The Last Clan Blue

The Last Clan Blue
66. Misi Baru


__ADS_3

"Akhirnya berhasil, setidaknya aku masih bisa mengusir mereka dari tempat ini." batin Agra.


Tak lama kemudian Samuel datang mencari Agra dengan perasaan khawatir.


"Tuan muda Akhirnya saya menemukan anda." ujar Samuel.


"Paman, di mana yang lainnya?" tanya Agra.


"Teman-teman anda sedang membantu mengobati para korban yang terluka, bagaimana dengan kondisi tuan muda? Apa anda baik-baik saja?" - Samuel.


"Aku baik-baik saja ayo kita susul mereka paman." Ajak Agra.


Agra dan Samuel meninggalkan gubug kosong itu lalu pergi menghampiri Axcel dan yang lainnya. Sesampainya di tempat kejadian terlihat begitu banyak orang yang terluka bahkan hingga tewas, hal itu menjadi kenyataan pahit bagi mereka yang ingin mencari kebahagiaan.


"Vendrinna, luka orang ini cukup parah kau bisa mengobatinya kan?" tanya Axel.


"Bisa." jawab Vendrinna sembari membalut luka penduduk itu.


Agra dan Samuel juga sudah datang ke Posko pertolongan pertama di sana mereka berhasil menyembuhkan para penduduk yang terluka parah.


"Akhirnya mereka tertolong, bagaimana dengan penduduk yang sudah tewas?" tanya Agra.


"Untuk penduduk kami yang telah tewas biar kami yang mengurusnya, saya selaku Walikota di sini mengucapkan banyak terima kasih kepada kalian." ucap Walikota itu.


"Sama-sama tuan, kebetulan kami juga pengembara yang sedang menikmati festival tersebut, namun Sangat disayangkan disaat saya dan teman-teman saya datang tiba-tiba terjadi tragedi di tempat ini." Jelas Axcel.


"Kalau boleh tahu kalian Berasal dari mana?" tanga Walikota itu.


"Kami berasal dari desa sebelah di balik pegunungan Shin, kami saat ini sedang menginap di sana." jawab Axcel.


"Kalau begitu sebagai bentuk rasa terima kasih kami Bisakah kalian datang ke tempat saya, saya akan menjamu kalian dengan makanan yang lezat nanti." Walikota itu menawarkan perjamuan.


Mereka pun berdiskusi untuk memikirkan penawaran dari Walikota, namun Axel tiba-tiba menolak tawaran tersebut.


"Kenapa kau menolaknya?" tanya Agra dengan bisik.


"Kita tidak boleh terlalu menonjol di sini jadi kita tolak saja penawaran mereka." lirih Axcel.


"Agra, di sini masih banyak pasukan Redfire Clan bahkan di gedung walikota akan banyak pasukan mereka yang memantau, jadi jalan satu-satunya memang kita harus menolak tawaran Pak Walikota." jelas Laurent.


"Maksudnya? apa semacam mata-mata?" tanya Agra.

__ADS_1


"Benar, Redfire Clan sudah menguasai beberapa bagian dari negeri shin, termasuk di tempat balai kota ini. Raja leviathan sudah mengirim beberapa pasukan sebagai pemantau dan mata-mata di setiap daerah yang mereka kuasai." lanjut Laurent.


"Intinya kau lebih berhati-hatilah dalam bertindak." Sindir Axel.


"Iya ... Iya ..." Agra dengan nada pasrah.


Mereka akhirnya memutuskan untuk menolak tawaran dari Walikota. Setelah semuanya kembali normal Agra dan lainnya kembali pulang dan beristirahat untuk mengumpulkan energi.


******


Pagi hari seperti biasa suasana di negeri shin sangat menyegarkan mata, dengan suguhan alamnya yang hijau membuat orang yang tinggal di daerah itu merasa nyaman dan enggan meninggalkan tempat itu. Apalagi Vendrinna yang setiap hari selalu bangun pagi untuk sekedar menikmati pemandangan gunung dan bunga-bunga yang mekar.


Namun saat ia hendak membuka pintu belakang rumah, Vendrinna tiba-tiba mendengar suara gaduh dari teras depan rumah. Saat Vendrinna mengeceknya terlihat Agra, Axcel dan Paman Samuel dikerumuni oleh beberapa orang.


"Agra! Ada apa ini?" tanya Vendrinna dengan wajah bingung.


Jessy dan Laurent yang baru bangun tidur pun terkejut melihat seisi rumah penuh dengan orang-orang, diduga gerombolan orang tersebut merupakan penduduk yang menjadi korban festival di balai kota kemarin malam, mereka hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada Agra dan yang lainnya karena telah menyelamatkan nyawa mereka.


"Ayah ... Ayah ... Kakak itu yang telah mengusir para penjahat." ucap seorang bocah laki-laki berumur 12 tahun yang saat itu digendong oleh ayahnya, bocah itu terlihat menunjuk ke arah Agra.


"Ak ... Aku?" tanya Agra dengan gugup.


" Iya! kakak itu duduk di gubuk kosong dan dia mengeluarkan cahaya biru, aku melihat cahaya itu menyebar di semua tempat. Kakak itu keren dia bisa menghajar para penjahat hanya dengan mengeluarkan kekuatannya saja!" jelas bocah itu.


"Maaf paman kami hanya orang biasa." Agra merendah.


" Tapi putra saya melihat anda menggunakan kekuatan tuan." ucap ayah bocah itu.


"Sepertinya putra anda salah melihatnya." - Agra


"Haiya ... pemuda ini malu-malu segala, aku juga melihat dirinya berlari ke gubug kosong itu dan dalam sekejap gubug itu mengeluarkan energi besar." Salah satu penduduk itu ikut menyela.


"Baiklah kami mengaku kalau kami mempunyai kekuatan, tapi kami bukan berasal dari satuan khusus. Kami hanyalah pendekar yang mengembara."


Setelah mendengarkan penjelasan dari Axel, penduduk kota pun mempercayai perkataannya akhirnya mereka meletakkan barang pemberian yang dibawa dari kota sebagai bentuk terima kasih penduduk kepada Agra dsn teman-temannya.


"Hah ... Akhirnya mereka pergi." - Agra.


"Kau banyak fans juga rupanya?" - Jessy.


"Bisa diam tidak?" - Agra.

__ADS_1


"Tidak celotehanku adalah hobi." - Jessy.


"Agra, bagaimana mereka bisa tahu saat kau mengeluarkan chakra? untung saja saat itu cuma penduduk saja yang melihatmu mengeluarkan chakra, jika ada prajurit lain yang melihatmu kau bisa ditangkap." - Vendrinna.


"Setidaknya urusan dengan penduduk kota itu sudah selesai." - Axcel.


"Laurent! kenapa kau diam saja? Apa kau sudah ketahuan jika kau membelot?" - Jessy.


"Tidak." jawab Laurent singkat.


"Laurent, terima kasih sudah membantu kami. Informasimu sangat berguna bagi kami." - Axcel.


"Iya, tidak masalah, asal Agra selamat apapun akan aku lakukan." - Laurent.


"Em ... sepertinya kau terlalu berlebihan Laurent" - Agra.


"Baiklah kalau begitu untuk Vendrinna, Jessy dan Laurent kalian tolong siapkan sarapannya ya. Soalnya sebentar lagi aku, Agra dan paman Samuel harus pergi ke suatu tempat." - Axcel.


"Kenapa Laurent harus ikut juga kak?" - Jessy.


"Biarkan dia membantu kalian lagi pula dia sudah menjadi bagian dari kita." - Axcel.


"Loh ... kenapa kakak gegabah mengambil keputusan? barangkali dia hanya menunggu waktu untuk menyerang dan menghancurkan kita." - Jessy.


"Kenapa kau terlihat benci sekali denganku padahal aku sudah mencoba menjadi yang lebih baik." - Laurent.


"Sudah berhenti berdebat ayo kita ke dapur dan memasak sebelu hari menjelang siang." - Vendrinna.


Mereka akhirnya memasak menu sarapan yang telah dimasak oleh Vendrinna, Laurent, dan Jessy. Setelah sarapan mereka kembali beraktifitas sendiri-sendiri, sementara Agra, Axcel dan paman Samuel pergi mengunjungi raja Cavalerie sekalian untuk berunding dengan para petinggi kastil Cavalie Clan.


******


Kastil Cavalie Clan


(Pertemuan tertutup)


Pertemuan tertutup sedang berlangsung, kali ini mereka mengadakannya di ruang rapat raja dan dihadiri oleh Raja Cavalerie, Panglima Shin, Duta besar kerajaan, Agra, Axcel, dan Samuel. Mereka melaporkan setiap kejadian yang ia temui dan mencari solusi serta mengumpulkan kekuatan untuk menyerang klan Redfire.


Mereka mencoba mengusulkan rencana untuk mengumpulkan para petarung tingkat tinggi dari segala penjuru dunia, setelah melalui beberapa usulan dan revisi hasil rapat pun akhirnya di sepakati oleh raja Cavalerie. Agra juga akan memulai pencarian seorang petapa legendaris yang di rekomendasikan oleh ayahnya itu. (read chp.3)


Perubahan besar kelak akan datang selama anggota terakhir Blue Clan masih hidup. Harapan yang terus ada dan terus diraih oleh jutaan manusia yang mendambakan kebahagiaan dan perdamaian.

__ADS_1


Sekarang Agra dan teman-temannya akan mendapatkan misi baru untuk mencari petarung tingkat tinggi sekaligus mencari petapa legendaris dari negeri shirei.


__ADS_2