
Negeri Pusat Blue Clan.
Penjara bawah tanah bekas kastil White Blue.
(Setelah berpikir selama 1 jam)
"Hemm ... Tongkat ini mungkin bisa berguna untukku."
Agra yang sejak tadi memutar otak akhirnya mendapatkan ide baru untuk menjalankan rencana kedua. Ia kini menggunakan tongkat yang tadi digunakan Laurent saat memukuli dirinya, ia merubah tongkat tersebut menjadi wujud dirinya sendiri untuk mengecoh penjaga dan keluar dari penjara dengan teleportasi tunggal.
teleportasi tunggal adalah jurus yang ia ciptakan sendiri dengan cara menggabungkan chakra dan aura objek yang dituju menjadi medan elektromagnetik yang sangat kuat. Jurus itu mampu menarik tubuh ke suatu objek yang terpasang oleh medan elektromagnetik dan mengakibatkan tubuh pemilik jurus itu berpindah tempat tanpa menggunakan chakra sedikit pun. Namun teleportasi tunggal hanya mampu memindahkan suatu benda ke objek terdekat saja. Jarak pemindahan dari objek I ke objek II berkisar 500 meter, jika lebih dari itu teleportasi tunggal tidak dapat berfungsi secara optimal.
Kebetulan jarak penjagaan prajurit Redfire Clan dengan tahanan tersebut hanya berkisar 300 meter. Jadi ia mampu keluar melewati prajurit tanpa harus ditangkap dengan mengambil objek yang berjarak 500 meter.
"Akhirnya aku bisa bebas."
Agra tiba-tiba melihat cahaya kecil yang berterbangan diatasnya.
"Cahaya apa itu? Apakah suatu petunjuk lagi? Lebih baik aku mengikuti jejak cahaya itu."
Agra berlari mengikuti cahaya kecil itu dan ia diarahkan ke suatu lorong rahasia yang hanya anggota kerajaan saja yang bisa melihatnya. Agra kini terus berjalan dalam lorong yang gelap, saat itu angan-angan masa lalunya yang terus menghantui pikirannya ia mulai melihat senyum kedua orang tuanya didalam cahaya kecil itu.
"Terima kasih ayah, ibu ... Kau meninggalkan sesuatu yang berharga bagiku."
Agra mulai melihat sebuah gerbang besar yang menyala dengan terang. Ternyata lorong itu menghubungkan gerbang rahasia yang tidak banyak diketahui oleh orang lain.
"Apakah ini gerbang awan putih yang pernah disebutkan oleh ayah? Hmm ... Ayah pernah bilang kalau gerbang awan putih ini adalah gerbang yang pernah digunakan oleh leluhur klan Blue sejak era pertama pembentukan klan. Aku penasaran sebenarnya apa isi didalam gerbang tersebut. Lebih baik aku langsung masuk saja barangkali aku mendapatkan petunjuk dan peninggalan-peninggalan lain milik ayah."
"Agra mencoba membuka pintu dan ingin masuk kedalam gerbang awan putih itu namun gerbang tersebut menolak untuk dimasukinya."
"Argghhh ... Kenapa gerbang ini sulit dibuka."
Wajah kesal Agra muncul saat ia kesulitan membuka pintu gerbang sementara waktu yang dimilikinya sekarang tinggal sedikit, ia harus menyelesaikan rencana ini sebelum pasukan Redfire menyadari misi Agra.
"Jika kau ingin masuk, bebaskan semua pikiran duniawimu dan bersihkan juga kekotoran yang ada dihatimu, baru kau bisa melewati gerbang awan putih ini."
"Siapa kau?"
Agra kebingungan dengan kemunculan suara aneh itu, ia pun mencoba menganalisis suara tersebut karena ia merasakan bahwa suara itu tidak asing bagi dirinya.
"Ini aku, Rei."
"Hah ... Paman Rei?"
"Apa kabar!"
"Bagaimana kau bisa muncul di dunia nyata?"
" Sudah kubilang kita akan berjumpa lagi kan?"
__ADS_1
"Tapi bukankah kemunculanmu hanya mampu menembus dimensi roh saja?"
"Siapa yang bilang begitu?"
"Aku!"
"Hahaha ... Konsepmu salah besar nak ... Bukannya tidak bisa, namun belum saatnya saja."
"Terserah paman saja, lalu kedatangan paman kesini untuk apa?"
"Tentu saja untuk membantumu membuka gerbang awan putih itu."
"Tunjukkan bagaimana caranya paman?"
"Kau cukup merenungi kesalahanmu, kesalahan yang membuat dirimu seperti ini, terutama rencanamu kepada Raja Leviathan."
"Merenung? Kenapa aku harus merenungi itu? Disini bukan aku yang salah tapi mereka! Mereka lah yang merenggut semuanya dariku! lagipula aku tidak mau membuang waktuku hanya untuk memikirkan hal yang belum tentu menjadi kesalahanku."
"Justru itu yang harus kau hapus dari hatimu! Kemarahanmu, dukamu, kesedihanmu, dan dendam yang selama ini kau simpan membuatmu memiliki penyakit hati. Kau sulit mengontrol emosi setiap kali mendengar dan mengingat klan Redfire."
"Aku sudah cukup sabar paman, aku juga menyerahkan diriku hanya untuk bernegosiasi dengan raja Leviathan tapi dia malah melakukan hal yang melanggar negosiasi dengan memasang rencana busuk lagi dibelakang ku."
"Dan kau juga memasang rencana licik untuk membunuhnya? Apakah dugaan ku itu benar?"
Agra terkejut mendengar tebakan Rei, ia seketika menunduk dan merasakan keringat dingin di seluruh tubuhnya.
"Kenapa kau diam Agra?"
"Kalau iya bagaimana?"
"Lalu apa kabar dengan pasukan klan Redfire yang telah membantai keluarga dan klan ku?"
"Antara kau dan mereka itu berbeda Agra, kau adalah anak harapan dewa dan dunia. Kau dilahirkan dengan lima kekuatan dari dewa chakra, simbol yang ada didalam tubuhmu itu adalah anugerah yang tidak pernah didapatkan oleh orang lain. Sedangkan mereka adalah orang yang telah dibutakan hatinya. Tujuanmu dilahirkan hanya untuk perdamaian."
"Aku tahu, tapi aku tidak bisa menghapus dendam dan kemarahanku."
"Klan Redfire memang memiliki kebutaan didalam hatinya, itu disebabkan karena leluhurnya membuat sumpah di atas api suci yang merupakan lambang keberadaan mereka. Sumpah itu berisi ancaman untuk dunia."
"Ancaman?"
"Mereka bersumpah untuk melenyapkan klan blue yang terpilih sebagai pemimpin dari lima klan dan mereka akan merebut kekuasaan dari tangan klan blue. Mereka mengatakan sumpah tersebut karena mereka merasa bahwa diri mereka lah yang pantas menjadi pemimpin klan. Tugasmu saat ini adalah menghapus kegelapan di hati mereka."
"Aku lelah, jika aku tidak boleh membunuh mereka, lebih baik aku ...."
"Apa yang kau lakukan!"
"Mati bersama simbol chakra sialan ini!"
Agra mengeluarkan pedang siner storm dan mencoba menusuk tubuhnya dengan pedang yang ia bawa.
Hiatttt ....
__ADS_1
Sraatts ...
*******
"Agra!"
"Huh?! Suara siapa lagi itu?"
"Putraku."
"Ibu?"
"Ada apa Agra? Sepertinya kau kelihatan lelah."
"Aku ..."
Pelukan hangat yang selama ini dirindukan Agra datang dan memberinya kehangatan.
"I ... ibu. Andai aku bisa memelukmu seperti ini terus."
"Ada masalah apa coba katakan."
"Aku kehilangan arah, bu. Sekarang aku tidak bisa menjadi anak yang kau harapkan."
"Apa kau ingin menghilangkan nyawa seseorang? apa kau tidak ingat pesan ayahmu? Jangan menjadi orang yang pendendam anakku sayang."
"Ibu, suara lembut yang kau lontarkan kepadaku membuatku rindu. Aku ingin menyusulmu."
"Agra sayang! belum saatnya kau kemari, kau harus kembali dan selesaikan misi gerbang awan putih itu."
"Tapi bu ..."
"Aku tahu kau pasti bisa melewati semua ini nak. Kau tidak sendirian ada ayah dan ibumu didalam hatimu. Ayah dan ibu akan memandu mu."
"Ibu tidak marah melihat klan kita hancur?"
"Tidak! begini sayang, dengarkan ibumu ini! Jika orang lain memberimu api jangan kau balas pemberinya dengan api, cukup dinginkan dia dengan air, karena pembalasan yang seperti itu tidak akan bisa kita temukan titik tengahnya. Sedangkan kita para manusia selalu mendambakan hidup yang damai namun tanpa sadar mereka telah membuang kedamaian yang pernah bersemayam dalam kehidupan manusia itu sendiri. Rasanya seperti melihat cermin dalam cermin."
"Begitukah yang ibu pikirkan?"
"Benar nak!"
"Terima kasih bu."
Agra akhirnya sedikit merasa tenang dan mencoba mengikhlaskan apa yang telah hilang dari dirinya. Berkat dari dukungan ibunya ia mampu bertahan dititik terendah itu.
"Chakra ibu habis nak. Saatnya ibu pergi, ibu tidak boleh disini."
"Ibu ... Aku sayang ibu!" Agra tersenyum, ia mulai melihat pecahan sinar yang beterbangan bahkan wujud sang ibu pun mulai pudar.
"Jangan lupa makan ya sayang! Ibu selalu menyayangimu."
__ADS_1
Wujud Kay akhirnya lenyap secara perlahan, pria malang itu harus berpisah kembali dengan ibunya setelah bertemu diwaktu yang singkat.
#BERSAMBUNG