
Hiks ... hiks ...
"Emm ... sudahlah berhenti menangis dan mulailah untuk melepaskan ...."
"Tidak! sangat sulit untuk melepaskan masalah ini."
"Eumm ... bukan itu maksudku. Aku ingin bilang berhenti menangis dan lepaskan pelukanmu ini, rasanya sesak sekali."
Vendrinna tersontak dan membuka matanya lebar-lebar ia baru sadar kalau dia masih memeluk Agra dengan sangat erat hingga Agra susah bernafas.
"Eh ... Maaf."
Vendrinna seketika melepaskan pelukannya, dia merasa salah tingkah saat Agra menatapnya hanya dengan senyuman.
"Ahaha ... sepertinya kau merindukanku ya?"
"Tidak!"
"Bohong!"
"Kubilang tidak ya tidak!"
"Hm ... yaudah aku balik lagi, tinggalah disini lebih lama ya ... jaga kesehatanmu juga."
Agra sedang menjahili Vendrinna dengan berpura-pura pergi meninggalkannya.
"Yasudah pergi sana! tinggalkan aku sendiri! paling kau hanya bercanda."
"Baiklah kalau itu maumu, Nekko tarik aku! Orangnya tidak mau kuajak pergi!"
Agra melangkahkan kakinya menuju jendela itu lagi dan menyiapkan tali untuk turun kembali kebawah. Vendrinna hanya diam dan melirik ulah Agra yang saat itu akan melompat dari jendela kamarnya.
~Tunggu dulu! Apakah tadi dia benar-benar serius mengatakannya? kalau begitu dia tidak akan kubiarkan pergi ...
~Tanpa diriku jugaa!
Vendrinna bergegas lari menuju jendela kamarnya dan menyusul Agra yang saat itu masih berdiri ditengah-tengah jendela. Vendrinna memeluk tubuh Agra dari belakang dengan tujuan menahan Agra untuk tidak melompat kebawah.
"Jangan tinggalkan aku! bawa aku pergi juga, aku hanya bercanda kok, hehe..."
~Mwehehe ... rencanaku berhasil.
"Baiklah kalau kau mau pergi denganku, tapi kita harus saling menghadapi rasa sakit dari patahnya tulang rusuk kita! Hiat!"
Agra mulai melompat kebawah tanpa bantuan apapun.
"Kyaaa!! Dasar bodohh ... Kalau begini ceritanya aku tidak mau mati konyol denganmu!"
Vendrinna menjerit ketakutan saat Agra mulai melompat dari lantai tiga. Dia memegang erat tubuh Agra tanpa melepaskannya.
"Berisik! Diam dan nikmatilah saat-saat terakhir kita."
Dengan santai Agra mengucapkan kata-kata yang membuat mental Vendrinna menjadi menurun. Sementara itu dibawah bangunan timur kastil, Axcel dan Jessy dibuat terkejut oleh ulah Agra yang tidak terduga.
"Hey ... Dasar tolol kau Agra! yang kau bawa itu orang bukan karung beras bodoh! kalau mau lompat, lompat aja sendiri!"
Jessy berteriak dari bawah bangunan kastil dan Agra sama sekali tidak menggubrisnya.
"Jessy tenanglah! Sepertinya kau salah paham."
__ADS_1
"Huh? apa maksudmu?"
"Dia sedang merencanakan sesuatu."
"Rencana apalagi?"
"Aku juga tidak tahu."
Mereka akhirnya saling berharap agar tidak terjadi apa-apa dengan Agra dan Vendrinna.
"Nekko! ini saatnya kau menunjukkan dirimu yang sebenarnya kepada mereka."
"Miauw."
Tiba-tiba tubuh Nekko bersinar dengan terang dan perubahan besar terjadi pada tubuh kucing itu. Bulu yang panjang dengan lidah api yang menyelimuti tubuhnya keluar,
Agra dan Vendrinna akhirnya berhasil mendarat kebawah dengan sempurna, kemudian dia memerintahkan Nekko untuk bersiap menghadapi serangan dadakan yang mungkin potensinya lumayan besar.
"Tuan putri kau bisa turun sekarang!" - Agra.
Vendrinna yang sejak tadi digendong oleh Agra mulai turun dari pungggungnya. Vendrinna kali ini menatap punggung Agra dengan sangat dalam yang mungkin bisa membuat hatinya luluh seketika.
~Dia begitu kuat dan memiliki jiwa keberanian yang tinggi, meski kemampuannya masih dibawah para petarung lainnya tapi dia tetap siap untuk melindungi teman-temannya, apapun caranya.
"Nekko kali ini kau harus siaga dan memperkuat pertahananmu! Jangan sampai lengah! Aku akan membantumu mengatur chakramu!" -Agra.
"Mereka? siapa yang kau maksud?" -Vendrinna.
"Nanti kau juga akan tahu, tapi sebelum kau mengetahuinya aku harap kau jangan terkejut." -Agra.
"Ada apa sebenarnya? Kenapa Nekko bisa berubah begini." -Jessy.
"Tidak jessy menurut analisisku ini adalah wujud asli dirinya." -Axcel.
"Wujud asli?" -Vendrinna.
"Kau benar kak." -Agra.
"Apa kau baru saja memanggilku kakak?" - Axcel.
Agra menjawab pertanyaan Axcel dengan tersenyum dan mengulurkan tangannya kearah Axcel.
"Aku membutuhkan bantuan chakramu kak, karena lawan kita kali ini sangatlah kuat."
"Kau ...?"
Axcel menerima uluran tangan Agra, mereka saling tersenyum dan bersalaman dengan hangat.
Kraatakk ...
"Aaaduh ... duh ... tanganku sakit. Kenapa kau menggenggam tanganku dengan sangat erat? Apa kau mau mematahkan tulangku?"
"Aku paling tidak suka melihat orang berbohong ataupun berpura-pura. Kau hanya ingin memanfaatkanku kan dengan memaniskan ucapanmu padaku!"
"Bu ... bukannya begitu tapi ..."
"Bertarunglah sendiri! Aku tidak mau membantumu!"
Wajah Agra terlihat marah saat mendengar Axcel menolak ajakannya, dia pun pergi dan meninggalkan kalimat terakhirnya sebelum bertarung.
__ADS_1
"Baiklah kalau kau tidak mau membantuku, tidak masalah. Tapi kau jangan menuduhku yang tidak-tidak. Sejujurnya Itu malah membuatku merasa tidak bersemangat."
Agra pergi meninggalkan Axcel, Jessy dan Vendrinna, dia mulai mempersiapkan dirinya untuk bertarung melawan sosok misterius itu sendirian.
"Kenapa kau tidak mau membantunya? Dia kan adik kandungmu?" -Vendrinna.
"Eehh ... sepertinya kau salah paham." -Jessy.
"Lalu? Apa yang sebenarnya terjadi dengan Agra dan pria itu? sepertinya ada hal yang telah aku lewatkan disini." - Vendrinna.
"Aku bukan kakak kandungnya." - Axcel.
"Oh ... Kupikir selain Agra ada lagi klan Blue yang masih hidup. Lalu bagaimana kau bisa bertemu dengannya?"-Vendrinna.
Axcel mulai menceritakan awal bertemu dengan Agra, dan hal-hal yang terjadi dengan mereka selama waktu kecil. Semua misteri tentang Agra akhirnya terkuak satu per satu, kini tinggal Vendrinna menyelidiki apakah Agra adalah anak laki-laki yang dulu ditemuinya.
"Jadi kau adalah pangeran Axcel yang terkenal dengan sebutan Master Sword dari perguruan Ryuuku dan kau juga teman masa kecilnya Agra?" -Vendrinna.
"Yap betul sekali." -Axcel.
~Ternyata aku cukup populer juga dikalangan wanita hehe ...
Duarrrrrrr ....
Mereka terkejut setelah mendengar ledakan itu, namun lebih mengejutkan lagi mereka melihat suasana kastil yang seketika berubah menjadi hutan yang lebat dan gelap. Semua bangunan kastil pun menghilang dan lenyap dari pandangan.
Axcel, Jessy, dan Vendrinna berulang kali merasa kebingungan akibat kejadian ini. Energi negatif yang sangat kuat kini sedang menyelimuti mereka.
"Ledakan apa barusan?" -Jessy.
"Pantas aku merasa ganjil dengan sikap orang-orang disekitar sini, kecuali ayahku dan panglima Askaria." -Vendrinna.
"Jangan-jangan ..."
Axcel lari dengan sangat kencang menuju ledakan itu disusul Vendrinna dan Jessy mereka segera berlari menuju sumber ledakan dan melihat apa yang terjadi disana.
Disana terlihat Agra dan Nekko sedang menghadapi musuh misterius, sosok itu adalah laki-laki berambut putih dengan baju hitam mirip ksatria dari bangsa klan barat.
"Tidak akan kubiarkan kau membawanya!" -Agra.
"Baiklah! kalau kau masih mau mengganggu rencanaku. Aku akan melakukan hal yang lebih mengerikan dari ini." -Mr. X.
Orang itu mengeluarkan alat peledak dengan bentuk bulatan yang lebih kecil dari sebelumnya, namun levelnya lebih tinggi dari bahan peledak yang ia gunakan pertama kali. Dia kemudian melemparkan alat peledak itu kearah Agra dan akhirnya ledakan kedua terjadi.
Duarrr ...
Duaarrrrr ...
"Agra!"
melihat situasi yang terjadi Vendrinna merasa cemas akan keselamatan Agra. Dia berinisiatif untuk membantunya namun ledakan kedua itu membuatnya terpental dan jatuh.
Axcel pun mengeluarkan pedang Axceleton untuk membuat tabir pelindung disekeliling mereka.
"Putri Vendrinna kau tetap disini saja dengan Jessy, aku akan memikirkan cara untuk menyelamatkannya."
Kabut asap bekas ledakan itu mulai menebal dan mengganggu penglihatan mereka, kini Axcel semakin sulit untuk memantau kondisi pertarungan Agra dengan orang misterius itu.
~Aku sungguh menyesal mengacuhkannya, tidak kuduga serangan yang dimaksud Agra benar-benar terjadi. kabut ini membuatku susah menganalisis kemampuan orang itu. Agra bertahanlah sebentar aku akan meningkatkan kemampuanku dan mengatur siasat pas untuk menyerang orang itu.
__ADS_1