The Last Clan Blue

The Last Clan Blue
44. Bayangan Kegelapan


__ADS_3

Semenjak bertemu kembali dengan kak Axcel hidupku mulai berubah. Aku menemukan kehangatan di masa laluku, dialah orang yang telah menggantikan posisi orang tuaku.


Dia yang selalu mengingatkanku akan kebenaran dan juga jalan takdirku. Awalnya aku merasa dunia ini sangat membosankan, aku pun sempat berpikir untuk tidak keluar dari persembunyian dan menghabiskan hari-hariku dengan tenang.


Namun setelah melihat kesedihan dan kedukaan di wajah orang-orang, hatiku mulai tergerakkan. Aku mulai paham situasi yang mereka rasakan dan yang aku rasakan itu sama. Oleh karena itu aku mulai mempedulikan orang lain.


Setiap ku melangkahkan kaki selalu saja melihat pemandangan yang tak ingin ku lihat, orang-orang yang tidak bersalah dipenjarakan tanpa makanan, para pemuda di suruh untuk bekerja tanpa upah, bahkan anak-anak pun ditelantarkan tanpa makanan sedikit pun.


Dunia ini telah berantakan!


Namun hidupku juga tak karuan, kemarahan dan dendam ku terus mendidih. Para anggota Redfire Clan pun semakin hari semakin bertindak semena-mena. Mereka mencoba untuk terus membunuhku dan mengambil chakra five syclon dari dalam tubuhku.


Aku mulai muak dengan mereka hingga aku merencanakan sesuatu untuk melawan balik, dengan membunuh pimpinan tertinggi Redfire Clan mungkin aku bisa membuat pertahanan mereka menjadi tidak stabil untuk sementara waktu dan aku akan menyerang mereka dengan cara yang sama seperti yang telah mereka lakukan kepada klan ku.


Namun lagi-lagi aku mendapatkan peringatan saat akan membuka gerbang awan putih. Paman Rei teman dari ibuku datang dan mengingatkanku tentang tujuan ku dilahirkan. Aku adalah harapan, kira-kira itulah yang mereka katakan tentang diriku.


Jiwa dari ibuku juga datang menenangkan ku, disaat itulah aku mulai tersadar kembali. Semua yang aku pikirkan dan aku rencanakan itu adalah jalan yang sesat.


Aku mulai mengerti sedikit demi sedikit, di dunia ini jika kita menginginkan perdamaian kita tidak harus melenyapkan orang yang bersalah. Namun yang harus kita lenyapkan adalah tindakan dan kegelapan yang menyelimuti orang itu sendiri.


(POV Agra)



"Buka matamu!"


Agra membuka mata dan ia melihat bayangan hitam yang berdiri didepannya, ia terkejut dan memejamkan matanya kembali.


"Kenapa? Kenapa kau menutup dirimu?"


Agra membuka matanya kembali dan berharap bayangan itu hilang namun ternyata bayangan itu tidak kunjung pergi malah bayangan tersebut berubah menjadi dirinya.


"Si ... siapa kamu?"


"Kenapa kau mendengarkan ucapan orang sok suci itu? Kau tidak tahu sejauh ini aku yang membantumu merencanakan semua strategi ini, dan tujuan kita sudah dekat. Sebentar lagi kau akan mampu membunuh Leviathan."


"Tidak! tolong jangan datang lagi kedalam hidupku! kau ... kau adalah jalan yang sesat."


"Hemm ... aku adalah sisimu yang lain lho ... kau tidak punya hak untuk mengusirku! tubuh ini ... akan kuambil tubuh ini darimu dasar roh lemah!"


"Kau adalah bayang-bayang kegelapan yang tercipta dari amarah, sedangkan aku adalah roh yang terlahir dengan raga. Tidak mungkin kau bisa mengambil tubuh ini dariku!"

__ADS_1


"Kau meremehkan ku ya?"


Bayangan hitam itu merasuk kedalam roh Agra dan mencoba mengambil alih raga Agra. Namun roh Agra mampu mengusirnya kembali.


"Tidak akan kubiarkan kau ada didalam tubuhku!"


"Kau pikir aku melakukan ini dengan keegoisanku sendiri? Asal kau tahu aku peduli denganmu dan aku mencoba membantumu. Coba kau pikirkan jika Leviathan berhasil kita bunuh, pasti orang-orang yang telah tertindas akan mendapatkan kemerdekaannya kembali dan dendam mu akan terbalaskan."


"Tidak! Bagaimana pun juga cara itu tetap salah. Hancurnya satu klan saja membuat dunia mulai tidak seimbang apalagi dua klan hancur dunia akan kehilangan keseimbangan dan musnah secara perlahan-lahan."


"Apa pedulinya tentang dunia? Kau itu hanya dimanfaatkan oleh mereka!"


"Diam! Sebaiknya kau lenyap dari dalam diriku."


Agra mencoba menghancurkan bayangan kegelapan itu dengan chakranya, namun bayangan tersebut sulit untuk dilenyapkan.


"Hahaha ... Kau tidak akan bisa melenyapkan ku!"


"Baiklah jika aku tidak bisa melenyapkan mu, mungkin aku bisa membuatmu diam untuk sementara waktu."


Agra mengeluarkan kepingan chakra dari pohon suci Vedernight dan merubahnya menjadi rantai emas. Ia melempar rantai emas itu kearah bayangan kegelapan dan mengikatnya dengan erat.


"Arggghhh ... Dasar rantai sialan!"


"Kau ..."


"Aku harus menenggelamkan mu kedalam telaga roh ku untuk sementara waktu sampai aku bisa menemukan cara untuk melenyapkan mu."


"Sialan kau! Lepaskan aku!"


"Jangan banyak bicara Agraz!"


"Lucu sekali, ternyata kau masih peduli denganku sampai-sampai membuatkan ku sebuah nama."


"Nama itu untuk membedakan kita, gara-gara kau berubah fisik menyerupai wajahku aku takut kau akan merusak suasana dimensi roh ku ini. Hmm ... sepertinya telaga roh ku sudah siap untuk menyerap mu."


"Pergilah dan nikmati apa yang kau dambakan dari perdamaian semu itu. Aku yakin kau akan menyesal dan mencari ku kembali saat kau mulai kehilangan semuanya. Camkan itu!"


Agra hanya diam dan tidak mau mendengarkan apapun yang keluar dari ocehan Agraz. Ia akhirnya keluar dari dimensi roh untuk melanjutkan misi gerbang awan putih.


"Hey ... bangun nak, apa kau baik-baik saja?"

__ADS_1


"Paman Rei?"


"Syukurlah kau telah sadar."


"Gerbang itu? Apakah sudah–"


"Selamat kau telah berhasil melewatinya!"


Agra pun melihat gerbang awan putih tersebut, gerbang itu memancarkan cahaya terang dari celah-celah pintu. Semakin lama gerbang itu semakin terbuka lebar, Agra pun mulai tertarik masuk kedalam gerbang itu namun Rei hanya bisa berdiri didepan pintu saja.


"Paman Rei? kenapa kau tidak ikut juga?"


"Tugasku disini sudah selesai aku harus kembali."


"Kau mau kemana?"


Tanpa berpamitan Rei pergi dan menghilang begitu saja, sementara Agra terus tertarik masuk kedalam gerbang awan putih itu.


"Huh? Dimana aku?"


Kini Agra telah berada didalam ruangan itu, disitulah ia melihat beberapa tumpukan buku yang berjajar rapi seperti perpustakaan.


Ia mengelilingi setiap sudut ruangan dan menemukan sebuah buku kuno yang bersinar di atas meja. Ia pun penasaran dengan isi buku tersebut hingga akhirnya ia memutuskan menyentuh buku tersebut.


Agra membuka halaman pertama dan terdapat tulisan aneh yang muncul secara ajaib di atas kertas kosong.


...UNTUK JIWA YANG DITAKDIRKAN SEBAGAI SIMBOL KEDAMAIAN, BANGKITLAH BERSAMA DUKAMU!...


Agra bingung saat menelaah makna dari isi halaman pertama tersebut, selama beberapa detik berlalu tulisan itu pun akhirnya muncul kembali.


...JIWA YANG BERSIH MENGHASILKAN CHAKRA ISTIMEWA, ...


...JIWA YANG BERANI MENGHASILKAN CHAKRA TERKUAT, ...


...JIWA YANG BENGIS MENGHILANGKAN KEDUA CHAKRA INTI....


Agra semakin rumit dalam mengartikan pesan dari tulisan tersebut, ia merasa malas saat ia harus berhadapan dengan teka-teki.


Ia berpikiran bahwa tulisan tersebut ada kaitannya dengan dirinya saat ini. Agra pun memutuskan untuk melanjutkan membuka halaman selanjutnya.


Pada halaman selanjutnya cahaya aneh muncul kembali dan menyilaukan mata Agra. Anehnya cahaya itu tiba-tiba berubah menjadi bayangan dan masuk kedalam otak Agra. Cahaya kecil yang menyilaukan itu kini bersemayam didalam tubuh Agra.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2