalanya, "Kau tidak mau pergi ke sana?"
Cessa mengikuti arah pandangan Chris, kemudian menggeleng, "Aku mau di sini saja."
"Kau tidak memberikan penghormatan terakhir pada Bibi Naomi?"
"Aku sudah memberikannya lebih dulu dibanding orang lain." Jawab Cessa lagi.
Kembali Chris diam. Cessa kali ini benar-benar sangat aneh. Tidak biasanya gadis itu bersikap dingin.
"Cessa, kau baik-baik saja?" tanya Chris hati-hati.
"Aku baik-baik saja." Cessa menjawab dengan nada datar. Terlalu datar.
Lagi, mereka berdua terdiam. Baik Chris maupun Cessa tidak ada yang berbicara hingga langkah kaki seseorang yang menghampiri membuat Chris menoleh. Dilihatnya sulung Lahemian berjalan ke arah mereka.
Cessa juga melihat Glenn menghampiri mereka, "Nii-sama,"
"Aku mencarimu dari tadi, dan rupanya kau ada di sini," kata Glenn, kemudian melirik Chris yang berdiri di samping Cessa, "Terima kasih kau sudah datang kemari."
Chris hanya mengangguk. Dia melihat ke arah Cessa dan tertegun melihat senyum lembut gadis itu ketika menatap Glenn.
Sial. Kenapa hatinya terasa diremas?
Glenn mengulurkan tangannya pada Cessa, "Otousama sudah menunggu. Sebaiknya kita pergi sekarang."
Cessa melihat tangan Glenn yang terulur, kemudian ke arah Chris, yang tahu arti tatapan Cessa.
"Pergilah. Besok kau boleh berkunjung kembali ke rumah." Kata Chris.
"Aku tidak mungkin tidak akan pergi ke rumahmu," Cessa tersenyum tipis, "Sampai jumpa besok ... Chris."
Cessa menerima uluran tangan Glenn dan meninggalkan Chris yang berdiri diam di tepi kolam teratai. Pandangan pemuda itu tampak aneh melihat kedua bersaudara itu berlalu.
Karena Chris tadi yakin, di pergelangan tangan Cessa yang tersingkap dari lengan gaunnya, ia melihat dengan jelas ada memar dan juga luka lecet yang masih baru.
Tetapi Chris tidak berani mengatakannya pada orang lain, apalagi orangtuanya. Dia yakin bisa menanyakan hal itu pada Cessa besok ketika gadis itu berkunjung ke rumahnya seperti biasa.
Namun, keesokan harinya Cessa tidak datang. Padahal Chris sudah menyiapkan stok makanan manis kesukaan Cessa di kulkas mini di kamarnya. Tetapi hingga sore hari Cessa tidak datang. Kejadian sama juga terulang hingga akhirnya sudah lebih dari dua bulan Cessa tidak pernah bertamu ke rumahnya. Agatha bahkan sempat menanyakan perihal Cessa yang tidak pernah lagi berkunjung ke rumah.
"Apa Cessa tidak pergi ke sekolah?" tanya Agatha saat Chris baru saja pulang dari sekolah.
"Aku tidak pernah melihatnya di kelas," jawab Chris yang juga heran, "Ini sudah dua bulan dia tidak pergi ke sekolah. Para guru juga cemas dengan kondisinya karena kematian Bibi Naomi."
"Kurasa kau benar," Agatha mengangguk sedih, "Cessa sangat dekat dengan Naomi, dan kurasa itu yang membuatnya tidak bisa bersekolah sampai dua bulan seperti ini."
Chris melihat kekhawatiran di wajah ibunya. Dia sendiri juga tidak tega melihat raut wajah orangtuanya itu begitu mencemaskan Cessa. Bagi ibu dan ayahnya, Cessa sudah dianggap seperti anak perempuan sendiri.
"Besok aku akan pergi ke kediaman Lahemian dan menengok Cessa," kata Chris, "Apa Mommy mau ikut?"
Agatha mengangguk.
Malamnya, Chris sedang mengerjakan tugas-tugas sekolahnya ketika dia mendengar ribut-ribut di lantai bawah. Dia juga mendengar suara ibunya yang tampak histeris sehingga membuatnya khawatir. Ia keluar dari kamar dan menuju lantai bawah. Matanya membulat melihat seseorang yang berada di pelukan Agatha.
Cessa.
"Chris, kau temani Cessa dan ibumu," kata ayahnya, "Dad akan memanaskan mobil dan membawa Cessa ke rumah sakit."
"Jangan ke rumah sakit!"
"Kondisimu mengkhawatirkan, Cessa. Coba lihat bilur-bilur di sekujur tubuhmu!" kata Agatha.
Memang, kondisi Cessa sangat mengkhawatirkan. Rambutnya berantakan, dan di sekujur tubuhnya yang hanya mengenakan T-shirt biru tanpa lengan dan celana panjang, bilur-bilur biru itu terlihat mengerikan.
Cessa menggeleng kuat, "Jangan bawa aku ke rumah sakit. Kumohon ..."
Cessa menangis sesunggukan. Agatha mengerjapkan matanya menahan air mata yang hendak keluar dan memeluk Cessa erat-erat, "Oke, sayang, oke ..., tetapi kau harus mau kurawat. Bilur-bilur itu mengerikan sekali bila tidak segera diobati."
Cessa mengangguk. Dipapah Agatha, Cessa duduk di sofa dan membiarkan Agatha merawatnya. Chris hanya berdiri diam sementara William membantu Agatha menyediakan obat-obatan serta perban untuk menutupi luka-luka yang sangat mengerikan di kedua kaki Cessa.
"Kau disiksa oleh siapa, Sayang?" tanya Agatha menatap luka bernanah di kaki kanan Cessa, "Lukamu sudah mengeluarkan nanah seperti ini."
Cessa tidak menjawab, tetapi tubuhnya gemetaran. Chris berinisiatif merangkul Cessa dan membuat gadis itu tersentak.
"Jangan sentuh aku!"
Gadis itu mendorong Chris dan membuat Agatha dan William tersentak kaget.
"J-jangan sentuh aku ... aku tidak nakal. Tolong ..." Cessa mulai meracau dan berdiri ketika Agatha sedang mengobatinya.
"Cessa, ada apa?"
Gadis itu menoleh ke sana-kemari, saat melihat pintu, ia bergegas berlari ke sana, tetapi dicegah oleh William. Gadis itu meronta ketika pria paruh baya itu menangkap tubuhnya dan berusaha kabur.
"Cessa!"
Chris membantu ayahnya yang memegangi Cessa. Gadis itu terus meronta, berusaha melepaskan diri sementara Agatha mencoba menenangkan Cessa.
"Cessa, kau mendengarku?"
"Aku tidak mau lagi! Biarkan aku pergi, kumohon ...," Cessa mencoba melepaskan diri, "Aku tidak mau diperkosa lagi, aku tidak mau disiksa lagi, Niisama!"
Baik Chris maupun kedua orangtuanya tertegun mendengar ucapan Cessa. Chris-lah yang pertama kali sadar dari keterkejutan mereka karena melihat Cessa hendak lepas dari William. Pemuda itu langsung menarik Cessa dan memeluknya, tidak peduli bila gadis itu memukul, mencakar, bahkan menendang ke segala arah dengan tubuh gemetar.
"Aku bukan penyebab Okaasan meninggal, bukan aku ..."
"Cessa, ini aku," kata Chris, "Kau mengenal suaraku, 'kan?"
"Lepas! Lepaskan aku! Aku tidak mau disiksa lagi!"
"Cessa, lihat aku!"
Suara Chris membuat Cessa tersentak. Kedua mata gadis itu membulat dan ada ketakutan di sana. Agatha dan William sama-sama menunggu saat putra mereka beradu pandang dengan Cessa yang masih gemetaran.
"Kau tidak di rumahmu, tapi di rumahku," kata pemuda itu, "Kau tidak bersama kakakmu."
"Niisama ... di mana? Dia akan mencariku lagi ..."
Kening Chris berkerut. Aneh. Tadi Cessa berteriak tidak ingin disiksa lagi, tapi sekarang dia mencari Glenn seolah-olah kakaknya itu akan menyelamatkannya?
Kenapa ...
"Niisama akan mencariku," kata Cessa, "Dia akan mencariku dan memerkosaku lagi."
***
Kedua orangtua Chris membawa Cessa ke dokter keesokan harinya. Karena cemas, Chris juga ikut. Dia duduk di samping ayahnya yang sedang mengemudi sementara Cessa duduk di bangku belakang bersama ibunya. Chris melirik Cessa yang duduk sambil memeluk Agatha dan menyembunyikan wajahnya di ceruk wanita paruh baya tersebut.
Beruntung ketika mereka pergi tadi tidak ada tanda-tanda para pengawal yang berada di kediaman Lahemian, jadi mereka bisa dengan tenang membawa Cessa ke dalam mobil walau masih was-was bila diikuti.
"Cessa," Chris memanggil gadis itu, "Kau mau minum yogurt?"
Cessa melirik sekilas, kemudian mengangguk. Chris mengeluarkan sebotol kecil yogurt yang sempat dia ambil dari kulkas dan memberikannya pada Cessa. Gadis itu menerimanya dengan tangan gemetar sebelum kemudian menyembunyikan wajahnya lagi. Agatha berinisiatif membuka botol yogurt itu dan meminumkannya pada Cessa pelan-pelan.
"Keadaan Cessa sangat aneh," ujar William lirih, "Sepertinya dia mengalami trauma yang parah."
"Apa karena ... ucapannya kemarin malam?" kata Chris, "Dia bilang dia di ..."
William melirik Chris, "Aku tidak bisa menjamin. Sebaiknya kita tunggu sampai tiba di rumah sakit dan memeriksakan kondisinya."
Chris mengangguk setuju.
Ketika sampai di rumah sakit, William langsung membawa Cessa ke ruangan seorang dokter kenalan William. Dokter itu sempat melihat kondisi Cessa sebentar sebelum memutuskan untuk memberi gadis itu beberapa tes. Chris juga melihat seorang psikiater yang dipanggil dan kemudian mereka semua diminta untuk menunggu di luar.
Cukup lama Chris dan kedua orangtuanya menunggu, akhirnya salah seorang perawat mengizinkan mereka masuk. Chris langsung menghampiri Cessa yang duduk di sebuah kursi dengan diawasi oleh seorang perawat. Ia lalu duduk dan menggenggam tangannya. Gadis itu sempat tersentak kaget dan nyaris menampar Chris kalau saja pemuda itu tidak menahannya.
"Tidak apa-apa, aku bukan Glenn." Kata Chris.
Mata Cessa bagai kelinci ketakutan, tetapi ia mengangguk, membiarkan Chris duduk di sebelahnya sambil menunggu kedua orangtua Chris mendengarkan penjelasan dokter.
"... RTS?"
Dokter mengangguk mengiyakan pertanyaan Agatha, "Rape Trauma Syndrome atau biasa disingkat RTS. Itulah yang dialami oleh Nona Princessa. Setelah memeriksakan kondisi fisik serta psikisnya dengan psikiater, saya bisa mengatakan RTS yang dia alami cukup parah. Dia hampir tidak bisa mengendalikan ketakutannya. Setelah psikiater mengajaknya mengobrol, Nona Princessa menyebutkan bahwa dia mengalami perkosaan disertai dengan tindak kekerasan lainnya, yang menyebabkan kilas balik, gejala mual dan muntah yang sering terjadi."
Agatha menutup mulut dengan sebelah tangannya, "Ya Tuhan ..."
William merangkul bahu istrinya yang mulai gemetar karena menahan tangis. Dia melihat ke arah Cessa yang duduk diam dan menundukkan kepala, "Apa ada cara agar traumanya sembuh?"
"Untuk saat ini, pengawasan dari psikiater adalah yang utama. Mengembalikan kepercayaan diri serta membuatnya kembali pulih membutuhkan waktu yang cukup lama, namun dengan penanganan yang tepat, saya yakin Nona Princessa akan sembuh dari traumanya.
"Bila Anda bersedia, saya akan menghubungi seorang psikiater sekaligus dokter kenalan saya, Dokter Kristal Wilson. Dia berpengalaman menangani kasus seperti ini."
"Ya," William mengangguk, "Asalkan Cessa sembuh."
Dokter mengangguk, kemudian memberikan sebuah kartu nama beserta secari kertas berisi resep obat-obatan, "Ini kartu nama saya dan juga Dokter Kristal. Saya akan membuatkan janji temu dengan beliau secepat mungkin. Saya juga sudah memberikan resep obat untuk luka luar dan obat-obatan lain yang harus diminum agar kondisinya cepat pulih."
William menerima kartu nama dan resep obat tersebut kemudian mengucapkan terima kasih.
Chris membantu Cessa berdiri, tetapi gadis itu menolak. Chris mencoba membujuk Cessa tetapi ditolak oleh gadis itu.
"Biar Mommy saja," kata Agatha pada Chris, "Kau pergilah lebih dulu bersama Daddy-mu."
Chris menatap ibunya, kemudian mengangguk. Agatha membujuk Cessa dan memapah gadis itu keluar dari ruang dokter.
***
Setelah mendengar penjelasan diagnose kondisi Cessa tadi, Chris tidak bisa tidak membenci Glenn. Bagaimana bisa seorang kakak memerkosa adiknya sendiri?
Dalam perjalanan pulang, Chris sudah memikirkan bagaimana menghajar Glenn jika mereka bertemu. Tetapi dia tidak menyangka kalau Glenn akan berdiri di depan rumahnya bersama beberapa pengawal.
William juga melihatnya. Dia melirik Cessa yang berada di bangku belakang bersama Agatha, "Kalian tunggu di sini, biar aku yang berbicara dengan Glenn."
"Aku ikut." Kata Chris.
"Tidak. Kau tetap—astaga, Chris!"
__ADS_1
Chris melepas seatbelt dan membuka pintu mobil. Dia menatap Glenn dengan tatapan nyalang. "Mau apa kau kemari?"
"Chris, jaga mulutmu!" kata William yang baru keluar dari dalam mobil, lalu menoleh pada Glenn, "Apa kau berniat mengambil Cessa?"
"Berarti benar dia kabur kemari," kata Glenn, "Otousan mencarinya. Kami semua mencarinya."
"Untuk apa? Kalian ingin memerkosanya lagi?" desis Chris tajam.
"Chris!!"
"Sebaliknya, aku melindunginya," balas Glenn, "Sebagai kakaknya, sudah kewajibanku untuk melindunginya. Bukan begitu?"
"Kau ...,"
"Hentikan, Chris," sela William, "Dia bukan tandinganmu."
Chris menatap ayahnya dengan tatapan tajam, tetapi dia tahu apa yang dikatakan ayahnya memang benar. Saat ini Glenn bukanlah tandingannya yang hanya seorang pemuda berusia lima belas tahun. Glenn memiliki pengawal yang siap memasang badan bila dia menggunakan kekerasan, belum lagi kekuasaan keluarga Lahemian ..., sudah pasti merekalah pihak yang akan dirugikan.
Glenn menghembuskan napas dan melihat mobil William, "Cessa, kau di sana, 'kan? Keluarlah!"
Chris menoleh ke arah mobil, samar-samar melihat Cessa yang masih dalam pelukan Agatha. Chris berharap Cessa tidak akan keluar dari dalam mobil.
"Cessa, aku tidak akan menyakitimu. Kau tahu aku melakukan semuanya agar kau aman." Kata Glenn lagi.
"Jangan coba-coba menghasutnya!" kata Chris.
Pintu mobil terbuka, dan Cessa keluar dari dalam mobil. Mata gadis itu menatap Glenn yang berdiri di depan William dan Chris.
"Niisama ..."
Glenn tersenyum dan mendekati Cessa. Pria itu menyentuh pipi Cessa dengan pelan, "Kukira kau kabur entah ke mana."
"M-maaf ..., aku minta maaf." Kata Cessa nyaris seperti cicitan tikus.
Agatha keluar dari dalam mobil dan menarik Cessa ke dalam pelukannya. Wanita itu menatap Glenn dengan ekspresi siap membunuh, "Kau mau apa, Glenn?"
"Menjemput Cessa."
"Aku tidak akan membiarkanmu membawa Cessa!" Agatha mengeratkan pelukannya pada gadis muda itu, "Langkahi dulu mayatku!"
Glenn diam. Dia menatap Cessa datar sebelum mengulurkan tangannya, "Cessa, ayo kita pulang."
Cessa menatap tangan Glenn yang terulur, lalu Agatha yang memeluknya dengan erat bergantian. Sebelah tangannya terulur menyambut tangan Glenn dan membuat Agatha terkejut.
"C-Cessa, kenapa—"
"Aku akan ikut Niisama," kata gadis itu dengan nada datar, "Aku tidak mau merepotkan Agatha dan yang lain."
"Kau tidak merepotkan, Cessa," cegah Agatha.
Tetapi gadis itu melepaskan pelukan Agatha perlahan dan mengikuti Glenn. Chris melihatnya. Wajah Cessa tampak datar, ekspresi nyaris tidak ada sama sekali di wajah gadis itu.
Tidak. Dia tidak boleh pergi!
"Karena urusanku sudah selesai, maka aku akan pergi." Kata Glenn sambil merangkul bahu Cessa.
Glenn berjalan melewati Chris dan dihadang oleh pemuda itu. Dia menarik tangan Cessa dan membuat gadis itu terhuyung ke arahnya, "Cessa tidak akan pergi."
"Dia meminta ikut bersamaku." Balas Glenn.
"Kau memaksanya," desis Chris, "Kau yang membuatnya seperti ini, Glenn!"
Glenn menaikkan sebelah alisnya dan terkekeh. Dia menarik kembali Cessa dan merangkul bahu gadis itu lebih erat, "Cessa adikku, dan aku berhak melindunginya. Kenapa orang luar sepertimu ikut campur?"
Chris hendak membalas, tetapi tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Apa yang dikatakan Glenn memang benar. Chris dan keluarganya tidak memiliki hak untuk ikut campur. Tetapi mengingat ibunya bersahabat dengan Naomi Lahemian, bukankah itu sudah cukup menjadi alasan bagi mereka untuk membantu Cessa?
Glenn melihat Chris tidak membalas ucapannya dan kembali melangkah meninggalkan mereka. Agatha yang melihat kepergian mereka merasa tidak rela, tetapi dia tahu bila berhadapan dengan Glenn akan fatal akibatnya. Suaminya bahkan tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun untuk menghentikan pewaris Lahemian itu.
Chris menggenggam kedua tangannya erat-erat. Dia tidak terima bila Cessa kembali ke kediaman Lahemian hanya untuk disiksa lagi.
Tetapi ... apa yang bisa dia lakukan?
***
Semenjak Cessa dibawa pulang oleh Glenn, Chris tidak pernah melihatnya lagi di sekolah. Gadis itu benar-benar dikurung di rumahnya sendiri. Chris tidak tahu bagaimana nasib Cessa, tetapi anehnya gadis itu terkadang kabur ke rumahnya dan kemudian kembali dijemput oleh Glenn. Proses itu selalu terjadi dan membuat Chris dan kedua orangtuanya tidak bisa berbuat banyak. Selama di Jepang, kekuasaan keluarga Lahemian menekan mereka hingga tidak mampu memberikan perlawanan yang berarti.
Chris selalu merasakan kesakitan di dadanya melihat kondisi Cessa yang kian mengenaskan. Tubuh gadis itu dipenuhi bekas luka yang tidak akan hilang. Wajahnya juga selalu pucat, tatapan mata yang sering kosong. Ketika dibawa ke psikiater, Cessa sering sekali berusaha kabur. Setelah pulang dari terapi, Cessa selalu menggigil kedinginan dan terus berhalusinasi.
Melihat gadis yang disukainya seperti itu membuat Chris ingin sekali menghajar atau memukul wajah Glenn. Tetapi dia masih tahu diri untuk tidak melakukannya. Dia tidak mungkin mempertaruhkan keselamatan keluarganya sendiri.
Malam ini, Chris berjalan pulang dari Shinjuku. Udara malam sangat dingin di malam musim dingin dan membuat Chris lagi-lagi teringat Cessa. Ibunya mengatakan gadis itu kembali kabur dari rumah dan sekarang sedang diobati. Mengingatnya membuat Chris merasa miris.
Dia menyukai Cessa, tetapi tidak bisa melindungi gadis itu dari siksaan Glenn. Chris masih tidak tahu mengapa Glenn tega memerkosa adiknya sendiri.
"Ah, sial!"
Chris mendecak dan kembali berjalan ketika seseorang menarik tangannya. Dia menoleh, mendapati seorang gadis sepantaran dirinya menatap dengan kepala dimiringkan. Gadis itu mengenakan seragam yang terlalu mencolok karena roknya yang terlalu pendek. Belum lagi kemeja yang sangat ketat membungkus tubuhnya, mengundang mata lawan jenis yang melewati mereka.
"Kau sendirian?" tanya gadis itu, "Mau kutemani?"
"Aku tidak butuh." Jawab Chris sinis.
Gadis itu tersenyum. Dengan tidak tahu malunya ia menggelayut di lengan Chris dan membuat pemuda itu memandangnya tak suka.
"Aku bisa menemanimu. Anggap saja kita teman," kata gadis itu lagi, "Kau pasti sedang kesal pada seseorang, 'kan? Aku juga."
Kesal? Apakah yang dia rasakan saat ini adalah perasaan kesal?
Chris menatap gadis yang menggelayut di lengannya. Walau pakaiannya terlampau ketat, tetapi wajah gadis itu lumayan. Mendadak Chris membayangkan bila Cessa yang menggelayut manja di lengannya saat ini.
"Hei," kata Chris.
"Ya?"
"Kau benar-benar mau menemaniku?"
***
Cessa berjalan pelan, mengabaikan tatapan lawan jenis yang menatapnya. Rasa takut masih menghantui, tetapi dia tidak tahu harus berjalan ke mana. Awalnya dia pergi bersama Agatha untuk membeli beberapa pakaian dan juga pakaian dalam untuk Cessa, tetapi karena melihat seekor kucing, dia tanpa sadar mengikuti hewan itu dan akhirnya berakhir tersesat.
Perasaan cemas mulai menghinggapi melihat tatapan para pria yang terarah padanya. Cessa berusaha untuk tidak gemetar dan mencoba mengingat-ingat toko pakaian tempat Agatha berada.
"Ahh ..."
Suara yang terdengar samar-samar itu membuat langkah Cessa terhenti. Dia menatap celah yang terlihat gelap di antara mini market dan gedung yang sudah tutup. Dia yakin dia mendengar suara dari sana ...
"Ahh ..."
Benar. Suara itu berasal dari sana.
Tetapi, suara siapa?
Cessa melangkahkan kakinya ke arah celah tersebut dan mengerutkan kening. Selain tong sampah yang ada di sana, dia tidak melihat siapa pun. Namun suara tadi masih terdengar sehingga dia mengikuti dari mana suara tersebut berasal. Begitu dia merasa suara tersebut kian dekat, Cessa mengerjap melihat pemandangan di depannya.
"... Chris?"
Chris sedang bergumul dengan seorang gadis. Pemuda itu menekan gadis itu ke dinding, dan walaupun pakaian mereka masih cukup lengkap, tetapi Cessa tahu kalau Chris sedang ...
Mendadak Cessa merasa malu melihat mereka berdua. Apa dia juga begitu ketika Glenn memerkosanya?
Chris menyadari kehadiran Cessa dan terkejut. Bukankah Cessa berada di rumahnya? Kenapa gadis itu malah ada di sini? Chris buru-buru mendorong gadis yang sedang memuaskannya menjauh dan merapikan pakaiannya.
"C-Cessa, aku ..."
Astaga. Ini situasi terburuk. Bagaimana bisa Cessa melihatnya sedang melampiaskan kekesalannya pada orang lain?
Gawat. Dia takut malah menakuti Cessa.
"Hei, kenapa kau berhenti?" gadis yang mencumbunya tadi memegangi tangannya dan melihat Cessa, "Siapa kau? Kau mengganggu kesenangan kami!"
"Diam!" bentak Chris.
"Chris ... dia siapa?" tanya Cessa.
"Dia ..." Chris menelan ludah. Bagaimana menjelaskannya pada Cessa?
Cessa berjalan pelan mendekati Chris dan menggamit tangannya, "Ayo kita pulang, Chris."
Chris terdiam. Menatap tangan Cessa yang menggenggam tangannya. Tangan mungil itu gemetar, tetapi suara yang digunakan Cessa terdengar datar dan terkendali. Matanya menatap wajah Cessa yang tersenyum muram.
"Ayo," kata Chris mengangguk, "Kita pulang."
"Kau tidak boleh pulang!" gadis yang tadi bergulat dengan Chris menarik sebelah tangan pemuda itu, "Kita baru saja mulai, dan gara-gara gadis cupu ini kau malah meninggalkanku?"
Chris menatap gadis itu dengan tatapan dingin. Pemuda itu melepaskan tangannya yang digenggam Cessa dan beralih mencekik gadis itu, yang tidak mengira bahwa Chris akan mencekiknya dengan erat.
"A-apa ..."
"Kau terlalu banyak bicara. Bukankah kau sendiri yang menawarkan diri padaku?" kata Chris, "Kau mau mati?"
Gadis di tangannya menatapnya ketakutan. Mata gadis itu melirik Cessa yang berdiri tanpa ekspresi di samping Chris, berusaha meminta tolong tanpa suara.
Chris tidak memberikan kesempatan untuk gadis itu bersuara. Suara tulang leher yang patah terdengar menyakitkan dan gadis itu tewas tanpa sempat mengucapkan apapun. Chris membuang tubuh tak bernyawa di tangannya sembarangan dan menatap Cessa.
"Ayo, kita pulang," kata Cessa, "Aku yakin Agatha sedang mencariku sekarang."
"Cessa,"
"Hm?"
"Kau ... tidak takut?" tanya pemuda itu.
"Takut karena apa?"
"Aku membunuh orang di depan matamu. Apa kau tidak merasa takut?" tanya Chris lagi.
Kedua bahu Chris gemetar. Dia sudah siap bila Cessa akan memaki atau bahkan menjauhinya saat ini karena sudah membunuh orang di depan mata gadis itu. Kalau itu yang terjadi, maka ...
"Kau hanya menyingkirkannya. Kenapa aku harus takut?"
"Eh?"
Chris menatap Cessa yang balas menatapnya dengan kepala dimiringkan, "Kau ... benar-benar tidak takut?"
"Seharusnya aku yang bertanya," kata Cessa, "Kau sendiri, apa tidak takut padaku?"
"Takut padamu?"
Cessa mengangguk, "Aku melihatmu membunuh, tetapi tidak berteriak dan membawamu pergi ... apa kau tidak merasa aneh?"
Chris terdiam. Apa yang diucapkan Cessa memang benar. Normalnya, seseorang akan berteriak histeris karena melihat seseorang membunuh. Tapi, Cessa tidak melakukannya. Gadis itu dengan ekspresi tenang mengajaknya pulang tanpa memerdulikan kalau Chris baru saja mengambil nyawa seseorang.
"Aku tidak takut padamu," kata Cessa lagi, "Yang kutakutkan ... kau akan seperti Niisama. Menyiksaku ..., apa kau akan menyiksaku juga?"
"Tidak! Tentu saja tidak!" Chris menggeleng, "Aku tidak akan menyiksamu seperti orang itu."
"Kalau begitu, tidak masalah." Cessa tersenyum, "Sekarang, ayo kita pulang."
Cessa kembali menggenggam tangan Chris dan menuntun pemuda itu. Mata Cessa melirik tubuh gadis tak bernyawa di tanah kemudian menatap Chris, "Apa kau akan membawa gadis itu juga?"
Pemuda itu mengikuti arah pandangan Cessa kemudian menggeleng, "Tidak. Kau ingin aku membereskan mayatnya?"
"Tidak perlu," ujar Cessa, "Biarkan saja."
Chris mengangguk. Dia menarik Cessa ke dalam pelukannya dan membuat gadis itu terkejut.
"Chris ...?"
"Aku mencintaimu, Cessa," bisik Chris, "Sangat, sangat mencintaimu."
***
Chris terbangun dan terduduk. Tubuhnya berkeringat karena mimpi yang baru saja dia dapat. Sudah lama sekali sejak dia bermimpi dan mimpi yang dia dapat malah mimpi tentang masa lalunya.
"Chris?"
Chris menoleh, melihat Cessa mengucek mata dan menatapnya dengan mata setengah mengantuk, "Kenapa kau terbangun?"
"Apa aku membangunkanmu?" tanya Chris balik.
"Kalau sudah begini, memangnya aku masih tertidur?" balas Cessa, membuat Chris terkekeh.
Cessa bangun dan memegang tangan Chris, "Kau bermimpi apa?"
"Tidak apa-apa. Hanya mimpi biasa," Chris menggenggam balik tangan Cessa, "Aku hanya bermimpi memasukimu berkali-kali dan membuat Sera terbangun."
Ucapan Chris membuat Cessa mencebik dan memukul lengan pria yang kini tergelak.
"Kau menyebalkan," desis Cessa, "Kenapa aku mau saja menikah denganmu dulu?"
Chris masih tergelak mendengar keluhan Cessa. Ditariknya tubuh wanita itu mendekat dan menyandarkan dagunya di puncak kepala Cessa.
"Cessa,"
"Hm?"
__ADS_1
"Aku mencintaimu," kata Chris, "Boleh aku minta jatah lagi?"