
Pagi hari terasa begitu cepat hingga siang pun datang beriringan dengan panas terik matahari. Axcel dan Samuel terlihat sedang membopong Agra yang sedang mabuk untuk kembali pulang. Mereka pun melewat pasar agar tidak terlihat mencurigakan oleh para prajurit yang berlalu lalang.
"Hoek ... Aku mau muntah." Ucap Agra yang terlihat sangat mabuk.
"Tuan muda sepertinya anda kebanyakan minum." Ujar Samuel merasa tidak tega melihat kondisinya.
"Itu karena kebodohannya sendiri meminumnya. Mana berat sekali tubuhnya." Axcel menggerutu.
"Eh ... Tunggu sebentar ada coklat disana!" Agra menunjuk ke salah satu pedagang coklat yang sedang berlapak di sebrang jalan.
"Agra, Kemana lagi kau pergi?" Tanya Axcel.
"Coklat ... Beli ... Coklat ..." Jawab Agra sambil menuju ke penjual coklat.
Agra pun terlihat sedang memborong semua jenis coklat yang ada dan menaruhnya didalam kantong yang diberikan penjual.
"Agra, untuk apa kau membeli coklat sebanyak ini? Lalu darimana kau mendapatkan uangnya?" tanya Axcel.
"Aku mendapatkannya dari prajurit sialan itu ... Dia bilang kalau dia akan membeli sebotol lagi minuman yang kubawa ..." Jawab Agra.
"Prajurit dan kau sama-sama bodohnya ternyata." Raut wajah Axcel berubah datar.
"Hahaha ... Paman Samuel ayo kita pulang aku tidak sabar melihat senyuman Vei Vei setelah melihat coklat yang kubawa." Ajak Agra sambil ngelantur.
"Vei Vei?" tanya Axcel.
"Tuan muda? Apa anda mulai mengingatnya?" tanya Samuel.
"Paman? Siapa Vei Vei?" tanya Axcel.
"Vei Vei adalah panggilan nona Vendrinna ketika masih kecil. Dulu tuan muda Agra sering bercerita dan selalu memanggil nona dengan panggilan Vei Vei. Sepertinya sedikit demi sedikit kenangan masa kecil tuan muda kembali." Senyum Samuel dengan perasaan lega.
"Begitu rupanya ... Jadi ... Akankah dia mengingat ketika dia diculik saat itu?" tanya Axcel lagi.
"Saya tidak tau pangeran Axcel. Semoga saja ingatannya segera kembali sepenuhnya agar kita tau siapa saja yang terlibat dalam masalah ini." Ucap Samuel.
"Semoga saja." Jawab Axcel.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan pulang.
****
Sesampainya dirumah.
"Vei Vei ... Dimana kau? Aku sudah menepati janjiku jadi kau jangan marah lagii ... Hehe ..." Ucap Agra sambil mendobrak pintu.
Vendrinna yang saat itu sedang berada di belakang rumah pun terkejut mendengar suara Agra. Ia pun memutuskan untuk pergi ke ruang tamu untuk melihatnya.
"Hoe Vei Vei ... Dimana kau? Apa kau bersembunyi dibawah meja?" Ucap Agra lagi sambil menengok ke bawah meja.
"Emm ... Tuan muda anda tidak bisa mencarinya di kolong meja. Dia bukan tikus." Ujar Samuel.
__ADS_1
"Hentikan itu Agra! Kami lelah membopongmu dari tadi, jadi bisakah kau diam!" Bentak Axcel.
"Veiii Veii .... Dimana kauuu!!" Teriak Agra dengan lantang.
"Berisikkk bodohhh!!!" Jawab Vendrinnna sambil memukul tongkat ke kepala Agra.
Tiba-tiba Agra menyentuh tangan Vendrinna, lalu memberikannya sekantong coklat yang ia beli dari pasar tadi.
"Coklat ... Untukmu ..."
Brughh ...
" Ehh ... Apa yang terjadi?" tanya Vendirnna.
"Dia mabuk." jawab Axcel santai.
"Bagaimana bisa?" Tanya Vendrinna lagi.
"Nanti biar aku jelaskan ... Sebelum itu ... bantu aku membawa anak ini ke kamarnya" Pinta Axcel.
Mereka mulai mengangkat Agra dan membaringkan tubuhnya ke kasur. Setelah itu Axcel menjelaskan semua kronologi kejadian penyebab Agra sampai mabuk hingga melantur. Axcel juga menjelaskan bagaimana Agra membawa sekantong coklat yang saat ini berada di tangan Vendrinna.
Setelah mendengar semua penjelasan dari Axcel, Vendrinna hanya tersenyum tipis.
"Vendrinna, Apakah dulu Agra pernah memanggilmu Vei Vei?" tanya Axcel.
"Iya ... Panggilan itu sering digunakan Agra ketika dia merasa hebat dan percaya diri. Aku bersyukur karena dia mulai mengingat kenangan itu. Aku juga tidak menyangka kalau dia benar-benar akan membelikan ku coklat sebanyak ini." jawab Vendrinna sambil memandangi Agra yang sedang terlelap.
"Vendrinna! malam nanti kumpulkan semua orang kita akan mengadakan rapat diskusi dan siapkan barang-barang kalian kita akan meninggalkan penginapan ini." Perintah Axcel.
"Apa? Malam ini juga?" Tanya Vendrinna.
"Iya ... Jangan banyak tanya lagi pokoknya lakukan apa yang aku perintahkan." jawab Axcel.
"Baiklah." Jawab Vendrinna.
Malam hari pun berlanjut, sesuai dengan perintah Axcel Vendrinna mengumpulkan orang-orang seisi rumah dan mempersiapkan barang bawaan mereka. Semua orang kebungungan dengan apa yang dipikirkan Axcel.
"Pangeran Axcel yang terhormat, sebenarnya apa yang kau pikirkan? Kenapa anda menyuruh kami untuk membawa barang-barang kami?" - Laurent.
"Eumm ... Pangeran Axcel apakah benar yang dikatakan Vendrinna tadi?" - Jessy.
"Kak Axcel, dimana Agra kenapa dia belum berkumpul juga?" - Vendrinna.
"Kita tunggu dia sebentar." - Axcel.
Tak lama kemudian Agra datang dengan wajah kacau dan rambut berantakan. Dia tiba-tiba duduk disebelah Axcel.
"Mana makanannya?" Tanya Agra dengan santai.
"AGRA!!!" Jawab kompak orang-orang disekelilingnya.
__ADS_1
"Ada apa? Kenapa?" Agra seketika terkejut.
"Apa kau tidak mendengar apa yang kukatakan Agra? Mana barang-barangmu?" - Axcel.
"Ohh ... Aku lupa, kupikir kita akan makan dulu sebentar, aku lapar." - Agra.
"Itu karena efek dari cairan tadi jadi otakmu tidak bisa tanggap dengan cepat. Kenapa kau tadi ikut minum?" - Axcel.
"Aku tidak bisa mengelak ... mereka memaksaku meneguknya jadi apa boleh buat." - Agra.
"Itu sebabnya kau tepar tadi?" - Axcel.
"Begitulah ... Kenapa kau menyuruh mereka untuk bersiap-siap? Memangnya kita akan pergi kemana?" - Agra.
"Siapkan barangmu dulu!" -Axcel.
"Tuan muda, biarkan saya menyiapkan barang-barang anda. Anda duduk saja disini saya sudah tau rencana pangeran Axcel." Ucap Samuel sambil pergi ke kamar Agra.
"Jadi begini, Langsung pada intinya saja! Malam ini kita harus segera pergi dari tempat sini. Aku, Agra dan paman Samuel berhasil menyusup masuk kedalam markas prajurit Redfire klan. Kami menemukan gulungan peta dan beberapa surat didalamnya, lihatlah kami sudah menyalin beberapa yang penting." Jelas Axcel sambil membuka salinan gulungan tersebut.
"Kita saat ini dalam incarannya, mereka mencoba mengerahkan seluruh prajuritnya untuk mencari kita jadi ini akan mempersempit pergerakan kita untuk terus maju ditambah lagi negeri shirei sebentar lagi akan diserang oleh Redfire Clan. Jadi kita harus bergegas kesana sebelum mereka menyerang, dari sini ada yang ditanyakan?" Ujar Axcel.
"Jika kita pergi kesana dalam waktu yang singkat sementara jarak dari negeri Shinzou dan negeri Shirei sangatlah jauh, apakah kita akan sempat untuk pergi kesana? Bagaimana caranya agar kita bisa menyingkat waktu sebelum terjadinya penyerangan?" Tanya Vendrinna.
"Untuk itu aku sudah menyiapkan misi cadangannya, misi ini akan aku namakan LANGKAH BAYANGAN. Kita akan menyamar dan terus menyamar sebisa mungkin untuk menuju ke negeri Shirei. Kita akan menghapus jejak kita tanpa orang lain sadari. Untuk itu aku perlu bantuan Laurent, dengan kekuatan nafas apinya dia mampu menghilangkan jejak kita dengan menguapkan bau-bau kita ke udara lalu menyamarkannya, mereka lebih sering melacak keberadaan kita dengan bau jadi Laurent akan sangat dibutuhkan dalam misi ini. Untuk persediaan makanan dan obat-obatan aku serahkan seluruhnya kepada Vendrinna." Jelas Axcel.
"Setuju!" - Laurent.
"Aku setuju, memang sebaiknya kita harus memanfaatkan kemampuan kita masing-masing demi mewujudkan misi ini." - Vendrinna.
"Untuk Jessy, aku lebih membutuhkanmu untuk mengendalikan awan, apa kau bisa membuat kendaraan darurat dengan awan?" tanya Axcel.
"Bisa, aku akan memanggil beberapa awanku untuk keperluan berkendara." Jawab Jessy.
"Agra sebentar lagi bulan purnama merah kau harus terus berada didalam penjagaan jangan biarkan tubuhmu terkena silauannya jika tidak ingin energi mu berantakan. Jadi aku sudah menyiapkan beberapa kain tepal untuk menyelimutimu dari sinar bulan purnama merah." - Axcel.
"Baiklah." - Agra.
"Sementara itu aku dan paman Samuel yang akan mengatur jalur jalan pintasnya. Peta ini akan sangat penting untuk kita jadi apa kalian sudah paham?" - Axcel.
"PAHAM!" (Bersama)
"Pangeran Axcel diluar sudah siap." - Samuel.
"Baiklah! rapat ini aku tutup, mari kita bergegas pergi aku sudah menyiapkan kereta kuda kiriman dari raja Cavalerie. Kereta kuda ini bukan sembarangan dia akan muncul secara mendadak ketika aku memanggilnya dan akan menghilang ketika aku menyuruhnya pergi. Jadi ini akan mempermudah kita dalam berkendara tanpa ada jejak." - Axcel.
"Itu .. Bukankah kereta mitologi dari leluhur Cavalie Clan, kereta ini dulunya digunakan untuk menyambut kelima Dewa Chakra saat sedang pembagian Klan?" - Agra.
"Benar sekali cepatlah masuk, ayo kita berangkat." Ajak Axcel bergegas.
Misi Langkah Bayangan pun dimulai, perjalanan menuju negeri shirei tanpa jejak akan menjadi perjalanan penuh bahaya dan rintangan. Dengan mengesampingkan ego masing-masing Agra dan lainnya berhasil membangun kepercayaan tim serta bekerja sama demi masa depan dunia Clonning.
__ADS_1