
Markas Besar Rival.
Malam Hari.
"Pangeran Rival, saya menghadap kepada pangeran!"
"Ada apa panglima Zein? Hingga kau sampai datang kesini menghadap diriku secara langsung?"
"Saya mendapat perintah untuk mengirim surat balasan secara khusus dari yang mulia Leviathan."
Laurent yang sejak tadi berdiri disampingnya merasa bingung dengan pengiriman surat yang diantar secara khusus oleh panglima Zein.
"Sepertinya ayahmu ingin menyampaikan suatu hal penting kepadamu." Bisik Laurent.
"Sepertinya begitu."
Rival langsung mengambil surat dari panglima Zein dan membuka gulungan surat itu, didalam gulungan tersebut terdapat benda kecil berwarna emas yang diatasnya terukir sebuah lambang. Rival pun mulai membaca isi suratnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Untuk : Pangeran Rival Frederick
...Meneruskan suratmu mengenai gadis yang mampu memanggil ratusan kupu-kupu beracun, ayah sudah tahu siapa dia sebenarnya. Mengenai benda itu ayah sengaja mengirimkannya kepadamu untuk menyelidiki lebih lanjut mengenai kemampuan chakranya....
...Benda itu terukir simbol keluarga Mighton dari kastil Venderland, dia adalah putri dari raja Vedern Mighton yang bernama putri Vendrinna. Ayah menemukan benda itu terjatuh saat pertempuran 8 tahun lalu di perbatasan negeri Shiokai....
...Dia adalah gadis yang sangat istimewa, kelak dia akan berguna untuk kita jadi jangan kau sia-siakan kesempatan ini. Kita saat ini dalam keberuntungan dengan memburu bocah pemilik Five Syclon dan menemukan gadis istimewa itu....
...Mulai sekarang tugasmu kini bertambah! Misimu pertama adalah memisahkan hubungan mereka dan kau harus membagi tugas itu dengan Laurent. Kemudian apabila hubungan mereka sudah renggang, kau bisa menculik gadis itu dan bawa dia hidup-hidup kehadapanku sedangkan Laurent akan meneruskan tugas utamanya untuk memburu bocah pemilik Five Syclon....
...Sekian surat dariku, ayah yakin kalian pasti bisa melakukan tugas ini, kuserahkan semuanya kepada kalian....
^^^Raja Vedern Mighton^^^
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Haahh ... menangkap pria tampan bermata biru itu saja kesulitan setengah mati apalagi menculik gadis beracun itu." Laurent merasa tak bersemangat setelah membaca surat dari raja Leviathan.
"Hmm ... gadis itu sebenarnya seistimewa apa sampai-sampai ayah mengincarnya juga." Rival nampak kebingungan.
"Entahlah ... tapi aku setuju saja dengan rencana ini, jadi kita bisa berpencar dan terpisah, akhirnya aku jadi sedikit merasakan kebebasan hahaha ..."
"Kau pikir hanya kau yang merasakan kebebasannya? aku juga senang tidak satu tim denganmu lagi. Akhirnya aku bisa bergerak sendiri tanpa ocehanmu!" Ejek Rival.
"Huh! terserah kau lebih baik aku menyiapkan pasukanku untuk memantau pria tampan itu."
"Aku juga akan menyiapkan pasukanku untuk menculik calon istriku dimasa depan."
"Silakan saja kau menikah dengan wanita lain! toh aku juga tidak peduli, huh ..."
Mereka akhirnya pergi dengan kesibukan mereka sendiri-sendiri dan akhirnya mereka berangkat untuk menajalankan misi baru mereka.
(Kedatangan di Rumah Baru)
Di Negeri Shin.
__ADS_1
Masih bagian dari wilayah klan Loneblast.
Malam hari tiba, kini Vendrinna dan Agra telah sampai duluan di negeri Shin. Vendrinna kemudian masuk kedalam rumah itu dan membaringkan tubuh Agra kekamar.
Karena demamnya yang tak kunjung turun Vendrinna terpaksa melonggarkan semua pakaian Agra dan membuka kancing bajunya. Ia kembali mengecek suhu tubuhnya dan menetralisir segala racun dari dalam tubuh Agra.
Namun ditengah pengobatan, rambutnya yang tadi berwarna hitam kecoklatan kini berubah kembali kewarna semula, yaitu warna putih. Hal ini menandakan bahwa chakra Agra mengalami penurunan drastis.
~Astaga warna rambutnya berubah kembali! Jika dilihat-lihat dia membutuhkan kurang lebih 25% chakra untuk mengubah warna rambutnya, sedangkan kondisi chakranya saat pingsan tadi terus menurun menjadi 50%. Hmm ... kalau chakra pengubahnya menghilang itu tandanya persentase chakra Agra menurun sampai 25%. Jika terus seperti ini dia bisa kehabisan chakra dan kemungkinan terburuknya dia bisa mati! Aku tidak akan menbiarkan itu terjadi!
Setelah itu Vendrinna menyalurkan chakranya, ia juga telah mengompres basah pada bagian dahi dan dadanya. Kali ini Vendrinna sangat berhati-hati untuk menyembuhkan Agra, karena luka tusukan yang dialami Agra kini mulai membengkak dan belum terlihat mengering.
"Agra bangunlah!" Sambil menepuk pipinya yang memerah.
"Agra?"
~Dia terus menggigil dan tubuhnya panas sekali, bagaimana ini? kak Axcel juga belum kemari aku harus bagaimana?
Sambil menunggu Axcel, Jessy dan Nekko datang Vendrinna menyelimuti kain tipis kepada Agra dan terus mengecek suhu tubuhnya berkali-kali.
" Demamnya belum turun juga, hoahm ... aku ngantuk sekali."
Menutup matanya sebentar.
"Ehh .. tidak-tidak sebelum mereka datang aku tidak boleh tertidur, jika teledor sedikit Agra dalam masalah besar."
Setelah 3 jam lamanya menunggu kini tak terasa waktu begitu cepat berlalu, sekarang sudah tengah malam namun Axcel, Jessy dan Nekko tak kunjung datang juga.
Mata Vendrinna tak kuasa menahan rasa kantuk dan ia memutuskan untuk tidur sebentar dengan memegang tangan Agra yang saat itu masih menggigil kedinginan.
"Hoaaammhh ..."
Vendrinna terlelap dan ia mencoba meletakkan kepalanya dengan tumpuan tangan yang terlipat diatas tempat tidur. Ia kemudian tertidur dengan cepat.
Tak lama setelah Vendrinna tertidur terdengar suara langkahan kaki dari luar yang menuju kepintu depan rumah. Mereka akhirnya datang dengan pakaian dan rambut yang acak-acakan.
"Jika Nekko tidak berubah mendadak seperti itu, kita pasti tidak terjungkal dijurang. Huh ..." - Jessy.
"Haha ... tapi setidaknya kita bisa selamat dengan bantuannya juga kan? Nekko ternyata memiliki jiwa tanggung jawab yang besar." - Axcel.
"Miauuww ... (Iyalahh ...)"
"Mentang-mentang kita bukan tuannya dia seenaknya menjatuhkan kita!" - Jessy.
"Miauw miauw meow ... Grrrrghh ... (Siapa suruh kau cerewet ... Grrrrghhh ...)"
"Ngomong apa dia?" - Axcel.
"Tak tahu! Oya aku jadi teringat mereka gimana kabar mereka sekarang?" - Jessy.
Jessy bergegas lari kedalam rumah dan mengecek situasi Agra dan Vendrinna. Disusul Axcel dan Nekko dibelakangnya jessy kini membuka pintu depan rumahnya.
"Lho! kok nggak dikunci?" - Jessy.
Axcel merasa panik dan dia akhirnya masuk mencari Agra dan Vendrinna.
__ADS_1
"Vendrinna, Agra! dimana kalian!" - Axcel berteriak.
"Vendrinna!" - Jessy.
Mendengar teriakan itu Vendrinna terbangun dari tidurnya dan dia membuka selimut Agra karena kondisi panasnya mulai menurun dan agak berkeringat. Setelah itu dia beranjak pergi untuk membuka pintu kamar.
"Vendrinna! kemana kau?" - Axcel.
"Ssstttt ... jangan berisik!"
Vendrinna keluar dari kamar Agra, semuanya sempat tercengang dan seketika terdiam.
"Kenapa kalian tiba-tiba diam?" Tanya Vendrinna.
"K–Kau ternyata ..." - Axcel.
"Vendrinna apa yang kau lakukan dengan pria malang itu?" Jessy tersontak kaget melihat situasi dikamar Vendrinna.
"Apa maksud kalian?" Vendrinna terlihat kebingungan.
"Vendrinna akui saja perbuatanmu." Axcel menepuk kedua bahu Vendrinna.
"Tunggu dulu! Se–sepertinya kalian salah paham!" - Vendrinna.
"Hm ... begitu ya lalu kenapa jendela kamar semuanya terbuka? Ventilasi atas dan bawah juga masih terbuka, itu akan membuat dia kedinginan dan menggigil, malah kau membuka bajunya. Hadehh ... Seharusnya kau tutupi pakai selimut Agar dia tetap hangat." - Axcel.
"Oh ... m–maaf ... kupikir apa tadi? hehe ..." - Vendrinna.
"Apanya?" - Axcel.
"Sudahlah lupakan!" Vendrinna sedikit canggung.
"Bagaimana kondisinya sekarang?" Tanya Jessy.
"Panasnya sudah mereda, tapi dia tadi sempat mengalami penurunan Chakra secara drastis mecapai 25% dan rambutnya kembali berwarna putih. Lihatlah!" - Vendrinna.
"Hmm ... benar juga rambutnya berubah kembali kewarna asalnya, sepertinya dia membutuhkan waktu lama untuk memulihkan diri dan mengembalikan potensi chakranya." - Jessy.
"Kalau begitu dia harus terus berada dirumah ini jangan sampai dia keluar apalagi pergi jauh dari sini, selama dia masih belum bisa menggunakan chakra pengubah wujudnya." - Axcel.
"Baik!" - Vendrinna.
"Baiklahh ..." - Jessy.
"Sebaiknya kalian tidur saja tidak baik seorang perempuan tidur hingga larut malam, biar aku yang menjaga Agra nanti. Aku juga masih belum mengantuk!" - Axcel.
"Baiklah! kami beristirahat dulu! Selamat malam." - Vendrinna.
"Selamat malam." - Axcel.
Mereka kemudian beranjak tidur untuk memulihkan energinya dan menghadapi hari esok yang mungkin lebih pahit dari hari sebelumnya.
Sementara itu Axcel mulai menutup semua jendela beserta pintunya rapat-rapat dan menguncinya. Ia kembali kekamar Agra dan duduk disebelahnya.
"Cepatlah sembuh! meski kita bukan saudara kandung tapi kau sudah kuanggap adikku sendiri. Aku tidak ingin kehilangan adikku untuk kedua kalinya."
...~BERSAMBUNG~...
__ADS_1
...❤THANKS FOR READING AND SUPPORT THIS NOVEL❤...