The Last Clan Blue

The Last Clan Blue
65. Festival di Balai Kota


__ADS_3

"Laurent! Apa tingkahmu sejak dulu tidak bisa diubah? Jadilah sedikit penurut dan sopan seperti Vendrinna, baru kau boleh tinggal disini!" Agra menggertak.


"Vendrinna! Vendrinna! Selalu saja Vendrinna! Apa di otakmu hanya terpikirkan Vendrinna saja!?"


Laurent merasa marah dan kesal dia pun pergi ke kamarnya tanpa mengucapkan satu kata pun.


"Laurent tunggu!"


Agra mencoba menyusul Laurent karena ia merasa bersalah setelah membentak seorang perempuan.


"Agra!!"


teriak Vendrinna sembari menatap tajam kearah Agra sebagai bentuk rasa cemburu, lalu ia pergi meninggalkan Agra yang sempat kebingungan.


"Agra! Sebenarnya kamu suka dengan siapa sih? kalau kau mencoba mempermainkan perasaan Vendrinna sebaiknya jangan memberi harapan palsu!"


Setelah memarahi Agra jessy ikut pergi menyusul Vendrinna.


"Astaga ... Dasar wanita!" Agra menggerutu.


"Hahaha ... tuan muda sekarang sudah tumbuh menjadi pria idaman para wanita." Ejek paman Samuel.


"Agra, lebih baik kau menjaga hubungan baik dengan mereka. Mereka bisa menjadi senjata kita dimasa depan!" ucap Axcel.


"Semudah itu kau bilang? Kau dulu juga pernah mempunyai banyak wanita kenapa kau tidak membantuku kali ini?" Agra memohon.


"Lakukan saja sendiri." jawab Axcel dengan wajah dingin.


"Entah sejak kapan kau sedikit demi sedikit berubah, dulu kau sangat suka bercanda dengan para gadis tapi sekarang kau malah terlihat *kolot dan berwajah dingin." - Agra.


"Sekarang bukan saatnya untuk bercanda Agra, musuh sudah di depan mata, kita tidak bisa bersantai kali ini." - Axcel.


"Semenjak kau menjadi kakak angkat ku kau memperlakukanku dengan sangat protektif, dingin dan serius. Aku tahu posisi kita sedang berada dalam bahaya tapi setidaknya jangan sampai hal itu membuat kita tertekan. Aku sudah cukup banyak melewati hal yang membuatku tertekan." - Agra.


"Paman Samuel saya ada sesuatu untuk dikerjakan di kastil, bisakah anda mengantar saya kesana?" - Axcel.


"Bisa pangeran Axcel." - Paman Samuel.


"Hey ... Tunggu! beraninya kau cuek padaku!" - Agra.


Axcel langsung meninggalkan Agra sendirian tanpa menggubris apapun yang Agra bicarakan. Sementara itu Vendrinna yang masih marah berjalan menuju dapur untuk melampiaskan amarahnya.


"Vendrinna! kumohon jangan rusak barang apapun yang ada di dapur! harganya sangat mahal jika kita beli disini. butuh uang tabungan satu bulan hanya untuk membeli satu piring saja." - Jessy.


"Siapa yang akan merusak piring didapur?" - Vendrinna.


"Loh bukannya kamu masih marah? biasanya kau merusak apapun yang ada di dapur setiap kali kau marah?" - Jessy.


"Situ nggak ngaca ya?" - Vendrinna.


Tapi setidaknya aku hanya menggunakan panci penggorengan saja, lagi pula benda itu sangat kokoh jika dijadikan bahan pelampiasan amarah." - Jessy.


Tiba-tiba saat menuju ke dapur Vendrinna sempat menghentikan langkahnya dan ia melihat Laurent yang juga berada di dapur.


"Sialan! Kenapa kau disini?" tanya Jessy dengan nada tinggi.


"Makanlah, ngapain lagi?" jawab Laurent dengan wajah sinis.


"Dasar wanita tidak tahu diri! kembali ke klan mu sana! kami tidak menerima orang sepertimu, dasar klan penjajah!"

__ADS_1


Jessy terus mencela Laurent hingga ia marah dan melemparkan pisau kearah Jessy, beruntungnya dengan cepat Vendrinna menghadangnya hingga melesat kearah lain.


"Kau pikir semua anggota Redfire Clan jahat? Kau pikir orang sepertiku tidak pantas untuk hidup? Kau taunya hanya bicara dan menghakimi orang, kau tidak pernah tau apa yang aku lalui selama ini supaya bisa lepas dari mereka." ujar Laurent.


"Maaf aku tidak tertarik dengan kisahmu. Aku lelah, aku ingin makan dan tidur jadi jangan ganggu aku." ucap Vendrinna yang sembari mengambil sebungkus roti dan segelas susu untuk di makan. Lalu dia pergi begitu saja meninggalkan Jessy dan Laurent.


"Hey, kau bilang tidak semua anggota Redfire Clan jahat? Lalu kenapa kau tidak membuktikan kejelasannya kepada kami sampai kami percaya kepadamu? Orang yang perilakunya liar seperti itu apakah pantas disebut sebagai orang baik? Kau bahkan tidak mau tau bagaimana kami mempertaruhkan nyawa demi melindungi klan kami dari jajahan klan Redfire, bahkan ayahku rela mati demi melindungi rakyat dan keluarganya. Kau tidak tahu apa yang kami rasakan! dengan mudahnya kau bicara seakan kau adalah orang yang perlu dikasihani dan dipahami. Ratusan bahkan ribuan nyawa hilang karena perlakuan keji dari klan mu itu!"


Laurent hanya diam tanpa membalas ucapan Jessy yang sedang memojokkannya. Bahkan ia melanjutkan makannya tanpa menghiraukan Jessy. Karena geram melihat Laurent yang terus mencueki Jessy ia pun mengambil makanan milik Laurent dan menyitanya.


"Apa yang kau lakukan sialan! kembalikan makananku!" bentak Laurent.


"Jawab dulu pertanyaanku! Bagaimana aku bisa tahu kalau kau benar-benar ada di pihak kami? Buktikan juga kepada kami kalau kau sudah tidak memiliki koneksi dengan para petinggi Redfire Clan." Jessy mengulang pertanyaan.


"Mau beratus-ratus bahkan ribuan bukti sekalipun jika kalian masih meragukanku dan mencurigaiku semuanya hanyalah sampah! lagipula kau dulu mengatakan kepada kami saat bersembunyi dari monster bahwa kami tidak sejahat itu. Jika aku jahat aku sudah pasti akan membunuh kalian sebelumnya." (read chp.50)


"Kapan aku mengatakannya?"


"Dasar! Hanya orang bodoh yang memakan ucapannya sendiri."


Laurent menatap mata Jessy lalu pergi begitu saja, terlihat Jessy terpaku dengan keadaannya saat ini. Jawaban Laurent membuat Jessy berpikir keras.


******


Waktu terus berlalu hingga tak terasa negeri Shin sudah menunjukkan langit senjanya yang indah. Dirumah persembunyian itu terlihat 6 orang yang terdiri dari 3 pria dan 3 wanita sedang mempersiapkan pakaian mereka untuk pergi ke acara festival di balai kota negeri Shin.


Festival itu dilakukan setiap tahunnya sebagai bentuk persembahan terhadap leluhur negeri Shin dan juga leluhur klan Loneblast. Acara akan diawali dengan tarian khas dari negeri Shin dan beberapa acara seni teater lainnya.


Para penonton juga disiapkan tempat khusus untuk melihat pertunjukan teater di panggung besar dalam jarak dekat. Beruntungnya Agra dan lainnya mendapatkan kursi paling depan sehingga mereka mudah dan lebih jelas untuk melihat pertunjukan seni teaternya.


"Apa kalian masih marah?" –Agra.


"Tidak!" jawab Vendrinna dan Laurent secara bersamaan.


"Diam!!!" mereka menjawab Agra secara bersamaan lagi.


Agra pun terdiam seribu bahasa sembari menonton pertunjukan teater.


"Sudah lama aku tidak melihat teater seperti ini. Kak Axcel apakah pernah menonton pertunjukan seperti ini sebelumnya?" tanya Jessy yang saat itu duduk bersebelahan dengan Axcel.


"Pernah." jawab Axcel.


"Dimana kakak menonton?" tanya Jessy.


"Saat aku masih berada di perguruan. Biasanya teater seperti ini diadakan saat akhir tahun atau pergantian tahun." jelas Axcel.


"Oh begitu ya?" Jessy mengangguk.


"Paman Sam apa kau merasakannya?" bisik Axcel.


"Belum." jawab Paman Samuel dengan nada lirih.


"Baiklah kalau begitu, kemungkinan pasukan mereka juga ada disini untuk penertiban rakyat dan mengawasi para pemberontak jadi kita harus hati-hati." ujar Axcel.


"Benar tuan. Untung saja kita memakai baju penyamaran jadi kita tidak terlihat mencolok dengan gaya pakaian kita." ucap Samuel.


"Kalian semua! kalian harus waspada! terutama kau Agra." ucap Axcel ke Agra dan lainnya.


"Aku lagi ..." - Agra.

__ADS_1


"Siap kak." - Vendrinna dan Jessy.


"Laurent kalau kau ingin kami mempercayaimu sekarang adalah saatnya untuk membuktikannya dengan ikut andil dalam menjaga keselamatan kelompok kita." - Axcel.


"Siap." - Laurent.


Festival tersebut berjalan dengan lancar tanpa hambatan apapun, bahkan acara seni teater masih berlangsung dengan khidmat. Waktu terus berjalan hingga acara tersebut masuk ke dalam inti acara dimana mereka para penari dan pemain teater mulai membawakan beberapa persembahan untuk para leluhur mereka. Tanpa disangka-sangka penduduk negeri Shin rupanya juga menyiapkan satu persembahan untuk seluruh anggota klan Blue yang telah tewas beberapa tahun belakangan ini.


"Persembahan terakhir ini akan kita berikan kepada seluruh anggota klan Blue yang tewas dalam peperangan demi jalan kebenaran dan marilah kita berdoa untuk keselamatan dunia ini dari kejahatan dan wujudkanlah perdamaian yang tiada tara." Ucap seorang pemimpin persembahan.


Agra melihatnya merasa tersentuh bahkan ingin menitikkan air mata, dia tidak menyangka akan ada klan yang masih mengingat klan Blue bahkan di era seperti ini. Begitu banyak orang yang sudah mementingkan dirinya sendiri tanpa peduli dengan orang lain.


"Hentikan kegiatan kalian!"


Tak terduga munculah gerombolan prajurit Redfire Clan dari belakang penonton dan mereka mulai memporak porandakan isi panggung dan mengacaukan acara tersebut. Para penonton pun menjadi ketakutan bahkan persembahan pun hancur karena ulah prajurit Redfire Clan.


"Siapa yang mengijinkan kalian mengadakan acara persembahan untuk klan Blue!? Seharusnya kalian membuat persembahan ini untuk klan Redfire!!!"


Kyaaaa ...


Lari ...


Ayoo Lari ...


Teriakan para penduduk negeri Shin telah disaksikan oleh Agra, teriakan yang berupa ketakutan mulai menyelimuti balai kota. Dengan sekejap balai kota itu menjadi hancur karena pasukan Redfire klan. Mereka mengeluarkan chakranya untuk mengendalikan api dan menyerang serta membakar tempat itu.


"Agra, ayo kita pergi!"


Vendrinna menghampiri Agra dan menggeret tangannya untuk bergegas pergi dari sini.


"Tidak." Agra menolak.


"Apa? Kenapa?"


"Vendrinna aku harus menolong mereka."


"Tapi jika kau menolong mereka kau akan celaka!"


"Tapi–"


"Agra!" Axcel datang untuk menyela pembicaraan Agra.


"Kak aku harus–"


"Tidak ada waktu lagi, ayo kita harus pergi!" Axcel kembali menyela.


Tanpa banyak bicara Agra melepas tangan Vendrinna dan pergi menyelamatkan penduduk di balai kota. Ia tidak menghiraukan apa yang Axcel katakan.


Agra berlari menuju ruangan tersembunyi lalu dia diam-diam menggunakan chakranya untuk mengusir para prajurit tersebut, chakra Agra mulai menyebar ke seluruh penjuru kota dan menyerang para prajurit yang sedang memporak porandakan seluruh kota.


"Hanya ini satu-satu nya cara agar aku bisa menyerang tanpa menunjukkan siapa aku sebenarnya. Untung saja dulu ayah sempat mengajariku metode ini untuk melakukan pertarungan jarak jauh. Jika aku menghubungkan chakra ketitik tempat yang telah aku jangkau maka aku bisa mengirim dan mengendalikan chakra ku dengan mudah tanpa hambatan apapun." ucap Agra.


Para prajurit pun menjadi ketakutan karena ia diserang tanpa tahu siapa yang menyerang.


"Sial! Siapa yang menyerang kita? Apa jangan-jangan leluhur mereka yang menyerang kita?" - Prajurit 1.


"Mana mungkin?" Prajurit 2.


"Bisa jadi mereka mengamuk karena telah menghancurkan tempat sakral mereka kan?" Prajurit 1.

__ADS_1


"Lebih baik kita mundur saja! Tarik pasukan kita sekarang! Ayo mundur!" Prajurit 2.


Prajurit Redfire clan mundur secara tiba-tiba dan mereka melarikan diri setelah diserang oleh chakra dari Agra.


__ADS_2