
Tidak terasa kami sudah sampai di tempat yang tuan muda inginkan. Namun selama perjalanan berlangsung tuan muda tertidur.
"Tuan muda? Bangun kita sudah sampai."
"Hah? Bagaimana aku bisa ketiduran?"
"Haha ... Anda terlalu menikmati suasana alam yang kita lewati sebelumnya."
"Hmm ... Mungkin ... Ohya kita turun disini saja paman sepertinya dia belum datang kita tunggu disini saja."
"Baiklah."
Saat itu aku melihat sekeliling tempat itu dan ternyata daerah itu adalah wilayah klan Vander. Aku mengenal baik tempat itu karena sewaktu kecil aku ditugaskan untuk melakukan pengamanan di daerah klan Vander bersama regu ku.
"Tuan muda!"
"Ya?"
"Asal anda tahu, tempat ini membuat saya mengingat masa lalu hahaha ... Saya tidak menyangka saya bisa kesini lagi."
"Benarkah paman, jadi paman pernah kesini sebelumnya?"
"Benar! Tepatnya sepuluh tahun yang lalu, waktu itu paman ditugaskan untuk melakukan observasi di kawasan hutan ini bersama tim paman yang terdiri dari sepuluh orang. Namun karena paman adalah anggota tim dengan level terendah paman selalu dijauhi oleh anggota tim paman sendiri. Namun asal anda tau ada satu orang baik yang masih mau menemani paman."
"Siapa paman?"
"Namanya Silphy, dia adalah gadis kecil penuh riang dia selalu bersama paman meskipun seluruh anggota tim menjauh dari paman. Namun karena kami berdua berpisah dari tim, musuh pun melakukan penyerangan secara brutal kepada paman sehingga tragedi itu menewaskan teman paman. Itu salah paman seharusnya paman tidak melibatkan dia didalam masalah paman."
"Jadi setelah teman paman tiada, paman sendirian?"
"Benar! Tim pusat menyalahkan paman karena kelalaian menjaga rekan sehingga menewaskan rekan. Jadi paman diusir dan dikeluarkan dari anggota tim, paman menjadi gelandangan setelah itu sampai suatu hari paman bertemu dengan Bibi anda."
"Bibi sangat baik, paman beruntung bisa bertemu dengannya."
"Benar tuan muda tapi ..."
"Anu ... paman! Kalau paman berkenan, bisakah aku menggantikan posisi mereka?"
"Maksud tuan muda?"
"Maksudku ... Kita berteman!"
Saat itulah saya merasa seakan keluar dari kabut hitam yang amat pekat lalu melihat begitu banyak cahaya didepan saya. Tuan muda Agra membuatku bangkit kembali dengan senyumanya yang merekah, wajahnya terlihat bersinar dibawah matahari pagi.
"Ahahaha ... baiklah ... baiklah tuan muda! Saya terima tawaran anda."
"BLUE!!"
Saat itu seorang gadis kecil datang menyapa tuan muda Agra, matanya yang berwarna ungu memancar di pagi hari, rambutnya saat itu tertiup angin sehingga menutupi bagian wajah imutnya.
"Vendrinna kemarilah!"
"Oh ... ternyata teman anda perempuan? Cantik sekali."
"Hehehe ... Maaf aku belum memberitahu paman."
__ADS_1
"Tidak masalah tuan muda."
"Vendrinna perkenalkan ini pamanku namanya paman Samuel. Paman Samuel ini Vendrinna yang aku ceritakan waktu itu."
"Wah ... Paman Samuel tampan!"
"Ahahaha ... Perkenalkan nona kecil, nama saya Samuel."
"Aku Vendrinna, Blue ayo main ke sungai!"
Gadis kecil itu menarik tangan tuan muda dengan penuh riang, lalu saya pun menyuruh mereka untuk tetap berhati-hati saat bermain sementara saya terus memantau mereka dari kejauhan.
Waktu pun tak terasa cepat berlalu, wajah mereka sangat sedih ketika harus berpisah. Haha ... Sebenarnya saya juga merasa kasihan jika harus memisahkan mereka lagi. Apalagi wajah tuan muda Agra yang terlihat enggan untuk pulang menarik simpati ku.
"Tuan muda saatnya kembali."
"Blue? Jangan pergi!"
"Vendrinna kita akan bertemu lagi aku akan sesering mungkin untuk datang kesini, aku janji!"
"Janji ya?"
"Janji! Ohya ini, bukalah kotak itu saat kau dirumah."
"Apa isinya?"
"Nanti kau akan tahu?"
"Baiklah."
Hingga suatu hari masalah besar pun menghampiri klan Blue, lima negeri di klan Blue mulai terselimuti kabut hitam. Pembunuh bayaran berkeliaran dimana-mana, saat itu juga terjadi kerusuhan di kastil White Blue. Sehingga tuan muda terpaksa diamankan ke tempat tertutup dan jauh dari jangkauan penyusup selama 7 hari.
Namun selama 7 hari itu tuan muda sering kehilangan kendali dan selalu memberontak, mungkin karena tuan muda merasa jenuh dan tertekan karena banyaknya aturan yang diberikan oleh tuan besar Agruero kepadanya.
Hingga suatu malam tuan muda kabur dari kastil, tuan besar marah dan menyuruh saya membawa beberapa pasukan elit untuk mengejar tuan muda. Namun tuan muda berhasil lolos disitulah kami kehilangan jejak untuk mencarinya.
Kami kemudian mencarinya ke tempat dimana nona Vendrinna dan tuan muda bertemu namun saya tidak menemukan keberadaannya. Disitu kami hanya menemukan bekas pertarungan yang baru saja terjadi dan kami juga menemukan salah satu selongsong pedang yang tergeletak di tanah.
"Tuan Samuel, bagaimana kita melaporkan ini kepada yang mulia?" Tanya prajurit itu kepadaku.
"Biar aku saja yang melaporkanya."
Kami kemudian kembali dan melaporkan semua yang kami temukan di sungai Hollow Vender kepada tuan besar Agruero.
"Selongsong milik siapa ini?"
"Saya tidak tahu tuan, yang jelas kami menemukan benda itu sudah terpisah dari pedangnya."
"Baiklah kalau begitu, besok kita selidiki siapa yang berani menculik putraku, dengan selongsong ini kita bisa dengan mudah mencari pemilik pedangnya."
"Baik tuan besar!"
Keesokan harinya kami melanjutkan pencarian tuan muda, dari mulai terbit sampai tenggelamnya fajar kami juga tak kunjung menemukan keberadaanya.
Saya beserta pasukan pun memilih beristirahat sejenak untuk melepas lelah, kami waktu itu sedang duduk di sebuah rumah makan di area bazar kastil White Blue dan saya mendengar ada beberapa orang sedang berbincang.
"Hey dimana sarung pedangmu?"
__ADS_1
"Jatuh sewaktu menjalankan pekerjaanku."
"Memangnya apa pekerjaanmu sekarang, bukankah kau menganggur akhir-akhir ini?"
"Rahasia! intinya ada orang yang berani membayarku mahal untuk melakukan tugas ini jadi aku terima saja."
"Waah ... Kau kaya pasti traktir kami lah!"
"Baiklah ... Baiklah ... Aku tidak menyangka hanya menculik seorang bocah bisa kaya mendadak seperti ini hahaha ..."
Bruakk ...
Sriingg ...
"Hah!? Ampun! Ampun!"
"Hey siapa kau? Beraninya menyerang teman kami?"
"Bocah yang kau maksud itu siapa?"
"Bukan urusanmu!"
Waktu itu saya marah dan mencoba menyerangnya dengan pedang, akhirnya saya bisa melumpuhkannya hanya dengan satu serangan.
"Katakan siapa bocah yang kau maksud itu atau aku akan menghunus pedang ini ke lehermu!"
"A ... Ampun ..."
"Cepat katakan!"
"Maksudmu bocah laki-laki berambut putih dengan warna mata biru itu? Aku sudah menyerahkannya kepada sekelompok orang bertopeng, saat aku berjalan di area sungai Hollow Vender aku bertemu dengan mereka. Mereka kemudian memberiku uang yang banyak tapi sebagai gantinya aku harus membawa bocah yang berdiri ditepi sungai itu kepada mereka."
"Selongsong ini ... Apa ini milikmu!?"
"Benar itu milikku, tapi kenapa bisa ada denganmu?"
"Kau tahu siapa bocah laki-laki itu hah?"
"Tidak!"
"Dia adalah anggota elit kastil White Blue! Kami adalah anggota pasukan dari kastil untuk mencarinya, beraninya kau menculik junjungan kami!"
"Be ... Benarkah? Mati aku ... A-Ampun tuan! Maafkan saya, saya tidak tahu kalau dia anggota kastil white blue."
"Sekarang katakan apa kau membunuhnya!?"
"Tidak tuan, aku hanya menikamnya dan sedikit melukainya hingga pingsan karena dia sebelumnya memberontak."
"Beraninya kau menggores pedangmu ke kulit tuan muda!"
"Ampuuunn!!"
"Katakan ini kepada yang mulia nanti! Prajurit bawa dia!"
"Baik!"
Suasana itu membuat sedikit keributan di rumah makan, namun selang beberapa menit semua orang pun melanjutkan aktifitasnya masing-masing. Kami juga mengganti rugi atas kerusakan yang ditimbulkan selama misi penangkapan itu berlangsung.
__ADS_1