
Suara aliran air sungai Hollow Vender terus berkemercik, semuanya terlihat begitu indah saat malam hari. Dihiasi kunang-kunang yang bertebaran di udara membuat susana malam menjadi meriah.
Namun ditengah malam yang tenang disungai Hollow Vender, muncullah tiga sosok bertopeng di hadapan Agra dan Vendrinna.
"Kalian dikepung! Menyerahlah!"
Mereka mengacungkan senjata masing-masing kearah Agra dan Vendrinna.
"Agra, siapa mereka?"
"Aku juga tidak tahu. Sebaiknya kita menepi."
"Baiklah!"
Mereka terus mendayung ketepian namun pergerakan musuh begitu cepat hingga akhirnya menyerang perahu mereka. Sampai pada akhirnya terjadilah pertarungan antara Agra dan tiga sosok bertopeng itu.
"Aku ulangi lagi, serahkan gadis itu kepada kami atau kau akan mati disini!"
Sosok bertopeng itu memberikan peringatan kedua kepada Agra, namun Agra tidak menggubris peringatan mereka. Ia malah menggendong Vendrinna untuk melompat ketepian sungai.
"Vendrinna orang ini sangat bahaya! mereka saat ini mengincarmu. Lebih baik kau pergi dan lari dari sini, biar aku yang menghadangnya."
"Tidak! kau yang harus berhati-hati kau masih belum–"
"Aku baik-baik saja! Musuh ini kekuatannya adalah sihir ilusi, kau tidak akan kuat menahan serangan sihir itu!"
"Sihir ilusi? Apakah mereka dari anggota Redfire Clan?"
"Sepertinya iya, tapi yang aku takutkan jika mereka adalah anggota organisasi itu. Aku tidak mau kau kenapa-napa."
"Tidak! aku akan tetap bersamamu disini, kita lawan mereka bersama-sama."
Musuh bergerak lagi dan serangannya kini lebih dahsyat dari serangan awal. Sebuah elakan dilakukan oleh Agra dan kini ia menemukan titik untuk menyerang balik, dia mencoba melumpuhkan lawan dari belakang dengan satu pukulan dititik punggung belakang lawan.
Itu bertujuan agar membuat lawan pingsan dan kesempatan untuk lari sangat banyak. Namun dua musuh dibelakang Agra masih mencoba menghalau mereka untuk kabur dari tempat itu. Kali ini mereka membawa pedang bermata dua untuk melawan Agra dan Vendrinna.
"Licik sekali, lawannya bertarung dengan tangan kosong tapi mereka malah menggunakan senjata."
"Biar aku imbangi saja dengan pedang Archers-ku."
Kini giliran Vendrinna yang maju melawan musuh, dengan pedang archersnya ia melawan tiga bertopeng secara lihai.
~Berhubung Vendrinna masih bisa bertahan, aku akan memusatkan chakra pengendali untuk mengeluarkan jurus rahasia yang diajarkan ayah padaku.
Agra bergegas untuk duduk bersila ia mencoba untuk fokus menyerap energi dari bulan. Sementara itu Vendrinna terus melawan musuh dengan sangat gesit. Pedang yang dibawanya pun bercahaya dengan sangat terang.
~Chakra pedang ini sudah terkumpul. Lebih baik aku serang mereka sekarang.
Hiaaattt ...
Vendrinna menyerang dengan sangat dahsyat, namun serangannya mampu ditahan oleh mereka.
"Apa? Bagaimana bisa kalian mampu menahan pedang ini."
"Hahaha ... Kau sekarang telah masuk kedalam sihir ilusi kami."
Vendrinna terkejut mendengar penjelasan ketiga sosok bertopeng itu, pasalnya ia tidak merasakan adanya serangan ilusi dan semuanya terlihat seperti aslinya.
~Apakah aku benar-benar masuk dalam ilusi itu?
Cklekk ...
Salah satu diantara ketiga sosok bertopeng itu menjentikkan jarinya. Vendrinna kini tersadar dari ilusi itu namun lebih mengejutkannya lagi yaitu orang yang dia serang adalah Agra. Sejak tadi dia lah yang menahan serangan pedang Archers milik Vendrinna hingga tangan kanannya berdarah akibat mata pedang itu.
"Agra! Ba–bagaimana ini bisa terjadi! Perasaan tadi aku menyerang mereka, bukannya dirimu."
Agra hanya diam dengan tangan kanannya yang masih menahan mata pedang.
"Tubuhku sulit bergerak, rasanya aku telah dikendalikan."
"Kami sangat ahli dibidang penggabungan ilusi dan pengendali objek, jadi kekuatan kami untuk mengendalikan seseorang sangatlah mudah berkat jurus ilusi yang tertanam pada target kami."
"Aku tidak peduli dengan ocehanmu, lepaskan aku sekarang juga!"
"Ahahahaha ... Hey! gadis yang pemberani, sebelum kami membawamu pergi, berpesta darahlah dengan kekasihmu itu."
Salah satu dari mereka kini mengayunkan tangan kearah Vendrinna seakan ia sedang membawa pedang dan tangan Vendrinna pun secara sepontan ikut bergerak dengan sendirinya.
"Agra, mereka ingin menghabisimu dengan memperalat tubuhku."
__ADS_1
"Tidak! Jika aku lari kau juga harus lari, aku sudah berjanji untuk menjagamu maka dari itu janji adalah janji, maka aku akan berusaha sekuat tenaga untuk melindungimu."
Senyum Agra merekah dihadapan gadis itu, Vendrinna memejamkan mata karena ia tak kuasa menahan tangannya agar tidak bergerak menyerang Agra.
"Inilah yang disebut sebagai tangisan darah, melihat sepasang kekasih yang saling membunuh, hahaha ..."
Tangan Vendrinna bergerak sendiri kearah Agra, mereka telah mengendalikan Vendrinna sepenuhnya. Pedang yang dibawa Vendrinna akan menjadi wadah untuk darah Agra.
"Hahaha ... rasakan ini!"
Sosok bertopeng itu mengayunkan kembali tangannya dan lagi-lagi tangan Vendrinna ikut bergerak, ia menebaskan pedang archers tepat kearah samping kiri Agra.
"Agra maaf!" Teriak Vendrinna sambil menutup mata.
Sriinggg ...
"Huh!?"
Vendrinna tiba-tiba merasakan keanehan ia kemudian memberanikan diri untuk membuka mata, saat ia membuka matanya Agra sudah tidak ada didepan. Dalam sekejap Agra menghilang dari pandangan.
"Hilang? Ba-bagaimana mungkin!" Dua dari tiga sosok bertopeng itu terkejut.
"Tingkatkan kewaspadaan." Perintah salah satu sosok bertopeng itu.
"Kalian! Benar-benar membuatku muak!"
Suara Agra tiba-tiba muncul dari belakang, mereka hanya bisa terkejut melihat kecepatan Agra saat berteleportasi.
"Terutama untuk kau Rival Frederick, aku tahu itu adalah kau. Buka topengmu sekarang!" Sambung Agra.
"Ahahaha ... Aku hampir meremehkan kecerdasanmu, rupanya kau sudah tahu sejak awal."
Rival membuka topengnya dan menunjukkan dirinya dihadapan Agra.
"Aku tidak akan membiarkanmu bertindak semena-mena lagi! Sudah cukup aku berdiam diri selama ini."
Agra kemudian memejamkan matanya, perubahan aneh pun muncul pada dirinya saat ia mendongakkan kepalanya keatas. Rambutnya kembali berwarna putih namun tidak sepenuhnya berubah, mata kirinya juga berubah dari hitam kecoklatan menjadi biru dan sebelah kanannya berubah menjadi putih. Leher sebelah kanannya pun muncul tanda hitam berbentuk bulan.
...(Ilustrasi aja, jangan dianggap serius ya man teman °_° Males draw di apps soalnya, next! )...
"Kau menantangku ya, baiklah tapi lawan dulu kekasihmu ini."
Rival menggerakkan tubuh Vendrinna untuk menyerang Agra, Vendrinna kini bergegas lari menyerang Agra dengan pedang Archers-nya. Agra hanya bisa mengelak dan menahan serangannya.
"Agra, serang saja aku! Jangan pikirkan apapun!"
"Baiklah kalau begitu maumu."
"Apa!"
Agra berlari menyerang balik Vendrinna, Vendrinna hanya pasrah diserang oleh orang yang dicintainya.
~Akankan dia benar-benar menyerangku? Setelah perubahan aneh dari dirinya apakah dia akan kehilangan hatinya?
Agra sudah mendekat dan Vendrinna lagi-lagi bergerak dengan sendirinya mata pedangnya disiapkan untuk menyambut darah anggota klan Blue itu.
Sraaatttsss ....
Suara gesekan kaki Agra berbunyi begitu keras, Agra seketika berhenti tepat dihadapan Vendrinna. Ia menatap wajah gadis itu secara tiba-tiba.
"Ke–kenapa kau ti–tidak menyerangku!" Tanya Vendrinna dengan perasaan takutnya.
"Tatap mata kananku!"
"Untuk apa?"
"Tatap saja!"
Vendrinna menatap mata kanannya yang berwarna putih keabu-abuan itu. Ia pun merasakan pusing, tangan dan kakinya gemetar, ia seakan-akan kehilangan energinya setelah menatap mata Agra. Vendrinna pun pingsan dan Agra kini bertarung dengan Rival beserta anak buahnya.
"Hey kau rupanya mampu melepaskan jurus ilusiku ya?"
"Diam kau! Majulah dengan tangan kosong kalau kau berani! Jangan menjadi pengecut yang selalu bersembunyi dibalik pedang."
Agra menyerang Rival dengan sangat gesit, setelah menyerap chakra dan energi dari bulan ia merasa begitu mudah untuk mengeluarkan kemampuannya. Ia kini bertarung duel dengan Rival.
Satu pukulan menghantam Rival dengan sangat dahsyat, dan Rival juga tak mau kalah dengan Agra. Dia menyerang balik Agra dengan kekuatan yang dimilikinya.
"Fire Circle (Cincin Api)"
__ADS_1
Sebuah lingkaran merah muncul dari bawah tanah tepat dimana Agra berdiri, lingkaran itu berbentuk cincin dengan kobaran api disisi lingkaran itu.
~Kenapa dia tetap tenang? Dia juga terlihat biasa saja, tidak ada efek apapun dari yang ia rasakan. Biasanya orang yang terkena jurus ini akan merasa kepanasan dan lama-lama chakranya terserap oleh lingkaran itu.
"Kenapa kau terlihat santai? jelas-jelas kematianmu sudah dekat."
"Kau tahu kenapa wujudku berubah seperti ini? itulah jawaban atas pertanyaanmu."
"Jurus apa yang kau gunakan itu?"
"Rahasia."
"Terserah apa katamu! jika kau tidak bisa mati dengan cara ini lebih baik aku menggunakan cara lain saja."
Hiattt ...
Rival membuat bola api dari tangannya dan ia membuat bola api itu dengan ukuran yang sangat besar dari biasanya. Hantaman dari Rival pun datang namun dengan mudahnya Agra melenyapkan serangannya dengan mengendalikan debit air sungai yang sedang meluap keatas. Air itulah yang mampu memadamkan serangan Rival hingga ia basah kuyup.
"Air ini naik karena aku mampu mengendalikannya, energi bulan sangat berpengaruh untuk tekanan suhu dan air di alam semesta ini. Jadi sebesar apapun kau membakar dunia dan alam semesta ini, selama masih ada chakra bulan aku bisa menghentikan itu semua."
"Diam kau bedebah!"
Lima bola api pun turut dibuat oleh Rival dan semuanya dilontarkan kearah Agra namun dengan cara yang sama Agra memadamkan serangan itu hanya dengan gelombang air.
"Masih kurang! Rasakan ini!"
"Tunggu! tidak perlu melakukan serangan yang besar untuk menangkapku! Aku sendiri yang akan menyerahkan diriku."
"Apa maksudmu?"
"Aku menyerah."
Pertarungan itu cukup memakan waktu yang sangat lama, namun setelah Agra menyerahkan dirinya semua menjadi lebih mudah untuk mencapai sebuah diskusi baru. Saat itu juga Agra mencoba memikirkan sebuah rencana untuk menyelamatkan teman-temannya beserta seluruh dunia dari kehancuran.
********
Lima belas menit kemudian Vendrinna mulai tersadar, pandangannya terlihat gelap ia merasa sangat takut hingga seluruh tubuhnya terus bergemetaran. Sesaat ia merasa ada tangan lain yang menyentuh tangannya yang gemetar itu, dengan pandangan yang masih kabur ia tidak bisa melihat apapun namun ia masih bisa merasakan sosok yang ada didepannya sekarang bahkan memeluknya dengan rasa hangat.
~Perasaan ini ...
"Apakah kau Agra?"
"Vendrinna, tetaplah seperti ini!"
Pandangannya mulai jelas dan gadis itu akhirnya bisa melihat tubuh orang yang ia cintai memeluknya dengan rasa aman.
"Huh? Agra ada apa sebenarnya?"
"Jurus ini benar-benar menguras tenagaku ya, tapi aku harus bicara sesuatu kepadamu."
"Apa yang ingin kau katakan."
"Entah mengapa akhir-akhir ini aku sangat ingin melindungimu, tapi aku tidak bisa menjamin apapun juga untuk membawamu selamat dari tempat ini. Jadi aku membuatmu pingsan sementara untuk bisa berdiskusi dengan mereka dan aku memutuskan untuk ikut dengan mereka, aku ingin membicarakan sesuatu dengan Raja Leviathan."
"Lalu bagaimana denganku!"
"Kau pulanglah mereka tidak akan mengganggumu lagi."
"Tidak! hiks ... hiks ... kau sudah berjanji denganku kan?" Vendrinna tiba-tiba menangis.
"Aku akan kembali!"
"Aku tidak percaya! jangan pergi! jangan tinggalkan aku lagi, hiks ... hiks ..."
"Percayalah denganku Vendrinna." Sembari menepuk kedua bahu Vendrinna.
"Tapi ..."
"Sssstt ... lebih baik kau lari dan katakan ini kepada kak Axcel, gunakan kertas mantra ini untuk berkendara jika kau ingin menyusulku." Bisik Agra.
"Apa maksudmu?"
"Sebuah jalur ganda." Senyuman licik Agra muncul kembali.
Vendrinna mulai paham dengan maksud Agra, ia pun bergegas lari menjauhi sungai Hollow Vender dan mengambil kuda yang masih terikat dipohon. Saat ia ingin menaiki kuda itu ia melihat beberapa pasukan Redfire klan berbondong-bondong datang menangkap Agra.
"Agra bertahanlah aku akan menyusulmu."
Vendrinna memegang kertas mantra itu dengan sangat erat dan pergi meninggalkan negeri Lavender.
#BERSAMBUNG
__ADS_1