The Last Clan Blue

The Last Clan Blue
37. Hari Ulang Tahun


__ADS_3

Pagi hari, masih di negeri Shin lebih tepatnya di desa Kojou mereka akhirnya menghabiskan waktu selama satu minggu dengan tenang. Semuanya benar-benar sesuai harapan mereka, tanpa adanya gangguan ataupun incaran dari Redfire Clan.


Semenjak kejadian kemarin Laurent juga tidak muncul kembali, namun mereka tetap khawatir jika Laurent akan membocorkan keberadaan mereka di negeri Shin.



Saat pagi buta Vendrinna bangun lebih awal, ia langsung menuju dapur dan memasak sesuatu. Tentunya ia memasak khusus untuk seseorang, senyumannya saat memasak telah merontokkan sisi tempramennya semalam dan mengembalikan sisi kelembutannya. Ia kembali menjadi wanita yang lembut dan penuh keceriaan.


"Hmm ... bau wangi apa ini? Siapa yang memasak sepagi ini?"


Agra yang masih tertidur mencium aroma wangi dari masakannya, ia kemudian bangun dan menuju dapur untuk mengeceknya.


"Aku jadi merasa lapar."


Agra pun membuka tirai dapur dan dilihatnya Vendrinna sudah menyajikan satu porsi makanan nasi goreng dengan daging ayam diatas meja makan.


"Ah ... Vendrinna? Tumben kau bangun pagi-pagi dan memasak?"


"Agra! kebetulan sekali kau ada disini, ayo kesini sebelum mereka bangun."


"Huh?"


Agra berjalan menghampiri meja makan itu.


Kruukk ...


~ Sial perutku benar-benar tidak bisa diajak kompromi.


"Kau lapar?" Tanya Vendrinna.


"Ah ... tidak hehe ..."


"Jangan berbohong kau semalam tidak makan karena mengikuti hukuman yang kuberi, aku jadi merasa bersalah. Jika kau mau, makan saja nasi goreng itu untuk mengisi perut kosongmu."


"Tidak usah itu kan makananmu."


"Tidak perlu sungkan! Sebenarnya makanan ini juga sudah kusiapkan secara khusus untukmu."


~Tumben dia memasak untukku, hari ini dia juga berubah menjadi lebih lembut.


"Kenapa diam? Ayo duduklah." Vendrinna menyiapkan tempat duduk untuk Agra.


"Baiklah!" Agra kemudian duduk dan melihat makanan yang sudah disajikan tersebut.


"Sebentar biar kuambil minumannya." Vendrinna bergegas mengambil air.


"Eumm ... Vendrinna?"


"Ya?"


"Kenapa kau tiba-tiba menjadi aneh begini?"


"Aneh kenapa?"


"Setelah kejadian kemarin, kupikir kau marah dan tidak mau berbicara lagi denganku."


"Oh ... ternyata kau masih memikirkan itu, tenang saja aku tidak marah lagi kok justru aku merasa bersalah karena telah menuduhmu yang tidak-tidak. Ini minumnya."


Setelah memberikan segelas air minum Vendrinna mengambil posisi duduk berhadapan dengan Agra. Ia menatap Agra dengan senyuman yang masih merona.


"Kenapa kau tersenyum?"


"Tidak! Ayo makanlah!"


Agra pun memakan masakan itu, dengan penuh kehati-hatian dia mencoba mengambil sesuap nasi goreng dan memasukkannya kemulut.


"Dilihat dari wajahmu sepertinya kau tidak yakin dengan niat baikku ini, tenang saja aku tidak meracunimu kok."


"Bukannya seperti itu, aku hanya bingung saja."


"Jangan bingung kalau begitu. Ayo makan lagi."


"Baik."


"Bagaimana rasanya?"


"Hmm ... ini enak sekali. Apakah kau dulu suka memasak?"


"Tidak juga, kau tahu? Dulu waktu aku masih kecil aku begitu malas untuk memasak lho ... bahkan terpikirkan pun tidak. Namun demi seseorang yang berharga bagiku aku mencoba membuat masakan yang enak khusus untuknya dan dia menyukainya."


"Wah! Jadi dia adalah orang pertama yang mencicipi masakanmu. Lalu sekarang dia kemana?"


Vendrinna terdiam sejenak kemudian menatap Agra begitu dalam.


"Kami terpisah saat berumur 4 tahun, pertemuan kami begitu singkat. Kami saling mengenal dalam jangka waktu hanya 6 bulan. Namun tidak genap satu tahun dia menghilang tanpa kabar. Dia sama sepertimu, memiliki warna mata biru dan berambut putih seperti dewa. Dia adalah dewa pelindung karena setiap kali aku dibully oleh anak-anak lainnya hanya dia yang selalu menyelamatkanku."

__ADS_1


"Apakah dia anggota klan Blue? warna mata dan rambut seperti itu hanya dimiliki oleh anggota klan Blue."


"Iya. Aku baru menyadarinya saat aku sudah kehilangan kontak dengan dirinya."


"Pantas saja kau bertanya denganku tentang jumlah anggota klan blue yang masih selamat. Jadi kau mencari dia."


"Iya, tapi aku yakin bahwa dia masih hidup."


"Tapi yang selamat saat itu hanyalah aku, dan aku menyaksikan sendiri mayat-mayat dari anggota klanku yang sudah mati."


"Jika dia adalah kau bagaimana?"


"Aku? Jangan sembarangan, aku ingat betul masa kecilku dulu. Lagipula jika aku adalah orang yang kau maksud aku pasti mengingat jelas kenangan-kenangan itu."


"Benar ... tidak mungkin Blue adalah kamu, hahaha ..."


"Namanya Blue?"


"Iya aku yang memberikan nama itu."


"Blue?"


"Sudah jangan dipikirkan cepat habiskan makanannya, setelah itu ikut aku pergi jalan-jalan."


Agra kemudian melanjutkan makannya dan menghabiskan nasi goreng tersebut. Setelah beberapa menit bersiap-siap Agra dan Vendrinna pergi keluar. Tak lupa Agra merubah penampilannya terlebih dahulu agar identitasnya tidak diketahui banyak orang. Ia merubah warnah rambut dan matanya kewarna sebelumnya.


"Haha ... aku lebih suka gaya rambutmu yang sekarang, terlihat keren."


"Benarkah?"


"Iya."


"Tapi terkadang chakra ini bisa melemah kapan saja, tergantung berapa sering aku menggunakannya."


"Oh ... kalau begitu kau kembali kewujud aslimu saat malam hari saja."


"Iya aku juga berfikir seperti itu. Ngomong-ngomong kau mengajakku kemana pagi-pagi ini."


"Sudahlah nanti kau akan tahu. Aku juga sudah menyiapkan kendaraan untuk berangkat."


Vendrinna menunjuk kearah sepasang kuda putih yang sudah terikat dengan kuat.


"Kuda?"


~Sudah lama aku tidak menaiki kuda, Vendrinna benar-benar menyiapkan semuanya secara terperinci.


Vendrinna dan Agra kini menaiki kuda putih tersebut, ia kemudian memulai perjalanannya. Dengan rasa bahagia dan senyum yang terus melintang diwajah Vendrinna menjadi sebuah arti tersendiri bagi dirinya.


Agra yang melihat senyum bahagia Vendrinna juga turut larut dalam suasana ini. Agra ikut tersenyum saat Vendrinna menatap hangat dirinya.


"Vendrinna sepertinya kau bahagia hari ini?"


"Iya, kau tahu hari ini hari apa?"


"Memangnya hari apa?"


"Hari ulang tahunku."


"Hah? Benarkah?"


"Iya."


~Kenapa aku lupa menanyakan hari ulang tahunnya ke Jessy, gawat jika seperti ini kondisinya. Aku juga tidak menyiapkan kado apapun. Seorang laki-laki harus menyiapkan kejutan untuk seorang perempuan kan? Tapi kenapa situasi ini malah berbanding terbalik? Aku memang payah.


"Ah ... Maaf aku tidak ta–"


"Ssstt ... aku memang sengaja melakukan ini semua dan aku juga membungkam Jessy mengenai hari kelahiranku agar dia tidak memberitahumu."


"Huh? kenapa?"


"Agar aku tahu caramu membahagiakan seorang perempuan meski tidak tahu hari kelahiranku. Aku sudah muak dengan laki-laki yang mencari muka saat hari kelahiran sang putri Venderland."


"Ahaha ... begitu ya?"


"Iya, Ohya kau mau balap kuda denganku?"


"Baiklah siapa takut."


"Hiattt ..."


Vendrinna meninggalkan Agra dengan pacuan yang lebih cepat. Kudanya berlari begitu cepat seperti angin.


"Wah sang putri mendahuluiku ya? Tunggulah pangeran ini datang menyusulmu."


Agra juga memacu kudanya lebih cepat dari kuda Vendrinna, mereka akhirnya saling beradu kecepatan dalam berpacu kuda.

__ADS_1


Selama berberapa jam mereka beradu pacuan kuda akhirnya sampailah di Negeri Lavender tepatnya di ladang bunga Lavender yang juga menjadi penghubung sungai sungai Hollow Vender. Mereka mengikat sepasang kuda putih itu diantara pepohonan dan menuju ke ladang bunga lavender.


"Sudah kutebak kau akan kesini."


"Haha ... kau tahu kan aku tidak bisa jauh-jauh dari tempat ini."


"Apakah ada kenangan ditempat ini?"


"Iya, disinilah pertama kalinya aku bertemu dengan blue."


"Ohh ... begitu."


~Apakah dia kesini hanya untuk mengingat kenangan bersama Blue saja? Kalau begitu kenapa dia mengajakku?


"Kita nanti disini sampai malam, tidak apa-apa kan?"


"Iya tidak masalah. Asal kau hari ini bisa bahagia."


"Terima kasih."


"Sama-sama."


Mereka pun akhirnya menjelajahi negeri Lavender dan menelusuri rumah lama Vendrinna yang kini tinggal puing-puingnya saja. Disana sudah tidak ada barang bagus yang tersisa untuk mereka bawa pulang kecuali sebuah benda yang terbungkus dengan kain warna putih.


Agra menemukannya dibawah reruntuhan puing-puing bangunan. Ia pun membuka bungkusan kain putih itu, didalamnya terdapat serpihan bambu, kain simbol klan dan juga kalung batu fosfor warna biru.


"Vendrinna! coba lihat aku menemukan sesuatu disini."


"Apa?"


"Kemarilah!"


Vendrinna menghampiri Agra dengan rasa penasarannya.


"Aku menemukan serpihan bambu yang bertuliskan namamu dengan Blue, disini juga ada kain bersimbol klan Blue dan kalung fosfor berwarna biru."


"Ah ... mana!"


Vendrinna tergesa-gesa mengambil barang itu dan memeluknya begitu erat. Tiba-tiba saja Vendrinna menangis tersedu-sedu setelah barang ini dia temukan.


"Vendrinna apa kau baik-baik saja?"


"Hiks ... hiks ..."


~Kalung itu ...


Sekilas Agra merasa ada sesuatu yang muncul dalam pikirannya, namun kali ini kemunculannya begitu menyakitkan.


"Arrrggggghhh! Kepalaku!"


"Huh Agra! Apa yang terjadi?"


Chip yang masih menempel ditangan Agra pun bersinar beberapa detik kemudian menghilang kembali.


~Pertanda apa ini? kenapa chip ditelapak tangan Agra bersinar. Jangan-jangan ...


"Ahhh ... Aku baik-baik saja."


"Baik-baik saja bagaimana? kau tadi baru saja kesakitan dan chip itu menyala."


"Entahlah tadi ada sesuatu yang muncul dalam pikiranku. Tapi sekarang agak mereda, aku baik-baik saja."


"Benar kau baik-baik saja?"


"Iya, percayalah padaku."


"Baiklah kalau begitu kita kembali ke sungai Hollow Vender saja."


"Baik!"


Mereka memutuskan untuk kembali kesungai Hollow Vender dan membawa barang itu.


*****


Di kastil Maximus tepat di ruangan kamar milik putri Laurent Maxime.


"Chip itu menyala ya?"


Untung saja aku sudah mengganti chip itu dengan chip buatanku sendiri. Aku tidak mungkin membiarkan sayangku mati ditangan Rival sialan itu.


Laurent pun bergegas membuka data sistem dari chip yang melekat ditangan Agra saat ini. Dia seketika tersenyum dan terlihat lega setelah memeriksa data chip itu.


"Akhirnya chip yang kupasang kemarin berfungsi dengan baik. Saatnya untuk mengembalikan hal-hal yang telah hilang dari dirimu."


#BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2