The Last Clan Blue

The Last Clan Blue
23. Misi Pembebasan II


__ADS_3


Melihat betapa ketatnya penjagaan pintu ruangan itu dan mendengar percakapan yang serius dari raja Vedern Mighton, Agra semakin yakin bahwa itu adalah kamar putri Vendrinna.


Untuk memastikan keberadaannya didalam kamar tersebut, Agra langsung menuju ketaman samping dan mencari jendela kamar putri Vendrinna agar tidak menimbulkan kerusuhan.


"Hm ... jendelanya banyak sekali, dimana jendela penghubung kamarnya ya? Aku juga lupa kamarnya tadi lantai berapa?"


Agra kali ini harus mencari jendela yang tepat dengan kamar putri Vendrinna, jika tidak dia ketahuan apabila salah memilih jendela.


"Kalau begitu aku terpaksa harus menggunakan jurus handalku."


Agra menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya melalui mulut. Dia mulai mengangkat jari telunjuknya seakan dia ingin mengeluarkan sihirnya.


"Baiklah! kita mulai sekarang jari telunjukku!"


Dia memfokuskan pandangannya kejendela yang berjajar menyusun dengan jumlah seluruhnya 40 jendela dalam 4 lantai.


"Cap cip cup kembang kuncup, pilih mana yang mau di cup!"


"Lantai 2? Sepertinya aku kurang yakin dengan pilihanku. Baiklah kita mulai lagi wahai telunjukku!"


"Hey ... dasar bodoh! mana bisa kau menggunakan cara seperti itu?"


Axcel datang dan menghampiri Agra yang saat itu berdiri ditaman samping kastil Venderland.


"Yaa ... barangkali aku mendapatkan keberuntungan."


"Kau pikir ini undian!?" Axcel memukul kepalanya.


Tak lama lagi Jessy dan Nekko datang, mereka telah berhasil keluar dari tahanan berkat Axcel.


"Huh? Nekko!"


"Miauw ...."


Nekko berlari kearah Agra, pria itu langsung menyambut Nekko dengan rasa bahagia dan membuka lebar kedua tangannya. Agra pun memeluk kucing itu dan enggan melepaskannya, melihat Jessy dan Nekko baik-baik saja Agra merasa sangat lega.


"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu Nekko, aku sangat merindukanmu ... huh!?"


"Miauw ..."


tiba-tiba Agra melihat bayangan aneh yang muncul dari dalam benaknya. Dia melihat sosok makhluk mirip harimau dengan bulu panjang berwarna oranye, ukurannya besar dan bulunya diselimuti oleh chakra api. Namun tidak lama dalam hitungan detik bayangan itu lenyap dari benaknya.


~Bayangan apa itu tadi?


"Wah ... wah ... sangat mengharukan sekali. Akhirnya Nekko bisa bertemu dengan majikannya yang teramat bodoh ini." - Jessy.


"Apa katamu!?" -Agra.


"Kau bodoh!" Jessy terus mengejek Agra.


"Seenaknya saja kau mengatakan aku bodoh?" -Agra.


"Kalau kau pintar kau pasti lebih banyak menggunakan otakmu daripada tindakanmu." - Jessy.


"Sudahlah jangan berdebat, kini tinggal Vendrinna yang belum kita bebaskan, kita harus cari cara lain untuk membebaskannya." Axcel menyela perdebatan mereka.


"Hey kampret, ada dilantai mana Vendrinna ditahan?" - Jessy.


"Aku lupa tadi lantai berapa, hehe ... tapi aku yakin dia pasti ada dikamarnya." -Agra.


"Bagaimana kalau kita meminta bantuan Nekko untuk melompat keatas, seekor kucing memiliki ketangkasan kaki yang luar biasa untuk melompat dan berlari dari gedung ke gedung. Nanti biar Nekko yang mengecek satu per satu jendela digedung itu." -Jessy.


"Hm ... ide bagus Jessy, kastil Venderland memanglah luas ditaman samping kastil bagian timur saja sudah 40 jendela dalam satu ruangan, itu berarti pada satu bangunan disini ada 40 ruangan dengan masing-masing 10 ruangan satu lantainya." -Axcel.


"Apalagi dari bawah keatas itu sudah 4 lantai. Sungguh mewah sekali raja Vedern Mighton." -Jessy.


"Itu baru bagian timurnya saja, bagaimana dengan bangunan lainnya ya? kan ada 5 bagunan disekitar sini. Bagian utara, bagian barat, timur, selatan dan bangunan kelima ada ditengah-tengah 4 sisi bangunan ini, hem ... orang yang tidak tahu seluk beluk kastil ini pasti tersesat." -Axcel.


"Hey ... ini bukan saatnya untuk berbicara hal yang tidak penting, ada yang lebih penting dari sekedar bangunan kastil ini, yaitu Vendrinna! bersiaplah Neko!" -Agra

__ADS_1


Agra meneladahkan tanganya kebawah dan Neko mulai menaiki telapak tangan Agra.


"Satu ... dua ... tiga ... naiklah keatas bangunan itu!" -Agra.


Agra melambungkan Neko ke lantai satu hingga pada akhirnya kucing itu berhasil menuju keatas, Nekko mulai mencari keberadaan Vendrina dengan mengintip satu per satu jendela yang ada pada bangunan itu.


"Dasar gegabah, dia selalu melakukan tindakan seenaknya sendiri tanpa menunggu aba-aba dari kita." -Axcel.


"Tapi mereka berhasil juga." -Jessy


"Lebih baik kita serahkan tugas ini kepada mereka saja.


Aku yakin mereka pasti bisa." -Jessy


"Baiklah." -Axcel


Axcel dan Jessy hanya memantau dari bawah dan mengawasi situasi sekitar agar tidak ketahuan oleh para prajurit yang berjaga.


Waktu pun terus berjalan, sementara itu Agra masih fokus menunggu aba-aba dari Nekko yang saat ini mulai naik menuju lantai tiga. dari lantai 3 Nekko akhirnya menemukan lokasi kamar Vendrinna.


"Miauw Miauw ..."


Mendengar kode-kode dari Nekko, Agra mendongak keatas dan disitu Nekko berhenti dijendela nomor 4 lantai 3 dari kiri bangunan.


"Hebat Nekko!" -Agra.


"Lalu bagaimana caramu kesana?" -Jessy.


"Gunakan chakraku saja bagaimana?" -Axcel.


"Tidak! kali ini biarkan aku membantu Vendrinna sendirian, aku akan naik menggunakan alat seadanya." -Agra.


"Jessy! bisa minta tolong bawakan tas Vendrinna." -Agra.


"Oh ... baiklah, kau masih menyimpan tas ini ternyata." -Jessy.


"Dia menitipkannya kepadaku." -Agra.


...▪°▪°▪°▪°▪°▪°▪°▪°▪°▪°▪°▪°▪°▪...


...°▪°▪°▪°▪°▪°▪°▪...


(Flashback On)


Didanau Van.


Setelah Penyerangan pasukan dari panglima Askaria.


Setelah panglima Askaria membawa pergi mereka, aku merasakan tubuhku sangat lemah dan mati rasa. Suasana danau itu terasa sunyi seketika, hingga aku mulai memejamkan mataku kembali.


Sriingg ...


"Huh! tempat ini lagi!"


Tempat ini sungguh sepi sekali, tidak ada yang berubah. Jika anggota klanku tidak terbunuh, pasti sekarang aku masih bisa berkomunikasi dengan mereka.


Haha ... jika diingat kembali rasanya menyenangkan bisa bermain bersama mereka didalam dimensi roh, meski ayah sering menegurku.


Tapi sekarang situasi disini menjadi sepi dan suasana hening selalu menyelimutiku.


"Hei ... aku titip tasku dulu yaa ..."


Tiba-tiba suara itu datang mengejutkanku.


"Huh? Vendrinna!?"


"Hm ... sepertinya aku mengejutkanmu!"


"Bagaimana kau bisa masuk kedalam dimensi rohku."


"Lain kali saja kujelaskan padamu, maaf sementara ini kita tidak bisa bersama dulu ya, aku harus mengurus mereka sebentar."

__ADS_1


"Huh! apa kau mau menyerahkan dirimu, dan pulang kembali ke kastil ayahmu?"


"Tentu saja tidak, siapa yang mau tinggal dengan raja plin-plan itu? aku harus mengurus masalah ini sebentar saja. jadi jangan merindukanku ya."


Baru sebentar kami bicara dia sudah mulai pergi, wujud rohnya mulai hilang secara perlahan. Tapi setidaknya dimensi ini merasa sedikit hangat setelah kehadirannya.


(Flashback Off)


...▪°▪°▪°▪°▪°▪°▪...


...▪°▪°▪°▪°▪°▪°▪°▪°▪°▪°▪°▪°▪°▪...


"Hey! Jangan melamun." Bentak Jessy meleburkan lamunan Agra.


~Sialan orang ini tidak bisa ya membiarkanku mengenang hal indah sedikit saja.


Agra bergegas mengambil tali yang sudah disipakan sejak tadi dan mengikat tali itu kepinggangnya, kemudian ujung tali lainnya dia lemparkan keatas.


"Nekko terima ini!"


Nekko menangkap tali itu dengan cepat dan menggigit ujung tali itu dengan kekuatanya.


"Aku akan naik keatas dan setiap aku naik kau harus menarik tali ini juga, oke!"


"Meong."


"Kucing pintar, bersiaplah nekko aku akan naik sekarang!"


Agra mulai memanjat tembok bangunan itu dan sesuai instruksi yang diberikan Agra, Nekko terus menarik talinya setiap Agra berhasil naik.


"Luar biasa mereka! Meski Agra terlihat konyol namun dia mampu mengarahkan kucing itu dengan sangat baik, kucing itu juga cepat menangkap arahan dari Agra." -Axcel


"Jangan heran! mereka memang selalu kompak jika melakukan sesuatu."


~Kompak? Hmm ... hubungan ini sangatlah langka bahkan sudah tidak terlihat lagi pemandangan seperti itu. Menurut buku kuno yang kubaca, dahulu hanyalah orang-orang khusus yang memiliki julukan "Dewa Mitologi" lah yang bisa mengikat hubungan dengan makhluk mitologi asli maupun makhluk percobaan.


"Haduh tadi Agra yang melamun, sekarang giliran kau. Kalian kakak beradik atau gimana sih?" - Jessy.


"Bisa dibilang gitu." -Axcel.


"Hey! aku bukan adikmu! jika kau bilang seperti itu lagi aku akan melempar kepalamu menggunakan pot bunga ini dari atas!" -Agra.


Agra berteriak dari atas gedung lantai dua.


"Hah? telinganya tajam sekali, padahal dia sudah dijendela lantai dua masih bisa mendengar." Jessy melihatnya dengan sangat heran.


"Hahaha ... kemampuannya tidak berkurang ya."


"Kau juga!" seru Jessy.


"Huh? Apa?"


"Melihat tatapanmu ke Agra aku merasa aneh."


Jessy menatap Axcel dengan penuh kejelian dan kecurigaan.


"Apa?"


"Jangan-jangan kau menyukai Agra, dan kau adalah guy kan? hih mengerikan!"


"Hey! mana mungkin aku seperti itu!"


"Lalu? sebenarnya apa hubunganmu dengan Agra sekarang? kulihat tatapanmu begitu dalam dengannya."


"Hufhh ..."


Axcel menarik nafas dan menghembuskannya dengan sangat berat. Dia mulai menjelaskan sesuatu kepada Jessy.


" Tapi kau jangan salah paham dulu! Jadi begini semua berawal dari semenjak kami masih kecil."


"Apa!?"

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2