
(30 menit sebelum kejadian)
Sraakk...
Sraakk...
"Siapa disana!?"
Saat itu Axcel mencoba mendekati sumber suara. Namun tak lama kemudian seorang wanita dibalik semak muncul menghampiri Axcel.
"Selamat siang master sword, lama tak berjumpa ya?"
"Kau!?"
"Masih ingat denganku?"
"Laurent Maxime!" Axcel dengan tampang sinis.
"Bagus! kupikir kau lupa denganku."
"Mana bisa aku melupakan saudara seperguruan sekaligus rival bertarungku."
"Hahahaha ... itu sudah lama terjadi, kita sekarang sudah lulus dan kau sudah mendapatkan gelar itu kan? kenapa tatapanmu masih sama tajamnya seperti dulu." Jawab Laurent dengan santai.
"Jangan banyak basa-basi! aku yakin tujuanmu datang kesini bukan untuk mengobrol denganku kan?" Selidik Axcel.
"Kau benar, aku kesini untuk mencari seseorang."
"Mengingat bahwa kau adalah bagian dari klan Redfire juga, aku yakin kau pasti mengincar dia kan?"
"Benar lagi! jauh-jauh hari aku memantau kekasihku melalui chip yang dipasang ditelapak tangannya, setiap hari dan setiap saat aku mendengar suaranya, itu membuatku tidak puas. Jadi aku memutuskan untuk bertemu dengannya secara langsung, tapi tenang saja aku sendirian tanpa pasukan kok."
"Huufh ... Sudah kuduga. Tapi aku tidak mengijinkanmu untuk menyentuhnya!"
"Kau tidak punya hak untuk melarangku!"
"Hmm ... aku jadi mengingat sebuah cerita dimana ada seorang gadis remaja masuk diperguruan besar yang terkenal sulit untuk menerima murid baru itu. Namun hanya dengan beberapa kantong uang dia bisa masuk menjadi nona besar dperguruan itu. Apapun yang diinginkannya harus dia dapatkan. Terutama laki-laki yang sudah menjadi targetnya. Dia tidak segan-segan mengancam dan memaksa laki-laki untuk dijadikan kekasihnya."
"Cerita yang bagus tapi aku tidak punya waktu lagi untuk mendengar cerita kunomu itu."
plok ... plok ...
Laurent menepuk tangannya dua kali dan disaat itulah kemunculan monster besar buatan laurent menyerang Axcel secara mendadak.
Rooaaarrr ...
"Kupersembahkan monster batu raksasa yang baru kubuat khusus untuk sang master sword." Laurent dengan ekspresi sombongnya.
"Sialan kau Laurent! kau bilang tidak membawa pasukanmu!"
"Sepertinya kau telah salah paham, aku memang tidak membawa pasukan dari Rival bodoh itu tapi aku telah membawa sistem penjagaan yang kubuat sendiri untuk mempercepat rencanaku."
"Kau!"
"Serang dia! jangan sampai dia merusak rencanaku!" Perintah Laurent.
Roooaarrr ...
Axcel diserang bertubi-tubi oleh monster itu dan dia tidak punya peluang untuk menyelamatkan Agra. Kini dia terpaksa untuk fokus menghadapi monster tersebut.
Sementara itu Laurent berjalan menuju kearah Agra yang sedang terhubung masuk kedimensi roh. Ia mendekat dan menatap wajah Agra dengan penuh kerinduan.
"Hai sayang! Pertama kali kulihat dirimu dihutan ini aku sempat tidak mengenalimu lho. Dasar nakal! kau tidak mau memberi kabar kepadaku ya, apa kau lupa denganku?"
Laurent membopong Agra dengan jurus teleportasinya, secara cepat dia bisa berpindah ketempat lain tanpa mengeluarkan tenaga yang cukup besar.
Disisi lain Axcel masih bertarung melawan monster itu. Serangan-serangan yang dilontarkan Axcel tidak mempan melawannya.
"Gawat! monster itu tidak bisa dikalahkan semudah itu. Terpaksa aku mengeluarkan pedang Axceleton."
Axcel mengeluarkan pedangnya untuk menangkis serangan yang datang, seluruh tenaganya dan chakra pedangnya ia gunakan untuk melumpuhkan monster besar itu. Namun ditengah pertarungan ia kehabisan tenaga, dan ia harus mundur untuk memikirkan cara lain lagi.
~Hmm ... Aneh, ini benar-benar aneh.
Axcel merasakan keganjalan setelah bertarung melawan monster batu. Ia pun menganalisis potensi dan kemampuan monster tersebut.
~Lebih baik aku analisis kemampuannya terlebih dahulu, barangkali aku bisa mencari cara lain untuk mengalahkannya.
__ADS_1
Roaaarrhhh ...
Wushh ...
Axcel melompat dengan lincah kearah samping kanan, monster batu raksasa pun terus menyerang Axcel tanpa memberinya celah sedikitpun.
~Makhluk itu benar-benar kuat, sebelum aku diserang terus menerus aku harus segera menganalisis kemampuannya.
Axcel akhirnya berhasil menganalisis kemampuan monster batu raksasa itu dan hasilnya sangatlah mengejutkan. Monster batu tersebut memiliki spesifikasi sebagai Monster Penyerap Chakra.
"Hmm ... Rupanya kau adalah monster dengan spesifikasi menyerap chakra lawan ya, pantas saja aku cepat kelelahan dan kehabisan energiku."
Setelah mengetahui kemampuan monster tersebut Axcel memasang tingkat kehati-hatian yang ekstra untuk menghadapinya, ia menekan titik chakra didalam tubuhnya agar tidak keluar sedangkan pedang anadalannya ia simpan kembali ketempat yang aman menggunakan teleportasi pemindah objek.
~Saatnya permainan otak dimulai.
Axcel merekncanakan sesuatu untuk menyerang monster tersebut dengan trik otaknya.
"Hei monster aneh, jika aku tidak bisa mengeluarkan chakraku maka aku terpaksa mengandalkan otakku untuk menyerangmu. Bersiaplah untuk menerima kehancuranmu."
Rrrrooaaarr ...
Monster itu menyerangnya kembali.
"Kak Axcel!"
Tiba-tiba suara sosok gadis dari kejauhan pun terdengar sayup-sayup, Axcel yang mendengar namanya dipanggil langsung bergegas mencari sumber suara.
Jauh dari arena pertempuran terlihat Vendrinna menunggangi punggung Nekko yang sedang berubah wujud menjadi harimau api, mereka bergerak menuju kearah Axcel yang sedang berduel dengan monster batu raksasa itu.
"Bagaimana kau tahu aku ada disini?"
"Nekko yang memberitahuku."
"Oh jadi kau membuntutiku bersama Agra ya?"
"Jangan salahkan Nekko! Nanti kita bicarakan dirumah saja tentang masalah ini." Sambil menatap sinis.
"Ahaha ... I–iya."
~Perempuan itu kalau marah mengerikan juga ya.
"Dia dibawa Laurent."
"Apa!"
"Aku tahu aku bukan kakak yang baik. Jadi sekarang pergilah kearah selatan untuk menyusul mereka, selamatkan Agra biar aku yang menghadapi monster itu. Laurent tadi pergi tidak jauh dari sini."
"Monster itu, bukankah monster penyerap chakra?"
"Iya ini sangat sulit kuhadapi jadi pergilah untuk menyelamatkan Agra! biar ku yang mengatasi ini."
"Kak Axcel, mendekatlah!"
"Apa?"
Vendrinna pun membisikkan sesuatu ketelinga Axcel, setelah itu Vendrinna bersama Nekko pergi mencari Agra kearah selatan sesuai dengan yang ditunjukkan Axcel.
Berkat indra penciuman Nekko yang tajam ia mampu melacak keberadaan Agra dengan baik. Ditengah-tengah hutan terdapat bangunan kecil yang masih terlihat bagus, meskipun pondasinya agak tua bangunan itu membuat Vendrinna menaruh kecurigaan besar.
"Hmm ... Nekko apakah kau yakin mereka ada disini?"
"Miauww ..." (Iya)
"Aku juga merasakan hal yang sama."
Huuuwaaaaa!!!!
"Nekko apa kau mendengar suara teriakan itu! seperti suara Agra, sumber suara itu ada didalam bangunan itu!" Vendrinna seketika panik.
"Meonnggg ... ghrrrrrrrggghhh ..." (Iya, bahaya!)
"Ayo maju!"
Vendrinna memutuskan untuk mengecek situasi didalam bangunan itu, mereka mendekati bangunan tua tersebut dan mencoba memastikan siapa yang ada didalamnya.
"Laurent dan Agra berduaan? wanita itu juga memanggil Agra dengan sebutan sayang ya?"
Vendrinna juga turut serta menguping pembicaraan mereka dari balik pintu. Kali ini Vendrinna sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi, dia pun mendobrak pintu itu hingga roboh.
__ADS_1
Bruakkk ... (Suara dobrakan pintu).
"Dimana kau sembunyikan Agra dasar perempuan genit!!" Vendrinna dengan emosinya yang belum reda.
"Oh ... Ternyata kau nona Mighton." - Laurent.
"Vendrinna!? Apa itu kau?" - Agra.
Vendrinna sempat terdiam sementara setelah melihat kejadian yang baru saja dia lewatkan.
~Apa-apaan ini? baju Agra terbuka, matanya juga ditutup dengan kain? jangan-jangan wanita itu telah ...
"Kau? apa yang kaulakukan dengannya?" Selidik Vendrinna.
"Tenang saja aku hanya ingin memberi perhatian lebih kepadanya, itu saja."
"Bohong!"
"Hmm ... dilihat dari sisi wajahmu, apakah kau cemburu aku berdekatan dengan Agra?"
"Apa maksudmu? aku kesini untuk membebaskannya." Sambil berjalan ketempat Agra.
"Agra! Aku akan membebaskanmu!" Vendrinna pun membuka kain panjang yang menutup matanya, dan melepaskan ikatan pada tangan dan kaki Agra.
"Terima ka–"
Plakkkk ...
"Kenapa kau menamparku?" Agra seketika bingung.
"Kita jelaskan ini dirumah!" Vendrinna menatap Agra dengan sangat dingin.
"Ayo!" dengan tergesa-gesa Vendrinna menggeret tangan Agra keluar dari bangunan tua itu.
"Tunggu dulu! Kau bawa dia kemana?" Laurent datang menghadang Vendrinna.
Agra masih merasa bingung dengan dua gadis yang sedang beradu mulut itu. Pasalnya dia tidak pernah mendapatkan tamparan dari Vendrinna tanpa sebab.
~Rasanya disini aku bukan menjadi orang yang terselamatkan, namun justru aku menjadi orang yang diperebutkan. Sungguh hati wanita sulit dimengerti dengan logika.
"Agra! Ayo pulang sekarang!" Perintah Vendrinna.
"Ah ... I–iya." Agra yang masih setengah sadar dengan situasi barusan mencoba berpikir keras.
"Tunggu dulu!" Sambil memegang tangan Agra.
"Sayang apa kau lupa dengan janjimu dulu?" Ekspresi Laurent yang berubah sedih.
"Ha? Janji?" Agra semakin bingung.
~Sebenarnya apasih yang terjadi disini?
"Apa kau tidak mengingatnya?" Tanya Laurent.
"Ingat Apa?" Agra kembali bertanya.
"Sudahlah! mungkin kau salah orang!" Vendrinna memotong pembicaraan Agra dan Laurent.
"Benar yang dikatakan Vendrinna, mungkin kau salah orang jadi kumohon lepaskan aku!" Agra menyanggah dengan tegas.
"Tidak! Aku tidak salah orang! kaulah orang yang kucari."
"Maaf tapi aku tidak punya hubungan denganmu." Jawab Agra sambil melepaskan tangan Laurent.
Agra, Vendrinna dan Nekko keluar dari bangunan itu meninggalkan Laurent yang sedang sendirian. Satu tetesan air mata jatuh dipelupuk Laurent, hingga membuat dirinya merasa tidak bersemangat.
"Mana mungkin ... Mana mungkin kau semudah itu melupakanku! Blue, apakah kau lupa dengan kenangan kita? Kau kembali muncul dihadapanku dengan nama Aslimu, itu sudah membuatku sakit. Biasanya kau muncul dihadapanku membawa nama khususmu untuk kupanggil dengan rasa harmonis. Tapi kenapa sekarang kau melihatku seperti orang asing? Hiks ... Hiks ..."
Laurent tiba-tiba kehilangan kesadaranya, ia pingsan didalam bangunan tua itu.
Matahari pun mulai tenggelam, sinarnya meredup mengiringi kesedihan gadis itu. Selama 1 menit ia pingsan, terdengarlah suara langkahan kaki dari luar bangunan menuju kedalam bangunan tua itu.
"Lapor dari Regu 1 ke Regu 3! kami menemukan tuan putri dibangunan tua ditengah hutan Vedernight. Tuan putri Laurent saat ini dalam kondisi pingsan! Cepat panggil tim medis sekarang!"
"Laporan diterima dari Regu 1 untuk Regu 3! kami akan meluncur sekarang!"
"Tuan putri bertahanlah! Kami akan menolongmu!"
BERSAMBUNG
__ADS_1