The Last Clan Blue

The Last Clan Blue
54. Keluarga Resmi


__ADS_3

Sore hari dikastil Cavalie pangeran Axcel memenuhi panggilan ayahnya untuk berbicara empat mata dengannya.


"Permisi Ayahanda, saya memenuhi panggilan Ayahanda." Pangeran Axcel datang menemui Raja Leinworf.


"Masuklah!" Raja Leinworf Cavalerie mempersilakan pangeran Axcel untuk masuk.


"Apa yang ingin Ayahanda bicarakan? Tolong langsung ke intinya saja. Karena saat ini dirumah sedang tidak ada orang."


"Kau tetap sama seperti dulu ya pangeran Axcel. Tenanglah sebentar dan duduklah disini, Ayah ingin bicara banyak hal dengan dirimu tentunya secara hubungan kekeluargaan jadi bersikaplah seperti pada umumnya antara seorang anak dan ayah."


"Tapi Ayah, Agra dirumah sendirian."


"Tenang saja rumah yang kau tempati sudah kuberi pengawasan ketat, jadi Agra akan aman dibawah pengawasan pasukan Ayah."


mendengar penjelasan Ayahnya Axcel merasa lega, ia pun duduk di kursi depan meja santai milik Ayahnya.


"Ayah tahu apa yang kau rasakan saat ini, apalagi kau telah kehilangan sosok adik yang sangat kau sayangi."


"Kumohon Ayah, jangan membicarakan hal itu lagi."


"Ayah tahu kau pasti sangat hancur, begitu juga dengan Ayah. Kehilangan salah satu putra Ayah merupakan hal paling berat. Namun kau harus tahu satu hal, ada saatnya kita harus melepaskan dengan ikhlas tanpa terus terbayang oleh masa lalu. Jika dirimu terus ditekan oleh rasa bersalah maka masa depanmu akan sulit untuk kau capai."


"Tapi Ayah ... Sebagai kakak aku tidak bisa memenuhi tanggung jawabku, ibu meninggal itu karena diriku dan sekarang Ren juga meninggal karena kelalaianku sendiri. Bagaimana aku bisa memaafkan diriku sendiri Ayah? Aku tidak bisa menuaikan janji ibu untuk terus melindungi Ren, karena kelalaianku saat itu Ren terkena serangan para penyusup."


"Maafkan Ayahandamu ini pangeran Axcel, seharusnya yang bertanggung jawab atas kematian ibumu dan adikmu itu adalah Ayah. Karena ayah saat itu ada pertemuan mendadak jadi Ayah tidak sempat memasang prajurit ketat untuk menjaga kalian."


"Kita sudah membahas hal ini Ayahanda. Ini semua bukan salah Ayahanda, memang tugas seorang raja tidak hanya melindungi keluarganya tapi juga rakyatnya. Aku sudah memahami Ayahanda."


"Kalau kau bisa memahami situasi Ayahanda, kenapa kau tidak bisa memahami dirimu sendiri?"


Axcel kali ini terdiam mendengar Ayahnya berbicara, dia telah mendapatkan tamparan yang mungkin akan menyadarkan dirinya tentang setiap masalah yang dihadapinya.


"Mengenai Agra, hari ini kau mulai membatasi dirinya itu karena kau sangat menyayanginya kan? Kau takut kalau suatu saat Agra akan bernasib sama dengan Ren karena begitu banyaknya musuh yang mengincar dirinya."


"Benar Ayah. Ketakutanku semakin besar setelah organisasi itu muncul dan melawan Agra secara langsung. Saat itu aku berusaha menahan diriku untuk tetap tenang namun melihat kebodohan Agra yang membahayakan nyawanya sendiri aku mulai tidak tahan lagi. Aku ingin dia hidup dengan tenang."


"Lalu apa kau akan terus menyembunyikan dirinya dihadapan dunia?"


"Jika itu tidak membuat dirinya dalam bahaya aku akan melakukannya."


"Dengar putraku ... Ren dan Agra itu berbeda, garis takdir mereka juga berbeda. Ren begitu menyayangi dirimu makanya dia ingin menolongmu dari serangan penyusup takdirnya memang sudah berakhir disitu, sedangkan takdir yang dimiliki Agra itu masih begitu panjang. Sebelum lahir didunia ini dia sudang menggenggam takdir yang besar tentang dunia."


"Sejujurnya Ayahanda, dia memiliki sifat yang sama persis dengan Ren. Sifat keras kepalanya itu membuatku teringat Ren, setiap kali aku melihat Agra sosok Ren terasa bangkit kembali dan aku juga beruntung dipertemukan oleh dirinya."


"Baiklah Ayahanda mengerti, tapi disini Ayahanda memiliki hak sebagai walimu dan Agra. Raja Agruero juga telah menitipkan pesan sebelum perang besar terjadi bahwa dirinya menitipkan Agra kepada Ayahanda dan beliau sudah memberikan ijin untuk menjadi walinya jadi secara resmi Agra sudah menjadi anak angkat Ayahanda juga."


"Benarkah Ayahanda? Tapi kenapa Ayahanda tidak memberitahukan hal ini kepadaku?"


"Karena kau terlihat overprotektif dengannya, jadi ayahanda takut kalau kau akan bertindak lebih jauh lagi. Sekarang Ayahanda ingin memberimu dua pilihan."


"Pilihan apa Ayahanda?"


"Kau ingin Agra hidup dalam semua peraturanmu ditengah kekacauan dunia atau melepaskan dirinya terbang dengan membawa perdamaian tentunya dunia ini akan lebih indah kedepannya. Itulah yanga harus kau pilih sekarang."


Axcel hanya terdiam setelah Ayahnya memberikan pilihan kepadanya, ia diberi waktu untuk memilih mana yang terbaik untuk semuanya.


Diperjalanan pulang Axcel terus berpikir tentang pilihan yang harus ia ambil, tentunya pilihan tersebut akan membawa dampak besar bagi dunia.

__ADS_1


Waktu senja pun tiba, sepulang dari kastil Axcel merasakan situasi rumah yang masih sepi, ia mulai mengkhawatirkan Agra dan bergegas masuk ke kamar tengah. Ia terlebih dahulu mengetuk pintu kamar.


"Agra? Apa kau sudah tidur?"


Axcel menunggu respon dari Agra namun tidak ada jawaban apapun darinya.


"Kenapa tidak ada jawaban? Kalau begitu aku akan mengeceknya."


Axcel mulai membuka kunci pintu kamar namun hal tak terduga telah terjadi hingga membuat dirinya terkejut. Rupanya didalam kamar tersebut tidak ada siapa-siapa dan Agra telah menghilang entah kemana, Axcel mulai merasa panik dan khawatir.


Ia pun mencari kesudut-sudut rumah namun tidak ada tanda-tanda keberadaan Agra. Namun saat ia melintasi area perkebunan belakang rumah ia melihat sosok gadis dengan warna rambut kecoklatan yang terurai panjang sedang berdiri dengan sosok laki-laki.


Axcel mulai berjalan mendekati mereka, semakin dekat semakin terlihat jelas wajah dari dua sosok pria dan wanita itu. Saat melihat dari sisi dekat Axcel terkejut dan marah karena sosok yang ia lihat tersebut tak lain adalah Agra dan Laurent.


"Agra benar-benar mengabaikan perintahku! Tapi mereka terlihat membicarakan suatu hal yang sangat penting. Lebih baik aku biarkan mereka terlebih dahulu."


Axcel mulai menguping pembicaraan Laurent dan Agra, namun Laurent sudah menyadari sejak awal jadi dia memasang tabir kedap suara agar Axcel tidak menguping pembicaraannya.


"Jadi ... Bagaimana Blue? Apa kau mau ikut denganku, kau tidak perlu takut untuk masuk ke wilayah klan Redfire."


"Bukan itu masalahnya, aku baru ingat kalau chip milik raja Leviathan masih terpasang ditelapak tanganku aku takut mereka akan menangkapku lagi."


"Hahahaha ... Kau terlambat menyadari ya? chip itu sebenarnya sudah aku ganti dengan chip yang aku buat sendiri yaitu chip pelacak ingatan, sejak awal aku yakin kau adalah Blue jadi aku memasang chip dengan tiga kontrol panel yaitu pelacak ingatan, GPS dan penyadap suara."


"Apa!? Itu sama saja aku gali lubang tutup lubang."


"Jadi bagaimana?"


"Aku sangat ingin ikut denganmu karena satu-satunya petunjuk yang ada adalah ingatanku dan orang misterius kemarin. Belum sempat mengetahui identitasnya dia malah kabur duluan."


"Lalu apa yang memberatkanmu untuk pergi Agra?"


"Bagaimana kau bisa menghancurkan tabir kedap suara milikku pangeran Axcel?"


"Kau meremehkanku ya?"


"Jangan ikut campur urusanku dengan Agra!"


"Kau pikir kau siapa? Dia keluargaku aku berhak mengatur dirinya!"


"Keluarga katamu? Kau mengangkatnya sebagai adik dan bermain keluarga-keluargaan layaknya seorang anak kecil lalu kau seenaknya mengekang dirinya didalam kamar sendirian, apa itu yang kau maksud keluarga?"


"Apa kau tidak percaya? Lihatlah surat ini yang akan mengatakan hal sebenarnya."


Axcel mengeluarkan surat berisi identitas Agra sebagai anak adopsi Raja Leinworf Cavalerie. Laurent membaca surat tersebut seketika tercengang.


"Keluarga ya? Bagaimana kalau suatu hari keluarga yang kau banggakan itu akan menjadi duri yang siap menusukmu! Kau itu hanya memanipulasi Agra kan supaya dia mau mengikuti perintahmu."


"Cukup Laurent!" Agra seketika membentak Laurent.


"Aku paling tidak suka kalau kakakku dihina seperti ini! Dia adalah sahabat sekaligus kakakku yang paling berharga. Meskipun dia terlihat mengekang dan membatasi diriku tapi dia tidak pernah sekalipun memanipulasiku." Lanjut Agra.


"Kau berani membentakku Agra!" Ucap Laurent dengan perasaan marah.


"Kau yang mulai duluan!" Agra membantah Laurent.


"Hey! Pangeran Axcel apa kau sudah mencuci otaknya hah?"

__ADS_1


"Diam kau!!"


Agra marah dan tiba-tiba menyerang Laurent dengan kekuatan penuh, dia mulai memukulnya secara bertubi-tubi tanpa adanya celah untuk Laurent menyerang balik. Axcel yang terkejut melihat Agra semarah itu mencoba meredamkan dirinya.


"Agra berhenti!" Tangan Axcel menahan pukulan Agra.


"Lepaskan!" Chakra Five Syclon Agra mulai keluar.


"Gawat! Agra tenanglah!"


Axcel terus menahan Agra supaya chakranya tidak keluar lagi. Laurent yang sudah tidak berdaya karena pukulan Agra merasa tercengang karena baru kali ini dia dipukul oleh seorang laki-laki yang sangat dia sayangi.


"Agra kenapa kau tega melakukan ini kepadaku?"


"Ini belum seberapa saat klanmu membantai klanku dengan keji! Bahkan saat aku dikepung oleh Raja Leviathan kau membiarkanku menderita dan terluka sendirian, sekarang kau malah minta untuk dikasihani?"


Deg!


Laurent langsung terdiam mendengar ucapan Agra, dia merasa sedih dan menyesal. Laurent mulai sadar bahwa dirinya tidak berguna, dia selalu berada didalam kegelapan.


"Itu ... Aku ... Aku ... Maafkan Aku! Hiks ... Hiks ..."


Agra tidak peduli dengan tangisan Laurent dan dengan cepatnya Agra menyerang Laurent namun Axcel mencoba menahan serangannya.


"Hentikan Agra! Dia sudah tidak berdaya!"


"Lihatlah dengan matamu sendiri Laurent apa ini yang kau sebut sebagai duri keluarga? Dia saja masih mau melindungimu meskipun kau sudah menghinanya!"


~Agra sebegitukah marahmu kalau aku dihina oleh orang lain? (Batin Axcel)


Laurent tiba-tiba merasa sesak napas kemudian ia pingsan ditempat. Axcel pun terkejut dengan kondisi Laurent sekarang, sementara itu Agra kembali normal setelah mengeluarkan setengah Chakra Five Syclon. Axcel menggendong Laurent dan membawanya kerumah untuk diobati.


Senja berangsur beberapa menit setelah itu malam datang merubah warna jingga menjadi gelap gulita. Vendrinna, Jessy dan Nekko baru saja pulang usai mencari obat-obatan herbal.


"Hah ... Melelahkan sekali, siapa sangka hutan yang kita tuju malah tidak ada daun dewa yang tumbuh."


"Tapi kita sudah mendapatkannya kan? Kenapa kau masih mengeluh akan hal ini?"


"Jelas aku mengeluh bodoh! Menaiki gunung yang terjal dengan bebatuan-bebatuan yang licin membuatku berulang kali terperosok saat memanjat. Aku jadi kotor tauk!"


"Harus bagaimana lagi mereka banyak yang tumbuh disekitar pegunungan yasudah aku petik disana saja."


"Lagian kenapa kau ngotot minta dicarikan daun Dewa segala?"


"Asal kau tahu ya ... Daun dewa itu berguna untuk mengobati penyakit seperti diabetes, demam, hipertensi maupun sembelit. Selain itu daun dewa juga dipercaya dapat mengobati penyakit ginjal dan reumatik."


"Oh itu aja khasiatnya?"


"Manfaat daun dewa selanjutnya yaitu antihipertensi dan kardiprotektif yang dapat dipercaya sebagai pelindung jantung."


"Oh masih ada ternyata."


"Iya hari ini aku memetik ba–"


"Ada apa Vendrinna?"


Jessy penasaran setelah Vendrinna berhenti berjalan didepan pintu. Alih-alih ia menodong kesamping untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


"Huwaaaa ... Penyusup!!"


*Overprotektif \= Perasaan ingin melindungi secara berlebihan/terlalu khawatir akan bahaya.


__ADS_2