The Last Clan Blue

The Last Clan Blue
71. Misi Langkah Bayangan II


__ADS_3

"Mau apa kau!?" Sambil memegang pergelangan tangan Agra.


"Siapa kau?" Tanya Agra.


"Agra! Dia ada di pihak kita, dia dulu pernah membantu kita di bukit sealer blue!" Teriak Axcel yang baru datang dengan menaiki awan putih milik Jessy.


Agra hanya menatap mata orang misterius itu dan kembali memandangi Samuel yang saat itu terus bertarung dengan Rival. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Laurent yang masih diobati oleh Vendrinna dan Jessy.


Tanpa berpikir panjang Agra kembali memfokuskan chakranya untuk mengeluarkan pedang Siner Storm namun digagalkan kembali oleh orang misterius itu.


"Apa maumu? Jangan menggangguku! Teman-temanku sedang dalam masalah." - Teriak Agra.


"Kau masih belum siap untuk menggunakannya, jangan gegabah!" Ucap Mr.X tersebut.


"Agra kau tetaplah disitu! Biar aku yang melawannya!" Ucap Axcel sembari turun dari awan putih.


Tangan Agra tiba-tiba diikat oleh Axcel menggunakan borgol, lalu kuncinya diserahkan ke Mr.X yang saat itu berada disamping Agra.


"Hey ... Hey ... Apa yang kau lakukan? lepaskan aku!" Agra memberontak.


"Jangan melakukan apapun saat kami masih mampu bertarung." Bisik Axcel.


Axcel pergi meninggalkan Agra menuju pertempuran. Bala tentara Redfire Clan juga berhamburan datang ke lokasi tersebut.


Para prajurit itu bertarung dengan ribuan kupu-kupu yang sudah dikerahkan oleh Vendrinna sebelumnya, seketika suasana tampak riuh dengan suara tebasan yang saling berbenturan.


"Heii ... Sialan kau!! Kembali kau ... Banyak peajurit yang berdatangan kemari ... Heii ... Aku juga mau bertarung."" Teriak Agra.


Terlihat pria misterius itu mencoba memasang tabir pelindung di sekitar Agra.


"Yup ... Waktunya bersantai. Aku sudah memasang pelindung disini ... Jadi kita aman." Pria misterius itu berjalan menuju pohon besar dibelakangnya sambil bersandar.


"Lalu bagaimana dengan teman-teman ku yang disana?" Tanya Agra.


"Oh ... Yang ketiga gadis cantik disana? Tenang saja semuanya aman. Aku juga memasang satu untuk mereka?" jelas Mr.X


Agra kemudian menghela nafas panjang dan menghembuskannya. Ia juga ikut bersandar di samping Mr.X.


"Sebenarnya kau siapa?"


Pria misterius itu terlelap dalam tidurnya tanpa menjawab pertanyaan Agra. Akhirnya Agra mempunyai ide untuk menguak kedok pria tersebut dengan membuka topengnya. Dengan tangan yang masih terborgol ia dengan hati-hati membuka topeng tersebut.


Sedikit demi sedikit topeng itu terbuka, terlihat sedikit paras wajah pria tersebut dari balik topeng wajah tersebut seumuran seumuran dengan paman Samuel. Agra pun melanjutkan membukanya dan ia seketika terkejut.


"Ap ... Apa ... Pa ... Paman Rei?" Agra terlihat bergetar.


"Ketahuan yaa? Tanganmu sudah diborgol masih saja berani membuka topeng orang sembarangan." Ujar Rei sembari mengenakan topengnya.


"Ba ... Bagaimana bisa paman ada disini?"


"Karena anak muda seperti kalian jika dibiarkan sendirian tanpa pengawasan orang tua akan bahaya. Kalian benar-benar membuat heboh para petinggi langit."


"Petinggi langit?" tanya Agra heran.

__ADS_1


"Tidak usah dipikirkan! Yang jelas aku datang kesini dengan perintah. Aku akan memandu kalian menuju negeri shirei dengan aman karena rintangan ke depan akan semakin sulit."


"Sebenarnya paman itu berasal dari mana? Bukankah paman hanya bisa aku temui di dunia roh dan dimensi roh? Lalu kenapa paman malah ada disini?"


"Kau ini ... Aku akan menjelaskannya nanti saat kalian berkumpul ... Pertama-tama ayo kita lihat pertarungan mereka dulu ..."


Rei memandangi area sekitar yang masih dijadikan arena pertempuran antara Rival melawan Axcel dan Samuel. Saat itu mereka sama-sama bertempur menggunakan pedang jiwa mereka masing-masing.


"Kau tidak akan bisa menang melawanku! Pedang Flashfire ini sudah aku asah kemampuannya untuk melawan para bedebah seperti kalian!"


Hiatt ...


Sring ... Sring ... Sring ...


Suara kedua pedang itu saling berbenturan, Rival menyerang dan terus menyerang tanpa ada celah untuk Axcel dan Samuel.


Saat pertempuran berlangsung tiba-tiba datang lagi sosok pria berbaju zirah dengan lambang Redfire Clan di lengan kanannya, pria tersebut sedang mendekati Rival.


"Tuan muda Rival biarkan saya menyerang yang satu nya."


"Silahkan, tuan Seigiro. Mari kita ringkus para pemberontak ini."


"Siap Tuan."


Axcel dan Samuel memperkuat pertahanan mereka dan bersiap untuk bertarung.


"Kau ... Yang disana lawan aku!" Rival memberi kode untuk Axcel menyerang duluan.


Beruntungnya Laurent sudah sadar dari pingsannya ia segera bergegas untuk menuju ke area pertempuran namun ia berhasil ditahan oleh Vendrinna dan Jessy.


"Mau kemana kau? Lukamu baru sembuh!" Ucap Vendrinna.


"Aku harus menghentikan mereka!" Jawab Laurent.


"Tidak bisa! Tetaplah disini! Kita harus segera mencari Agra terlebih dahulu." Saran Jessy.


"Ehh ... Lihat ... Disana Agra!" Vendrinna sambil menunjuk tempat Agra berada.


Mereka pun pergi menghampiri Agra dan Rei, Agra yang melihat kedatangan Vendrinna, Jessy dan Laurent menyuruh mereka untuk beristirahat apalagi melihat kondisi Laurent yang baru sembuh dari penyakitnya.


"Agra kenapa tanganmu di borgol?" tanya Vendrinna.


"Orang yang mengaku sebagai kakakku itulah yang melakukannya." jawab Agra dengan wajah datar.


"Kak Axcel? Lalu siapa pria bertopeng itu?" tanya Vendrinna lagi.


"Oh ... Dia adalah ... (Tiba-tiba Agra dibungkam oleh Rei) Hemm ... Mmm ..."


Vendrinna yang terkejut mengira kalau pria bertopeng itu adalah musuh, Vendrinna pun menyerang pria tersebut dengan pedang.


Vendrinna berhasil mengayunkan pedangnya dan berhasil mengenai topeng itu hingga retak dan terbelah menjadi dua.


"Jangan berani menyentuhnya! Siapa kau?" Teriak Vendrinna.

__ADS_1


"Tunggu ... Tunggu dulu nona ... Apa kau ingat saat di bukit sealer blue ... Kau pasti mengingat suaraku ini kan?" jawab Rei.


Vendrinna pun mencoba mengingat sepintas saat kejadian di bukit Sealer Blue ia pun berhasil mengingatnya.


"Apa kau Mr.X yang dulu membantu kami mengembalikan Agra ke wujud normalnya?" tanya Vendrinna dengan menyipitkan mata.


"Benar ... Itu aku ..." jawab Rei.


Merasa situasi terlihat aman dan pria tersebut bisa dipercaya Vendrinna pun memasukkan kembali pedangnya ke selongsong.


"Mana kuncinya!"


"Apa?"


"Kunci borgol, mana kuncinya!"


"Ini, kenapa kau galak sekali!"


Rei memberikan kunci borgol itu, Vendrinna pun membuka borgol yang mengikat tangan Agra.


"Apa kau baik-baik saja Agra?"


"Emm ... Sebenarnya aku baik-baik saja sejak tadi."


"Tanganmu lecet."


"Tidak apa-apa aku laki-laki jadi hal begini saja tidak membuatku lemah. Lagipula kenapa kau tidak terlihat seperti biasanya? Kau terlihat seperti Vendrinna versi lain."


Agra nampak kebingungan dengan sikap Vendrinna yang sedikit berubah.


"Agra, dia saat ini sedang menaikkan chakra Butterfly Rays ke tingkat lanjutan. Disini dia akan mengumpulkan energi alam untuk dijadikan cadangan yang nantinya akan berguna untuk kestabilan energi ribuan kupu-kupu yang sudah ia keluarkan. Agar bisa meningkatkan kemampuan bertarung para kupu-kupu ia akan terus menyerap energi alam dan mengelolanya dengan kefokusan yang lebih tinggi. Disaat itulah mode siaganya aktif dan dia menjadi sedikit agresif, hal ini diakibatkan dari ketidakstabilan hormon neuron dan mengubah kepribadiannya secara personal." Jelas Rei.


"Bagaimana kau tahu! Apa kau penguntit!" tuduh Vendrinna.


"Vendrinna, tenanglah." Agra memeluk Vendrinna berharap ia bisa menenangkannya.


ARGGGHHH ....


Saat itu teriakan Axcel terdengar sangat keras, ia terlihat sedang kesakitan. Agra dan lainnya mencoba melihat apa yang sedang terjadi dengan pertempurannya.


"Kau kalah telak dengan satu tebasan di lenganmu, sebaiknya menyerahlah daripada kau mati di tanganku hari ini." Ucap Rival dengan penuh ke percayaan diri.


"Kau pikir aku menyerah semudah itu!? Hiattt ...." Axcel menyerang.


Pertempuran terus berlanjut, mereka saling mengayunkan pedang dan terus menebas kearah kiri dan kanan. Namun karena Axcel tak kunjung menyerah Rival pun mengeluarkan chakra Fire Circle dan menyalurkannya kedalam pedangnya, kemampuan pedang tersebut bertambah dan berubah fisik menjadi kobaran api ketika di gunakan.


Serangan terus diterima oleh Axcel tanpa adanya kesempatan untuk menyerang balik hingga tubuhnya mulai merasa kelelahan. Tiba-tiba Rival menyerang lagi dengan gabungan chakranya ketika Axcel sedikit lengah.


"Sial! Tubuhku melemah! Apa aku masih bisa menghadapinya?"


Hiaaaattt ....


Sriiiiingggg ....

__ADS_1


__ADS_2