
Semua berawal dari delapan tahun yang lalu saat dia masih berumur 10 tahun sedangkan aku sudah berumur 12 tahun. Kita memiliki selisih umur yang tidak terlalu jauh, hanya dua tahunan saja.
Saat itu ada pertemuan pribadi antara dua pemimpin klan yaitu klan Cavalie dan klan Blue. Waktu itu adalah pertama kalinya aku datang berkunjung kekastil Whiteblue. Agar kedua klan saling mendukung dan menguatkan hubungan persahabatan mereka, biasanya para raja/pemimpin klan mengutus pangeran penerus tahta untuk ikut serta menjalin hubungan baik dengan pangeran pewaris tahta lainnya. Tentunya untuk menanamkan benih-benih kewibawaan kami sejak dini.
Disitulah aku mulai bertemu dengan bocah itu, dia terlihat sedang berdiri dibalik jendela kastil lantai dua. Dia saat itu menatapku dengan tatapan dingin tanpa ekspresi.
"Hey! apakah kau bisa mendengarku? Ayahku memintaku untuk menemuimu. Namamu Agra Le Bluezer kan?"
"Maaf aku tidak tertarik padamu!"
"Apa?"
Saat itu dia langsung memberiku kesan pertama yang buruk sebelum berkenalan dengannya. Dia benar-benar orang yang menyebalkan.
"Dasar bocah sialan! Jika bukan ayahandaku yang menyuruhku untuk berkenalan denganmu aku akan menghabisimu sejak tadi."
Dia tidak menggubris omonganku, malah dia pergi begitu saja tanpa bicara sepatah kata pun.
"Dasar bocah sombong!"
"Kau mengatakanku sombong? Sepertinya kau harus tau sesuatu tentang diriku."
Aku terkejut melihat dia sudah ada dibelakangku, aku tidak tahu bagaimana dia bisa berdiri dibelakangku secepat itu.
"Huh? Kau?"
"Kenapa? Terkejut?"
"Hehe ... siapa yang terkejut, sudah lama aku tidak berlatih bertarung lho ... kau bisa menjadi target sasaranku kali ini."
"Oh ... kau menantangku rupanya?"
~Sepertinya potensi kekuatanya lumayan juga, dia cocok untuk menjadi sasaran bertarungku.
Aku kemudian mengeluarkan pedang Axceleton tanpa sepengetahuan ayahanda, sebenarnya ayahanda melarangku untuk menggunakan pedang Axceleton secara sembarangan karena aku masih belum bisa mengendalikan energi chakra didalam pedang itu.
Tapi demi meluapkan emosiku aku malah melanggar larangan ayahanda dan bertarung dengannya. Aku mulai mengayunkan pedangku dan secara bersamaan energi dari pedang itu malah beralih mengontrolku.
Pedang itu terus menghantam bocah itu, sungguh ini benar-benar diluar kendaliku. Berawal dari pertarungan biasa tanpa niatan membunuh kini berubah menjadi pertarungan sampai titik darah penghabisan.
"Hey! Cepat menghindar! pedang ini tidak bisa kukendalikan."
"Astaga apa kau ingin membunuhku." Sambil melompat menghindari tebasan pedang Axceleton.
~ Kenapa dia malah begitu santai menghadapi pedang ini?
"Bu ... bukan seperti itu! aku sedang kehilangan kendali, tubuhku dikendalikan oleh pedang ini!"
"Kau sungguh merepotkan ya." - Agra
"Huh? awas aku mulai menyerangmu dari atas!"
Hiat ...
"Huh? Apakah umurku sependek ini?" - Agra dengan ekspresi polosnya.
__ADS_1
Sriing ...
Sraaassshhh ...
"Fiuhh ... untung aku datang tepat waktu."
Akhirnya ayahanda datang menahan serangan pedang Axceleton. Aku saat itu benar-benar bersyukur.
"Maafkan dia pangeran Agra, seperti biasa dia benar-benar ceroboh." - Raja Leinworf Cavalerie.
"Tidak masalah raja Cavalerie, tak perlu cemas dengan masalah kecil ini." - Raja Agruero Le Bluezer.
"Pangeran Axcel! minta maaflah kepada pangeran Agra!" - Raja Leinworf Cavalerie.
"Baik ayahanda! Maafkan aku pangeran Agra!"
~Aku memang bersalah seharusnya aku sedikit sopan saat membawa nama baik klanku dan ayahanda didepan mereka.
"Tidak apa-apa justru seranganmu tadi sangat keren, suatu saat aku ingin menjadi sepertimu. Hehe ..."
~Dia gila atau bagaimana sih? Padahal tadi itu serangan mematikan dianggap menyenangkan olehnya?
"Hahaha ... pangeran Agra lucu juga!" - Raja Cavalerie.
"Harap dimaklumi dia masih begitu polos." - Raja Agruero.
"Apakah kalian sudah berkenalan?" - Raja Cavalerie.
"Ohya lupa kenalkan namaku Pangeran Axcelion Cavalerie dari kerajaan klan Cavalie."
~Akhirnya aku bisa berkenalan dengan anak aneh ini.
Waktu berjalan begitu cepat dan hubungan kami semakin akrab, Sudah tiga tahun kami menghabiskan sisa waktu bersama. Mulai dari latihan bertarung bersama Agra sampai menjahili para prajurit dikastil Whiteblue, semua sudah kami lakukan. Kini saatnya aku dan Agra harus berpisah. Aku sudah berumur 15 tahun dan aku harus melanjutkan pelatihanku di perguruan Ryuuku di Negeri Senjou.
Tapi sebelum aku pergi, aku dan ayahandaku diundang oleh Raja Agruero untuk menghadiri pertemuan penting di kastil Whiteblue. Mereka sedang membicarakan hal penting mengenai Agra kepadaku.
Mereka memberitahuku bahwa Agra memiliki Lima simbol clonning yang nantinya akan bisa merubah era baru dimasa depan, tentunya era ini mampu merubah kepedihan dimasa lalu menjadi lebih makmur dan lebih damai.
Memang saat itu banyak sekali pertengkaran, perdebatan, bahkan pertarungan yang haus darah sedang marak terjadi. Hanya demi kekuasaan mereka lupa dengan jiwa luhur mereka sendiri.
"Pangeran Axcelion, maukah kau menjadi pelindung putraku dimasa depan? kau lebih tua dua tahun dari putraku, aku yakin kau pasti bisa menjadi pengganti bagiku untuk membimbingnya menuju kebenaran." - Raja Agruero.
"Huh? Apa maksud tuan Agruero?"
"Putraku kau perlu tahu, pedang Axcelion yang kau bawa itu adalah hadiah dari raja Agruero untuk misimu dimasa depan." - Raja Cavalerie.
"Huh? Misi?"
"Jika kami tidak ada kau yang harus menjadi pengawas untuk adikmu?" Ratu Kay Katryne saat itu juga turut menjelaskan hal itu kepadaku.
"Huh? Adik? Apa maksud kalian kenapa kalian berbicara aneh seakan kalian ingin meninggalkannya?"
"Kelak kau akan tahu sendiri pangeran Axcel." - Raja Agruero.
"Hihihi ... Jadilah kakak yang baik ya." - Kay Katryne.
Setelah mereka berbicara yang aneh-aneh aku mulai melihat ayahku yang saat itu hanya terpaku diam dan menyembunyikan rasa sedihnya.
__ADS_1
Tidak kusangka ini terakhir kalinya aku berpamitan dengan keluarga besar Bluezer di kastil Whiteblue. Dengan berat hati aku pergi meninggalkan mereka dan keluargaku.
Semuanya pun berlalu begitu cepat hingga aku sudah berumur 20 tahun. Selama lima tahun aku sudah berhasil menguasai ilmu-ilmu di perguruan Ryuuku dan lulus dengan gelar "Master Sword".
Entah apa yang dilakukan Agra selama lima tahun ini aku juga tidak tahu. Tapi setelah aku mendengar bahwa klan Blue telah musnah, aku langsung pulang ke kastil dan menanyakan kebenarannya.
▪°▪°▪°▪°▪°▪°▪°▪°▪
"Hmm ... kisahmu dengan Agra sedikit rumit juga." Tanggapan Jessy yang dari tadi menyimak cerita dari Axcel.
"Dari situlah aku merasa bahwa perkataan Raja Agruero bukanlah sekedar bercanda. Aku baru menyadarinya sekarang, kalau yang dia katakan adalah firasat tentang ramalannya dimasa depan."
"Jadi kau adalah pangeran Axcel dari Kastil Cavalie? dan kau juga punya gelar Master Sword? Hebat!"
~Benar-benar calon suami yang keren, ehh ... apa yang kukatakan barusan, tidak! aku dan dia berbeda kasta. Dia adalah penerus dari pemimpin klan sedangkan aku hanyalah anak dari prajurit biasa, fiuuhh ... hilangkan pikiran anehmu.
Axcel kembali menatap bangunan itu dan memantau perkembangan Agra saat naik ke lantai tiga.
"Lihatlah! Agra mulai naik kelantai tiga."
"Iya, cepat sekali memanjatnya."
Sementara itu Agra sudah sampai kelantai tiga dan dia akan memasuki jendela kamar Vendrinna.
"Nekko aku akan masuk kau berjaga-jaga disini ya, tetap gigit ujung tali itu dengan sangat kuat!"
"Miauw."
Didalam kamar terlihat Vendrinna sedang duduk di tempat tidur dengan wajah yang terlihat sedih.
"Agra! Aku merindukanmu! hiks ... hiks ..."
Mendengar suara tangisan Vendrinna yang selalu menyebut namanya, Agra langsung mendatanginya dan berdiri disampingnya.
"Vendrinna?"
"Huh?"
Vendrinna benar-benar terkejut melihat Agra tiba-tiba masuk kedalam kamarnya. Dia pun menghentikan isakan tangisnya dan menatap Agra dalam-dalam.
"Agra? Aku tidak bermimpi kan?"
"Tidak! Aku benar-benar berada dihadapanmu."
Vendrinna pun mendekat kearah Agra dan tiba-tiba memeluknya dengan sangat erat.
"Dasar bodoh sudah kubilang jangan datang menjemputku ... hiks ... hiks ..."
"Bagaimana aku tega membiarkanmu menangis disini, sudahlah jangan melawan hatimu lagi. Aku ada disini sekarang."
Kini giliran Agra yang memeluk Vendrinna dengan sangat erat. Agra terus mencoba menenangkan Vendrinna dan memulihkan ketakutannya.
"Tenanglah jangan menangis! Aku disini!"
~ Entah kenapa saat bertemu dengannya dan memeluknya seperti ini aku jadi semakin nyaman dan rasa ketakutanku telah hilang. Apakah bocah laki-laki itu adalah kau Agra?
BERSAMBUNG.
__ADS_1