The Last Clan Blue

The Last Clan Blue
36. Bersaing


__ADS_3


Roaaaarrrhhh ...


Brugh ...


Monster itu akhirnya jatuh dan meledak, Axcel yang kehabisan chakranya mulai lemah dan napasnya terengah-engah.


"Ternyata mengalahkan monster ini cukup melelahkan juga. Tapi setidaknya dengan mengorbankan sisa chakraku monster itu bisa meledak sesuai prediksiku. Hmm ... kalau dipikir-pikir monster itu sebelumnya telah menyerap begitu banyak chakra, jadi penopang untuk menampung chakra sudah penuh hingga menghasilkan ledakan yang begitu besar."


"Kak Axcel apa urusanmu sudah selesai?"


Vendrinna tiba-tiba datang dengan menggeret Agra dibelakangnya.


"Oh ... kau rupanya, aku sudah selesai mengalahkan monster itu, ohya! ini kan yang kau inginkan. Sesuai keinginanmu aku telah menaruh chakra monster itu kedalam batu kristal ini." Axcel melempar batu kristal itu kearah Vendrinna.


"Terima kasih. Sekarang aku bisa memaafkanmu!"


"Sebenarnya untuk apa kau mengumpulkan chakra monster itu."


"Rahasia."


Ekspresi Axcel kini berubah datar setelah mendengar jawaban Vendrinna yang dingin.


"Vendrinna lepaskan aku dulu! aku ingin berbicara sesuatu kepadamu!"


"Keinginanmu kutolak! lebih baik kau diam saja dan ikuti perintahku!"


"Huh? Ta–"


"Diam!"


Mendengar Vendrinna berteriak Agra pun langsung terdiam.


"Lebih baik kita segera kembali dan membicarakan masalah ini terutama kau Agra nanti kau harus menjelaskan semuanya." Ujar Vendrinna.


"Ini sudah hampir malam ayo kita segera pulang. Nekko kau yang memimpin ya daripada kau diam saja."


"Miauw ..."


"Vendrinna, melihat situasi hutan yang mulai gelap biarkan aku dan Nekko yang akan memimpin jalannya. Kau dan Agra dibelakang saja."


"Baiklah, Ayo!"


Mereka akhirnya memutuskan pulang kembali ke negeri Shin. Setelah kejadian ini Vendrinna marah dan tidak menggubris apa yang dikatakan Agra, bahkan ia enggan untuk berbicara dengannya.


*******


"Uhh ... Dimana aku?"


Terlihat Laurent sedang tersadar dari pingsannya, ia kemudian membuka mata dan melihat disekelilingnya bahwa dia telah berada didalam kamarnya.


Sekilas ia mengingat ekspresi terakhir Agra saat menatapnya, ia merasa bahwa tatapan dari Agra berbeda dari tatapan blue dahulu.


"Kenapa? kenapa kau melupakanku?"


Meskipun Laurent terkenal dengan sifatnya yang semena-mena dan terlihat kejam, namun didalam hatinya dia memiliki sifat yang lembut. Itu karena sewaktu kecil Laurent pernah dimanjakan oleh ayahnya, apapun yang ia inginkan selalu dikalbulkan. Laurent adalah anak semata wayang dari keluarga Maxime, dialah yang nantinya akan mewarisi seluruh tahta dan harta milik ayahnya.


Ayah Laurent yang bernama Alexanders Maxime, raja dari kastil Maximus memiliki tingkat kekayaan tertinggi dari penguasa-penguasa kelima negeri di klan Redfire. Dia bahkan mampu menandingi kekayaan dari raja Leviathan, hingga disebut-sebut sebagai Lumbung Harimau Emas.


Saat laurent menginjak remaja perlakuan ayahnya terhadap dirinya semakin bertambah, setiap Laurent pergi keluar ayahnya menyuruh para pengawal untuk menemaninya. Bahkan saat laurent terluka, ayahnya tidak segan-segan menyuruh pengawal untuk menghajar dan menghabisi orang yang melukainya.


Sikap yang berlebihan dari ayahnya membuat perubahan besar dalam diri Laurent. Ia kini jarang memiliki teman karena semenjak dia dimanja oleh ayahnya dia merasa sudah tidak membutuhkan sosok teman lagi.


Ia menjadi lebih agresif dan bertindak sesuai keinginannya tanpa memikirkan orang lain. Didikan yang salah dari orangtua Laurent membuat hati lembutnya tertutupi oleh keegoisannya sendiri.


"Laurent sayang syukurlah kau sudah sadar!"


Laurentina Maxime ibu dari Laurent datang tiba-tiba kekamar Vendrinna.


"Ibu."


Ibu Laurent pun memeluknya dengan sangat erat.


"Ke–kenapa ibu tiba-tiba memelukku?"

__ADS_1


"Tidak apa-apa." Senyum Laurentina.


"Ibu yakin tidak menyembunyikan sesuatu dariku?" Tanya Laurent.


Ratu Laurentina terkejut mendengar pertanyaan putrinya itu. Ia pun memutuskan untuk pergi tanpa menjawab pertanyaan Laurent.


"Ibu tunggu kamu diruang makan, makan malam sudah hampir siap."


"Ah ... ibu!"


"Ya?"


"Malam ini aku tidak ikut makan malam bersama kalian, aku ingin istirahat saja."


"Kau harus makan Laurent! Kalau begitu makananmu nanti biar diantar oleh pelayan."


"Oh ... baik bu!"


Ibu Laurent pun pergi dan menutup pintu kamarnya.


"Hah! Aku harus menyelidiki tentang Agra sendirian. Aku merasa yakin bahwa dia adalah Blue kecil dari masa lalu."


******


Malam hari di negeri Shin.


Rumah persembunyian.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu?"


Agra merasa tidak nyaman saat diruang tamu tersebut. Jessy, Axcel, Vendrinna dan Nekko menatap Agra dengan sangat tajam seakan mereka sedang mengintrogasi seorang tersangka pembunuhan.


"Agra aku tanyakan sekali lagi padamu! Apa saja yang perempuan itu lakukan kepadamu!" Vendrinna dengan wajah yang penuh selidik.


"Di–dia tidak melakukan apapun!" Jelas Agra.


"Bohong!"


"Untuk apa aku berbohong?"


"Dia hanya mengganti perbanku itu saja."


"Hmm ... Kalau begitu buka bajumu! aku ingin memastikannya."


"Haa?"


Axcel melihat sikap Vendrinna merasa tercengang.


~Vendrinna benar-benar mengerikan. (Self Talk by Axcel)


"Cepat!" Bentak Vendrinna.


"Ba–Baik!" Agra tersontak Kaget.


Agra pun membuka bajunya, Vendrinna kini mulai menyelidiki perban yang digunakan Agra.


~Tidak ada yang berbahaya didalam perban ini, wanita itu sepertinya tidak ada niatan buruk kepada Agra. Tapi ada satu hal yang membuatku sedikit ganjil disini, tulisan ini ...


"Apa-apaan ini! Dasar wanita kampret!" Vendrinna seketika berteriak.


"Ada apa Vendrinna, kenapa kau tiba-tiba teriak!" Tanya Jessy.


"Tulisan itu ... wanita itu menulis sesuatu di punggung Agra!" Jelas Vendrinna.


"Hmm ... biar kubaca! Sa-lam Ma-nis Un-tuk Ca-lon Tu-na-ngan-ku (SALAM MANIS UNTUK CALON TUNANGANKU!)" Axcel Mengeja tulisan itu.


~Wanita ini berani juga berhadapan dengan Vendrinna ya ... Batin Axcel.


Vendrinna pun mencoba menarik napasnya dan menenangkan dirinya. Ia kemudian melontarkan pertanyaan kedua.


"Baiklah langsung ke pertanyaan selanjutnya, Apakah kau memiliki hubungan masa lalu dengan Laurent?"


"Tidak."


"Waktu kau masih kecil?"

__ADS_1


"Tidak juga."


"Hey teman masa kecil Agra itu aku, mana ada yang lainnya, aku melihat dia selalu dirumah dan tidak pernah keluar jika tidak kuajak keluar." Axcel memotong percakapan mereka.


"Iya benar, waktu masih kecil aku tidak memiliki teman lagi kecuali kak Axcel." Agra menyanggah.


~Ternyata dia bukanlah blue. Tapi kenapa wanita itu bersikeras memanggil Agra dengan panggilan Blue? Jika Agra adalah Blue pasti dia mengingat kenangan-kenangan masa kecil itu. Hm ... Sepertinya aku harus menyelidiki ini sendirian.


"Baiklah kalau begitu, kau bisa istirahat sekarang!"


"Hah? Benarkah?"


"Iya, sebelum aku berubah pikiran dan menyuruhmu berlari memutari rumah semalaman."


"Ahahaha ... ba–baiklah."


Agra bergegas lari menuju kamarnya meninggalkan Jessy, Axcel dan Nekko.


"Sudah selesai kan permasalahannya?" Tanya Axcel.


"Hoahm ... sepertinya aku mengantuk. Aku pergi tidur dulu ya." Jessy juga turut bergegas pergi, kini hanya tersisa Vendrinna dan Axcel yang masih diruang tamu.


"Sepertinya sudah tidak ada yang dibahas kan? Aku–"


"Pangeran Axcel!"


"Haha ... kau sekarang berbicara menggunakan bahasa resmi ya? sepertinya ada hal penting yang ingin kau katakan."


"Sebagai sesama penerus dari pemimpin klan, kita harusnya lebih bisa berdiskusi tentang masalah yang kita hadapi dimasa depan kan? Apalagi menyangkut klan Redfire. Jadi tolong kerjasamanya."


"Apa yang ingin kau ketahui putri Vendrinna?"


"Aku mau kau menjelaskan hubunganmu dengan Laurent."


"Memang sulit untuk menyembunyikan rahasia dari putri Vendrinna."


"Tolong katakan langsung."


"Laurent adalah saudara seperguruan ku. Dia masuk ke perguruan Ryuuku sekitar setengah bulan dari hari aku bergabung. Dia adalah murid paling ambisius dalam mengejar suatu peringkat, bahkan aku saja juga menjadi saingannya tiap kali ada ujian penentuan peringkat. Tapi tetap saja akulah yang menang karena pada dasarnya ujian itu dibuat secara adil dengan penentuan peringkat dipecah menjadi dua kategori laki-laki dan perempuan. Tapi dia begitu keras kepala dan tidak mau bertanding dengan wanita, dia menantang para laki-laki untuk bertarung dengannya. Dia memiliki obsesi yang tinggi untuk menang."


"Lalu?"


"Intinya dia adalah wanita yang semena-mena dan apapun yang dia inginkan harus dia dapatkan, itulah prinsipnya. Jadi kali ini kau memiliki saingan yang cukup berat."


"Apa maksudmu?"


"Kau pasti mengerti maksudku, kali ini kau harus hati-hati kepada Laurent. Kau juga harus ingat kalau dia memiliki hubungan dengan Rival, dia juga memiliki beberapa pengawal terkuat."


"Hmm ... Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas informasinya. Bagiku ini sudah cukup untuk mencari petunjuk selanjutnya."


"Sebenarnya kau ingin mencari petunjuk tentang apa?"


"Maaf aku belum bisa memberitahumu."


"Oh ... begitu, tidak masalah aku akan menunggumu sampai kau mau menceritakannya. Ini sudah malam kau tidurlah! jangan banyak berpikir keras."


"Baiklah."


Vendrinna bergegas pergi menuju kamarnya meninggalkan Axcel yang tengah sendirian.


"Haha ... Terkadang aku merasa lucu saat melihat situasi seperti ini, jika sudah mengenal cinta semuanya menjadi lebih menggila."


Seperti biasa Axcel mengecek situasi rumahnya, ia tidak pernah lupa untuk menutup pintu dan jendela rumahnya. Kemudian dia bergegas masuk kedalam kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah setelah seharian bertarung dengan monster batu raksasa.


Malam pun berangsur begitu panjang, bintang dan bulan pun bertebaran disisi langit menemani mimpi setiap orang dalam tidurnya.


Mereka kini tertidur begitu lelap setelah menghadapi berbagai masalah seharian, tentunya hari ini tidak seburuk hari selanjutnya dimana masalah yang begitu besar masih terus menunggu kedatangan mereka.


#BERSAMBUNG


...BACA TERUS KISAHNYA🤗...


...HARGAI KARYA PARA PENULIS HANYA DENGAN TOMBOL LIKE, VOTE DAN DUKUNG KARYA INI😊...


...JANGAN LUPA KLIK TOMBOL FAVORIT UNTUK MENGETAHUI JADWAL UPDATE SELANJUTNYA👍...

__ADS_1


__ADS_2