The Last Clan Blue

The Last Clan Blue
40. Siasat Baru


__ADS_3


Malam hari


Negeri Pusat Redfire Clan


Tepat di kastil Redfire milik raja Leviathan


"Lapor tuan Leviathan!" Panglima Zein menghadap dengan tegak.


"Ada apa?" Tanya Raja Leviathan yang saat itu sedang duduk sembari bermain dam kesukaannya.


"Ada sesuatu yang mungkin akan membuat tuan senang."


"Coba katakan langsung, jangan membuatku penasaran panglima Zein."


"Agra, bocah itu menyerahkan diri ke pasukan kita."


"Menyerahkah diri?" Raja Leviathan terkejut usai mendengar kabar dari panglima Zein.


"Benar tuan!" Tegas ulang panglima Zein.


"Dimana dia sekarang aku ingin menemuinya?" Tanya Leviathan yang masih tak menyangka tentang kabar itu.


"Sekarang dia berada diruang introgasi, tapi tuan harus berhati-hati, hal ini sangat tidak wajar. Bagaimana mungkin bocah itu begitu mudahnya menyerahkan diri tanpa ada maksud terselubung. Aku yakin dia mungkin sedang merencanakan sesuatu." Jelas panglima Zein.


"Aku tahu itu, sesuai perkembangan dan laporan data yang ada dia selalu menggunakan otaknya untuk melawan musuh. Jadi aku juga harus menggunakan otakku untuk melawan bocah ini." Jawab Raja Leviathan dengan nada santai.


"Baiklah kalau itu keputusan tuan, saya hanya menghimbau saja."


"Tenanglah aku akan siapkan semuanya untuk menyambut kedatangan bocah itu. Antar aku menemuinya sekarang."


"Baik tuan."


Raja Leviathan beranjak dari tempat duduknya dan mulai berjalan menuju koridor kastil menemui Agra.


Sementara itu diruang interogasi Agra duduk dengan tangan terikat kedepan, ia dijaga ketat oleh Rival beserta pasukannya namun Agra tidak menggubris itu semua. Ia tetap memainkan jari jemarinya sembari menunggu kedatangan Leviathan.


Selang beberapa menit Leviathan datang bersama dengan panglima Zein, membuka pintu ruang interogasi dan duduk didepan Agra mereka pun saling menatap dengan penuh selidik.


"Agra Le Bluezer, ternyata kau cukup bernyali juga ya? Tanpa rasa takut kau datang dengan wajah santai untuk menemuiku."


"Mau bagaimana lagi, putramu sudah menemukanku lebih dulu. Lagipula aku juga ingin berbicara secara pribadi denganmu."


"Benarkah? Coba katakan!"


"Usir semua orang yang ada disini aku tidak mau mereka ikut campur dengan urusan ini, termasuk pangeran Rival Frederick. Aku tidak suka orang yang bertindak tanpa otak seperti dia." Sembari melirik kearah Rival yang sedang berdiri disamping Agra.


"Beraninya kau!" Rival meninggikan nada.


"Semuanya, keluar sekarang! termasuk kau Rival!" Perintah Leviathan.


Rival hanya diam dan meninggalkan ruang interogasi itu dengan perasaan kesal, Kini tersisa Agra dan Leviathan. Agra pun memulai bicaranya.


"Kembalikan semua yang telah kau rampas."


"Ohh ... jadi itu tujuanmu sampai kau berani menyerahkan diri kepada pasukanku?"


"Setelah kau membunuh semua klanku kau masih mau merebut semua yang ada didunia clonning ini. Aku tahu kau telah menjajah beberapa wilayah milik klan lainnya, Keserakahanmu ini tidak bisa ku ampuni raja Leviathan."


"Ahahahaha ... kau tahu apa tentang diriku dan juga klanku hah!?"


Leviathan menyentuh kerah baju Agra dan menariknya dengan erat.


"Jika kau tidak tahu apa-apa lebih baik kau diam." Sambung Leviathan.


"Ohya satu lagi, kembalikan semua aset milik klan Cavalie dan juga bebaskan raja Leinworf Cavalerie beserta bawahannya."


"Rupanya kau tahu sejauh itu ya?"


"Aku tahu semua kelicikanmu itu, kau melakukan perjanjian pengalihan kekuasaan terhadap raja Cavalerie tapi kau malah menahan mereka."


"Tenang saja, aku akan melepaskan mereka tapi kau juga harus memenuhi syaratku."

__ADS_1


"Apa?"


"Five Symbol Clonning, kau tahu dari dulu aku sangat menginginkan chakra istimewa itu kan?"


Agra diam dan mencoba berpikir tentang jalan yang ia pilih selanjutnya.


"Baiklah jika itu maumu! Aku akan memberikannya kepadamu tetapi aku membutuhkan meditasi lebih banyak untuk menyiapkan pemindahan chakra ini."


"Baiklah kau bisa bermeditasi diruangan khusus milikku."


"Tidak! Aku tidak bisa sembarangan mencari tempat untuk bermeditasi, aku harus masuk kedalam sebuah ruangan penyegel chakra yang nanti akan menghubungkanku kedalam dimensi roh. Disitulah aku bisa membuka segel ini terlebih dahulu. Apa kau tidak keberatan?"


"Dimana tempat itu?"


"Bukit Sealer Blue berada di dekat kastil White Blue, wilayah yang telah kau rampas itu adalah tempat yang pas untuk pemindahan chakra."


"Hmm ... Baiklah, besok aku dan pasukanku akan mengantarmu kesana."


Raja Leviathan tiba-tiba menyentuh kening Agra dengan jarinya dan seketika itu titik merah yang ada dikening Agra muncul.


"Apa yang kau lakukan!"


"Aku memasang mantra pengawasan didalam tubuhmu, untuk berjaga-jaga agar kau tidak berbuat macam-macam denganku."


Agra terkejut dengan keteledorannya, ia sekarang berada dalam pengawasan ketat oleh Leviathan.


~Gawat! Bodoh sekali aku, tapi tidak masalah juga jika mantra ini menghalangiku, aku masih punya banyak ide untuk membuat rencana lainnya hahaha ...


Agra kembali dalam posisi tenang, negosiasi itu pun sudah tercapai, kini tinggal langkah selanjutnya untuk mengatur ulang rencananya. Menunggu esok hari tiba Agra ditahan semalaman dalam ruangan khusus.


Sementara itu di ruangan yang berbeda, tepatnya di ruang tamu kastil terdapat sosok gadis yang cantik dan molek sedang duduk dikursi tamu. Pangeran Rival pun datang untuk menemuinya.


"Kenapa kau malam-malam datang kesini tuan putri Laurent?"


"Aku mendengar kabar kalau dia menyerahkan diri, jadi aku datang kesini untuk memastikannya."


"Untuk apa kau memastikan dia, dia sebentar lagi juga akan mati."


"Jangan banyak bicara kau! antar aku ketempatnya sekarang, rasanya aku ingin memberi pelajaran untuknya."


Laurent tidak mempedulikan larangan Rival dan terus menuju kelorong bawah tanah, Laurent tau kemana ia harus pergi karena chip pelacak yang ia pasang ditelapak tangan Agra masih berfungsi.


Rival terus mengikutinya dari belakang, sesampainya di tempat itu Agra terlihat sedang tertidur dalam luka lebamnya. Laurent yang melihat Agra dengan penuh luka mendadak terdiam, ia mengepalkan tangannya dan kemudian berbalik kearah Rival, ia pun meminta kunci yang saat itu masih dibawa oleh Rival.


"Dimana kuncinya?" Tanya Laurent.


"Mau apa kau?" Tanya balik Rival dengan penuh curiga.


"Tentu saja untuk memberinya pelajaran, dendamku ini rasanya sangat membara. Berani-beraninya dia meninggalkanku ditengah hutan dan menipuku dengan otak liciknya itu."


"Haaahh ... sudah kukatakan dia benar-benar ingin cari mati dengan kita. Ini kuncinya ku beri kau waktu 10 menit untuk menghajarnya." Ucap Rival sembari melempar kunci kearah Laurent.


"Baiklah." Jawab Laurent dengan santai.


Laurent membuka pintu dan masuk kedalam tahanan, ia perlahan-lahan mendekati Agra yang sedang tertidur. Disaat itulah ia mulai menyerang Agra, Laurent memukul perut Agra dan membuatnya terkejut. Sesekali Laurent melirik kearah Rival dan melanjutkan untuk memukul Agra.


Pukulan dan tendangan ia luncurkan ketubuh Agra hingga memar. Namun Laurent merasa aneh karena Agra tidak melawan serangannya.


"Baiklah kau lanjutkan saja memukul dia sampai tidak berwajah, Aku akan pergi sebentar untuk mengambil minumanku. Prajurit jaga ketat tempat ini dan jangan sampai tawanan kabur!"


"Siap pangeran." Para prajurit itu langsung memperkuat penjagaannya.


Laurent kembali melirik Rival yang sudah pergi, barulah ia berhenti untuk memukuli Agra, saat itu ekspresi Agra juga sangat tenang dan santai saat menghadapi Laurent.


"Hei sayang ... kenapa kau tidak melawanku tadi." Sembari memegang wajah Agra.


"Anggap saja kita imbas, aku sempat meninggalkanmu ditengah hutan sampai kau menangis dan pingsan. Jadi tidak masalah kau memukuliku seperti apa, jadi tanggung jawabku akhirnya sudah terselesaikan. Bagaimana pun juga kau seorang wanita kan?"


"Cih! Dasar! Sikapmu seperti inilah yang membuatku merasa bingung."


"Huh?"


"Akankah aku harus menolongmu atau membunuhmu. Setelah sekian lama menunggu, kau akhirnya datang kembali aku sangat senang namun aku juga merasa sangat sedih. Aku sangat sedih setelah aku tahu aku harus memburumu dan mengambil chakra istimewa dari dalam tubuhmu. Jujur saja tidak masalah kalau kau tidak mengingatku, yang terpenting aku masih bisa melihatmu hidup Blue."

__ADS_1


"Kenapa kau begitu percaya kalau aku adalah Blue."


"Blue adalah orang yang mampu menghargai seorang wanita, ia selalu memberi kesan hangat setiap kali bertemu. Yang paling aku sukai darinya adalah dia sangatlah baik dan memiliki jiwa penolong, ia tidak peduli akan kawan dan lawan. Dimana orang membutuhkan pertolongan pasti dia senantiasa menolong orang itu meskipun yang ia tolong adalah musuhnya sendiri. Dan kau adalah orang yang memiliki cerminan diri seperti dia, oleh karena itu aku percaya kalau kau adalah Blue."


"Hei ... kau berbicara seperti ini apa kau tidak takut kalau mereka nanti mendengar percakapanmu."


"Tenang saja berkat sedikit sihir dariku aku telah memasang ruang tahanan ini dengan tabir kedap suara. Jadi aman untuk kita saling mengobrol."


"Oh ... Begitu."


"Ayo aku akan membantumu lari dari sini."


"Tidak!"


"Kenapa?"


"Ada hal penting yang harus aku selesaikan disini."


"Hei sayang! Aku sudah sejauh ini untuk membantumu keluar dari tahanan. Tapi kau memilih untuk tinggal dan disiksa oleh ayah dan anak tolol itu."


"Aku tahu kau datang kesini untuk membantuku keluar, tapi sekali lagi kujelaskan padamu bahwa aku masih punya misi yang belum aku selesaikan disini dan tolong jangan katakan kepada siapapun tentang hal ini."


"Hm ... baiklah kalau begitu, aku percaya padamu tapi kau harus menjaga dirimu baik-baik ya sayang. Jangan sampai kau mati."


"Panggil dengan namaku saja, aku tidak terbiasa dipanggil dengan sebutan itu."


"Kenapa sayang, panggilan ini sedikit mesra loh ... sini biar aku obati lukamu."


"Tidak perlu! Aku bisa sendiri."


Agra memejamkan mata dan sinar terang muncul dari dalam dirinya, rasa nyeri yang ia rasakan menghilang semuanya kembali normal. Kulit lebamnya masih ada namun rasa sakitnya sudah menghilang.


"Hmm ... chakra apa itu?"


"Ini chakra medis yang pernah Vendrinna ajarkan kepadaku."


"Vendrinna gadis sial itu?"


"Iya, kenapa?"


~Dia pasti akan menjadi saingan masa depanku. Aku harus bersiap diri untuk menghadapinya.


"Hey ... kenapa diam?"


"Tidak apa-apa, ohya! sebentar lagi Rival datang, berpura-puralah untuk pingsan."


"Pingsan?"


Baru saja dibicarakan, Rival datang dengan langkahannya yang pendek, dia berjalan dengan santai. Mendengar suara langkahan itu Agra langsung melaksanakan apa yang Laurent minta.


Saat itu Laurent kembali mengunci pintu tahanan dan berpura-pura kalau dia telah memukuli Agra sampai pingsan.


"Wah ... hebat sekali kau sampai membuatnya pingsan." Rival memuji Laurent.


"Aku sudah puas dengannya. Lain kali aku kesini lagi untuk melihatnya hancur menjadi debu."


Laurent mengembalikan kuncinya ke Rival dan pergi tanpa sepatah kata pun.


"Mau kemana?"


"Pulang."


"Sebagai pangeran mahkota aku akan mengantar tuan putri terhormat sampai kerumah."


"Tidak perlu. Kusirku sudah datang menjemputku, antar aku sampai kedepan pintu kastil saja."


"Baiklah kalau itu kemauanmu."


Mereka pergi menuju pintu utama kastil, meninggalkan Agra yang masih berpura-pura pingsan. Usai melihat mereka pergi ia pun merebahkan tubuhnya kembali dan menatap ke langit-langit ruang tahanan.


"Hahh ... Aku jadi teringat kabar Vendrinna, bagaimana kondisinya sekarang ya? Apakah dia sudah menyampaikan kertas mantra itu kepada kak Axcel? Semoga saja dia berhasil."


Hembusan angin malam menerka lamunan Agra dan kini ia harus memastikan bahwa rencana esok hari harus berhasil. Jika tidak dunia akan menjadi sangat kacau.

__ADS_1


#BERSAMBUNG


__ADS_2