The Last Clan Blue

The Last Clan Blue
21. Menyelundup


__ADS_3


Suasana pagi hari tiba, masih didanau Van Axcel terbangun setelah mendengar suara burung yang berkicau dari pohon ke pohon. Sementara itu Agra masih tertidur pulas karena dia semalam tidak bisa tidur.


"Hey sob, bangun! Ini sudah pagi."


Mendengar suara Axcel dia pun terbangun dari tidurnya.


"Sudah pagi ternyata, ayo berangkat!"


"Kau tidak mau sarapan dulu? Ada ikan bakar dan pisang sisa kemarin."


"Tidak! Aku tidak mau membuang waktuku untuk hal-hal kecil." Agra berdiri dan ingin bergegas pergi.


"Agra!"


Axcel memanggilnya dengan keras dan matanya menatap tajam kearah Agra. Dia pun seketika mengeluarkan pedang Axeleton untuk mengancamnya. Tanpa berpikir panjang Agra langsung duduk dan memakan ikan bakar yang telah disiapkan untuknya.


Setelah melihat Agra makan Axcel kemudian memasukkan kembali pedangnya kedalam selongsong, lalu pedang itu tak lama menghilang dari genggamannya.


~Pedangnya hilang? Pasti dia menggunakan jurus teleportasi untuk menyimpan pedangnya ketempat lain. Syukurlah kalau begitu ... hehe ...


Tak lama setelah Agra makan dia pun juga turut serta sarapan, namun kini pandangan Axcel terus tertuju ke Agra tanpa beralih pandangan.


Axcel benar-benar tau apa yang Agra takutkan, dia ingat detail saat Axcel mencoba berlatih pedang Axeleton dengan Agra di kastil Blue Clan. Agra saat itu gemetar melihat kekuatan yang begitu dahsyat dari dalam pedang Axeleton.


Ketakutan Agra dan rasa terancamnya membuat energi dari five symbol clonning keluar dan menarik energi dari pedang itu hingga melukai tangannya.


~Eh ... kenapa dia terus menatapku? Dia benar-benar sok ngatur, apa dia ingin mendaftar sebagai kakakku juga? Hah aku tidak sudi punya kakak sepertinya.


Setelah selesai sarapan barulah mereka melanjutkan rencananya untuk mengawasi para petarung dari kastil Venderland dan mengikutinya.


****


On Casteel Redfire Clan.


Didalam kastil Redfire Clan tepatnya berada di ruang kerja raja, terdapat raja Leviathan bersama dengan panglima Zein sedang berdiri menatap jendela luar, mereka sedang membicarakan hal penting mengenai informasi terbaru dari pangeran Rival dan putri Laurent.


"Bagaimana informasi terbaru dari mereka?"


"Maaf tuan, mereka hanya menitipkan gulungan surat ini kepada saya untuk tuan Leviathan."


Panglima Zein memberikan gulungan surat itu dan raja Leviathan menerimanya dengan rasa penasaran. Leviathan pun membuka gulungan surat itu dan membaca isi dari surat yang ditulis oleh anaknya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Untuk raja Leviathan...


...Maaf Ayah, kami masih belum bisa membawa target kembali kehadapan ayah, tapi kami berjanji untuk menangkapnya hidup atau mati....


...Kemarin kami sempat menangkapnya namun semua diluar prediksi kami, target berhasil mengelabuhi kami dengan cara menggunakan jurus peniru....


...Namun satu hal yang perlu kami sampaikan, saat ini target tidak sendirian, ada dua orang wanita yang membantunya dan salah satu diantaranya mampu memanggil ratusan kupu-kupu beracun....

__ADS_1


...Tapi kami akan tetap mengawasi mereka dan mengirim pasukan untuk memata-matai mereka. Cukup disini informasi dari kami ayah. Jika ada perkembangan selanjutmya kami akan mengirimkan surat lagi....


...Dari :...


...Rival Frederick...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Usai membaca gulungan surat dari Rival raja Leviathan hanya terdiam, dia terlihat berpikir.


"Hm ... kupu-kupu beracun ya? Apa jangan-jangan ...."


Raja Leviathan memilih diam dan menuju meja tulisnya, dia menulis surat balasan kepada pangeran Rival. Setelah menulis dia terlihat sedang memasukkan sesuatu kedalam gulungan surat itu.


"Panglima Zein! Antar surat ini ke pangeran Rival aku memintamu untuk mengantarnya sendirian karena isi didalamnya sangat penting."


"Baik tuan!"


Panglima Zein bergegas pergi dan mengambil kudanya untuk menuju markas Rival. Masih diruang kerjanya raja Leviathan hanya duduk diam dan terlihat berpikir keras.


****


Sementara itu Agra dan Axcel masih didanau Van, mereka sedang memantau para petarung itu dibawah pohon yang tertutup oleh semak belukar.


"Kita pindah saja!"


Agra hendak berdiri namun Axcel menahannya dan menggeretnya duduk.


"Hey mau kemana kau?"


Agra duduk sambil menggaruk tangannya.


"Tidak ada, hanya ini tempat satu-satunya yang aman untuk kita memantau mereka dari jauh."


"Taa ... "


"Tidak perlu tapi-tapian! disini yang lebih tua aku, jadi ikuti saja kalau orang tua sedang ngomong."


~Cara bicaranya sudah seperti kakakku saja.


"Kita ini sebenarnya sahabatan atau adik kakak? mentang-mentang kau lebih tua 2 tahun dariku!"


"Adik kakak saja kayaknya cocok haha ..."


Agra menanggapinya dengan wajah datar. Mereka terus menunggu para petarung itu selesai berendam dan melakukan rangkaian ritual untuk leluhurnya. Usai mereka selesai Agra dan Axcel segera mengikuti romongan tersebut.


"Pakailah!"


Axcel memberikan pakaian tepatnya seragam berwarna ungu gelap dengan simbol bendera Venderland dibelakangnya.


"Apa itu?"


"Pakai saja!"

__ADS_1


Mereka memakai seragam itu dan melanjutkan perjalananmya untuk mengikuti rombongan petarung dari kastil Venderland.


"Dari mana kau mendapatkannya?"


"aku mengambil pakaian ini dari prajurit yang sedang berendam di danau Van."


"Apa!?"


"Tenang saja nanti kukembalikan kok."


Agra memasang muka datar lagi, pasalnya teman konyolnya itu telah melakukan perbuatan yang buruk dengan mengambil pakaian orang tanpa ijin.


"huh ... kenapa kita harus menyamar begini? lagi pula kau mengambil pakaian ini tanpa ijin mereka."


"Supaya rakyat Venderland mengira kalau kita adalah orang dalam. Setahuku pemerintahan Venderland sangat anti terhadap orang asing kecuali orang tersebut diundang oleh raja Vedern Mighton sendiri. Tenang saja ... nanti kukembalikan ke pemiliknya kau tahu kan aku bisa memindah barang dengan cepat."


"Hadeh terserah kaulah, lalu bagaimana kau bisa tahu seluk beluk tempat ini?"


"Aku dulu sering berburu disekitar danau Van berkat pergaulanku yang cepat dengan para perempuan di wilayah Venderland akhirnya aku tahu berbagai informasi mengenai wilayah ini."


~ Huh ... Berburu macam apa itu?


"Ayo cepat! kita ikuti mereka kalau tidak kita bisa ketinggalan rombongan itu."


Mereka terus mengikuti rombongan petarung itu, bermodal niat mereka sampai nekat mengambil pakaian hanya untuk menutupi identitasnya.


"Hey ... kenapa kau tidak mengambil pakaian petarung itu saja? kulihat pakaiannya lebih keren."


"Jika kita memakai pakaian petarung itu kita bisa dalam masalah besar."


"Kenapa?"


"Petarung itu memiliki tingkat paling tinggi dari prajurit. Mereka lebih kuat, cekatan dan memiliki skill bertarung yang lebih tinggi. Biasanya mereka bertarung digaris depan. Sedangkan prajurit biasa mereka hanya menjalankan tugas sesuai dasar-dasar keprajuritan saja, tidak ada skill pendalaman. Mereka biasanya berada dipaling belakang untuk menggantikan dan melindungi petarung jika merasa terancam."


Agra merespon penjelasan Axcel dengan wajah bingung dan dia mulai menggosokkan tangannya kebagian belakan kepalanya.


"Lalu apa hubungannya dengan kita menyamar sebagai prajurit?"


"Jika kita memakai pakaian petarung didepannya sudah ada nama pemilik bajunya karena petarung itu adalah bagian dari anggota elit kastil Venderland. Jadi kita mengenakan pakaian prajurit supaya mereka tidak curiga kalau pakaian ini adalah hasil dari mencuri."


Agra hanya menepuk jidat dan menggosokkan kewajahnya dengan ekspresi yang masih datar.


"Bicaramu berbelit-belit bodoh! lagipula aku juga sudah tahu sistem struktur orrganisasi setiap kerajaan."


"Tapi kau tidak tahu kan kalau pakaian mereka sudah diberi nama, kau pikir pakaian mereka sama dengan pakaian petarung elite di kastilmu?"


"Tapi ... hah sudahlah ... capek aku bicara denganmu!"


Agra menunjukkan ekspresi malasnya dan mencoba menahan amarahnya akibat mulut Axcel yang cerewet.


Mereka pun melanjutkan perjalannya ke kastil Venderland untuk menemui Vendrinna, Jessy dan Nekko. Dengan terus mengikuti rombongan petarung kastil Agra dan Axcel akhirnya melakukan rencananya.


Mereka telah melewati pedesaan dan pemukiman warga Venderland, hingga akhirnya sampai dipintu gerbang kastil Venderland dengan lancar tanpa halangan apapun.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2