
"Tolong jangan panggil saya tuan, pangeran Axcel. Saya merasa di tinggikan." - Samuel.
"Tidak masalah lagipula kita sekarang tidak berada di kastil jadi orang yang lebih tua akan dihormati bukan kedudukannya. Jadi apakah anda bisa bercerita sekarang?" - Axcel.
"Maaf, saya tidak bisa mengatakannya." - Samuel.
"Kenapa?" - Axcel.
"Lebih baik kita makan malam dahulu, nona Jessy dan nona Vendrinna belum menyediakan makanan. saya akan membantu mereka karena masakan mereka sangat enak. Apalagi tuan muda yang setiap hari menyuruh saya untuk mengambil makanannya." - Samuel.
"Ehh ... Ssssttt ... Tolong jangan keras-keras paman Sam." - Agra.
"Oh jadi dalangnya kau ternyata! Pantas saja kami sering kehilangan lauk." - Jessy.
"Jika saja Nekko ... Ehh ... Maksudku tuan Samuel tidak mengatakannya kita pasti sering kehilangan bahan makanan." - Vendrinna.
"Habisnya makanannya enak, jadi daripada nganggur aku makan saja." - Agra.
"Sialan kau!" - Jessy.
"Nona Jessy tolong maafkan tuan muda, saya yang akan bertanggung jawab atas kesalahannya." - Samuel.
"Tidak perlu sampai melakukan hal seperti itu paman Sam, aku yang akan bertanggung jawab sendiri. Mulai sekarang anda bukanlah bawahan atau pun penanggung jawab keluarga Bluezer. Anda akan bebas."
"Tidak tuan muda, sejak saya diciptakan saya sudah segenap hati ingin melayani keluarga anda jadi biarkan saya terus melayani anda dan berada disisi anda sampai kapanpun."
"Tapi aku sudah bukan lagi seorang pangeran atau pun orang yang memiliki kedudukan tinggi."
"Tidak masalah tuan. Saya akan terus bersama tuan muda."
"Aishh ... Terserah paman sajalah."
"Baik tuan muda."
"Sudah kukatakan jangan memanggilku dengan sebutan itu."
"Tuan muda adalah junjungan saya."
"Apa sejak awal dia sudah diciptakan untuk mengabdi di keluarga Bluezer? Sikapnya benar-benar penurut." Jessy merasa heran.
"Baiklah kalau begitu kita akan makan malam dulu. Laurent kau boleh ikut makan malam nanti." - Axcel.
"Terima kasih." - Laurent.
Mereka berkumpul dimeja makan dan mulai menyantap makanan yang ada di meja.
"Wahh ... Jessy! Vendrinna! Kalian memasak banyak hari ini?" Tanya Agra dengan mata yang berbinar ketika memandang makanan.
"Karena dirumah ini terlihat sangat ramai kami memasak lebih banyak dari sebelumnya. Mari makan!" Jawab Vendrinna.
"Benar ... Terasa ramai ya? Sudah lama aku tidak merasakan kehangatan seperti ini." Ujar Agra dengan wajah yang berubah sedih.
Agra pun membayangkan kalau dia sedang makan bersama keluarga besar Bluezer, dia mengingat sebagian kecil dari kehangatan itu. Suasana hangatnya kebersamaan yang telah dirindukan kini hadir kembali. Melihat kerinduan Agra dengan keluarganya, Vendrinna menghampiri dirinya dan memegang erat tangannya mereka pun saling menatap.
"Agra tersenyumlah! Aku tidak ingin kelezatan makanan ini hilang karena kesedihanmu."
"Vendrinna, kau paling jago membuyarkan nostalgiaku."
"Jika nostalgia itu mengundang kesedihan aku akan mengusirnya dan membiarkanmu menikmati kebahagiaan tanpa merasakan penyesalan."
"Ahahaha ... Baiklah ... Aku tidak akan bersedih lagi."
"EHHEMMM ..."
Melihat tingkah Agra dan Vendrinna yang terlihat dekat Laurent merasa sangat marah, ia menatap Vendrinna dengan sangat tajam.
"Ohh ... Maaf ... Maaf ... Pemandangan kalian sedikit terganggu ya karena kami?" Vendrinna kemudian menatap Laurent dengan tajam sebagai bentuk balas dendam.
Laurent mulai tersulut emosi namun dia mencoba menahan emosinya mengingat Agra ada disekitarnya, dia tidak ingin Agra memandang dirinya lebih buruk lagi. Beberapa menit kemudian mereka merasa kenyang usai menyantap makan malam buatan Vendrinna dan Jessy.
"Tuan muda Axcel yang sangat terhormat dan bijaksana, kenapa anda belum selesai makannya? Cara makanmu masih bersikap formal. Kau pikir ini kastil? Sekarang kau banyak berubah ya? Apa kau sudah tobat?"
"Diam!" Axcel membentak Agra.
"Pesona yang bagus tuan muda, baiklah lanjutkan aku tidak akan mengganggu. Memang aturan klan Cavalie benar-benar mengutamakan kesopanan."
__ADS_1
"Kau lupa aturan klan Cavalie didorong oleh klan Blue, dan kerjasama kedua klan begitu kuat. Kau juga jangan lupa sekarang kau bagian dari keluarga Cavalerie."
"Sejak kecil hidupku selalu bersembunyi jadi aku tidak perlu mengikuti aturan manapun."
"Sulit kalau berbicara dengan orang seperti kau."
"Mwehehehe ... Apa kau akan dijodohkan dengan seseorang kenapa kau terlihat seperti mempelajari aturan keluarga kerajaan?"
"Bukan urusanmu!"
Glekkk ... Uhuk ... Uhuk ...
Jessy yang dari tadi mendengar percakapan Agra dengan Axcel merasa terkejut, ia spontan tersedak saat minum air di gelasnya.
"Jessy! Ada apa?" Tanya Agra.
"Ahh ... Vendrinna biar kubantu membereskan piringnya sekalian aku ingin kedapur." Jessy tiba-tiba pergi kedapur sambil membawa piring-piring kotor.
"Baiklah." Jawab Vendrinna sambil merasa bingung.
"Aku bantu ya Vendrinna." Agra mencoba menawarkan bantuan.
"Aku juga!" Laurent pun ikutan menawarkan bantuan.
"Tidak perlu biar aku dan Jessy yang melakukannya kalian istirahat saja." Jawab Vendrinna.
"Baiklah kalau begitu, ohya Vendrinna setelah selesai mencuci piring bisakah kau mengantar obat untuk Laurent. Dia ternyata memiliki penyakit jantung, saat ini dia masih drop jadi dia butuh istirahat yang banyak dan obat yang bisa melegakan sakitnya." Ucap Agra.
"Oh ... Baiklah aku akan membuatkannya dan mengantar obat itu ke kamarnya." Jawab Vendrinna dengan perasaan cemburu.
"Terima kasih." Ucap Agra sambil tersenyum.
"Iya." Vendrinna pun menuju ke dapur.
"Agra terima kasih kau begitu memperhatikan kondisiku." Ujar Laurent dengan perasaan bahagia.
"Sama-sama sekarang istirahatlah dan tunggu dia sampai mengantarkan obatmu."
"Baik." Laurent pun pergi kekamarnya dan istirahat.
"Paman Sam, kak Axcel aku pergi ke kamar dulu."
Agra pun pergi ke kamar untuk istirahat memulihkan tenaganya disusul Samuel yang juga akan beranjak tidur namun Axcel menghalanginya.
"Tuan Samuel anda masih berhutang penjelasan padaku."
******
Sementara itu di dapur Jessy terlihat sedang dalam mood yang kacau. Dia terus melamun sambil menumpahkan sabun pencuci piring.
"Jessy! Apa yang kau lakukan?"
"Vendrinna kau membuatku terkejut!"
"Kamu kenapa sih? Aku melihat wajahmu terlihat masam sekali."
"Tidak apa-apa."
"Lihatlah sabunnya jadi terbuang sia-sia."
Vendrinna pun meneruskan pekerjaan Jessy.
"Vendrinna, apa benar pangeran Axcel akan dijodohkan oleh gadis lain?"
Vendrinna tanpa menjawab apapun langsung melirik Jessy dan memandangi wajahnya terus-menerus.
"Kenapa?"
"Kau ... Apa kau cemburu?"
"Ehh ... Ti ... Tidak ... Siapa juga yang cemburu, aku kan hanya bertanya."
"Wajahmu terlihat sedang tersipu malu, kau pasti menyukai pangeran Axcel benar kan?"
"Tidak! Itu salah! Lagipula aku bukanlah seseorang yang dilahirkan dari keturunan keluarga bangsawan, jadi aku tidak pantas untuk mendapatkan cintanya."
Jessy pun pergi ke kamar dengan membawa perasaannya yang tercampur aduk menjadi satu antara suka, sedih dan benci.
__ADS_1
"Jessy aku akan memastikan kau untuk mendapatkan hak atas cintamu."
Usai mencuci piring Vendrinna membuatkan obat yang dipesan Agra untuk Laurent. Dia menggunakan daun dewa untuk penyembuhan atas penyakit yang diderita Laurent.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Permisi."
Tok ... Tok ... Tok ...
"Nona Laurent yang sangat terhormat, aku membawakan obatmu ada orang tidak kalok tidak ada aku pergi! disini tidak menerima layanan tunggu."
"Ada!"
"Muncul juga kau!"
"Kenapa kau terburu-buru pergi! Pintu saja belum dibuka. Dasar tidak sabaran! Huh!"
"Kau pikir aku kesini dengan suka hati. Jika bukan karena Agra aku tidak akan sudi mengantarkan obat kekamarmu."
"Kau pikir aku juga sudi menerima obat biatanmu."
"Oh ... Jadi kau tidak butuh obat ini? Baiklah aku pergi!"
"Ehh ... Tunggu!"
"Mana obatnya!"
"Katanya kau tidak sudi menerima obat dariku."
"Cerewet! Sini obatnya! Huh!" Laurent pun seketika menutup pintunya kembali.
"Huu ... Ujungnya juga diambil obatnya, dasar wanita genit!"
"Kau yang genit!"
"Hey ingat ya yang menghancurkan rumahku dulu itu siapa? Apa perlu aku membawa total kerugianku saat di Negeri Lavender!"
"BERISIK!!!"
"DASAR WANITA TAK PUNYA RASA TERIMA KASIH! HUH! AWAS SA–"
"Vendrinna ada apa?" Tanya Agra yang tiba-tiba muncul dibelakang Vendrinna.
"Ehh ... Agra ... Sejak kapan kau disini?"
"Baru saja."
~"Fiuuhhh ... Untung saja Agra tidak mendengar celotehanku bahaya jika dia mendengarnya aku bisa dipandang buruk lagi." (Batin Vendrinna)
"Aku tadi mendengar kau berteriak awas didepan kamar Laurent."
"Hah? Hehehe ... itu ... eumm ... Awas hati-hati kalau minum obatnya itu maksudku ... hehehe ... Dia tadi terlihat buru-buru masuk ke kamar jadi aku mengatakan kepadanya untuk membawa secangkir obat dengan hati-hati agar tidak jatuh."
"Ohh ... Terima kasih ya Vendrinna aku harap kalian bisa cepat akur ..."
"Tidak!"
"Huh!?"
"Mm ... maksudku tidak masalah ... itu urusan gampang hehe ... jadi tenang saja."
"Hahaha ... Aku percaya padamu."
"Agra! Bisakah–"
"Sssstttss ..."
"Ada apa?"
"Mereka sepertinya sedang membicarakan hal penting."
"Siapa?"
Vendrinna ikut mengintip dari balik tembok pembatas ruang tamu, disana terlihat Axcel dan Samuel sedang duduk sambil mengobrol.
"Rupanya rasa penasaran anda belum hilang pangeran Axcel."
__ADS_1
"Aku perlu tahu banyak jika hal itu menyangkut tentang masa lalu Agra."
"Baiklah saya akan menceritakannya."