
Senja di negeri Lavender menyuguhkan pemandangan yang sangat indah, langit jingganya telah menghiasi setiap detik-detik terbenamnya matahari. Sudah beberapa jam mereka menghabiskan waktu bersama, akhirnya suasana yang dinantikan Vendrinna kini tiba.
Mereka sedang berbaring di rerumputan tepatnya ditepi sungai Hollow Vender, sambil menikmati waktu pergantian malam disitulah mereka melihat beberapa bintang yang sudah mulai muncul dilangit.
"Akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba juga."
Vendrinna tersenyum sembari melihat kerlipan cahaya dari bintang yang bertebaran dilangit.
"Huh? sebenarnya kau menunggu apa?" Tanya Agra.
"Nanti kau juga tahu sendiri." Jawab Vendrinna.
Agra terdiam dan menatap kearah langit yang kini berubah menjadi gelap.
"Eumm ... Vendrinna!"
"Ya?"
"Hari ini kau ulang tahun kenapa kau merayakannya hanya denganku? kenapa tidak bersama yang lain saja?"
"Sepertinya pria lugu ini sangat ingin tahu ya? tetaplah diam dan nikmati saja momen ini, nanti kau pasti mengerti."
beberapa menit kemudian ada seseorang yang datang menghampiri mereka.
"Nona perahunya sudah selesai diperbaiki. Perahu itu sudah bisa digunakan sekarang."
"Oh ... Terima kasih pak. Untuk pembayarannya sudah diselesaikan oleh teman saya kan?"
"Iya sudah, tuan dan nona sudah bisa memakainya."
"Baiklah pak, sekali lagi terima kasih ya pak."
Pak tukang itu pun pergi usai mengantar perahu kayu yang dipesan oleh Vendrinna.
"Hahaha ..." Agra tiba-tiba tertawa.
"Kenapa tertawa?" Tanya Vendrinna.
"Cara bicaramu seperti nona besar yang punya banyak uang saja." Ejek Agra.
"Memang." Vendrinna menjawab dengan santai.
"Huh?" Agra yang mendengarnya langsung merasa bingung.
"Kau tahu? Ladang ini adalah ladang yang baru kubeli, jadi secara otomatis akulah yang mengelola ladang ini, setiap pagi aku menyewa 100 orang untuk bekerja denganku memetik bunga lavender. Nantinya bunga ini akan disuling menjadi minyak harum yang biasa orang sebut sebagai parfum." Jelas Vendrinna.
"Haa!?" Agra semakin terkejut setelah mendengarkan penjelasan dari Vendrinna.
"Sebelum membeli aku sudah memiliki modal sendiri dari hasil mengelola tambang emas keluargaku, tentunya aku juga punya wewenang untuk mengelolanya." Sambung Vendrinna.
Agra hanya merespon penjelasan Vendrinna dengan terdiam. Ia sudah tidak punya ide lagi untuk berdebat dengan nona besar itu.
Dari lima penjuru klan didunia Clonning, terdapat 3 keluarga kaya yang melegenda semenjak era pertama pembentukan klan. Tiga keluarga itu antara lain adalah keluarga Le Bluezer, keluarga Maxime dan juga keluarga Mighton. Merekalah yang mempelopori adanya sistem pemerintahan dan sistem ekonomi setiap klan.
Dengan harta yang mereka miliki seluruh dunia menjadi lebih maju karena mereka membagikan harta mereka kepada sistem pemerintah pusat untuk modal pengelolaan sumber daya alam.
Sedangkan sistem pemerintahan pusat terbagi menjadi lima sesuai dengan jumlah golongan klan, masing-masing klan memiliki sistem pemerintahan sendiri dan dipegang oleh pemimpin klannya. Mereka juga telah mendirikan kastil/kerajaan sebagai tempat pertemuan dan juga rapat penting antara raja dan duta besar kastil.
Sistem tersebut telah dijalankan selama beberapa dekade terakhir, namun semenjak runtuhnya klan blue sistem pemerintahan dari lima klan sedikit renggang dan berantakan kini semua telah dikuasai oleh klan terunggul yaitu Redfire Clan.
Saat ini Agra hanya terdiam dan memandang wajah Vendrinna yang terkontras antara langit dan bulan. Ia mulai sadar bahwa Vendrinna lah orang yang paling dia butuhkan. Setiap hari setiap saat tanpa adanya Vendrinna ia merasa dirinya terus kesepian.
"Hey! kenapa kau terus memandangku?" Tanya Vendrinna.
"Ah ... Emm ... tidak! Ak–aku hanya memandang kunang-kunang yang ada dibelakangmu, indah sekali." Jawab Agra gugup.
__ADS_1
Setelah mendengar alasan dari Agra, Vendrinna pun percaya dan langsung melongos kebelakang.
"Kunang-kunang ya? Haha ... momen ini benar-benar pas kan?"
"Ehh ... I–iya ..."
"Kau tahu? Cerita tentang dua anak kecil yang selalu bermain kunang-kunang ditepi sungai?"
"Tidak."
"Mereka setiap malam bertemu disini untuk menaiki sebuah perahu kecil yang terbuat dari kayu. Berhias sinar kecil dari rombongan kunang-kunang mereka pun saling mengucap janji untuk tidak berpisah, namun kau tahu apa yang terjadi dengan mereka?"
"Hm ... Tidak."
"Tiga hari setelah janji itu dibuat, mereka pun berpisah dan bocah laki-laki itu mengatakan sesuatu kepada bocah perempuan yang masih lugu dan imut itu."
"Dia mengatakan apa?"
"Dia berkata kepada gadis kecil itu untuk berhenti menangis dan tetaplah menunggunya ditepi sungai itu, dia juga berkata bahwa dia akan kembali menjemput gadis kecil itu dan tidak akan membiarkannya sendirian."
"Lalu apakah dia kembali?"
"Oh ... Tentu saja tidak! Gadis kecil itu terus tumbuh menjadi sosok remaja yang cantik jelita, setiap tahun dia ditempa oleh perubahan namun hati dan kenangannya masih tidak pernah berubah apalagi pupus dari dalam dirinya. Agra! kau tahu apa yang dilakukan gadis itu selama bertahun-tahun?"
"Eumm ... Tidak."
"Dia terus menunggu bocah laki-laki itu, dia selalu memikirkan harapan untuk bertemu dengannya. Tanpa ia sadari pergantian musim telah mengiringi harapannya, ia terus menunggu di tempat favorit mereka berdua, tempat dimana mereka bertemu dan berpisah. Dia selalu membayangkan wajah bocah laki-laki itu saat menginjak remaja seperti apa, karena dia menganggap bocah laki-laki itulah yang bisa mengerti kondisi perasaannya sekaligus sebagai teman pertamanya. Namun setelah sekian lama menunggu gadis itu mulai sadar kalau harapannya untuk bertemu sangatlah minim, bocah laki-laki itu tidak kembali dan dia mungkin telah melupakan janji serta ucapannya dimasa lalu."
"Sungguh cerita yang sangat menyedihkan."
"Namun sayangnya itu bukan sekedar cerita, itu adalah kenyataan yang begitu pahit jika ditelan sendirian."
"Huh? Jadi cerita itu nyata?"
"Agra! Sampai kapan kau seperti ini?"
"Apa maksudmu?"
"Apanya?"
"Ayo!" Sembari menggeret tangan Agra kearah perahu kayu ditepi sungai.
"Vendrinna, ada apa denganmu?"
"Naiklah!"
Agra menuruti perintah Vendrinna meskipun dia masih kebingungan dengan sikap aneh yang ditunjukkan gadis remaja itu.
Setelah menaiki perahu kayu itu Vendrinna menyusul Agra dengan membawa dua dayung perahu, dia pun ikut menaiki perahu kayunya dan mulai mendayung perahunya sampai ketengah sungai.
"Lihatlah dan rasakan suasana ini! apakah kau merasa nyaman?"
"Iya aku merasa sangat damai."
"Lalu kau coba ingat-ingat lagi apakah suasana ini pernah kau rasakan sebelumnya?"
"Hmm ... Tidak, sepertinya baru kali ini aku merasakannya."
"Coba kau ingat-ingat lagi!"
"Apanya yang diingat? Justru dalam kondisi ini kau terkesan memaksaku, ada apa sebenarnya?"
"Bagaimana ... Bagaimana mungkin setelah melalui semua momen ini kau tidak mengingat apapun? padahal aku sangat yakin orang itu adalah kau."
Vendrinna mulai mengeluarkan air mata.
"Vendrinna, sudahlah berhentilah menangis apapun yang kau lakukan terhadapku itu tidak akan membuahkan hasil. Kau dan Laurent menduga kalau aku adalah blue kan? Saat kita keluar dari bangunan itu Laurent berteriak menyebutku dengan nama blue, kau pasti mendengarnya juga. Sehingga kau pun berfikir kalau aku adalah blue yang kalian cari-cari. Oleh karena itu kau ingin membuktikan secara langsung kan? Jadi agar kau puas dan lepas dari dugaan itu aku mengikuti semua rencanamu. Namun aku juga harus menegaskan kembali bahwa aku bukanlah Blue!"
__ADS_1
Mendengar penegasan itu Vendrinna tidak tahan dan dia mulai menangis tersedu-sedu.
"Akankah dia sudah mati!?"
"Jika dia satu klan denganku kemungkinan besarnya dia pasti ...."
"Hiks ... hiks ... hiks ..."
Vendrinna kembali menangis namun kali ini dia bersandar didada Agra, gadis itu mengeluarkan tangisan yang sudah dia tahan selama belasan tahun didalam pelukan Agra.
"Menangislah! Aku akan memelukmu dan memberimu rasa aman." Agra terus menenangkan Vendrinna.
"Dia adalah teman kecilku, dia selalu mengerti apa yang aku rasakan. Dan kini dia pergi untuk selamanya tanpa mengucapkan selamat tinggal, hiks ... hiks ..."
Agra hanya diam dan terus memeluk Vendrinna dengan hangat.
"Vendrinna sebaiknya kau ikhlaskan dia dan teruslah maju, masih ada aku. Akulah yang akan menemanimu, awalnya aku sempat berpikir untuk meninggalkanmu dan jessy setelah menemukan tempat tinggal yang aman. Namun hatiku terus merasa khawatir melihatmu sendirian bersama Jessy. Hingga aku memutuskan untuk tetap tinggal disini untuk menjagamu, aku juga mengingat pesan dari ibumu saat di dunia roh. Aku sudah berjanji kepada ibumu untuk selalu melindungimu, meskipun tingkatan dan level chakraku masih sangat rendah. Aku akan berlatih dengan giat demi masa depan dunia ini hingga menuju kedamaian."
"Apa kau yakin?"
"Aku yakin, aku akan terus berada disisimu. Anggap saja ini adalah penerus dari janji Blue. jika aku teledor dengan janjiku maka ingatkan aku dengan satu seranganmu. Bagiku itu tidak masalah dari pada aku menjadi lelaki pecundang yang hanya bicara dengan mulut saja."
"Entahlah aku masih kurang yakin, aku takut setelah mengucapkan janji itu nasibmu sama seperti Blue."
"Tidak akan. Aku tidak akan mati sebelum dunia ini mencapai puncak perdamaian, suatu saat aku akan merubah dunia ini dengan orde baruku."
"Hahaha ..." Vendrinna seketika tertawa.
"Ehh ... kenapa kau tertawa?"
"Kata-katamu terlalu tinggi. Sulit dicerna ke otak."
"Ehehehehe ..."
"Jika kau yakin dengan ucapanmu aku akan mencoba mendukungmu, semoga itu benar."
"Ohya! aku ingin memberimu sesuatu."
"Apa itu?"
"Tutup matamu!"
Vendrinna langsung menutup matanya dan dia pun menunggu kejutan dari Agra, sementara itu Agra mengeluarkan kalung pelindung yang ia dapatkan dari pohon suci Vedernight. Ia kemudian mengenakan kalung itu ke leher Vendrinna.
"Buka matamu sekarang dan lihatlah kejutan dariku. Anggap saja itu hadiah ulang tahunku."
"Wah ... kalung ini indah sekali, bercahaya pula."
"Kalung itu suatu saat akan melindungimu jika kau dalam masalah. Tolong jaga kalung itu."
"Agra, kau tahu?"
"Apa?"
"Kalung yang kau temukan tadi juga pemberian dari Blue, dia memberiku kalung sebagai hadiah pertemanan. Tempat pemberiannya juga sama persis disini."
"Wah ... benarkah?"
"Iya, tapi tidak masalah kan kalau aku menyimpan kalungnya juga?"
"Tentu saja tidak masalah tapi, kau harus terus memakai kalung yang kuberi itu. Jangan sampai kau lepas."
"Baiklah, terima kasih."
"Sama-sama."
Mereka pun menghabiskan sisa-sisa waktu yang ada untuk menggali momen bersama. Sungai yang dipenuhi keindahan malam membuat mata dan hati menjadi tenang. Suasana yang Vendrinna rindukan kini mulai kembali meskipun berganti sosok pendamping.
__ADS_1
Lentera-lentera yang di buat sore tadi, mereka arungkan diatas permukaan air untuk mengiringi duka bagi Blue agar dia bisa tenang bersama anggota Blue Clan lainnya.