
"Temanmu telah dijadikan sebagai tempat penanaman benih inti chakra biru."
"A–Apa?"
"Inti chakra itu akan mereka gunakan untuk membangkitkan gen clonning kembali jika inti chakra itu diambil maka temanmu akan mati." Rei meneruskan bicaranya.
"Hah?! Bagaimana bisa!?" Wajah Agra semakin terlihat cemas.
"Karena inti chakra itu sudah melekat didalam jiwanya."
"Tidak! aku tidak akan membiarkan itu semua terjadi."
"Sepertinya dia begitu berharga bagimu. Ohya ... Organisasi yang kau sebut tadi apa namanya?"
"Organisasi Perancang Sistem Clonning."
"Hmm ... Sepertinya nama organisasi ini terlihat asing. apakah kau tahu siapa ketuanya?"
"Aku tidak tahu."
"Jika mereka berhasil membangkitkan gen clonning kembali bukan hanya temanmu yang dalam bahaya tapi seluruh dunia pun juga terkena imbasnya."
"Kalau begitu paman juga berbahaya. Paman kan diciptakan dari gen kloning juga kan?"
"Aku memang tercipta dari gen kloning, tapi aku adalah satu-satunya gen kloning yang memiliki pendirian dan attitude baik lho! keberadaanku disini sangat penting terutama dalam pemberlakuan perjanjian rahasia oleh tiga pihak yang dulu pernah terlibat konflik." Rei memberi penegasan kepada Agra.
"Perjanjian apa?" Tanya Agra yang masih bingung dengan ucapan Rei.
"Perjanjian pemberhentian rancangan gen klon angkatan ketiga dan pemusnahan seluruh klon beserta organisasinya." Jelas Rei.
"Dalam sejarahnya seluruh gen clonning dahulu hancur karena peperangan yang dimenangkan oleh kaum manusia dan tidak ada perjanjian apapun yang tertulis dalam sejarah itu." Agra masih bingung dengan ucapan Rei.
"Kau tidak tahu kan? Mungkin sejarah kemunculan Clonning sampai kehancurannya terlihat seperti terperinci, namun semua itu hanyalah pengetahuan umum saja, sebagian dari kisah aslinya memang tidak dipublikasikan. Mereka sepakat untuk merahasiakan perjanjian ini demi keamanan pribadi para pihak yang terlibat." Jelas Rei.
"Lalu siapa saja pihak-pihak yang terlibat dalam perjanjian itu?"
"Kalau itu aku tidak punya hak untuk menjelaskannya, maaf."
"Lalu siapa yang berhak untuk menjelaskan itu semua kepadaku? Aku ingin menemuinya sekarang!"
"Tenangkan dirimu ... Kelak akan ada seseorang yang datang memberimu penjelasan itu, tapi bukan sekarang!"
"Tapi paman aku harus mengetahuinya sekarang! bagaimana aku bisa menyelamatkan temanku jika aku tidak tahu siapa yang harus kuperangi."
"Hadeh ... Kau ternyata bukan tripikal orang yang tenang dalam berbicara ya? Baiklah ... Tutup matamu sekarang dan ambil salah satu kepingan chakra biru itu!"
"Untuk apa?"
"Ambil saja!"
Rei memerintah Agra untuk mengambil kepingan cahaya biru yang bertebaran disekitarnya. Tanpa rasa ragu dia mengambil satu kepingan chakra biru didepannya dengan mata tertutup.
Setelah kepingan itu berada ditangannya, Agra mengikuti anjuran dari Rei untuk terus mennggenggam dan menempelkannya didada sambil mengucapkan sesuatu.
"Agra! berkonsentrasilah dan ucapkan didalam hatimu hal apa yang kau butuhkan saat ini."
dia pun mengikuti anjuran Rei untuk mengatakan hal yang sangat ia butuhkan didalam hatinya. Tak lama kemudian Rei menyuruh Agra untuk meniup kepingan chakra biru dan ajaibnya kepingan itu hancur menjadi serbuk saat ditiup oleh Agra.
Serbuk itu bertebaran diudara dan mulai memancarkan sebuah sinar yang begitu terang, seiring dengan pancaran sinar tersebut sebuah perwujudan pedang tanpa tuan dan kalung pelindung pun muncul ditelapak tangan Agra.
"Pedang dan kalung pelindung? Hanya itu yang kau inginkan?"
"Iya."
"Kau tidak mau tukar dengan yang lainnya?"
"Tidak! Untuk melatih kemampuanku mulai sekarang aku harus giat berlatih berpedang! Sedangkan kalung pelindung ini akan kuberikan kepada Vendrinna agar dia tetap aman. Aku tidak mau terus-menerus bergantung kepada teman-temanku, kini saatnya aku muncul untuk memerangi kejahatan didunia ini! " Agra dengan nada tegasnya.
"Hmm ... pilihan yang tepat, pedang itu bernama Siner Storm dengan level kemampuannya mencapai tingkat master level 10. Sesuai dengan namanya siner storm artinya badai yang bersinar, setiap tebasannya mampu menghancurkan area sekitar dalam hitungan detik. populasi kerusakannya pun mencapai 88% dalam sekali tebas. Jika kau menggunakannya dengan chakra penuh maka pedang itu bisa menghancurkan segalanya, populasinya bisa mencapai 100%."
"Wow ... keren!"
"Pedang itu dibuat khusus untukmu, tapi sebelum kau menguasainya akan ku analisis dahulu kemampuan chakramu."
__ADS_1
"Ah ... tidak usah repot-repot aku bisa kok menguasainya hehe ..."
~Bisa gawat jika dia tahu level chakraku.
"Selesai menginput data! level chakramu adalah ..."
"Hah!? cepat sekali? sejak kapan kau menganalisisnya?"
Agra kebingungan dan dia sedang berada dalam masalah besar karena aibnya sebentar lagi akan terbongkar.
"Apa?! tingkat umum level 2? Apa aku salah membaca?"
Rei kaget melihat tingkatan chakra yang dimiliki Agra.
"Jika aku boleh memberimu penilaian, kau adalah petarung terburuk dalam beberapa dekade ini."
Rei sambil memasang wajah datar.
"Ehehehe ..."
Agra hanya bisa menjawab dengan cengengesan.
"Bagaimana kau bisa menggunakan pedang tingkat master sedangkan tingkatan chakramu itu masih tingkat umum."
"Memangnya tidak bisakah?"
"Orang yang bisa menguasai pedang ini setidaknya harus memiliki tingkatan yang setara dengan pedang Siner Storm, jika tidak keseimbangan chakra akan terganggu dan pedang itu akan menguasai tubuhmu seutuhnya."
"Hmm ... Sampai segitunya ya?"
"Apa kau masih mau menyimpan pedang ini?"
"Tentu, apapun caranya aku harus meningkatkan kemampuan chakraku. Aku akan menyimpan pedang ini dengan baik paman aku janji."
"Bukan masalah itu, tapi ..."
"Apapun resikonya aku akan menerimanya meskipun aku harus mati sekalipun. Demi keseimbangan dunia dan perdamaian kelima klan aku berjanji akan berjuang sekuat tenaga untuk membawakan perubahan besar itu."
"Perubahan besar ya? Sebenarnya aku juga mendambakan perubahan itu, perubahan yang akan membawa kita menuju perdamaian tanpa kekerasan apalagi keegoisan. Namun sampai saat ini aku masih belum menemukan orang yang bisa membawa perubahan besar itu. Agra! jika kau yakin dengan ucapanmu, aku akan memegang janjimu itu dan aku akan mendukungmu!"
"Terima kasih telah percaya kepadaku."
"Serahkan semuanya padaku!"
Melihat Agra yang begitu percaya diri dengan janjinya, Rei semakin yakin untuk menaruh harapan besar kepadanya. Sikap tanggung jawabnya terbentuk dalam lingkungan yang sempit. Dimana dunia telah berantakan selama puluhan tahun, kekerasan dan tindakan kriminal terjadi dimana-mana, keegoisan dan penghianatan beraksi dibalik topeng wajahnya.
Hidup di dunia clonning layaknya hidup dalam neraka, dimana orang baik harus mati dan orang jahat yang mengambil kuasa. Namun sekuat-kuatnya kejahatan menguasai dunia, kebaikan tidak akan pernah mati dari dalam jiwa petarung sejati.
Waktu tidak mundur dan tidak mungkin berhenti, waktu terus berjalan sampai manusia menemukan kematian dan perpisahan. Disitulah mereka menyadari dunia hanyalah fana dan gelar petarung yang didapatkan juga sudah tidak ada bobotnya.
Agra kini telah memahami dan mempelajari segala hal terutama dalam bidang sosial. Dengan realita hidup yang tinggi dan tingkatan kasta yang masih dipegang sampai sekarang, membuat manusia merasa sombong dan iri padahal itu hanyalah sekedar iming-iming belaka, oleh karena itulah diperlukan sosok pemimpin sejati yang nantinya akan membawa dunia ini kedalam titik perdamaian.
"Agra! Jika ayah dan ibumu tahu kau sudah menjadi pria yang dewasa, kemungkinan mereka pasti bahagia disana."
Cahaya biru muncul didalam tubuh Rei, tubuhnya semakin lama semakin menghilang.
"Haha ... mereka telah memanggilku, sepertinya mereka akan senang mendengar kabar ini." Rei sambil tersenyum.
"Mereka siapa?"
"Nanti kau akan tahu sendiri."
"Memangnya paman mau kemana?"
"Kembali ketempat seharusnya, waktu kita sudah habis kau bisa kembali kedimensi rohmu secara cepat dan mudah karena penghubung dimensi roh pohon ini denganmu sudah diaktifkan." Jelas Rei.
"Akankah kita bisa bertemu kembali?"
"Tentu! Cukup panggil diriku didalam dimensi rohmu, maka aku akan datang menghampirimu saat kau membutuhkan bantuanku."
"Baiklah sampai bertemu kembali."
Cahaya itu lenyap dari pandangan Agra dan Rei pun memudar menjadi beberapa pecahan kepingan chakra biru.
"Hmm ... ternyata paman Rei datang menemuiku menggunakan kepingan chakra biru milik klanku."
__ADS_1
Agra pun keluar dari dimensi roh pohon suci Vedernight, perlahan-lahan dia sudah kembali ketubuh aslinya. Selang 5 menit usai keluar dari dimensi roh pohon itu kesadarannya mulai muncul, ia mencoba membuka matanya dan ada suatu hal yang mungkin agak mengejutkan Agra.
"Ugh ... huh?" Mencoba membuka mata.
Sesekali dia membuka matanya dia benar-benar dikejutkan oleh bibir wanita. Ya, Bibir wanita yang akan mendarat tepat pada bibir Agra.
~Huh? Apa yang terjadi? dan siapa wanita itu? dia terlihat sangat ... Apa!!!
Ekspresi mata melototnya pun keluar.
"Huuwaaaaaa!!!!"
"Hey sayang, jangan berteriak kau mengganggu momen kita."
"Laurent!! Apa yang kau lakukan menjauh dariku!"
Saat Agra memberontak dia baru sadar ternyata tangan dan kakinya telah terikat.
"Tenang sayang, kau jangan banyak bergerak kalau tidak ikatan ini akan melukaimu."
"Hah? Sayang? Se–sebenarnya kau kesurupan makhluk apaan hah? Aku bukan Rival!"
"Ya aku tahu kau memang bukan Rival, kau Agra dan kau adalah tunanganku, hihihi ..."
"Haa ... Tunangan? Sepertinya kau sudah gila. Lepaskan aku!"
"Aku tidak gila, entah mengapa semenjak kau diserang dihutan Vedernight dulu aura ketampananmu membuatku luluh. Kau begitu keren saat menyerang Rival."
"Lepaskan aku!"
"Haduh kau berisik sekali, sebentar ya tetaplah berbaring disini aku akan mengambil sesuatu."
"Mau apa kau!?"
"Hmm ... dimana ya? aku tadi menaruh alat itu dimana?"
"Ja–jangan melakukan hal yang aneh."
"Oh ... ketemu! gunting dan kain panjang yang tebal."
"Apa yang kau lakukan!"
"Menutup matamu dengan kain ini."
Laurent mengikatkan kain panjang ke kepala Agra dan menutup matanya menggunakan kain itu.
"Dan sekarang waktunya untuk menggunting."
"Menggunting!!! Huwaaaaa!!!"
"Hmm ... perban ini susah sekali digunting."
"Haa? perban?"
"Aku tidak suka perban wanita lain menempel ditubuhmu, jadi aku mengganti perbanmu dengan perbanku."
"Apa tujuanmu sebenarnya. Kau adalah anggota Redfire Clan beraninya kau muncul dihadapanku."
"Tenang sayang, aku tidak seperti Rival yang setiap kali bertemu denganmu langsung mengeksekusimu. Aku datang kesini juga tanpa pasukan lho."
"Kau sendirian?"
"Iya, aku datang kesini secara khusus menemuimu. Akhirnya perban ini terbuka. Hmm ... melihat bekas lukamu, kau cukup parah juga. Maafkan aku ya sayang aku baru bisa memberikan perhatianku padamu."
"Kenapa kau menutup mataku? Dan dimana teman-temanku?"
"Mereka kutinggalkan dihutan Vedernight, aku sengaja menutup matamu agar kau tidak mengetahui tempat kita. Kau pasti memiliki dimensi penghubung roh. Jadi aku takut saja kau akan berkomunikasi dengan gadis itu dan memberitahu lokasi kita melalui penghubung dimensi roh."
~Dimensi roh ya? baiklah aku akan mencoba menghubungi Vendrinna dengan cara itu.
"Sayang, apa kau mencoba menghubungi gadis itu? tapi sangat disayangkan chakramu sudah kucekal jadi kau tidak bisa masuk kedimensi roh miliknya."
~Kenapa semua terjadi kepadaku huhuhu ...
Bruakkk ... (Suara dobrakan pintu).
__ADS_1
"Dimana kau sembunyikan Agra dasar perempuan genit!!"
BERSAMBUNG