
Agra, ketika aku melihat senyuman diwajahmu rasanya aku ingin melakukannya. Matamu yang memancar seperti cahaya bulan biru membuat obsesiku bergejolak. Kau selalu tenang dalam menghadapi masalah dan mencoba mencari jalan keluar dengan ide-idemu. Siapapun yang ada didekatmu pasti terpesona dengan sikapmu ini.
Tapi kenapa kau selalu menjerumuskan dirimu kedalam petaka?
"Hey Vendrinna! Vendrinna!"
Agra menyentuh bahu Vendrinna dan mencoba membubarkan lamunannya.
"Vendrinna?" Kali ini Agra mendekatkan wajahnya kewajah Vendrinna.
"Uh ... Darling!?" Vendrinna membubarkan lamunannya.
"Haha ... Kau melamun ya?"
"Darling!"
"Ya?"
Tangan Vendrinna mulai menyentuh wajah Agra, ia mencoba lebih dekat lagi dengan wajah Agra.
"Ehh ... Kenapa Vendrinna?"
"Matamu ... sangat indah."
"Ha?"
Bibir Vendrinna pun mencoba lebih dekat lagi dengan bibir Agra.
"Ve ... Vendrinna! To ... Tolong sadarlah!"
"Aku ... Akuu ... Tidak bisa menahannya lagi."
"Jangan-jangan! Hentikaann!!!" Agra berteriak.
Sontak Agra langsung mendorong Vendrinna hingga ia terjatuh.
"Akhhh ..."
"Mm ... Maaf Vendrinna! Biar aku bantu berdiri."
Vendrinna pun berdiri dengan uluran tangan Agra. Namun Vendrinna malah terdiam karena ia merasa malu.
"Sekali lagi maafkan aku karena telah mendorongmu."
"Tidak Agra! Justru aku yang minta maaf karena telah lancang kepadamu. Maafkan aku!"
"Ahh ... tidak masalah mungkin kamu mulai kehabisan chakra jadi kamu tiba-tiba berubah aneh seperti ini."
"Hmm ... Mungkinn ..." Vendrinna masih tersipu malu.
"Kembalilah ketubuhmu Vendrinna!"
"Tidak mau!"
"Kau akan kehabisan chakra nanti."
"Kau belum mengatakan rencanamu! Lagipula kedatanganku kesini untuk membujukmu keluar dari chakra monster yang mengendalikan tubuhmu kau bisa mengambil alih kembali kan?"
"Maaf, untuk ide yang aku pikirkan saat ini belum bisa kuberi tahu kepada kalian. Pria over protektif itu pasti akan langsung menghalangiku, sedangkan untuk keluar dari tempat ini mungkin aku belum bisa. Karena chakra mereka begitu kuat, aku tidak mampu mengambil alih tubuhku dengan kondisi dikendalikan. Aku akan kehilangan kesadaran jika aku melakukan itu. Anggap saja kejadian yang aku alami saat ini adalah keberuntunganku karena masih bisa sadar dalam proses transform menjadi monster."
"Tapi ... Uhuk! Uhuk!"
__ADS_1
"Maafkan aku kondisimu akan semakin buruk jika kau disini dengan waktu yang lama. Aku akan menutup portal dimensi rohku untuk sementara waktu."
"Agra! Dasar keras kepala!"
"Maaf!"
Agra mulai mempersempit ruang dimensi untuk Vendrinna dan mengembalikan dia ketubuhnya. Vendrinna secara perlahan-lahan keluar dari dimensi itu.
"Kalau itu maumu! Aku akan percaya kepadamu. Berjuanglah darling!"
"Pasti! Tunggu aku kembali ya!"
"Sip!"
Vendrinna keluar dan ia telah kembali ketubuh aslinya. Agra kemudian mencoba meluncurkan serangan kearah selatan ia menembakkan chakranya dengan tepat sasaran.
Blooommm ...
"Ada apa dengan Agra? Kenapa dia meledakkan bukit itu?" Tanya Jessy.
"Itu karena ada seseorang yang mencoba mengendalikan Agra. Saat ini ia sedang memancing musuh terselubung itu untuk keluar dari sarangnya. Makanya dia menggunakan sisa kesadarannya untuk mengendalikan monster yang ada didalam dirinya." Jelas Vendrinna.
"Hmmm ... Itu baru namanya pangeran terakhir klan Blue." - Mr.X.
"Jika anda mengetahui sesuatu tentang Agra tolong rahasiakan!" Bisik pangerang Axcel kepada Mr.X.
~Hmm ... Mereka sedang membicarakan hal penting apa ya? Mereka terlihat seperti menyembunyikan sesuatu.
"Kenapa dia tidak mau keluar padahal tadi adalah waktu yang tepat untuknya bebas?" Tanya Jessy.
"Dia tidak bisa keluar dalam kondisi dikendalikan, resikonya akan sangat fatal karena dia bisa kehilangan kesadaran sepenuhnya, itulah yang dikatakannya. Tapi Agra mencoba melakukan sebuah rencana untuk menyerang seseorang yang sedang mengendalikannya. " Jelas Vendrinna.
"Dia selalu keras kepala, jika sejak awal kalian meminta ijin kepadaku terlebih dahulu, maka tidak akan terjadi seperti ini. Sekarang apa yang akan kita lakukan untuknya?" Axcel menyela pembicaraan Vendrinna.
"Fiuhhh ... Sudahlah tidak ada yang perlu disesalkan, semuanya sudah terlanjur. Lebih baik kita lihat saja apa yang direncanakan Agra." Ujar Axcel.
"Lihat ada empat orang yang muncul menyerang Agra!" Jessy terkejut melihat situasi Agra saat ini.
Usai ledakan terjadi Agra diserang balik oleh keempat orang misterius, mereka berempat terlihat menggunakan jubah serba hitam dan memakai topeng menyeramkan.
Agra mencoba merebut tubuhnya yang telah dikendalikan oleh sosok misterius itu. Setiap teknik bahkan chakra telah dikeluarkan namun tidak mempan untuk membebaskan dirinya, usahanya kini sia-sia bahkan kondisinya saat ini mulai mengalami penurunan kesadaran dan akan sepenuhnya dikuasai oleh sosok berjubah hitam.
"Hahaha ... Apa kau menyerah? Sepertinya kesadaranmu mulai menurun lebih baik tidurlah dalam dimensi rohmu biarkan kami menguasaimu." Ucap salah satu dari keempat sosok berjubah hitam tersebut.
Saat itu Agra tidak menggubris perkataannya, Agra kini fokus untuk mengatur siasat baru dan mempertahankan kesadarannya.
"Bagaimana caraku untuk bebas dari mereka? Tidak mungkin aku berlama-lama didalam dimensi roh dengan kondisi tubuh dikendalikan, yang ada aku terjebak dan kehilangan kesadaranku lagi seperti dahulu, tapi aku sudah tidak kuat lagi untuk mempertahankan kesadaranku." Agra bergumam.
"Darling! Jangan khawatir aku kembali untukmu."
Vendrinna tiba-tiba muncul kembali ke dimensi roh, Agra seketika terkejut melihat situasi tersebut karena ia telah menutup portal penghubung antara Vendrinna dan dimensinya.
"Bagaimana kau bisa masuk kembali kedalam dimensi rohku? Padahal aku sudah memutus portalnya."
"Kau jahat sekali darling, aku kesini untuk menolongmu. Tentu saja dengan bantuan kak Axcel dan paman baik hati yang tidak dikenal itu."
"Kau tahu kan resikonya kalau kau berada didalam dimensi roh seseorang yang tubuhnya sedang dikendalikan. Kau akan terjebak didalamnya bahkan mungkin kesadaran dan jiwamu akan diserap oleh telaga roh. Aku tidak mau membahayakan nyawa orang lain lagi! sudah cukup kalian membantuku!"
"Memangnya aku ini orang lain bagimu?" Vendrinna mendekat kearah Agra.
"Sudah kubilang jangan memikul bebanmu sendirian, tidak masalah jika jiwaku dan kesadaranku terserap kedalam telaga dimensi rohmu asalkan aku bisa menyelamatkan mimpimu dan masa depanmu. Sudahlah jangan pikirkan hal lain lagi! Ayo ikuti aku!"
"Kemana?"
__ADS_1
"Menuju kendali penuhmu. Kami sudah menyiapkan portal untuk mengeluarkanmu dari dimensi ini."
Agra hanya diam dan mengikuti arahan Vendrinna, karena kesadarannya saat ini sudah menurun.
"Vendrinna ... Terima kasih ..."
"Darling! Bertahanlah sebentar aku akan membuka portal itu untukmu!"
"Vendrinna ... Keluarlah ... Jika aku kehilangan kesadaranku mungkin kalian tidak akan bisa selamat."
"Bicara apa kau! Aku sudah susah payah membuatnya jadi jangan sia-siakan waktuku. Ayo pergi!"
Vendrinna melempar Agra kedalam portal ganda kemudian giliran Vendrinna yang masuk ke portal tersebut. Sementara itu Jessy, Axcel dan Mr.X mencoba menarik jiwa Vendrinna dengan cepat supaya Vendrinna bisa kembali ketubuhnya dengan selamat, selang beberapa menit akhirnya Vendrinna telah berhasil keluar kedalam dimensi roh dan ia juga sudah berhasil membawa keluar jiwa Agra yang terjebak didalam dimensi rohnya sendiri.
Disisi lain keempat orang misterius itu mencoba untuk terus mengendalikan tubuh Agra, namun kali ini mereka benar-benar kesulitan mengendalikan Agra karena jiwanya mulai kembali dan menyatu dengan tubuhnya.
Jiwanya kini berhasil menolak chakra pengendali yang dikendalikan oleh salah satu dari kelompok berjubah hitam. Agra mulai menyesuaikan dan meredam chakra bulan merah yang masih mengalir ditubuhnya, hal itu yang membuat wujudnya berubah menjadi monster mengerikan dengan aura chakra yang merah merekah. Saat ini aura tubuh Agra hanya diselimuti chakra five syclon dan beruntung Agra masih bisa menetralkan chakra tersebut.
Aura yang tadinya merah merekah kini berubah menjadi biru muda terang yang mampu menyinari suasana malam.
"Kau! Yang mengendalikan tubuhku dengan chakra pengendalian ... Kau pasti ketuanya kan?" Tanya Agra dengan nada tegas.
"Bukan urusanmu!" Jawab salah satu dari kelompok tersebut.
"Katakan dari organisasi mana kalian? Beraninya kalian memanfaatkan situasi ini untuk mengendalikan chakra yang ada didalam tubuhku."
"Kami berasal dari mana itu tidak penting, yang jelas kami datang untuk membawamu. Kau adalah aset milik kami."
"Apa maksud kalian?"
"Hmm ... begitu ya? Baiklah aku paham kondisi disini sekarang."
"Bicara apa kau?"
Saat ini kelompok misterius itu sedang berdiskusi sesuatu dibelakang Agra.
"Hmm ... Baiklah! Kami memberimu waktu untuk menikmati hari-hari menyenangkanmu sampai kami datang kembali untuk mengambilmu kau tidak boleh menentang kami!"
"Mengambilku? Kalian pikir siapa memerintahku seperti itu."
Kelompok berjubah itu seketika pergi tanpa meninggalkan sepatah kata apapun. Mereka menghilang dengan sangat cepat seperti kilatan petir.
"Kemana mereka pergi? Cepat sekali?" ucap Agra sambil celingak-celinguk mencari keberadaan kelompok berjubah hitam.
"Blue! Akhirnya aku menemukanmu!" Teriak Laurent dari kejauhan ia mulai mendekati Agra.
Agra tiba-tiba merasa bahwa kata-kata yang diucapkan Laurent pernah ia dengar sebelumnya. Ingatan-ingatan kecil pun muncul dibenaknya, ia sekilas melihat masa lalunya dengan sosok gadis kecil berambut coklat dan warna mata merah muda yang mirip seperti Laurent. Tiba-tiba kepala Agra terasa pusing dan sakit, ia merasa muak menghadapi setiap keanehan didalam hidupnya.
"Aaarrrgghhh ... Kau! Kenapa wajahmu muncul dipikiranku!" Agra berteriak kesakitan.
"Blue! Apa kau mulai mengingatku? Ini aku gadis yang seringkali kau sebut sebagai Putri sadis."
"Putri sadis?"
"Iya ... Ini aku!"
"Kau ...?"
Blugghhhh!
Agra saat ini telah kehabisan energinya dan mendadak pingsan di rerumputan bukit Sealer Blue. Semua orang terkejut dan langsung menuju tempat Agra pingsan.
Waktu semakin cepat berlalu pergantian hari sudah mereka rasakan dalam arena pertempuran yang sangat mencekam. Bulan merah pun juga sudah menghilang bersamaan dengan munculnya sorotan fajar pertama dalam menyambut hari baru.
__ADS_1