
"Agra! Jangan coba-coba kabur kau!"
Axcel mulai marah karena tidak ada jawaban dari Agra, ia membuka kunci pintu kamar tersebut dan masuk kedalam kamar itu. Jessy dan Vendrinna juga sudah ada dibelakangnya.
"Agra! Dimana ka–"
Miauww
"Nekko?"
Disitulah Axcel melihat Nekko dan Agra sedang tertidur di kasur, saat ini Agra terlihat lelap dalam tidurnya.
"Oh ... Rupanya dia tidur." Ucap Vendrinna.
"Perasaan dia baru bangun dari pingsannya, kenapa dia malah jadi sindrome tidur begini." -Jessy.
"Wahai pangeran Axcel, seharusnya anda tidak perlu mengkhawatirkan dirinya." -Vendrinna.
"Kau benar! Tapi ada satu hal yang membuatku masih khawatir dengan dirinya." -Axcel.
"Hah?" - Vendrinna.
"BERHENTILAH TIDUR DENGAN MENGGUNAKAN KAPAS DITELINGAMU!"
Axcel langsung mencabut gumpalan kapas ditelinga Agra dan seketika Agra terbangun dari tidurnya.
"BERHENTI BERTERIAK DI DEPANKU, BODOH!!!" Agra ikut meneriaki Axcel.
"Lagipula aku menggunakan kapas ini karena aku tidak tahan mendengarmu mengomel terus." Lanjut Agra.
"Astaga ... Adik kakak kalau berantem menyeramkan juga." -Jessy.
"Yah ... Sepertinya Agra baik-baik saja kalau begitu aku akan pergi untuk mencari beberapa obat dihutan sini." - Vendrinna.
"Vendrinna! Bisakah nanti malam kita berbicara empat mata." -Agra.
"Nanti malam? Hmm ... Baiklah! Aku akan kekamarmu." - Vendrinna.
"Tidak! Aku ingin kita berbicara ditempat yang penuh dengan pemandangan indah." - Agra.
"Tidak boleh!" - Axcel.
"Aku hanya ingin berbicara diteras saja!" - Agra.
"Tidak boleh!" - Axcel.
"Vendrinna tolong bujuk pria aneh itu, kumohon!" -Agra.
"Maaf ya ... kuasa penuh atas rumah ini adalah sang Master Sword dan yang memiliki hak membuat peraturan disini juga dia. Jadi aku tidak bisa membantu banyak untukmu, maaf yaa ..." - Vendrinna.
"Kau mendengarnya kan? Jadi diamlah disini dan jangan pernah mencoba kabur. Kalian berdua pergilah! Kamar ini akan aku kunci kembali." - Axcel.
"Lalu bagaimana dengan Nekko?" - Jessy.
"Biarkan dia disini menemani Agra." - Axcel.
"Baiklah." - Jessy.
Vendrinna, Jessy, dan Axcel keluar dari kamar mereka membiarkan Agra terkunci didalam kamar.
"Apa-apaan dia, kenapa dia membatasi kegiatanku seperti ini? Apa dia sadar yang dilakukannya itu sudah berlebihan tau!"
Miauuww
"Sekarang aku tidak bisa kemana-mana, ingin ke dapur saja tidak boleh. Padahal aku kan ingin mencicipi masakannya Vendrinna."
Miauww ... Miauww ...
"Nekko, kau yang bisa menerobos atap genteng diatas, jadi bisakah kau membawakanku kue yang dibuat Vendrinna beberapa hari yang lalu. Kue itu benar-benar nikmat rasanya lumer di lidah, aku jadi ingin mencicipinya."
Miauww (sambil menganggukkan kepalanya)
"Terima kasih Nekko! Kau memang kucing pengertian, hehehe ... Pergilah ..."
__ADS_1
Nekko mulai memanjat keatas, ia mencoba melewati lorong atap dan keluar melalui saluran penopang air hujan. Nekko melanjutkan jalannya menuju dapur dan disana terlihat Vendrinna sedang bersiap-siap untuk pergi mencari obat.
Miauww ...
"Lho! Nekko? Kenapa kau ada disini?"
Miauww
"Surat dari Agra? Baiklah aku baca dulu ya?"
________________________________________________________
...Siapapun yang ada di dapur, tolong berikan aku kue lumer di dalam toples kaca. Aku lapar!...
...Agra...
________________________________________________________
"Ya ampun sampai segitunya dia menginginkan kue itu, aku harus meminta kunci kak Axcel untuk mengirim makanan dan kue juga. Aku lupa dia belum sarapan sejak pagi tadi. Nekko ayo ikuti aku!"
Vendrinna pun bergegas menghampiri Axcel yang berada didepan rumah.
"Kak Axcel, bolehkah aku meminta kunci kamar Agra."
"Untuk apa?"
"Kau pikir dengan cara menguncinya dikamar dia bisa kenyang tanpa makan?"
"Astaga! Aku lupa kalau dia belum sarapan."
"Sebenarnya apa yang kakak pikirkan, hari ini kakak tidak seperti biasanya."
"Itu bukan urusanmu! Apa kau sudah menyiapkan makanannya biar aku yang membawanya ke kamar."
"Tidak! Biar aku saja yang memberikannya, aku yakin jika kakak yang mengirimnya Agra tidak akan mau makan."
"Kau sedang mencari obat-obatan kan? Lakukan pekerjaanmu! Urusan Agra biar aku yang mengatasinya."
"Terserah kau! Hari ini kakak benar-benar berbeda, tidak seperti kak Axcel yang kukenal."
Miauuuwww
Axcel mengambil surat dari punggung Nekko dan membaca isi surat tersebut, lalu ia mengelua kepala Nekko dengan wajah ramah.
"Nekko tugasmu menjaganya sudah selesai kau bisa pergi bermain dengan Jessy dibelakang rumah. Urusan Agra biar aku yang mengatasinya."
Miauw
Nekko pergi menemui Jessy sementara Axcel bergegas menuju dapur untuk mengambil makanan, minuman, serta kue yang diinginkan Agra. Ia pun menuju kamar tengah dan membuka kunci pintu kamar Agra.
Disitu Agra sudah menunggu makanannya karena rasa laparnya sudah tidak bisa ditahan.
Cklekk Kraaakkk (Suara pintu terbuka)
"Siapapun terima kasih ka–"
Agra tiba-tiba berhenti berucap, wajahnya yang dipenuhi semangat seketika berubah menjadi murung dan kesal.
"Aku membawakanmu makanan dan juga camilan untukmu, makanlah!"
"Kenapa malah kau yang datang?"
"Memangnya kenapa kalau aku yang mengantar?"
"Kau malah membuatku tidak nafsu makan."
"Jangan banyak bicara dan makanlah!" Tegas Axcel.
Agra hanya menatap Axcel dengan wajah kesal, dia berbaring ke kasur dan menutup dirinya menggunakan selimut.
"Kenapa kau menghindar dariku cepat bangun dan makanlah."
"Itu karena kau bukanlah kak Axcel, kak Axcel itu adalah orang yang asik, dia selalu memberikanku kebebasan dan kepercayaan untuk bergerak maju. Bukan malah membatasi gerakku untuk berkembang."
"Jangan salah paham aku melakukan ini juga demi kebaikanmu! Cepat bangun dan makan!"
__ADS_1
"Tidak mau."
"Kau!"
Axcel menarik napasnya dan ia hembuskan dengan perlahan-lahan. Ia mencoba menahan emosinya.
~Agra benar-benar keras kepala, aku harus membujuknya supaya dia mau makan.
"Agra bangunlah biar aku tunjukkan alasanku kenapa aku berubah."
"Apa?" Agra bangun dari tidurnya.
"Haaa ... Buka mulutmu dulu aku akan menyuapimu ..."
"Tidak!"
"Makanlah sebelum makanannya dingin."
"Aku sudah tidak nafsu makan!"
"Lalu apa maumu hah!? Aku melakukan semuanya untukmu! Kau adalah satu-satunya adikku di dunia ini, aku tidak ingin kehilangan sosok adik lagi. Sudah cukup dunia merampas hal yang sudah menjadi milikku. Meskipun kita tidak sedarah aku sudah menganggapmu sebagai anggota keluargaku, bahkan kau dan aku mempunyai ikatan yang saling terhubung kan? Aku sudah ditakdirkan untuk menjadi penawarmu dalam pengendalian chakra five syclon."
"Aku ..." Agra tiba-tiba merasa bersalah.
"Sejak berumur 12 tahun aku sudah mempertaruhkan jiwaku untukmu, aku rela menjadi tamengmu agar kau tidak terkena malapetaka. Aku sangat menyayangimu Agra, sejak perang besar Vedernight terjadi aku benar-benar khawatir tentang dirimu. Lalu kenapa kau membalasku seperti ini."
"Bukan maksudku untuk melukai perasaanmu tapi ..."
"Kalau kau tidak ingin melukai perasaanku makanlah! Aku akan menyuapimu."
"Kau pikir aku anak kecil aku bisa makan sendiri."
"Kalau kau makan sendiri aku yakin kau tidak menghabiskan makanan ini. Haaa ... Ayo buka mulutmu!"
Wajah Agra masih terasa kesal melihat perlakuan Axcel kepadanya, namun dia juga tidak sampai hati untuk melukai perasaan Axcel. Oleh karena itu dia menuruti apa yang Axcel lakukan kepadanya termasuk menerima suapan dari Axcel layaknya anak kecil berumur 3 tahun.
"Nah begitu, kalau sejak awal kau menurut pasti akan cepat habis. Tinggal suapan terakhir setelah itu minumlah air putih yang banyak supaya kau cepat pulih."
Agra pun mengambil segelas air putih dimeja dan meminumnya, sementara Axcel membereskan piring-piring yang berserakan.
"Aku sungguh tidak menyangka kalau aku akan menjadi bayi lagi."
"Hahaha ... Berapapun usiamu saat ini dimataku kau tetaplah adik kecilku yang imut!"
"Dasar pria overprotektif!"
Axcel tiba-tiba menghentikan kegiatannya, ia berjalan menuju Agra dan menaruh tangannya diatas kepala Agra. Axcel mengelus kepalanya dengan lembut.
"Tetaplah seperti ini! Jangan pernah sekalipun kau membantahku jika tidak ingin melihat sisi burukku."
Agra terdiam sejenak dan mulai berpikir tentang perilaku Axcel yang sering berubah-ubah.
~Sungguh! Dia benar-benar berbeda, apa dia sudah terkena gangguan mental?
Axcel pun bergegas pergi namun Agra menahannya, Agra memegang lengan Axcel dan mulai memohon kepada Axcel.
"Kakak, ijinkan aku keluar ada sesuatu yang ingin aku selidiki."
"Tidak!" Axcel tiba-tiba memasang wajah kejam.
"Aku ingin mencari orang misterius yang telah membantu kita. Dia adalah satu-satunya petunjuk untukku, aku ingin segera mengakhiri kegelapan didunia ini."
"Tidak perlu dicari, dia tiba-tiba menghilang saat kau pingsan."
"Tapi ..."
"Kau sudah mendapatkan jawabannya kan? Dia sudah pergi jadi percuma saja kau mencarinya diluar sana. Yang ada kau malah dalam bahaya lagi!"
Agra hanya diam mendengar Axcel mengomel, dia akhirnya mengalah dan tidak mau berdebat lagi dengan Axcel.
"Apa aku harus memohon-mohon dan berlutut didepanmu sampai kau mau menurut denganku. Ini demi kebaikanmu Agra!" Axcel kembali membentak Agra.
"Maaf kak."
Melihat wajah Agra ketakutan dia pun menarik napas dan menghembuskannya dengan perlahan-lahan, dia mencoba mengontrol emosinya agar stabil kemudian dia pergi dari kamar Agra dan menguncinya lagi dari luar.
__ADS_1
~Apa aku sudah membuatnya takut? (Batin Axcel)