
Rival menyerang Axcel tanpa ampun, saat itu Axcel hanya memejamkan mata karena ia tidak mampu lagi mengangkat pedangnya.
Hiaattt ...
Sriiiiingggg ....
Tiba-tiba Rei datang membantu Axcel, kemampuan berpedangnya yang mumpuni mampu membalikkan serangan Rival secara bertubi-tubi. Berhubung Rei menggantikan dirinya bertarung melawan Rival, Axcel pun mencoba mengumpulkan energinya kembali dan memusatkan seluruh energinya kedalam pedang.
"Sepertinya hanya memusatkan energi masih belum cukup untuk melawannya, aku harus menggunakan kartu As ku." batin Axcel sambil menganalisa pergerakan Rival.
Axcel akhirnya menyayat tangannya menggunakan sebilah pedang miliknya hingga mengeluarkan setetes darah. Darah itu pun ia gunakan untuk melumuri pedangnya sambil mengucapkan sebuah mantra pembangkit.
"WAHAI PEDANG JIWA AXCELETON, KUPERSEMBAHKAN DARAHKU UNTUKMU, BERIKANLAH AKU KEKUATAN DAN HANCURKAN KEMUNGKARAN."
Tiba-tiba pedang tersebut berubah warna menjadi ungu kemerahan seperti petir dan terlihat bercahaya lalu pedang itu mengeluarkan sedikit aliran listrik di bagian sisi pedang Axceleton.
Axcel pun mulai menyerang Rival dengan menebaskan pedangnya ke tanah. Listrik yang mengalir dari pedang Axceleton itu merambat ke tanah dan mengenai Rival yang masih bertarung dengan Rei.
Rival terkejut dirinya terkena aliran listrik namun itu tidak membuatnya terluka justru membuat dirinya semakin bertambah kuat.
"Hey, kau yang disana! Apa kau bodoh? Kau menyerangku dengan aliran listrik sementara aku memiliki chakra elemen api." Ucap Rival sambil merendahkan Axcel.
"Belum selesai." jawab Axcel.
Axcel pun mengatur pernafasannya, lalu ia memusatkan energinya lagi ke ujung pedang yang masih menyentuh tanah. Dengan cepat ia mengangkat pedangnya dan menancapkan lagi ke tanah yang sudah ia beri tanda.
DUARRR ...
Ledakan itu pun terjadi, Axcel dan Rei menjauh dari area pertempuran mereka. Karena kerasnya ledakan tersebut membuat Seigiro Hakku terkejut, melihat tuannya terkena serangan dia bergegas untuk menolongnya namun berhasil dihadang oleh Samuel.
"Mau kemana anda!!?" Tanya Samuel.
"Menyingkirlah!!" Ucap Seigiro.
"Saya masih punya urusan dengan anda!"
Samuel pun berubah menjadi Harimau Api, Professor Seigiro Hakku yang merupakan kedutaan besar penelitian kastil Redfire Clan terkejut karena makhluk yang pernah ia jadikan eksperimen ada di depan matanya.
"Jadi ... Kau adalah jelmaan kucing yang waktu itu aku pungut. Rupanya kau masih hidup, hahaha ..."
Samuel tiba-tiba menerkam professor itu dan mencoba mencabik-cabik kulitnya. Namun profesor itu berhasil lolos dari cengkraman Samuel.
"Kekuatanmu semakin besar saja, maafkan aku telah membuangmu dulu. Sebagai gantinya aku akan memberimu tawaran bergabunglah kembali dengan kami. Kau akan diuntungkan dalam segala hal."
Samuel berubah kembali ke wujud asalnya lalu menatap tajam kearah Seigiro.
"Aku menolak! Sampai kapanpun aku tidak akan menjadi bawahanmu dan aku tidak akan kembali ke tempat terkutuk itu! Kalian telah meracuni tuanku!" Ucap Samuel lantang.
"Tuanmu? Ohh ... Pantas saja kau tidak menaburkan racun itu kedalam sumur mereka, rupanya kau mempunyai junjungan lain."
"Tidak! Jauh sebelum kau menemukanku aku sudah mengabdi kepada tuan muda Agra."
__ADS_1
"Hemm ... Begitu rupanya ... Jadi kau tidak mau menerima tawaranku?"
"Tidak! Sampai kapanpun aku akan tetap mengabdi kepada Blue Clan."
"Kalau begitu apa boleh buat."
Seigiro tiba-tiba mengeluarkan jarum, dengan cepat jarum itu menancap kearah Samuel dan membiusnya.
"Apa anda mencoba membius saya? Sayangnya itu sudah tidak mempan lagi."
Samuel langsung menyerang Seigiro dengan berubah menjadi harimau api.
Disisi lain Rival yang terkena ledakan tersebut menghilang tanpa jejak, Rei dan Axcel mulai bingung namun mereka meningkatkan kewaspadaan untuk serangan mendadak.
"Anak muda, apa kau masih sanggup bertarung?"
"Kesempatan untuk mengeluarkan chakra Elektrik Purple Sword ku tersisa 2 kali. Selama kesempatan itu ada aku masih sanggup melawannya."
Rival tiba-tiba menghilang dan berpindah tempat untuk menyerang Axcel dari belakang, beruntungnya Axcel dan Rei berhasil menangkisnya dengan pedang mereka.
"Hahaha ... Kalian tidak akan bisa menandingi kecepatanku! Aku akan menghancurkan kalian yang telah mencuci otak rekanku!" Ujar Rival.
"Rekan? Gadis yang tadi itu rekanmu atau kekasihmu? Sepertinya melihat dia bersama kami kau terlihat tertekan." Ucap Axcel dengan santainya.
"Jangan banyak bicara kau!" Rival terlihat marah dan menghempaskan Axcel menggunakan chakranya ke pohon besar di sampingnya.
"Asal kau tau! Jauh sebelum Laurent mengenalmu aku sudah mengenalnya. Dia adalah teman seperguruan ku dan akulah yang paling tau apa yang ada dipikirannya saat ini, hingga hari ini kau mengatakan kalau kami lah yang mencuci otaknya apa kalian sadar kalau kalian lah penyebab dari kekacauan ini! Kalian yang membuat ketidak seimbangan dunia ini! Laurent pun bertindak atas kehendaknya sendiri!"
"Kau tidak akan bisa menyentuhnya!"
Axcel menyerang kembali dengan pedangnya kali ini dia menggunakan chakra Elektrik Purple Sword lagi ia menyerang Rival secara beruntun tanpa celah. Aliran listrik itu menyengat Rival dan meledakkannya dengan terus menerus.
Namun dengan kekebalan tubuh dan stamina yang bagus Rival sangat sulit untuk dikalahkan, bahkan Rival mampu membalikkan serangan yang ada hingga Axcel terpental jauh.
Melihat Axcel terluka Rei pun turun tangan kembali untuk melawan Rival. Pertarungan terus berlanjut antara Rei dan Axcel.
"Aghhh ... Uhuk ... Uhuk ..." Axcel memuntahkan darah.
Agra dan Vendrinna pun berlari untuk membawa Axcel ke dalam tabir pelindung.
"Kak ... Bangunlah! Vendrinna tolong sembuhkan dia, biar aku yang akan menggantikannya!" Agra berdiri dan bergegas masuk ke dalam pertempuran, akan tetapi tiba-tiba tangan Axcel meraih tangan Agra dengan erat.
"Agra, tetaplah ... Disini ..."
"Kau pikir aku akan tinggal diam saja disini melihat teman-temanku mati satu per satu?"
"Ja ... Jangan pergi ..." Axcel masih menggenggam erat.
Melihat Axcel meneteskan air mata Agra membatalkan dirinya untuk masuk ke pertempuran.
"Astaagaa ... Kenapa kau menangis, kau itu putra mahkota! Calon raja! Kenapa kau malah jadi begini!"
__ADS_1
"Ren ... "
"Ren?? Ren siapa??"
"Kau sangat mirip dengan adikku."
"Haa? Vendrinna sepertinya dia terkena benturan di kepalanya coba cek dulu."
"Agra, di kepalanya tidak terkena apapun dia bicara dalam keadaan sadar." Jelas Vendrinna.
"Ren ... adalah adikku kandung ... Dia terbunuh bersama ibuku karena aku ... Ugh ... Uhuk ... Uhuk ..." Ucap Axcel terbata-bata.
"Baiklah ... Baiklah ... Kau sembuhkan dirimu dulu dan jangan bergerak." Agra mencoba menenangkannya.
"Kalian jangan pergi kemanapun! Kalian sedang dalam incaran mereka." Perintah Axcel sambil mengeluarkan surat yang dibuat Raja Leviathan.
"Apa ini?" Agra membuka dan membaca isi suratnya. (Isi surat ada di chapter 30)
"Aku mendapatkan informasi itu dari Laurent, surat itu dikirim sudah agak lama. Jadi kalian harus berhati-hati."
"Kenapa harus Vendrinna juga." Ucap Agra.
"Tapi sampai saat ini tidak terjadi apapun kan?" Ujar Vendrinna.
"Itu karena Laurent melindungi kalian. Laurent sempat melaporkan informasi palsu untuk mengecoh Leviathan agar tidak terfokus oleh kau, Vendrinna."
"Tenang saja, aku bisa menjaga diriku baik-baik, fokuslah untuk kesembuhanmu dulu." Ucap Vendrinna sambil kembali menyembuhkan Axcel.
Duarrr ...
Ledakan tersebut kembali terjadi saat itu terlihat Rei sedang kewalahan menghadapi Rival disusul Samuel yang kelelahan melawan Seigiro Hakku, melihat Rei dan Samuel terlihat kekurangan energi Axcel pun bergegas kembali ke pertempuran untuk menyelesaikannya.
"Mau kemana kau!" Tanya Agra.
"Kembali! Tersisa satu chakra lagi untuk aku gunakan, kali ini aku harus melumpuhkannya." Ucap Axcel.
"Apa kau mau mati?" Tanya Agra dengan kesal.
Axcel tidak menggubris Agra, dia tetap nekat untuk masuk ke dalam pertempuran.
"Kau benar-benar nekat!" Agra meraih tangan Axcel dan memborgol tangannya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Axcel.
"Sampai jumpa! Vendrinna jaga orang ini, hehe ..." Ejek Agra sambil masuk kedalam pertempuran.
"Oke." jawab Vendrinna.
"Agraaa ..." Teriak Axcel.
Tiba-tiba kabut putih yang pekat itu muncul disaat itulah Agra mengeluarkan pedang Siner Storm-nya. Pedang itu mulai terlihat bersinar karena Agra sudah mengaliri chakranya kedalam pedang tersebut.
__ADS_1
DENGAN KEKUATAN BADAI CAHAYA AKU MENGIRIMMU UNTUK MENGAPUS KEGELAPAN, DATANGLAH DAN SINARILAH DUNIA DENGAN CAHAYAMU.