The Last Clan Blue

The Last Clan Blue
32. Jatuh Cinta Kedua Kalinya


__ADS_3


Hari terus berjalan dengan sendirinya, tanpa sadar kini sudah lima hari mereka tinggal di negeri Shin. Berkat kesabaran Vendrinna Agra kini mulai sembuh dari sakitnya, sementara bekas luka yang ada ditubuh Agra kini mulai mengering dan dia sudah bisa beraktivitas seperti biasa.


"Agra!"


Vendrinna datang memanggil Agra dikamarnya namun dia tidak mendengar panggilan tersebut. Saat itu Agra berdiri melihat kearah jendela sambil termenung.


"Hey! Agra!" Teriak Vendrinna dari pintu kamar Agra.


"Hah? Oh ternyata kau Vendrinna, ada apa dan sejak kapan kau disini?"


"Sejak satu abad yang lalu!"


"Masak?"


"Iya ... lagi pula kenapa kau akhir-akhir ini banyak melamun? ingat jaga kesehatanmu!"


"Haha ... tenang saja semenjak kau memberikan perhatianmu kepadaku, selama lima hari ini aku merasa tubuhku sedikit mendingan. Terima kasih ya." Agra tersenyum.


"Huh? Eh ... iya ... sama-sama." Vendrinna tersipu malu.


Mereka seketika terdiam tanpa obrolan.


"Eumm ... Vendrinna?"


"Ah ... iya ada apa?"


"Kenapa ... pipimu terlihat memerah? Apa kau demam?" Tanya Agra sambil menyentuh dahi Vendrinna.


"Hah ... ehh ... ti–tidak aku baik-baik saja kok, eumm ... ka–kalau begitu aku pergi dulu ya! dahh ..."


Vendrinna menyembunyikan perasaan gugupnya dengan bergegas pergi meninggalkan Agra.


"Ada apa dengan Vendrinna? jangan-jangan dia ketularan sakitku?" Gumam Agra.


Diluar kamar Agra, Vendrinna berpapasan dengan Axcel yang juga ingin masuk menemui Agra.


"Hay, Vendrinna."


Vendrinna tidak menggubris sapaan dari Axcel dan terus berjalan menuju dapur dengan tatapan menunduk kebawah.


"Ada apa dengan dia?"


Axcel pun membuka pintu kamar Agra dan masuk kedalamnya.


"Hey Agra, ada apa dengan Vendrinna? aku tadi sempat menyapanya tapi dia malah tidak menjawab sapaanku. Apakah kalian sedang berselisih?"


"Ohh ... tidak ... aku juga tidak tahu dengan perubahan sikapnya saat ini, tapi ... tadi aku sempat melihat pipinya memerah. Sudah kupantau selama 5 hari ini dan hasilnya sebanyak 25 kali pipinya memerah seperti itu, dan setiap ku cek suhu tubuhnya dia langsung pergi. Aku takut dia tertular sakitku kemarin."


"Hahahahahahaha ... Dasar kau polos sekali, seharusnya kau lebih peka dengannya."


"Apa maksudmu?"


"Kau itu laki-laki, seharusnya jika kau sudah diberi kode-kode seperti itu kau harus tahu bagaimana tindakanmu selanjutnya."


"Aku benar-benar tidak paham dengan maksud ucapanmu."


"Hadeh ... ternyata kau masih belum paham juga."


"Apa?"


"Lupakan! Ohya aku kesini untuk menanyakan sesuatu kepadamu."


"Apa?"


"Tentang pria misterius itu!"


"Oh ... itu ya ..."


"Sebenarnya apa yang dia katakan kepadamu?"


"Dia tidak mengatakan apapun!"

__ADS_1


"Bohong! kau pasti menyembunyikan sesuatu dariku!"


Agra terdiam sejenak dan dia sedang berpikir untuk mengalihkan pembicaraan Axcel.


"Hmm ... ohya–"


"Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan! Aku sudah tahu semuanya, kau pasti menyembunyikan sesuatu."


"Kau memang pandai dalam mengendus hal-hal yang berbau misterius disekitarmu ya. Tidak salah jika kau diberi gelar manusia pengendus rahasia orang."


"Jangan banyak basa-basi cepat katakan apa yang pria aneh itu bicarakan kepadamu!"


"Mereka akan merancang gen clonning kembali!" Agra mengucapkan dengan nada tegas.


"Tunggu! Apa katamu?" Tanya Axcel yang masih kurang jelas.


"Pria itu bersama tiga rekan perempuannya adalah anggota dari organisasi perancang clonning, mereka ternyata memiliki misi penting yaitu membangkitkan kekuatan para klon-klon yang dulu pernah hancur di era kelima setelah pembentukan lima klan."


"Apa?! Pantas saja kau terlihat murung selama 5 hari ini." Axcel terkejut mendengar penjelasan Agra.


"Aku takut saja, jika mereka berhasil membuat para gen klon kembali maka dunia ini akan hancur. Belum lagi masalah Redfire Clan yang terus-menerus merajalela."


"Hmm ... Setidaknya untuk saat ini, sepertinya mereka belum melakukan pergerakan apapun."


"Tapi kita juga harus berhati-hati, mereka saat ini sedang mengincar Vendrinna. Awalnya aku sempat berpikir kalau aku akan meninggalkan Vendrinna dan Jessy setelah mendapatkan tempat tinggal. Jika aku terus bersama mereka, mereka akan dalam bahaya. Namun ternyata Vendrinna sendiri juga menjadi bahan incaran oleh organisasi itu."


"Apa? Gadis secantik dan seimut Vendrinna dijadikan bahan sasaran pembuatan klon."


"Aku juga tidak tahu mereka mengincar Vendrinna karena apa, tapi yang jelas kita harus melindunginya. Kakak, jika kau benar-benar sosok kakak yang baik untukku maka ijinkan aku untuk pergi ke hutan Vedernight. Aku harus mencari jawaban dari masalah misterius ini."


"Tidak! tidak! aku tidak mengijinkanmu datang kesana, kau tahu kan markas Rival Cs itu didirikan disekitar hutan itu juga, apa kau mau mengantar nyawamu?"


"Hanya itu satu-satunya jalan untuk mencari petunjuk mengenai teka-teki ini. Kumohon?" Memasang wajah melas.


"Hadeh ... Baiklah kau boleh pergi tapi harus ada seseorang yang menjagamu."


"Huh? Siapa?"


"Aku!"


*****


Sementara itu didapur rumah, terlihat Jessy dan Nekko sedang memasak untuk makan siang mereka berempat. Seperti biasa Nekko membantu Jessy menyiapkan bahan masakan menggunakan kemampuan sihirnya.


"Haha ... aku yakin kak Axcel suka dengan masakanku."


"Miauw ..." (Apa katamu?!)


"Tentu saja berkat bantuanmu juga." Jelas Jessy.


Tidak lama kemudian Vendrinna datang dengan terburu-buru dia pun langsung menuju wadah besar yang berisi air jernih dan membasuh mukanya ditempat itu juga.


"Hey! kau pikir mencari air bersih itu mudah, itu untuk persediaan minum kita selama kita disini dan air itu juga masih bersih! Sekarang sudah ternodai oleh tanganmu yang kotor itu."


"Cerewet! tenang saja nanti aku ganti dengan yang baru."


"Lagipula kenapa kau terburu-buru seperti itu?"


"Wajahku tiba-tiba terasa panas tadi, jadi aku cuci muka saja sekalian."


"Bukan karena terbawa oleh perasaan kan?"


"Apa katamu?!" Teriak Vendrinna.


"Kenapa kau berteriak tidak jelas seperti itu? kan aku hanya menduga. Jangan-jangan dugaanku benar, haha ... ternyata seorang putri Vendrinna bisa jatuh cinta oleh pria biasa seperti Agra."


Vendrinna tidak bisa berkutik saat membalas perdebatan Jessy, dia hanya terdiam dan tersenyum.


"Kenapa kau tersenyum?"


"Kalau boleh kuakui, ada dua pria yang sudah menarik hatiku."


"Hah? ada dua? Siapa saja mereka."

__ADS_1


"Yang pertama adalah Blue dia teman masa kecilku, aku bertemu dengannya semenjak kami sama-sama berumur 4 tahun. Yang kedua ialah Agra, dengan sejuta kejutan yang dia berikan kepadaku membuatku jatuh cinta untuk kedua kalinya."


"Astaga jadi kau benar-benar jatuh cinta dengannya. Ohya ... Mengenai teman masa kecilmu yang bernama Blue sepertinya kau tidak pernah memberitahuku sebelumnya tentang dia."


"Aku memang tidak memberitahumu tentang Blue karena aku merasa belum siap saja untuk mengatakannya kepadamu. Karena saat itu kami berpisah sangat lama, aku pun juga lupa bagaimana aku bisa berpisah dengan Blue. Rasanya ada penghalang saat aku mencoba mengingat detail tentangnya. Dia adalah teman pertamaku yang bisa aku percayai. Setiap hari aku dan Blue membuat janji untuk bertemu disungai itu. Dan juga ... sejak pertama kali berjumpa dengan Agra aku merasa sikapnya sangat mirip sekali dengan Blue. Saat aku dan Agra saling mengobrol di sungai Hollow Vender aku merasa suasana pertemuan kami dahulu seperti terulang kembali.


"Tunggu-tunggu kau bilang tadi kau sering bertemu dengan Blue disungai itu? Apa sungai yang kau maksud itu Hollow Vender?"


"Iya."


"Pantas saja kau selalu mengunjungi tempat itu." Jessy sambil menepuk jidatnya.


"Hehe ... alasan sebenarnya bukan hanya itu saja, tapi aroma bunganya yang harum juga membuatku terpesona setiap saat."


"Hmm ... sepertinya satu lagi yang membuatku sedikit bingung dengan ceritamu."


"Yang mana?"


"Saat kau bilang kau mengobrol dengan Agra disungai Hollow Vender bukankah dia saat itu mengalami fase kritis?"


"Oh ... itu ... ceritanya panjang."


"Rangkum saja."


Vendrinna kini terdiam dan mengambil napas panjang, dia mencoba menjelaskan secara detail kejadian-kejadian yang belum Jessy ketahui, termasuk bertemunya Vendrinna dengan roh ibunya berkat chakra dari roh Agra.


Akhirnya beban pikiran dan batin Vendrinna semakin lama semakin rontok, saat ini Vendrinna merasa lega karena telah meluapkan segala isi hatinya kepada sahabatnya Jessy.


"Oh ... jadi begitu pertemuan pertamamu dengan Agra. Sedikit mengenaskan tapi romantis juga. Haha ..."


"Sssstttss ... jangan keras-keras! aku bisa malu jika Agra mendengarnya nanti."


"Okelah ... Tenang saja tanpa kau minta aku akan menjaga rahasiamu ini."


"Terima kasih, Jessy." Vendrinna tersenyum.


"Sama-sama, sudahlah ayo bantu aku menyiapkan makanan ini. Nekko terlihat lelah saat membantuku memasak tadi."


"Okelah ... Nekko kau istirahat saja. Biar aku yang menggantikanmu menjadi asisten Jessy."


"Miauww ..."


Nekko pun pergi kedepan, namun saat dia menuju keteras rumah Nekko melihat Agra dan Axcel keluar dari kamar dan pergi meninggalkan rumah diam-diam. Nekko pun terpaksa mengikuti mereka berdua dari belakang. Nekko terus menyusuri arah perginya Agra dan Axcel secara diam-diam.


"Kak, apa kau yakin dengan cara seperti ini Vendrinna tidak marah nantinya. Kau tahu kan aku masih menjadi pasiennya. Jika aku pergi tanpa sepengetahuannya dia bisa marah besar kepadaku."


"Itu resiko yang harus kau tanggung sendiri nantinya. Aku hanya menemanimu dan memastikan kau tidak apa-apa."


"Hadeh ..."


"Salah siapa kau nekat melakukan ini, rasakan saja akibatnya nanti jika Vendrinna marah."


"Ini kan juga demi dia."


Mereka melanjutkan perjalanannya menuju hutan Vedernight, Hingga akhirnya mereka sampai ke pohon besar yang dulu Agra temukan saat ia ingin mengurus jasad para anggota klannya termasuk ayah dan ibunya.


"Pohon yang sangat besar."


"Pohon ini adalah tempat peristirahatan terakhir para anggota Blue Clan termasuk Ayah dan ibuku. Sepertinya mereka sepakat melakukan penanaman inti chakra dititik terakhir mereka sebelum mereka bertempur. Aku merasakan chakra yang begitu besar didalam pohon ini."


"Luar biasa, Agra sepertinya mereka meninggalkan kumpulan inti chakra mereka untuk melindungimu dan membuat pohon yang kokoh seperti ini."


"Iya, aku sempat menggunakan chakra pohon ini saat melawan kepungan pasukan Redfire Clan. Namun aku masih kalah telak dengan mereka dan alhasil aku tertusuk pedang Celectron milik raja Leviathan."


"Raja Leviathan memang memiliki akal licik untuk mendapatkan mangsanya, dia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan setiap keinginannya."


"Hm ... Benar aku pun juga sedang berhati-hati jika berhadapan dengan mereka lagi, kalau begitu aku akan mencoba menyatukan chakraku dengan inti chakra pohon ini. Mudah-mudahan kita bisa mendapat petunjuk itu."


Agra melangkahkan kakinya mendekati akar pohon besar itu. Ia melipat kakinya dan duduk dibawah pohon yang rindang. Agra kemudian memusatkan titik fokusnya terhadap indra perasa dan ia mulai masuk kedalam dimensi penghubung roh.


Ditengah-tengah pemusatan chakra, Axcel yang dari tadi menjaga Agra mulai merasa terusik oleh keberadaan sosok misterius dibalik semak belukar. Suara bising itu keluar dan mengejutkan Axcel.


Kraaakk ...

__ADS_1


"Siapa disana!?"


#BERSAMBUNG


__ADS_2