The Last Clan Blue

The Last Clan Blue
70. Misi Langkah Bayangan


__ADS_3

Malam hari terasa begitu panjang ketika Agra dan lainnya memutuskan untuk pergi meninggalkan negeri Shinzou. Saat itu adalah hari dimana kekompakan mereka terjalin dengan sangat kuat, jika salah satu diantara mereka tertinggal, mereka tidak segan untuk kembali menjemput rekannya dan menolongnya.


Disitulah Agra mulai menyadari apa yang disebut teman sekaligus rekan satu tim. Selama ini dia hanya merasakan kesepian dan kehampaan, namun sekarang Agra telah memandang cahaya itu dari sudut lain, ia melihatnya dengan sangat jelas hingga saat itu juga Agra pun bangkit.


Dibalik dukanya Agra telah dipertemukan oleh takdir yang lebih baik bersama teman-temannya. Teman-teman yang dulu terpisah selama bertahun-tahun lamanya, sekarang Agra disatukan kembali oleh teman lamanya lagi hingga membentuk sebuah tim.


Semua yang berasal dari masa lalu kembali lagi dengan versi baru mereka, dengan semangat juang mereka, dan juga rasa kepedulian mereka. Agra saat itu hanya memandang langit malam sembari tersenyum ke bintang dan bulan yang mengikutinya, dari kereta kuda tersebut Agra merasakan sedikit ketenangan dan merasakan kedamaian di dalam dirinya.


"Agra? Kenapa kau tersenyum?" Vendrinna tiba-tiba membubarkan lamunan Agra.


"Ahh ... Tidak aku hanya merasa sedikit tenang." Jawab Agra.


"Kenapa? Apa yang membuatmu tenang?" Tanya Vendrinna.


"Kamu mau tau apa mau tau banget? Hahaha ..." Ledek Agra.


"Kau ini!!" Vendrinna tiba-tiba menggelitiki Agra.


"Hahaha ... Vei Vei hentikan ... Geli ..." Agra tertawa sambil menahan geli.


"Pacaran aja terus!" Ucap Laurent dengan wajah datar.


Agra dan Vendrinna terdiam sambil merasa malu setelah mendengar sindirian Laurent yang sedang cemburu.


Bruakk ...


"Ada apa paman Samuel?" Tanya Axcel kepada Samuel yang saat itu sedang mengendarai kereta kuda.


Samuel bergegas masuk kedalam dan membisikkan sesuatu kepada Agra, Axcel dan lainnya.


"Kita dihadang oleh prajurit Redfire Clan." Ucap Samuel lirih.


"Astaga baru saja dibahas." Ucap Jessy.


"Kalian tunggu sebentar disini! Biarkan aku turun sebentar." Ujar Axcel.


Tiba-tiba Jessy memegang tangan Axcel, dengan wajah takutnya ia mengkhawatirkan Axcel lebih dari dirinya sendiri.


"Hati-hati pangeran!" Ucap Jessy.


Sambil mengelus kepala Jessy dia mencoba menenangkan Jessy.


"Tidak apa-apa, semuanya akan aman didalam kendaliku." Ucap Axcel dengan suara lembut.


"Aku akan ikut turun!" Agra menawarkan diri.


"Jangan! Kau tetaplah disini jaga yang lainnya." Axcel menolak.


"Tapi ..." Agra menyela.


Axcel hanya menatap tajam Agra tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Ia pun bergegas turun dari kereta kuda tersebut.


Akhirnya Agra hanya bisa melihat mereka dari balik jendela kereta, terlihat Axcel dan prajurit tersebut sedang bernegosiasi lalu tidak lama kemudian muncul ke enam orang yang diduga adalah paranormal yang sebenarnya diutus oleh Redfire Clan. Saat itu pun pandangan Agra teralihkan kedalam semak belukar jauh dari lokasi mereka terdapat begitu banyak orang yang sedang bersembunyi seakan sedang mengepung mereka.


Agra yang tak mau tinggal diam akhirnya memutuskan untuk keluar dan memberi tahu Axcel bahwa mereka sedang dijebak.

__ADS_1


"Kita sedang dijebak, ada banyak prajurit lagi di dalam semak belukar sana." Ucap Agra.


"Ada berapa?" Tanya Axcel.


"Sekitar 20 ... 30 orang lagi yang ada disana. Mereka mengelilingi kita. Apa keretamu itu bisa menghilang dan mengelabuhi mereka semua?" Tanya Agra balik.


"Hey ... Kalian yang disana! Siapa kalian sebenarnya? Kalian telah mengaku sebsgai paranormal dan menyusup ke wilayah kami." Prajurit itu mulai mengeraskan bicaranya.


"Wilayah kalian? Apa kalian punya wilayah? Bukan kah ini adalah wilayah milik klan Loneblast." tanya Agra sambil meledek.


Prajurit itu menaikkan tangannya dan mengayunkannya keudara seakan memberi kode untuk menyerang.


Tiba-tiba serangan pun muncul dari balik semak. Anak panah terus menghujam ke arah Agra, Axcel dan lainnya. Beruntung Axcel mampu menangkis nya dengan pedang. Serangan kedua muncul dengan semburan api yang begitu dahsyat, Agra dan Axcel mencoba melindungi kereta dengan kemampuannya.


"Agra, jangan sesekali kau mengeluarkan chakramu. Mereka akan dengan mudah mengenalinya jadi gunakan keahlian bela dirimu saja." bisik Axcel.


"Baiklah ..." jawab Agra.


"Aku tanya sekali lagi siapa kalian!" tanya prajurit tersebut dengan lantang.


Agra dan Axcel tidak menjawab pertanyaan tersebut ia malah membalikkan serangannya kepada lawan dan mencoba melumpuhkannya.


"Agra ... Kau pergilah bersama yang lainnya! Aku akan membuka jalan kalian dan pacu keretanya lebih cepatnya. Setelah urusanku dengan mereka selesai aku akan menyusul kalian." Ucap Axcel.


"Apa kau yakin?" Tanya Agra.


Mereka berdua pun saling bertatapan seakan ada sinyal komunikasi lain muncul hanya dengan diam. Setelah menatap mata Axcel, Agra mengetahui apa yang direncanakan Axcel nantinya. Jadi, Agra mengikuti apa yang disarankan oleh nya.


Agra bergegas menuju kereta kuda tanpa memikirkan apapun yang akan terjadi selanjutnya, di isi kepalanya hanya ada cara mengatasi hal buruk ini dan kepercayaan antar rekan membuat instingnya jauh lebih aktif dibanding sebelumnya.


"Tapi bagaimana dengan pangeran Axcel?" - Jessy.


"Kita tidak bisa meninggalkannya begitu saja!" - Vendrinna.


"Instingku mengatakan dia akan baik-baik saja. Percayalah pada kemampuannya dia akan menyusul kita segera." - Agra.


"Tuan muda dan nona-nona berpegangan lah kalian! Kereta ini akan aku percepat." - Ucap Samuel.


Kereta itu mulai bergerak dengan pacuan yang cepat, Axcel pun berhasil membuka jalan untuk mereka, namun Jessy yang tidak tega meninggalkan Axcel mencoba meraih tangan Axcel dari belakang kereta.


Belum sempat meraihnya kereta itu berjalan begitu cepat, Jessy hanya bisa melihat Axcel bertarung sendirian, namun saat di kejauhan Jessy melihat Axcel melambaikan tangan ke arahnya sebagai tanda salam jumpa. Pertarungan itu terus terjadi bersamaan dengan semakin jauhnya laju kereta yang mereka tumpangi.


"Sekarang kita aman." Ucap Agra sambil melihat ke luar jendela.


Tiba-tiba Jessy keluar menaiki atap kereta dia mencoba untuk memanggil awan putihnya untuk melacak keberadaan Axcel. Dia juga telah memasang kabut putih untuk melindungi mereka dari ancaman.


"Jessy turunlah kau bisa jatuh!" Teriak Vendrinna.


Jessy akhirnya turun dan dia mulai memerintahkan Samuel untuk segera menghentikan keretanya. Samuel pun mengikuti arahan Jessy untuk menghentikan keretanya, kabut itu semakin menebal mengelilingi mereka.


"Apa kabut ini kau yang membuatnya Jessy?" tanya Agra.


"Iya ... Jangan bergerak dulu! Ada sesuatu yang mendekat kearah kita." Ucap Jessy.


"Ughh ... Ahh ..." Laurent berteriak kesakitan.

__ADS_1


"Laurent! Kau baik-baik saja?" tanya Agra.


"Leherku! Kalung ini mengikat leherku! To ... Tolong aku ..." Jelas Laurent sambil merintih kesakitan.


"Siapa lagi yang menghalangi kita?" Agra terlihat kebingungan.


"Agghh ... Ag ... Agraa ... Hiks ..." Laurent terus merintih.


Tiba-tiba dari atap kereta datang sosok pria berjubah merah, kecepatannya saat datang tidak bisa dirasakan oleh Agra dan lainnya.


"Laurent! Aku tau kau berada di dalam sini bersama para bedebah sialan! Keluar atau aku hancurkan kereta ini!" Pria itu mengancam Laurent.


Demi keamanan semuanya Laurent keluar dari kereta dengan leher masih terikat kalung yang sudah dikendalikan oleh pria tersebut. Semua orang pun keluar dari kereta untuk melihat siapa orang yang menghentikan perjalanan mereka.


"Si ... Siapa kau!?" Tanya Laurent.


Pria itu membuka kerudungnya, postur tubuh dan wajahnya terlihat tidak asing bagi Laurent itulah mengapa gadis malang itu langsung mengenalinya.


"Ohh ... Rupanya kau pangeran Rival!!" ucap Laurent.


Dengan chakranya Rival berhasil menarik leher Laurent dan mencengkramnya dengan erat, hal itu membuat Laurent sulit bernafas.


"Lama tidak bertemu yaa ... Tuan Putri Laurent Maxime dan juga ... sepertinya kau membawa emas buruan kita ... Agra Le Bluezer ... Hahahaha ... Aku tidak menyangka kau akan bergabung dengan para buronan ini!" - Rival.


Melihat siapa musuh yang ada di depan mereka Samuel pun membuat baris pertahanan untuk melindungi Agra, diikuti oleh Vendrinna dan Jessy yang berada di samping kanan dan kiri Agra.


"Kewaspadaan kalian meningkat rupanya? Setelah menjadi buronan dan bersembunyi di lubang tikus apakah kalian sudah menyiapkan rencana lainnya?" tanya Rival.


"Lepaskan Laurent!" Teriak Agra.


"Melepaskan? Hal konyol apalagi ini? Perempuan yang aku percayai mengkhianatiku bahkan dia juga berani menghianati klan nya sendiri? Bagaimana aku bisa melepaskannya?" Jawab Rival.


"Rival! Urusanmu hanya denganku jangan sampai kau melukai mereka!" Laurent bicara dengan lantang.


"Apa kau sedang bercanda?" tanya Rival sambil meluncurkan ledakan api ke arah Agra.


Duarrr ...


"Agra!!" Teriak Laurent.


Beruntung Agra dan lainnya selamat dari ledakan tersebut berkat perisai kupu-kupu milik Vendrinna.


"Tolong lindungi tuan muda Agra! Biarkan aku yang menyerangnya." Ujar Samuel.


Samuel pun berlari menuju kearah Rival untuk menyelamatkan Laurent namun dia gagal. Rival mengeluarkan serangan lagi untuk melumpuhkan lawan.


"Lepaskan!!" Laurent mengeluarkan chakra api dari tangannya hingga nyaris membakar tangan Rival.


"Aghh ... Panass ..." Rival pun melemparkan Laurent dan terjatuh dari atap kereta.


"Vendrinna! Jessy! Sembuhkan Laurent!" perintah Agra.


"Tapi ..." Ucap Vendrinna.


"Jangan pikirkan aku, aku baik-baik saja! Sudah lama aku tidak bertarung dan ini saatnya untuk mengasah pedang Siner Storm milikku!" Agra pun mulai mengeluarkan pedang tersebut namun tiba-tiba dia digagalkan oleh sosok misterius bertopeng.

__ADS_1


"Mau apa kau!?"


__ADS_2