
"Kita tidak bisa tinggal disini lagi, kita harus pindah." Axcel bicara dengan tegas.
"Lalu kita akan kemana?" tanya Jessy.
"Kita akan pergi ke negeri Shirei." Jawab Agra.
"Itu tempat yang jauh untuk dikunjungi kenapa kita kesana?" Vendrinna menyela.
"Kita akan bertemu seseorang yang bisa melatih kita bertarung dan berpedang, lagi pula aku sudah mendapatkan pedangku." Jelas Agra.
"Apa kita akan sungguh-sungguh melawan para Redfire Clan sendirian?" tanya Jessy.
"Dengarkan aku! sebelum aku menjelaskan alasan kita pergi ke negeri shirei sebelumnya aku ingin memberi peringatan kepada Laurent!"
Axcel kemudian melirik Laurent lalu disusul oleh yang lain, Laurent yang merasa di diskriminasi akhirnya angkat bicara.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu? Apa kalian masih meragukan ku? Agra, apa kau juga meragukan ku dan memandang diriku ini musuh?" tanya Laurent sambil membentak.
"Aku hanya memastikan bahwa kau tidak melakukan sesuatu dibelakang kami." jawab Agra.
"Aku melakukan apa hah? bukankah setiap hari kalian melihatku selalu bersama kalian dirumah ini? apa itu masih kurang di matamu? katakan bagaimana lagi agar kau percaya padaku Agra! Katakan!"
DUARRRRR ...
"BUKA PINTUNYA!! KALIAN TELAH DIKEPUNG!!"
Tiba-tiba diluar rumah tersebut terdapat beberapa bala tentara dari Redfire clan, mereka mencoba mendobrak rumah persembunyian Agra dan lainnya lalu menggeledahnya.
"Cepat temukan mereka! Jangan biarkan mereka lolos! Salah satu diantara mereka adalah klan Blue terakhir!"
Salah satu dari pasukan itu berteriak kepada para tentara, penggeledaha itu terus dilakukan sementara Agra dan lainnya berhasil sembunyi dan keluar dari rumah tersebut. Mereka berhasil lari namun tidak jauh dari rumah itu Jessy berkelahi dengan Laurent.
Laurent terkejut dan terkena pukulan dari Jessy, tanpa pikir panjang Laurent melepaskan sihir apinya untuk membakar wajah Jessy.
Sring ...
"Sebagai pemimpin kelompok, sebaiknya kalian berhenti atau aku akan menghukum kalian!"
Axcel mengeluarkan pedang dan menjulurkan pedangnya ketengah-tengah Jessy dan Laurent sehingga gerakan mereka tertahan oleh pedang itu.
"Laurent! Pasti ini semua karena kau kan? Kita tidak mungkin disergap seperti ini jika bukan kau yang melaporkan lokasi keberadaan kami. Dasar mata-mata!" tuduh Jessy kepada Laurent.
"Terserah kalian menuduhku seperti apa, toh ketika aku membuktikannya kalian juga tidak akan percaya." jawab Laurent santai.
"Bukan Laurent yang melakukan semua itu!" Agra ikut menengahi.
"Apa maksudmu Agra?" Tanya Vendrinna.
__ADS_1
"Kalian bisa tanya paman Samuel untuk lebih jelasnya." Jawab Agra.
"Izinkan aku menjelaskannya, sebenarnya mereka terlebih dahulu tau bahwa keberadaan tuan muda Agra ada disini, mereka melacak keberadaan tuan muda melalui mata-mata yang menyamar sebagai warga. Saat tragedi balai kota berlangsung, saya hendak menemui tuan muda Agra, saya melihat tindakan mencurigakan dari salah satu warga yang melintas di area tuan muda. Maka dari itu saya dapat menyimpulkan bahwa sumber informasi tersebut berasal darinya." Jelas Samuel.
"Sudahlah jangan bertengkar disini! waktu kita tidak banyak mereka akan segera menemukan kita jika kita tidak bergegas pergi!" Ucap Axcel.
Prajurit Redfire klan mulai terlihat namun Agra dan lainnya bergegas lari hingga prajurit itu tidak mengejarnya lagi. Sampai pada suatu tempat di hutan yang amat sepi mereka berhenti sejenak untuk istirahat.
"Nihh ... pakailah!"
Agra melemparkan baju biasa khas bangsa timur yaitu baju *hanfu kepada teman-temannya dan menyuruh temannya untuk mengenakan pakaian tersebut.
"Kenapa kau menyuruhku memakai ini?" Tanya Jessy.
"Untuk penyamaran." Agra menjawab singkat.
Jessy pun ikut memakainya, para wanita memakai hanfu dengan selendang yang menutupi wajah sedangan para pria hanya mengenakan hanfu khusus pria ditambah ikat kepala yang khas seperti petarung bangsa barat. Akhirnya setelah memakai penyamaran Agra dan lainnya memutuskan untuk berkelana mencari tempat persembunyian baru jauh dari prajurit redfire Clan.
Setelah berjam-jam menelusuri hutan dan berjalan jauh mereka akhirnya tiba di sebuah negeri yang bernama Shinzou, tempat itu terletak di utara negeri Shin dan tempat tersebut tidak seramai di negeri Shin.
Namun ditempat tersebut tidaklah luput dari penjagaan prajurit Redfire Clan, ketika mereka berjalan masuk mereka melihat para prajurit tersebut sedang duduk dan memakan makanan milik pemilik warung yang ada digerbang perbatasan.
"Hey tunggu! Siapa kalian?" tanya prajurit itu.
"Kami hanya orang biasa yang kebetulan mampir disini." jawab Axcel tenang.
"Benar." jawaban Axcel masih tenang.
" Jangan-jangan ..." Prajurit penuh curiga.
Axcel, Agra dan lainnya merasa tegang dan membeku ditempat akibat kepergok oleh prajurit Redfire Clan.
"Jangan-jangan apa?" tanya Agra dengan tegas.
"Jangan-jangan kalian ini paranormal? kebetulan sekali kalau begitu kalian bisa mengusir hantu-hantu disini kan? Setiap malam kami selalu terganggu oleh para hantu itu, konon katanya tempat ini sangat angker. tau begitu aku tidak ingin ditugaskan ditempat seperti ini." ucap prajurit itu.
"Kalian lebih pantas diperlakukan seperti itu oleh para hantu yang bergentayangan dari pada kalian menjajah tanah milik orang lain." Agra menggerutu.
"Apa kalian bilang?" prajurit itu menarik pedangnya.
"Tentu saja kami akan mengusirnya akan tetapi bolehkah kami lewat kami harus mencari tempat istirahat karena perjalanan jauh, lagipula sebentar lagi gelap." jawab Axcel.
"Oh baiklah silahkan tapi jangan lupa setelah itu tolong usir para hantu itu ya. Aku mohon." ucap prajurit tersebut dengan ekspresi ketakutan.
"Sepertinya mereka tidak tahu siapa yang sebenarnya menjadi setan disini." Agra menggerutu lagi.
"Hey kau yang dibelakang! Bicara sekali lagi ku penggal kepalamu!" Prajurit itu menunjuk kearah Agra.
__ADS_1
"Kalau kau memenggal kepalaku, aku akan meneror kalian lebih buruk dari hantu-hantu disini." Agra mengancam para prajurit itu dan seketika prajurit tersebut menjadi ketakutan.
"Maafkan adikku, dia memang selalu susah untuk diatur bicaranya (Sambil menginjak kaki Agra) jadi mohon dimaklumi " Ujar Axcel dengan bijaksana.
"Kenapa kau menginjak kakiku?" tanya Agra dengan berbisik.
"Diamlah!" jawab Axcel.
"Kalau begitu jaga adikmu baik-baik jika tidak ingin lidahnya aku potong." ancam prajurit itu.
Mereka akhirnya diloloskan dan berhasil mendapatkan tempat persembunyian sementara. Mereka akhirnya bisa istirahat, makan dan minum dengan cukup.
"Untung saja prajurit disini sangat bodoh jadi kita tidak perlu memutar otak untuk mencari alasan logis." Ucap Vendrinna.
"Benar sekali hahaha ... mereka bahkan mengira kita adalah paranormal." Ejek Jessy.
"Agra bisakah kita keluar sebentar aku ingin bicara sesuatu denganmu."pinta Laurent.
"Baik." Agra bingung.
Agra dan Laurent menuju luar rumah dan duduk di teras, mereka duduk berdampingan sembari menatap bintang di langit malam.
"Agra bolehkan aku tidur di pangkuanmu?" tanya Laurent.
"Ke ... kenapa tiba-tiba begini?"
"Tidak apa-apa, aku hanya lelah, kenapa? tidak boleh?"
"Boleh saja tapi ..."
Laurent tiba-tiba tidur dipangkuan Agra.
"Laurent kenapa tubuhmu panas sekali?"
"Aku hanya lelah, aku ingin istirahat di pangkuanmu."
"Tidak, ini tidak baik Laurent, tanganmu berkeringat dingin."
"Agra aku hanya ingin mengatakan kalau aku bahagia bisa bersamamu seperti ini. Aku tidak meminta banyak hal kepadamu hari ini, jadi tolong turuti permintaanku yang ini. Biarkan aku tidur disini sebentar."
"Laurent, seharusnya jika kau sakit bilang saja kepada Vendrinna agar segera diobati. Jika kau menahan sakit mu takutnya akan berakibat fatal pada jantungmu."
Mendengar Laurent tiada jawaban Agra pun melihat ke arah Laurent. Ternyata gadis itu tertidur dengan pulas dan panas ditubuhnya pun seketika menurun, denyut nadinya juga sudah kembali normal. Agra akhirnya membiarkan Laurent tidur di pangkuannya selama beberapa menit.
"Selamat malam, Laurent."
*hanfu \= Pakaian adat yang dikenakan di china/tiongkok, sering dipakai di acara imlek bahkan sampai digunakan sebagai kostum drama kolosal china.
__ADS_1