The Last Clan Blue

The Last Clan Blue
52. Putri Sadis


__ADS_3

Putri sadis? Ya nama itu selalu kusebut saat pertama kali aku melihatnya. Ingatanku masih berupa bayangan yang terus bermunculan didalam otakku, tapi aku masih mengingat beberapa bagian yang mungkin sudah aku lupakan. Saat itu hujan begitu deras dan aku berada ditengah-tengah hutan belantara, namun aku tidak begitu ingat kenapa aku bisa berada disitu.


Aku menemukan gadis itu tergeletak dan terluka, dia menangis tiada henti lalu aku menghampirinya dan mengobatinya. Saat itu aku menanyakan namanya tapi dia tidak mau mengatakan apapun tentang dirinya, kupikir saat itu dia sedang membutuhkan ketenangan jadi aku tidak menanyakan hal-hal yang membuat dirinya merasa tidak nyaman.


Selama tiga hari kami tersesat dihutan itu, aku kesulitan mencari jalan keluarnya dan mungkin saja aku juga merasakan adanya bahaya yang terus mengintaiku. Waktu itu aku juga merasa takut seperti yang gadis itu rasakan. Tersesat, kesepian, dan ketakutan terus menghantui perasaanku tapi melihat kondisi gadis itu mulai membaik dan mulai kembali ceria aku pikir tak apa untuk tinggal lebih lama dihutan itu sambil mencari cara untuk keluar dari hutan belantara itu.


"Selamat pagi!"


Gadis itu membangunkan tidurku dan mulai menyapaku saat aku membuka mata, itu adalah pertama kalinya aku melihat wajahnya terlihat riang dan menyenangkan. Aku yakin dia adalah gadis yang berlatar menyedihkan sepertiku.


"Ehh ... Hari ini kau periang sekali apa kau sudah sembuh."


"Iya, kamu pangeranku?"


"Ahahaha ... maaf ya tapi aku hanya orang yang kebetulan menemukanmu, kita sama-sama tersesat."


"Oh ... Kamu bukan pangeranku?"


"Bukan hehe ..."


"Kalau begitu bolehkah aku memanggilmu sayang?"


"Hahh! Tunggu dulu! Berapa umurmu sekarang?"


"10 tahun."


"Bagaimana kau bisa menyebutku dengan panggilan sayang?"


"Orangtuaku bilang kalau aku menyayangi seseorang aku boleh menggunakan kata sayang."


"Tapi kau tidak harus memanggilku dengan panggilan itu kan?"


"Apa kau tidak suka aku memanggilmu sayang."


Wajah imutnya membuatku menyerah untuk berdebat, saat itu dia benar-benar menggemaskan.


"Hah ... Terserah kau!"


"Sayaaaangg!"


"Heii ... Kau pikir aku ini boneka."


"Kau memang bonekaku yang hidup."


Gadis itu mulai melewati batasannya, dia memelukku dan mempermainkan pipiku layaknya bonekanya sendiri.


"Ohya! Siapa namamu? Kemarin aku sempat menanyai namamu tapi kau tidak menjawabku."


"Sayang!"


"Ehh ..."


Disitulah aku mulai berpikir bahwa dia mungkin adalah gadis aneh. Aku mulai berhenti menanyakan sesuatu tentang dirinya, namun keanehan tentang dirinya terus menjadi-jadi. Saat itu aku sedang berburu ikan dan yang dilakukan oleh gadis itu benar-benar diluar nalar.


"Dapat!"


"Huaaaa!!! K ... Kau ..."


Gadis itu membuatku terkejut karena ulahnya. Bagaimana bisa seorang gadis kecil mampu menangkap 10 ekor ikan hanya dengan hitungan detik.


"Sayaang aku dapat 10 ikan!"


"Hebat!"


"Aku tadi juga mendapatkan dua ekor rusa saat melemparkan batang kayu, lihatlah!"


"Huwaaa !!! Kau menancapkan kayu itu ke kepala rusa? Benar-benar sadis."


"Sadis? Apakah yang kulakukan ini jahat?"


"Benar kau sudah melakukan pemburuan liar."


"Tapi ayahku mengajarkanku berburu dengan cara seperti ini."

__ADS_1


~Apa yang diajarkan orang tuamu kepada dirimu sepertinya mengerikan.


"Baiklah putri sadis! Aku akan mengajarimu mana hal yang baik dan yang buruk!"


"Benarkah sayang!"


"Panggil aku Blue! Namaku adalah Blue! Aku janji akan mengajarimu kebaikan dan aku akan selalu bersamamu sampai kau tahu sesuatu tentang kebajikan."


"Benarkah?"


Disitulah aku menaruh sebuah janji kepada sang putri sadis, janji yang telah aku lupakan selama sepuluh tahun ini. Ingatan yang muncul didalam otakku juga hanya sebatas itu saja, tentang bagaimana aku bisa ada dihutan belantara dan bagaimana aku bisa berpisah dengan gadis sadis itu aku benar-benar tidak ingat lagi.


Tapi ada satu kenyataan yang membuatku tidak bisa menyangka akan hal tersebut, Didalam ingatanku aku memperkenalkan diriku didepan putri sadis dengan nama Blue sementara sosok yang dicari-cari oleh Vendrinna juga bernama Blue, apakah benar aku adalah Blue?


Saat ini yang selalu muncul dibenakku dan selalu membuatku bertanya-tanya adalah bagaimana aku bisa melupakan hal sepenting itu?



Rumah Persembunyian


Negeri Shin


(Salah satu daerah milik klan Loneblast)


"Agra!"


"Kakak?"


Axcel langsung memeluk Agra dengan erat.


"Bodoh! Dasar bodoh!"


"Tunggu? Kau menangis?"


"Diam kau!"


"Hahaha ... Sang master sword ternyata bisa menangis juga hahahahaha ..."


"BERISIK! ITU JUGA KARENAMU!"


"Kau hampir mati karena menurunkan chakra tanpa menutup portal dimensi roh mu! Kebodohan macam apa yang kau lakukan!"


"Ohh ... Masalah itu? Aku tidak sempat menutupnya karena aku sudah tidak bisa menahan chakraku, jadi aku ambil alternatif lain untuk meredam dan menurunkan chakra spontan tanpa menutup portal dimensi roh."


"Kau sudah membuat kami menangis selama tiga hari bodoh!"


"Apa?"


"Detak jantungmu, denyut nadimu, suhu tubuhmu menurun semua. Dua hari yang lalu kau mengalami koma dan kondisimu memburuk, kemarin kau bahkan sudah dianggap tak bernyawa lagi karena jantung dan nadimu tidak ada reaksi. Vendrinna saat itu tidak menyerah atau pun putus asa, dia mencoba menyelamatkanmu! Dalam tiga hari ini dia tidak tidur sama sekali."


"Apa? Lalu dimana dia sekarang?"


"Dia sedang istirahat, jangan ganggu dia dulu! Sebelum kau sadar dia sudah mengumumkan bahwa kau masih hidup jadi untuk memulihkan jantung dan pernapasanmu dia mengerahkan semua ilmu medisnya untukmu."


"Kenapa dia melakukan segalanya untuk sampah sepertiku yang sudah mengingkari janjinya sendiri."


"Apa yang kau katakan?"


"Tinggalkan aku sendiri."


"Tidak! Kali ini aku tidak akan menuruti kemauanmu, waktumu untuk terus bebas dariku sudah habis. Kali ini aku tidak akan menahan lagi."


"Apa maksudmu?


"Ini maksudku ..."


Axcel sembari menggeret tangan Agra keluar dari ruang perawatan. Disitulah banyak orang yang sedang berkumpul untuk mengetahui kondisi Agra.


"Hah? Ayah?" Axcel terkejut.


"Agra! syukurlah kau sudah siuman, kami disini untuk menjengukmu." Sambut raja Cavalerie yang sedang duduk disofa rumah.


"Hay Agra! Sudah lama aku tidak mengganggumu, selama kau koma aku jadi pengangguran." Ucap Jessy.

__ADS_1


"Maaf ayahanda dan semuanya! Ada sesuatu yang belum kami selesaikan, kami mohon pamit!"


"Tu ... Tunggu! Akhh ..." Agra kesakitan saat tangannya digenggam Axcel dengan kencang.


"Axcel apa yang kau lakukan!" Teriak Raja Cavalerie.


Axcel menggeret tangan Agra lagi, ia menyeret Agra menuju kamar tengah. Disitulah dia mulai mengunci Agra dari luar dan membiarkan Agra terkurung dikamar tengah.


"Kakak! Apa salahku!"


"Kau tidak salah tapi disini akulah yang salah. Aku telah salah membiarkanmu bergerak sesuai keinginanmu dan melakukan tindakan ceroboh lagi! Mulai hari ini aku membatasi kegiatanmu dan kau harus terus dikamar ini sampai aku menyuruhmu untuk keluar."


"Apa-apaan kau! Kau tidak punya hak untuk menekanku bahkan membatasi kegiatanku, kau bukan si–" Agra menghentikan ucapannya.


~Hampir saja aku melukai perasaannya.


"Pokoknya keluarkan aku dari sini!" Lanjut Agra.


"Tidak!"


Axcel pergi meninggalkan Agra yang terkunci dikamar. Dia kembali ke ruangan utama untuk berbicara dengan Ayahnya.


"Ayahanda mohon maaf sebelumnya, saya tidak bermaksud untuk melakukan hal buruk kepadanya. Tapi ..."


"Aku tahu apa yang kau pikirkan pangeran Axcel. Baiklah kalau begitu nanti sore datanglah kekastil dan temui ayah. Ayah ingin berbicara empat mata denganmu."


"Baiklah ayahanda!"


"Nona Jessy! Tolong terima oleh-oleh ini sebagai tanda terima kasihku untuk kalian semua karena telah menyelamatkan kami para anggota kastil Cavalie."


"Baiklah! Terima kasih Raja Cavalie." Jawab Jessy


"Kami permisi dulu nona Jessy, tolong sampaikan salamku untuk nona Vendrinna juga."


"Baiklah tuan."


Raja Leinworf Cavalerie akhirnya pergi dan kembali ke kastil Cavalie Clan.


Kastil tersebut sudah diambil alih oleh raja Cavalie karena Raja Leviathan telah mengeluarkan pernyataan bahwa dirinya akan memenuhi perjanjian yang dibuat bersama Raja Cavalie dan membiarkan Raja Cavalie memimpin pemerintahannya dibawah Redfire Clan.


"Pangeran Axcel!"


"Apa."


"Apakah kau yakin akan mengurung Agra dikamar terus menerus? Dia sudah berbuat banyak hal demi Raja Leinworf Cavalerie, dia juga yang mendesak Raja Leviathan untuk memenuhi perjanjian diantara klan Redfire dan klan Cavalie."


"Aku tahu."


"Tapi kenapa–"


"Cukup Jessy! Kau tidak akan mengerti apa yang aku rasakan saat ini!"


Jessy hanya terdiam, selang beberapa saat Vendrinna datang menghampiri mereka berdua.


"Hoamm ... Kenapa kalian pagi-pagi sudah berisik? Dimana Agra? Aku tadi mencarinya diruang perawatan medis tapi dia tidak ada disana?"


"Dia ada dikamar tengah."


"Kamar tengah? Tapi aku tidak mendengar suara Agra didalam kamar itu? Apa benar dia ada disana aku ingin memeriksa kondisinya terlebih dahulu."


Jessy dan Axcel tiba-tiba terkejut setelah mendengar ucapan Vendrinna.


"Tidak ada!? Jangan-jangan ..."


Axcel seketika berlari menuju kamar tengah, Jessy pun mengikutinya dari belakang namun dia ditahan oleh Vendrinna.


"Jessy, sebenarnya apa yang terjadi disini!"


"Sebenarnya Agra dikunci oleh kak Axcel di kamar tengah."


"Apa? Kenapa dia mengunci Agra? Agra kan baru sembuh!"


"Nanti saja protesnya! Ayo kita kesana!"

__ADS_1


Jessy langsung menggeret tangan Vendrinna dan berlari menuju kamar tengah. Axcel yang sampai duluan langsung mengetuk pintu kamar dan memanggil Agra berulang kali.


"Agra! Kenapa kau diam saja! jangan coba-coba untuk kabur kau!"


__ADS_2