The Last Clan Blue

The Last Clan Blue
49. Kegagalan yang Fatal


__ADS_3

Blooomm!! Duarr!!


Jessy dan Axcel mendengar suara ledakan yang sangat keras, Axcel pun mendeteksi asal suara tersebut.


"Jessy! Aku melihat ledakan itu dengan jelas, suaranya berasal dari bukit sealer blue! Tujuan kita sudah dekat percepat perjalanan kita Jessy, saat ini Blue kehilangan kendali." Ujar Axcel dengan perasaan panik.


"Kehilangan kendali? Memangnya blue kenapa?" Tanya Jessy.


"Ledakan itu berasal darinya yang telah berubah menjadi monster mengerikan." Jelas Axcel.


“Apa?” Tanya Jessy dengan rasa cemas.


“Makanya kita harus bergegas kesana, jika tidak Agra akan menjadi monster seutuhnya.” Ujar Axcel.


Mereka kemudian mempercepat perjalanannya menuju bukit sealer blue untuk menolong Agra. Namun ditengah perjalanan mereka diikuti oleh sosok misterius yang berpakaian tertutup dan mampu terbang mengimbangi awan putih klan Loneblast. Sosok misterius itu kini berada dihadapan mereka dan mampu berdiri diatas awan dengan mudahnya.


“Kalau kau ingin menyelamatkan dia, hindari bertarung dengannya. Seperti sebuah kayu yang berubah menjadi arang, ia mengalami proses pembakaran sebelum menjadi arang sempurna. Jika kau tambahkan lagi api kepada kayu tersebut maka proses perubahannya akan semakin terlihat. Jadi pikirkan agar kayu itu tidak berubah menjadi arang, tentukan hal terbaik untuknya kau adalah penawar untuknya. ”


“Siapa kau sebenarnya?”


“Kau tidak perlu tahu aku siapa, perhatikan saja apa yang aku ucapkan tadi.”


“Sebenarnya kau berpihak pada siapa?”


“Aku tidak berpihak pada siapapun. Aku hanya menyukai cara yang aku sukai saja.”


“Bicaramu aneh sekali.”


Axcel merasa malas meladeni ucapan sosok misterius itu, ia pun menghiraukan perkataannya.


“Kak Axcel biarkan saja, dia hanya membuang-buang waktu kita. Mungkin dia salah satu dari pasukan Redfire yang mencoba menghambat kita.” Ujar Jessy dengan rasa curiga.


“Tapi dipikir-pikir lagi perkataannya barusan ...”


“Jangan percaya dengan omongan orang yang tidak kita kenal! Terobos sajalah!”


Mereka meninggalkan sosok misterius itu dan bergegas menuju ketempat Agra untuk membatalkan proses transformasi chakra.


“Memang jiwa muda yang berprinsip, hahaha ...”


*****



Hoaaaaarrrgghhhh ... (Suara geraman monster Agra)


"Tuan Leviathan sepertinya kita tidak bisa meneruskan proyek ini, terlalu berbahaya jika kita meneruskannya. Pasukan kita banyak yang terluka. Tapi anehnya tidak ada pasukan yang gugur tuan. " - Seigiro Hakku.


"Syukurlah kalau begitu, kita mundur sekarang! Panglima Shin dari Dubes Pertahanan, suruh pasukan untuk mundur dan lari dari tempat ini!" Suruh Leviathan.


"Baik tuan!" - Panglima Shin.


"Semuanya, cepat mundur! Selamatkan diri kalian!" Teriak panglima Shin.


Monster Agra yang dari tadi melihat pasukan Redfire lari terbirit-birit mencoba menghadangnya dengan kepakan sayapnya. Sayap itu sebenarnya adalah sayap mata dewa yang merupakan senjata legendaris para dewa chakra yang kini telah dianugerahkan langsung kepada Agra melalui gabungan kelima chakra dewa. Sekali kepakan setara dengan seratus tebasan pedang chakra, benar-benar terasa hebat untuk senjata level dewa chakra.


Namun kondisi Agra saat ini benar-benar telah liar, didalam dirinya telah tercipta monster hebat yang menakutkan. Nekko yang mencoba menyadarkan Agra gagal, ia kehabisan chakra dan kembali ke wujud asalnya. Melihat kondisi Nekko melemah Agra pun menjadikan Nekko sebagai sasaran empuk untuk serangan selanjutnya.


"Hoaaaarrrgghhh ..." (Suara geraman monster Agra)


Bruakk! Miauw!


Nekko terlempar jauh namun berhasil ditangkap oleh Axcel dari atas awan putih milik Jessy. Untung saja mereka datang tepat pada waktunya.


"Nekko! Bangun!"


"Dia terluka kak Axcel!"

__ADS_1


~Cakaran itu apa berasal darinya?


"Agra sialan! Kenapa dia menyerang Nekko dengan brutal begini?"


"Ini bukan sepenuhnya kesalahan Agra, dia sedang berubah menjadi monster dan ia kehilangan kesadarannya. Seperti waktu itu, dia juga telah berubah menjadi monster mengerikan."


"Jadi ini kedua kalinya dia berubah menjadi monster?"


"Iya, waktu itu aku melihatnya keluar dari kastil White Blue ia kemudian memasuki pemukiman warga dan menghancurkan semua yang ada, saat itu juga terjadi bulan purnama merah. Hingga raja Agruero mengutusku untuk membantu para tetua menutup segelnya."


"Ha? Jadi dia dulu berasal dari kastil White Blue?"


~Aduh keceplosan!


"Sebenarnya Agra itu siapa?"


"Ahh ... Ituu ... Dia adalah anak dari prajurit yang telah gugur dan kebetulan dia hidup sebatang kara, makanya raja Agruero menyuruhnya untuk tinggal dikastil agar dia hidup berkecukupan."


~Astaga aku mengatakan kebohongan lagi, maafkan aku Jessy, setidaknya identitas asli Agra masih aman.


"Lalu sebagai balasannya dia menyerang dan menghancurkan orang yang telah menyelamatkan hidupnya? Lagipula bagaimana seorang pangeran seperti kak Axcel bisa berteman akrab dengan manusia kotor itu?"


"Berhenti mengatakan itu Jessy! Aku tidak suka kau mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas dari mulutmu!"


"Maafkan aku pangeran Axcel!"


"Hah ... itu tidak penting, yang lebih penting lagi bagaimana kita bisa menyelamatkan Agra."


Axcel pun menyerahkan Nekko ke Jessy dan bergegas mendekati Agra untuk menenangkannya.


"Agra! Ini aku Axcel, aku datang untuk menyelamatkanmu."


Hoaaarrgghh ...


"Baiklah aku anggap ini sebagai sapaan!"


Agra mulai menyerangnya lalu mengibaskan kedua sayapnya, Axcel merasa kesulitan menangkis serangan Agra dan akhirnya ia pun melakukan serangan balik, namun serangannya malah membuat Agra semakin mengamuk.


~"Jika Agra terus mengamuk potensi untuk berubah menjadi monster seutuhnya pasti terjadi. Orang itu benar, seperti kayu yang disulutkan oleh api, jika semakin besar apinya maka semakin memungkinkan kayu itu menjadi arang. Hmm ... Itu seperti faktor dari perubahan wujudnya. Jika api adalah faktor untuk merubah kayu menjadi arang, maka aku harus mencari faktor sebenarnya yang membuat Agra berubah menjadi monster itu sendiri."


"Kak Axcel awas!" Teriak Jessy dari kejauhan.


Axcel seketika menghindar dan menjauhi Agra, ia mencoba mendeteksi faktor dari berubahnya Agra. Jessy kemudian menyusul Axcel dan mencoba menawarkan bantuan dengan kemampuan awan putihnya.


"Pangeran Axcel apakah anda ingin mendeteksi keadaan Agra? Awan putihku mampu menembusnya dan mendeteksi kondisi yang ia rasakan saat ini."


"Benarkah?"


"Iya, aku akan mencobanya."


Jessy mengirim awan putih untuk menembus Agra dan mendeteksinya, disitulah Jessy memanfaatkan situasi untuk menghadang Agra supaya tidak melakukan serangan lagi.


"Bagus Jessy, sepertinya awan putih itu mampu menahan gerakanya, tapi jangan sampai membuatnya mengamuk."


"Pangeran Axcel ini benar-benar diluar dugaan kita!"


"Ada apa Jessy?"


"Agra sebenarnya masih dalam kesadarannya, dia juga mencoba menahan dirinya sendiri."


~Sepertinya aku salah menyangka tentang Agra, ternyata dia memikul beban seberat ini sendirian.


"Jika dia tidak terpengaruh oleh emosi dari chakranya dan kesadarannya masih penuh lalu kenapa monster itu bisa muncul dan mengamuk sekuat ini? Jelasnya emosi bukan faktor utamanya. Lalu apa faktor utamanya? ini benar-benar berbeda dari kasus pertamanya dulu."


"Itu karena ayahku menanam energi bulan merah didalam dirinya. Makanya dia bisa berubah sekuat ini."


Pangeran Rival datang sambil menggendong Laurent. Jessy dan Axcel terkejut melihat kemunculannya, mereka kemudian menyiapkan pertahanan untuk menyerang.

__ADS_1


"Tenang saja aku tidak menyerang kalian, lihatlah aku datang kesini dengan tangan kosong kan?" -Rival.


"Mau apa kau?" - Jessy.


"Aku hanya ingin menghentikan proyek gila para tetua klanku saja, lagi pula pasukan klanku telah mundur." - Rival.


"Lalu kenapa kau menemui kami?" - Axcel.


"Pangeran Axcel ya? Haha ... aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu dalam kondisi seperti ini. Tapi aku harus mengatakan hal yang sedikit membuatmu repot nantinya." - Rival.


"Apa maksudmu?" -Axcel.


"Bedebah itu tidak terkena pengaruh dari energi bulan bahkan dia mampu membalikkan prosesnya menjadi energi positif untuknya. Dirinya sekarang sedang membuat benteng pertahanan menggunakan energi positifnya. Itulah mengapa dia mampu menahan dan mengurangi dampak serangan yang dikeluarkan oleh energi bulan merah. Dia tidak bisa mengendalikan monster yang tumbuh didalam dirinya namun dia mampu mengurangi potensi serangannya agar tidak menimbulkan pertumpahan darah. Jadi aku minta kepadamu hentikan monster itu karena kau adalah kunci untuk bedebah itu." -Rival.


"Kenapa kau memberikan informasi itu kepada kami?" -Jessy.


"Haahh ... Intinya aku malas jika harus melawan monster yang menyita waktu ketenanganku." - Rival.


"Eumm ... Dimana aku?" Laurent tersadar dari pingsannya.


"Kenapa kau bangung sekarang? merepotkan saja." -Rival.


"Ah ... Blue! Kumohon selamatkan Blue!" Laurent yang sedang memohon-mohon kepada Axcel membuat Axcel merasa bingung.


"Istrimu kenapa pangeran Rival?" -Axcel.


"Dia bukan istriku!" -Rival.


"Blue? Blue itu bukannya sosok yang disebut-sebut oleh Vendrinna? Apa kau juga mengenal Blue?" tanya Jessy kepada Laurent.


"B–Blue ... A–Agra ... Selamatkan dia!" -Laurent.


"Ha? Apa yang kau katakan?" - Jessy.


~Dia terlihat sangat ketakutan saat melihat Agra berubah menjadi monster, apa dia pernah melihatnya sebelumnya. (Batin Axcel)


"Baiklah kalian tenang saja disini aku akan membereskannya." -Axcel.


"Semuanya! Aku tidak terlambat kan?"


Vendrinna datang bersama sosok misterius yang telah menghadang Axcel dan Jessy sebelumnya.


"Kau? Kenapa orang misterius ini bisa ada disini!" -Jessy.


"Dia yang akan membantu kita nanti." -Vendrinna.


"Hah ... terserah kau saja Vendrinna, syukurlah kau datang tepat waktu, cepat bantu pangeran Axcel untuk menyelamatkan Agra. Awan putih milikku tidak akan kuat lagi menahannya." -Jessy.


"Nekko kenapa Jessy?" - Vendrinna.


"Ini ... Dia terkena serangan oleh Agra." - Jessy.


"Biar kusembuhkan dulu lukanya." - Vendrinna.


Vendrinna mengulurkan tangannya untuk menyembuhkan Nekko. Ia tiba-tiba tersenyum setelah menyembuhkan Nekko.


"Hey bodoh kenapa kau tersenyum?"-Jessy.


"Hemm ... Dasar darling!" ucap Vendrinna lirih.


"Baiklah lukanya sudah sembuh sebentar lagi dia akan sadar." -Vendrinna.


"Ehh ... tidak parah kah?" - Jessy.


"Tidak! Dia yang nakal kepada darling makanya dia melemparnya kearah kalian. lain kali kalau sudah sadar katakan kepadanya untuk jangan ikut campur urusan darling." - Vendrinna.


"Apa maksudmu?" - Jessy.

__ADS_1


"Baiklah Vendrinna dan tuan misterius ayo kita selesaikan ini!" Ajak Axcel.


Mereka bertiga pun pergi untuk melepaskan energi bulan merah dari tubuh Agra.


__ADS_2