The Last Clan Blue

The Last Clan Blue
47. Menjelang Transformasi Chakra


__ADS_3

Bruaaaakkk!!


"Aduh ... tubuhku lemas sekali, apa aku sudah kembali?"


Agra melihat disekitarnya dan ternyata dia sudah berada diluar gerbang awan putih itu.


"Akhirnya aku bisa kembali. Ohya tadi aku merasa ada barang yang jatuh bersamaan denganku itu apa ya?"


Agra melengos ke kanan dan ia menemukan sebuah benda berbentuk kotak dengan warna hitam dan ia juga menemukan sebuah buku lama yang ternyata itu adalah buku sejarah dunia clonning yang ia temukan didalam gerbang awan putih.



Sementara itu pasukan dari Leviathan sudah menyadari bahwa Agra keluar dari tahanan, mereka terus melakukan pencarian dan memperketat pertahanan


pintu keluar.


"Percepat pencarian kita! Jangan sampai dia lolos!" Teriak Leviathan.


"Baik tuan!" Pasukan 1.


"Pangeran Rival dan putri Laurent kalian lacak dia menggunakan chip yang kita tanam. Aktifkan chip itu sekarang!"


~"Gawat! Chip yang dari mereka sudah aku ganti dengan chip baru. Bagaimana ini?"


Rival pun mengeluarkan alat lacak yang dibuat oleh para peneliti dari klan Redfire namun dirampas oleh Laurent.


"Kenapa kau ambil alat itu?" Rival dengan rasa marahnya.


"Maaf tuan Leviathan sebaiknya jangan menggunakan chip itu, aku punya ide lain untuk mencari keberadaannya."


"Apa itu?" Tanya Leviathan.


"Tuan Leviathan disini saja biar kami yang melakukannya, ayo pangeran Rival."


Laurent menggeret tangan Rival dan mengajaknya pergi dari tempat Leviathan.


"Putri Laurent apa yang sebenarnya terjadi kenapa kau menolak melakukan pelacakan dengan chip itu? Padahal itu adalah cara tercepat untuk kita menemukan bocah merepotkan itu."


"Aku berpikir kalau lebih baik kita melakukan pencarian dengan cara biasa saja. Bisa jadi chip itu tidak akurat kan?"


"Chip itu kan sudah teruji keakuratannya apa yang harus diragukan? Apa jangan-jangan kau melakukan tindakan diluar kami? Kau mau menghianati klan kita!? Jawab aku sekarang!" Bentak Rival.


"Bukan begitu maksudku, aku tahu cara tepat untuk–"


Tiba-tiba Laurent dan Rival melihat Agra yang sedang keluar dari lorong tersebut membawa kotak hitam dan buku sejarah dunia.


"Itu dia! Pasukan V target ada dilorong utara ia berlari menuju gerbang belakang, kepung dia sekarang!" Teriak Rival kepada pasukan V yang saat itu sedang bertugas disisi bagian utara.


"Laksanakan!"


Rival berlari mengejar Agra sementara Laurent masih tertinggal.


"Bodoh sekali dia! Kenapa dia muncul disaat yang tidak tepat."


Laurent pun berlari menyusul mereka dan mencoba mencari cara lain untuk menyelamatkan Agra.

__ADS_1


Disisi lain Agra masih berlari terengah-engah, ia pun akhirnya menghentikan larinya karena kehabisan energi. Namun hal itu tidak membuat Agra kehabisan ide, ia pun memiliki rencana lain.


"Hah ... Hah ... Hah ... Daripada aku terus bermain kejar-kejaran seperti ini, lebih baik aku membuat rencana lain saja. Pertahanan mereka begitu ketat bahkan lebih ketat dari sebelumnya, aku tidak bisa menembus mereka sendirian. Lebih baik aku menyerahkan diriku dulu dan membiarkan Raja Leviathan menang kali ini. Tapi sebelumnya aku harus menyimpan benda ini ketempat aman terlebih dahulu."


Agra pun menghilangkan buku sejarah dan kotak hitam itu, lalu memindahkannya ke tempat penyimpanan pribadinya.


"Kalau begini aman, setidaknya aku masih memiliki brankas tersembunyi yang tidak diketahui orang lain. Hehehe ..." Agra tertawa kecil.


"Agra sialan! Diam kau disana! Kami sudah mengepungmu!"


"Ups! Aku tertangkap!" Agra memberi isyarat angkat tangan.


Rival pun maju dan menodongkan pedangnya kearah lehernya dan mencoba mengancamnya.


"Mau sampai kapan kau bermain tikus-tikusan seperti ini? Dasar merepotkan!"


"Kau saja yang jadi tikusnya, aku tidak mau menjadi tikus."


"Diam kau! Prajurit tangkap dia dan bawa dia kehadapan raja Leviathan."


"Baik pangeran!" Prajurit 1 dan 2.


Kedua prajurit itu membawa Agra kemudian selang beberapa menit Laurent pun datang berpapasan dengannya.


~"Agra? Apa aku terlambat?"


Laurent terpaku usai melihat Agra yang telah tertangkap kembali, ia merasa dirinya tidak berguna untuk orang yang dicintainya.


Rival pun menghampiri Laurent lalu ia memegang bahunya dan menatap mata Laurent dengan begitu dalam.


Laurent terdiam hingga tak bisa menjawab apapun yang keluar dari mulut Rival, melihat ekspresi aneh dari Laurent pangeran Frederick itu pun akhirnya pergi meninggalkannya.


********


"Berani-beraninya kau memberontak kepadaku!" Amarah Leviathan sembari mengeluarkan pedangnya.


"Silakan saja anda menghukum saya, toh anda yang malah rugi karena waktu tranformasi chakra five syclon nantinya akan diundur sampai aku pulih dari sakit akibat hukuman." Jawab Agra dengan santai.


"Kurang ajar!" Leviathan menutup kembali pedangnya kedalam selonsongnya.


"Sialan kau bedebah, akan kuhajar kau sampai menjadi debu kotor!" Rival yang tiba-tiba masuk dan menyerang Agra.


Srattsss ...


Agra melompat untuk menghindari serangan. Rival pun menyerangnya lagi namun Agra juga tetap mengelak dengan gerakan refleks.


"Haha ... tidak sampai menjadi debu juga lah, mana ada manusia mati dan menjadi debu kotoran."


"Bedebah!" Rival merasa emosi.


"Hentikan!" Raja Leviathan yang mencoba menghentikan perkelahian.


"Ayah dia perlu diberi pelajaran agar dia tahu diri!" Ujar Rival.


"Dia masih berguna untuk kita, jadi jangan menyerangnya."

__ADS_1


Leviathan pun menghampiri Agra dan memegang dahinya.


"Pantas saja mantra ku tidak berfungsi, kau ternyata telah menghilangkan tanda didahimu. Fiuh ... Apa boleh buat aku akan menyegelmu dan terus mengawasimu sampai waktu itu tiba."


"G–gawat!"


Leviathan memasang segel lagi namun ia menambah lapisan mantra didalamnya.


"Arrrgghhhh!"


Agra hanya bisa berteriak kesakitan sampai ia kehilangan kesadarannya.


Laurent yang melihat Agra diperlakukan seperti itu merasa geram namun ia juga berpikir dua kali untuk menyelamatkannya apalagi situasinya sekarang tidak memungkinkan.


*******


"Ughh ... Dadaku sesak!"


"Ada apa kak Axcel?"


"Perasaanku tidak enak, aku terus memikirkan Agra."


"Tenanglah kak! Aku akan mempercepat laju awan putih ini! Semoga saja masih sempat."


"Semoga Nekko sampai duluan, waktu transformasi chakra sebentar lagi."


Axcel dan Jessy telah mengalahkan bayangan Leviathan, mereka saat ini juga menyusul ketempat Agra ditahan.


Sementara itu Vendrinna dan yang lainnya juga telah sampai ketempat persembunyian mereka juga mencemaskan keadaan Agra, Axcel, Nekko, dan Jessy.


"Maaf Raja Cavalerie, sementara ini beristirahatlah ditempat persembunyian kami. Saya sudah mengobati luka anda dan semoga luka anda segera sembuh. Saya akan pergi menyusul pangeran Axcel."


"Baiklah! Berhati-hatilah, ohya! ajak panglima shin untuk menemanimu."


"Tidak tuan, biarkan ia disini menjaga tuan. Saya akan kesana sendirian."


"Kau kesana naik apa?"


"Tenang saja saya kalau itu tuan tidak perlu khawatir."


Vendrinna pun bergegas pergi menaiki kupu-kupu berukuran raksasa, ia juga tak lupa membawa peralatan berpedangnya.


"Hati-hati nona! Semoga kalian bisa pulang dengan selamat."


"Iya, terima kasih panglima shin."


"Saya pergi dulu."


"Baik nona."


Vendrinna memulai perjalanannya sesekali ia menatap langit malam, terlihat bulan merah muncul menghantui pikirannya. Bulan purnama merah yang mengingatkan dia dengan ibunya yang telah tewas.


"Aku tidak akan membiarkan bulan itu menjadi tanda kematian lagi! Tidak akan!"


Vendrinna mempercepat perjalanannya dan bergegas menuju tempat Agra ditahan.

__ADS_1


~Tunggu aku Agra! Aku akan menyelamatkanmu!


__ADS_2