
"Paman Samuel mendengar cerita anda saya benar-benar turut berduka atas apa yang anda alami selama ini."
"Tidak masalah pangeran Axcel lagipula yang terjadi sebelumnya sudah menjadi masa lalu kan? Sekarang kita harus fokus dengan masa depan."
"Terima kasih telah bersedia menceritakan masa lalu itu kepada saya namun ada satu hal yang perlu saya tanyakan kepada anda."
"Apa?"
"Organisasi yang anda maksud itu bernama Encenty kan? Bukankah mereka bergerak dalam program pembangkit energi? Lalu kenapa mereka begitu menginginkan Agra?"
"Saya juga kurang tahu motif dari mereka, hampir setiap kegiatan dari organisasi Encenty sangat tertutup jadi saya kurang tahu apa yang mereka lakukan selama ini. Tapi yang paling jelas tuan muda sudah menjadi incaran sejak lama oleh organisasi Encenty jadi saya bisa mengambil kesimpulan bahwa yang menyerang tuan muda saat di bukit sealer blue adalah mereka."
"Tapi mereka menghilang selama bertahun-tahun lalu sekarang mereka muncul kembali, sebenarnya apa yang ingin mereka rencanakan?"
"Entahlah ... Saya juga tidak tahu?"
"Tapi simbol organisasi yang disebutkan Agra benar-benar mirip dengan apa yang saya temui saat di perguruan."
"Benarkah pangeran Axcel?"
"Iya mereka dulu sempat menyerang perguruan kami. Laurent juga sempat melihat simbolnya karena dia adalah teman seperguruan saya. Apa jangan-jangan mereka juga berasal dari Encenty?"
"Pantas saja anda dan nona Laurent terkejut mendengar ciri-ciri yang disebutkan tuan muda."
"Ehem ..."
Mendengar suara deheman yang berasal dari balik tembok, Axcel dan Samuel spontan terkejut. Terlihat Agra dan Vendrinna mulai menampakkan diri lalu menghampiri Axcel dan Samuel di ruang tamu.
"Agra! Vendrinna! Sejak kapan kalian di sini?" - Axcel.
"Sejak tadi." - Agra.
"Paman Sam benarkah dulunya Agra sempat diculik oleh organisasi Encenty?" - Vendrinna.
"Benar." -Samuel.
"Jadi selama ini dugaanku benar! Aku mengalami amnesia?" - Agra.
"Tuan muda ini sebenarnya bukan amnesia biasa. Anda masih bisa mengingat saya dan orang tua anda, jadi anda hanya kehilangan beberapa ingatan saja dan itu secara acak." - Samuel.
"Benar juga! Aku kehilangan beberapa kenangan saat bersama Vendrinna, aku juga tidak bisa mengingat apa yang Organisasi Encenty lakukan kepada ku dulu dan terakhir sepertinya saat aku bersama Laurent." - Agra.
"Kenapa kau menyebut namaku sayang?" Laurent datang dengan wajah mengantuk.
"Kenapa kau belum tidur?" - Agra.
"Aku sebenarnya sudah tidur tapi karena tadi aku mendengar kebisingan dari ruang tamu jadi aku terbangun, ehh ... Sampai disini namaku dipanggil oleh Blue-ku tersayang." - Laurent.
"Siapa yang mengijinkanmu memanggil nama khususku untuk Agra! Hanya aku yang boleh memanggilnya Blue!" - Vendrinna.
"Dia dulu memperkenalkan dirinya di depanku dengan nama Blue, lalu salahku dimana?" - Laurent.
Vendrinna kemudian menatap Agra dengan sangat tajam.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Aku tidak ingat kejadian itu jadi aku tidak bisa menjelaskannya!" - Agra.
"Kalian bertiga! Dengarkan aku!" - Axcel.
"Apa?" - Agra.
"Sejauh ini aku sudah mengklarifikasi kebenaran yang terjadi di antara kalian, kalian memiliki hubungan yang sangat khusus dan mungkin sangat penting dengan masa lalu Agra. Mana mungkin Agra bisa melupakan kenangan masa lalunya dengan Vendrinna dan Laurent pasti hal ini ada sangkutannya dengan organisasi Encenty." - Axcel.
"Benar saya menyaksikan sendiri mereka menghapus ingatan tuan muda." - Paman Samuel.
"Sebelum masalah ini terungkap kalian harus berhati-hati! Terutama kau Agra!" - Axcel.
"Iya ... Iya ..." - Agra.
"Ini sudah malam, waktunya istirahat!" - Axcel.
Mereka semua akhirnya pergi ke tempat tidur untuk istirahat. Keesokan harinya cahaya mentari datang menerangi negeri Shin, suasana pagi hari yang terlihat indah membuat Vendrinna semakin terkesan dengan lingkungan alamnya. Melihat Vendrinna sedang berdiri di belakang rumah Agra menghampirinya dan menyapa Vendrinna.
"Selamat pagi Vendrinna, kau selalu bangun lebih awal dari biasanya."
"Hahh ... Itu karena aku menyukai alam, apalagi kalau pagi hari udaranya yang masih sejuk membuatku sangat tenang."
__ADS_1
"Haha ... Sejak kecil kau selalu seperti ini."
Deg!!!
"Agra? Apa kau mengingat sesuatu tentang masa lalu kita?"
"Sedikit."
"Hah? Benarkah?"
"Sebenarnya semalam setelah mendengar cerita paman Samuel kepalaku mendadak sakit lalu aku sekilas mengingat masa laluku saat bersamamu dulu."
"Apa? Apa saja yang kau ingat?" Vendrinna bertanya dengan rasa tidak sabar.
"Aku ingat saat kita dulu ada di pinggiran sungai, aku berada dalam gubuk kecil yang cukup untuk dua orang lalu kau sedang memberiku makanan dan bercerita tentang pemandangan disekitar, aku juga ingat saat kau bercerita kalau melihat pemandangan alam yang indah energimu akan meningkat."
"Blue ..."
Vendrinna meneteskan air mata, lalu dia memeluk Agra dengan sangat erat.
"Akhirnya ... Hiks ... Hiks ..."
"Vendrinna? Kau menangis?"
"Akhirnya kau mengingatku meski itu hanya sekilas."
"Haha ... Semalam rasanya seperti mimpi saja, jadi benar selama ini aku adalah orang yang kau cari?"
"Iya ..."
"Vendrinna, setelah apa yang terjadi akhir-akhir ini aku merasa kalau itu hanyalah mimpi. Kenyataan tentang diriku sedikit demi sedikit terungkap, awalnya aku masih setengah percaya mendengar kenyataan ini. Tapi setelah kembalinya ingatanku aku mulai menyadari memang ada sesuatu yang hilang dari diriku."
"Yang terpenting kau mulai mengingatku aku sudah bahagia."
Agra kemudian melepaskan pelukan Vendrinna, kedua tangannya masih memegang erat kedua bahu Vendrinna.
"Mulai sekarang kau boleh memanggilku Blue, terserah kau memanggilku apa."
"Oke ... Oke ... Terserah aku ya?"
"Ya."
"Vendrinna!"
Jessy melihat pemandangan pagi hari yang berbeda dari biasanya, dia melihat kedua insan yang saling menatap di pagi hari. Agra dan Vendrinna seketika merasa gugup saat melihat Jessy menatap mereka berdua, mereka akhirnya sama-sama canggung.
"Eheemmm ... Sepertinya halaman teras terlihat kotor lebih baik aku bersihkan dulu, Vendrinna nanti saja aku bicaranya! Dadah!"
"Jessy! Ada apa?" Tanya Vendrinna.
"Sebenarnya aku baru ingat ada acara besar di balai kota negeri Shin malam nanti. Mereka akan mengadakan beberapa acara untuk keselamatan negeri dan klan kami, setiap satu tahun sekali klan kami mengadakan ritual suci untuk leluhur klan kami. Jadi ayo ikut! Acara akan sangat meriah nanti."
"Baiklah, kita akan datang ke acaranya. Kapan lagi kita bisa seperti ini, benarkan darling?"
"Ha? Darling?"
"Kau bilang aku boleh memanggilmu terserah, jadi aku panggil kau darling saja."
"Kau-"
"Ayo kita semua kesana!" Jessy terlihat bersemangat.
"Ayo! Sudah lama kita tidak menikmati acara besar seperti ini." Jawab Vendrinna dengan penuh semangat.
Sementara itu disisi lain Axcel dan Laurent sempat berdebat di depan teras rumah.
"Aku tidak mau pergi!"
"Kau benar-benar susah diatur!"
"Memang iya."
"Jika kau tidak mau kembali aku akan mengusirmu dengan paksa!"
"Coba saja kalau bisa."
__ADS_1
Axcel menyerang dengan pedangnya, namun Laurent hanya diam dan tersenyum sadis.
"Hanya seorang pengecut yang berani menyerang lawan tanpa senjata."
"Memangnya dimana pedang andalanmu? Dulu waktu di perguruan kau sangat suka mengeluarkannya kan?"
"Kau lupa atau pura-pura lupa?"
"Apa maksudmu?"
"Kau ingat insiden penyerangan organisasi gelap di perguruan kita? Aku kehilangan pedangku saat mereka menyerang, pedangku hancur dan aku terluka di bagian jantung. Makanya sampai sekarang jantung ku sedikit bermasalah dan aku sudah tidak bisa bermain pedang lagi."
"Jadi kau sakit bukan berasal dari penyakit bawaan tapi melainkan dari luka pertarungan?"
"Betul sekali."
"kenapa aku tidak tahu?"
"Karena aku tidak ingin semua orang tahu kalau aku terluka. Aku takut saja mereka mengetahui kelemahanku dan memanfaatkan kondisi kesehatanku untuk membunuhku. Kau tahu kan begitu banyak penggemar yang sedikit fanatik denganku."
Axcel pun memasukkan pedangnya kembali ke selongsongnya, dia kemudian menghilangkan pedang Axceleton.
"Bagus."
Hiattt ...
Pukulan pertama Laurent meluncur namun Axcel berhasil mengelak dengan cepat. Tangan laurent yang sekarang berada di bahu Axcel akhirnya ditepis olehnya, lalu Laurent menggencarkan aksinya lagi dengan melakukan tendangan di bagian belakang lutut Axcel.
"Hm ... Kau tidak akan bisa menang kalau kau menyerangku dengan cara ini."
"Bisa!"
"Hah!?"
Laurent ternyata telah memasang mantra ilusi di bahu dan belakang lutut Axcel. Mantra tersebut mulai aktif dan bereaksi dengan cepat.
"Kenapa bahu dan lututku terasa berat? Seperti di timpa oleh batu yang sangat besar? Apa jangan-jangan ..."
"Kenapa? Berat ya? Susah bergerak? Kasihan sekali."
"Dasar perempuan licik! Apa kau menggunakan mantra ilusi mu?"
"Tentu! Kau berani memaksaku jadi aku akan sedikit memberimu pelajaran dengan efek mantra ini."
"Argh! Lepaskan mantranya sekarang!"
"Tidak mau! Lepaskan sendiri kalau bisa!"
Tiba-tiba Agra, Vendrinna, Jessy, dan Samuel datang.
"Astaga! Mereka lagi!" - Agra.
"Permisi tuan, nona kalau kalian bertarung bisakah sedikit jauh dari rumah supaya tanaman kami tidak mati." - Jessy.
"Jessy! Diam! Dia sedang mengeluarkan mantra ilusinya jika dia merasa tersinggung kau bisa terkena efeknya lagi!" - Vendrinna.
"Hadeh ... Iya ... Iya ..." - Jessy.
Agra kemudian berjalan menghampiri Axcel, ia mencoba melepaskan mantra itu dengan chip yang Laurent pasang di telapak tangannya.
"Sayang, kau benar-benar tidak asik! Aku baru saja ingin menghajarnya sampai babak belur. Hmm ... Ngomong-ngomong kau sudah tahu ya cara lain dari penggunaan chip itu?" - Laurent.
"Kau memasang ini untuk tabir pelindung supaya aku tidak terkena ilusi kan?" - Agra.
"Seratus untukmu!" - Laurent.
"Terima kasih, berkat penemuanmu ini aku jadi bisa menyembuhkan orang-orang dari mantra ilusi milik klan Redfire termasuk keusilanmu saat ini." - Agra.
"Huahahahaha ..." Jessy tiba-tiba tertawa lepas.
"Tertawalah! Kalau perlu sampai terbahak-bahak jika kau ingin mati." - Laurent.
Jessy kemudian berhenti tertawa.
"Laurent! Apa tingkahmu sejak dulu tidak bisa diubah? Jadilah sedikit penurut dan sopan seperti Vendrinna, baru kau boleh tinggal disini!" Agra menggertak.
__ADS_1
"Vendrinna! Vendrinna! Selalu saja Vendrinna! Apa di otakmu hanya terpikirkan Vendrinna saja!?"
Laurent merasa marah dan kesal dia pun pergi ke kamarnya tanpa mengucapkan satu kata pun.