
"Laurent! Kesini!"
~ Dimana aku?
Laurent mencoba melihat sekeliling tempat itu, dan ia melihat ada sosok anak laki-laki didepannya. Ia merasa bahwa tempat itu tidak asing baginya apalagi melihat sosok anak laki-laki tersebut.
"Laurent? apa kau demam? sini, biar aku gendong jika tidak kuat berjalan."
~ Oh ... Agra rupanya ... tapi kenapa aku kembali kemasa lalu? apa aku sudah mati?
"Laurent sebentar lagi kita akan sampai ke pos penjagaan klan Redfire, kamu pasti dicari oleh mereka. Aku akan mengantarmu kesana." Ucap Agra kecil.
"Jangan!" Laurent tiba-tiba berteriak.
~Kumohon jangan lagi, aku tahu kalau setelah ini adalah perpisahan kita dan kau akan melupakanku lagi.
Laurent memejamkan matanya namun ia terus mendengar suara yang memanggil dirinya berkali-kali, suara itu terus mendengung di telinganya.
"Laurent, bangunlah ... kau mengigau lagi?"
"Ehh ... Agra ... Sejak kapan kau disini?"
"Sejak kau berteriak-teriak tidak jelas!! Kau berhasil membuat kami terbangun." Vendrinna datang menyela sembari membawa air kompresan hangat.
"Vendrinna jaga bicaramu, dia sedang sakit." Ujar Agra sebagai penengah.
"Maaf mengganggu kalian. Aku merasa bersalah."
"Tidak perlu meminta maaf seluruh tubuhmu tiba-tiba menjadi sangat dingin ... Jadi, basuhlah dengan air kompresan ini untuk menghangatkan tubuhmu. Setelah itu berbaringlah lagi agar kau merasa hangat. Vendrinna akan membuatkanmu obat nantinya."
"Terima kasih, Agra."
"Kalau begitu aku pergi dulu, Vendrinna jaga Laurent yaa ..."
"Ya." jawab Vendrinna dengan raut wajah masam.
Agra pun tiba-tiba tersenyum, dia pun membawa Vendrinna keluar sebentar dari kamar Laurent.
"Vendrinna, apa kau marah?"
"Pakai nanya."
"Hahahaha ..."
"Kenapa tertawa?"
"Wajahmu lucu kalau sedang cemburu."
"Biasa aja."
"Vendrinna, mungkin hari ini kau tidak percaya dengan perkataanku tapi suatu hari kau pasti akan tau betapa pentingnya dirimu untukku. Seperti saat kita bermain bersama di sungai itu. Aku harus membujuk Ayahku hingga mengajak paman Samuel agar bisa menemuimu. Hanya demi dirimu!"
"Haa?"
"Jangan bilang kau lupa dengan kenangan itu?"
"Yang mana yaa?"
"Hahaha ... Ketika aku sudah berhasil mengingatnya kau malah lupa."
"Tunggu ... Aku ingat!! Kalau tidak salah kita memakai warna baju yang sama kan? Sesuai janji sebelumnya."
__ADS_1
"Iya dulu kita memakai setelan baju dengan warna lilac."
"Agraa ... Aku tidak menyangka kau juga mulai mengingat itu ... Aku bersyukur untukmu." Sambil memeluk Agra.
"Jadi maukah kau merawat rekan tim kita. Dia sedang sakit."
"Hemm ... Baiklah ... Tapi ... Sebagai hadiahnya kau harus membawakanku coklat dan menyuapiku."
"Baiklah besok aku akan membawakanmu coklat sekalian kebunnya."
"Nggak seru." Tatap Vendrinna sinis sambil masuk kedalam kamar Laurent meninggalkan Agra.
Melihat Agra yang sudah pergi Laurent pun bertanya kepada Vendrinna.
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Bukan apa-apa, jadi tidak usah ikut campur."
"Hey ... Vendrinna."
"Apa? Kalau kau ingin menyuruhku aku bukan pembantumu."
"Bukan itu, aku ingin membicarakan sesuatu kepadamu."
"Apa?"
"Apa kau dan Agra saling mencintai? Aku dengar kalian sejak masih kecil sudah bersama."
"Kalau iya kenapa? Jika kau sudah tahu seharusnya kau tidak mengganggu."
"Aku hanya bilang, mungkin saja umurku tidak panjang lagi, jadi suatu saat aku akan mati kapanpun tanpa merasakan sedikit saja rasa cinta."
"Lalu? Apa yang kau mau?"
"Tidak!"
"Begitu ya. Jawaban yang cepat dan jelas."
"Lagi pula pertanyaan konyol macam apa itu? Apa kau mencoba memanfaatkan belas kasihanku dengan membohongiku seolah kau akan mati?"
"Terserah apa yang kau pikirkan tentangku. Lagi pula aku sudah menduga kalau kau akan berkata seperti itu."
Vendrinna tiba-tiba terdiam tanpa menjawab apapun, ia hanya terpaku di meja samping tempat tidur Laurent.
"Hey jika kau sudah selesai dengan obatnya matikan lampunya! aku mau tidur lagi!"
"Sial kau kira aku pembantumu!" Vendrinna keluar dari kamar dengan rasa kesal.
~Ngomong-ngomong soal yang dibicarakan Laurent tadi, aku jadi kepikiran apakah yang dikatakannya benar?
Pagi harinya terlihat Axcel dan Samuel sedang mempersiapkan sesuatu di halaman rumah, Agra yang penasaran mencoba mendekati mereka berdua.
"Apa yang kalian lakukan pagi-pagi begini?" Tanya Agra.
"Tuan muda, kami mencoba merencanakan sesuatu untuk prajurit yang kita temui kemarin. Kita mencoba mencari informasi penting dari mereka." Jelas Samuel.
"Lalu apa gunanya cairan itu?" Tanya Agra lagi.
"Cairan ini digunakan untuk memabukkan, kandungannya sangat berat jadi dalam waktu 10 menit mereka akan tepar satu per satu." Jelas Axcel.
"Kenapa kita tidak menggunakan obat tidur saja lebih mudah dan praktis? Jadi, kita tinggal meminta Vendrinna, karena dia telah meraciknya untuk treatment pengobatan." Agra memberi saran.
__ADS_1
"Justru lebih bahaya jika kita memberikan obat tidur kepada mereka, setelah mereka sadar mereka akan berpikir kalau ada yang menyusup di markas mereka. Jadi jalan yang bagus adalah membuat mereka mabuk sampai tepar itu lebih terlihat murni tanpa kecurigaan apapun. Jadi ketika prajurit lain datang mereka akan mengira kalau mereka hanya mabuk berat tanpa menyadari keberadaan kita." Jelas Axcel.
"Ohh .... Begitu ... Ide anda cemerlang juga." Ujar Agra.
"Daripada kau diam saja, bantu kami memasukkan cairan ini kedalam botol yang sudah kami siapkan, Setelah ini mari kita beraksi." - Ucap Axcel.
Setelah mempersiapkan bahannya mereka pun menuju ke markas prajurit dekat dengan pintu masuk negeri Shinzou. Disana terlihat lima prajurit sedang bergerombol di meja depan pintu markas. Agra, Axcel, dan Samuel kemudian membagi tugas mereka salah satu diantaranya harus membujuk prajurit tersebut untuk meminum minuman yang sudah disiapkan.
"Agra kau yang harus menjadi umpan." perintah Axcel.
"Kok aku?" Agra mencoba menolak.
"Kau yang pandai mengalihkan perhatian mereka sementara itu kami yang masuk dan mencari petunjuk disana." jawab Axcel.
"Baiklah ... Baiklah ..."
Agra pun menyetujuinya dan misi pun dimulai.
"Hoe ... Hoe ... Kalian yang duduk disana ..." Ucap Agra
"Kau ... Bukannya kau paranormal kemarin? Apa kau sudah menyelesaikan tugasmu kenapa setiap malam kami masih dihantui? Kerja kalian itu becus tidak sih?" Ujar salah satu prajurit.
"Kalian bisanya menuntut kami tapi kalian tidak bisa mengetahui perasaan kami hah? Kau pikir mengusir mereka dengan jumlah yang sebanyak penduduk disini mudah?" jawab Agra
"Hah? Seriusan? Memangnya ada berapa hantu disini?" Ucap prajurit disampingnya.
"Banyakk ... Lebih banyak dari penduduk disekitar sini hahaha ..." Ucap Agra.
"Lalu kenapa kau mabuk-mabukan disini? Kerja sana!!" Prajurit tersebut membentak Agra.
"Diamlah!! Kau tidak tau bagaimana rasanya jatuh cinta dua dunia? benar-benar menyakitkan." Dengan ekspresi mabuknya, Agra berhasil mengelabuhi prajurit tersebut.
"Apa yang kau katakan?" Prajurit tersebut bingung.
Agra berjalan mendoyong kearah prajurit itu dan ikutan duduk diantara mereka.
"Sebenarnya aku mencintai salah satu makhluk didaerah ini. Makhluk halus disini sebenarnya cantik-cantik tapi sebagai seorang paranormal aku harus mengesampingkan ego ku demi kebaikan penduduk dan orang lain. Jadi aku terpaksa menghabisi kekasihku sendiri ... Huhuhu ... Aku benar-benar sakit hari ini ... Makannya aku minum sampai mabuk agar aku bisa melupakannya."
"Kasihan sekali kau." Prajurit tersebut terpancing oleh cerita Agra.
"Pria yang malang, aku juga harus terpisah dengan istriku karena tugas dan ketika aku mengirim surat untuk menanyakan kabar istriku ternyata dia sudah meninggal karen kecelakaan. Huahuahua..." Salah satu prajurit di samping Agra juga ikutan menangis.
"Jadi maukah kalian menemaniku untuk minum? Aku tidak ingin terluka sendirian huhuhu ..." Ajak Agra.
"Baiklah ... Baiklah mari kita minum ... Lagi pula hari ini aku lelah sekali aku belum sempat menikmati ini ... Jadi ini adalah hati yang pas untuk kita." Ujar prajurit tersebut.
Agra mengirim kode untuk memberitahukan kepada Axcel dan Samuel bahwa mereka aman untuk menyusup masuk kedalam markas. Mereka pun bergerak sembari menggeledah buku dan kertas-kertas berharap ada sesuatu yang bisa ditemukan sebagai sumber informasi baru.
Setelah beberapa lama mereka akhirnya menemukan sebuah gulungan kertas berupa peta. Peta tersebut berupa penandaan daerah yang sudah dikuasai redfire klan dan didalam gulungan tersebut terdapat kertas lagi yang bertuliskan penangkapan besar-besaran terhadap Agra dan teman-temannya, saat ini Redfire klan mengerahkan ribuan prajurit untuk mencari mereka hal ini menjadi ancaman bagi mereka untuk bergerak karena sempit nya peluang untuk bergerak bebas. Didalam kertas tersebut raja Leviathan juga menjelaskan kalau dia akan menyerang negeri shirei terutama perguruan yang pernah diikuti oleh para bangsawan klan Blue.
"Paman Samuel mereka akan menyerang negeri Shirei dalam waktu dekat ini. Jika kita tidak segera pergi kesana salah satu kesempatan kita untuk menjadi kuat akan berakhir."
"Pangeran, mari kita salin bukti-bukti ini dan kita akan mengambil jalan pintas untuk pergi kesana dengan peta yang ada disini. Ini akan menguntungkan kita."
"Baiklah."
Mereka pun menyalin isi surat tersebut beserta peta yang ada di gulungan tersebut. Setelah disalin mereka pun mengembalikan gulungan tersebut ke asalnya lalu pergi dari markas.
Saat keluar Axcel dan Samuel mendapati para prajurit itu sudah tepar bersama Agra juga.
"Agra! Dasar anak ini sudah kuberi tahu untuk tidak ikut meminumnya." Axcel menggerutu.
__ADS_1
Axcel pun membangunkan Agra dan membawanya pulang, misi mereka pun berjalan sukses.