
Pagi ini aku bersiap untuk bersekolah seperti biasanya aku mengelang dua rambutku dan memakai kacamata non minusku.
"Non, makan dulu" ujar bibi dari arah dapur
"Iya bi, Pak Parman mana kok nggak kelihatan sih?" ucapku duduk di meja makan dan menaruh tas dikursi meja makan.
"Pak Parman pulang kampung tadi malam non, soalnya anaknya sakit" ujar bi Ani membawakan segelas susu
"Tapi kok nggak bilang sama saya?" ujarku
"Sebenarnya tadi malam mau minta izin sama non Katlyn tapi nob Katlyn udah tertidur pulas, jadi pak Parman memutuskan untuk langsung pergi, tapi Pak Parman menitipkan surat ini buat non" ujar bi Ani memberikan surat yang ada di kantong clemeknya
"Yah, kasihan pak Parman dong bi, ya udah nanti biar Katlyn transfer aja deh uang buat anaknya" ucapku sambil mengoles slai coklat
"Non tumben seneng pagi ini terlihat sangat senang" ucap bi Ani
"Ya elah bi jangan sotoy jadi orang, bi Ani sini dong jangan di dapur mulu, sini makan bareng Siti" ucapku
"Hehehe, non sekarang banyak perubahannya" ujar bi Ani duduk di depanku
"Tapi nggak berubah seperti power rengeskan??" sahutku dengan senyuman hangat
"Hahaha non bisa aja" ujar bi Ani yang memakan roti panggang buatannya
"Em bi, Siti berangkat sekolah dulu ya" ucapku mrnggendpng tas rangsekku yang ada di kursi.
"Iya, hati hati" sahut bi Ani
" Siap Komandan" sahutku kembali dan mencium tangan bi Ani sebelum meniggalkan rumah
Dalam perjalanan aku menggayuh sepedaku dengan penuh semangat tak lupa aku juga menghafalkan dan memahami rumus rumus yang kemarin di ajarkan oleh Ditto. Aku merasa senang bisa berkenalan dengan Ditto seorang anak kaya raya yang tidak sombong seperti yang lain.
Pyur....
Genangan air yang ada di sampingku tersiram ke arah bajuku. Tapi aku bukan yang menginjak gennagan air itu tapi seseorang yang memakai mobil sport yang barusan lewat, dasar nggak tau diri. Aku berhenti di tepian jalan dan melihat bajuku yang penuh noda dari genangan air itu. Ku lihat mobil itu berhenti dan keluarlah sosok seorang pria yang sepertinya tidak asing lagi bagiku. Yahh dia Brayn Nata Negara cowok songong yang nggak tau diri ternyata.
"Ohh ternyata si Cupu yang kena, ya baguslah" ujar Kak Baryn dengan songong.
"Ternyata kamu yang barusan buat baju aku kotor penuh noda seperti ini?" sahutku tak ingin kalah
"Iya gue, kenapa nggak suka?" sahut Kak Brayn dengan sikap ke angkuhannya
"Suka, gue suka banget tau nggak, makasih" sahutku dengan senyuman kekesewaan.
Karna ku rasa gak mau berdebat lama lama dengan Kak Brayn, maka aku memutuskan untuk pergi dan mulai menggayuh sepedaku dengan baju kotorku. Dan sesampainya di sekolah ternyata gerbang di sekolah sudah tertutup rapat saat aku mulai melihat jam dinding yang terpasang di deoan sekilah menunjukkan tepat pukul 07.00 WIB.
"Yah, pak bukain Siti dong plis" ujarku kepada satpam yang menjaga gerbang
__ADS_1
"Pak ayolah pak bukak" ucapku memohon
"Kamu lihat, ini jam berapa?" ujar pak Satpam penjaga gerbang
Tit tit...
Suara klakson mobil dari arah belakangku
"Pak Siti bernagkat dan Siti berniat buat sekolah, ayolah pak buka gerbangnhnya" rengekku
"Pak Siti sekolah buat cari ilmu dan Siti juga berpamitan kepada orang tua Siti untuk ke sekolah masa sih Siti nggak boleh masuk?" rengekku sambil menangis
"Dek, kamukan tau ini jam berapa?" ucap pak Satpam
"Ya kan Siti baru satu kali ini pak, Siti janji Siti nggak akan ngulangi lagi" rengekku sambil memohon
"Eh, sih Cupu telat" ujar Kak Brayn yang tiba tiba berada di sampingku
"Pak ayolah pak, kalo Siti pulang Siti harus bilang apa kepada kedua orang tua Siti yang bersusah payah banting tulang buat sekolahin Siti" rengekku sesudah melirik keberadaan kak Baryn
"Pu lu ngapain nangis? Orang cuman telat aja lu harus nangis" ujar kak Brayn.
"Ini semua gara-gara kamu tau nggak, coba aja tadi kamu nggak menyiram bajuku dengan genangan air itu" teriakku kepada kak Brayn
"Ya udah gue minta maaf, hapus air mata lu, gue itu paling nggak tega kalo lihat cewek menangis" ucap Kak Brayn yang tiba tiba baik
"Usstt, Pu gue nggak tega ngelihat lu nangis seperti ini" ucap Kak Brayn yang menatap mataku dengan jarak yang dekat
"Eh kalian jangan berbuat mesum di depan sekolah" teriak pak Satpam dari arah dalam yang membuat tangan Kak Brayn menjauh dari wajahku
Kali ini entah kenapa mulutku terasa terkunci dan bodohnya aku hanya bisa terdiam tanoa merespon perbuatannya kak Brayn.
"Sorry" ujar kak Brayn
"Apa apaan sih kak, aku juga bisa ngehapus air mataku sendiri" ucapku kepada kak Brayn yang sontak membuatku menghapus air mataku dengan tanganku sendiri dan membuat kak Brayn tersenyum melihat tingkah lucuku
"Pu, lu lucu banget tau nggak kalo lagi nangis" ujar kak Brayn dengan menanhan tawanya
"Pak, bukain gerbangnya" rengekku
"Lu mau masuk?" ujar kak Brayn dengan halus
"Iya aku mau masuk emang kamu bisa buat aku masuk?" ujarku
"Jelaslah seorang Brayn Nata Negara bisa melakukan hal apapun" ujar kak Brayn
"Minggir, Satpam sini" ucap kak Brayn yang menyuruhku untuk minggir dari depan gerbang dan memberi dia jalan untuk berbicara dengan pak Satpam
__ADS_1
"Lu mau uang nggak?" ujar kak Brayn pelan kepada pak Satpam
"Maulah kebetulan saya lagi butuh" ucap Pak Satpam
"Nih" sahut kak Brayn yang kemudian membuka dompetnya dan menberikan uang sebanyak 200 ribu kepada Pak Satpam.
"Oke siap" ucap pak Satpam, kemudian membuka pintu gerbanngya
"Tuh ,lu bisa masuk ke kelaskan" ujar kam Brayn kepadaku
"Tapikan kak, itu namanya menyuap" sahutku
"Ya suka suka gue lah, penting lu bisa masuk, dan satu lagi lu juga jangan nangis mulu" sahut kak Brayn yang mulai mengejekku
"Biarin penting nggak songong sepertimu" ucapku
"Wehh, mending gue lah daripada melo seperti lu" ucap kam Brayn yang kemudian masuk mobil dan masuk menuju dalam sekolah.
Aku memarkirkan sepedaku teoat di samping mobil kak Brayn seperti dulu. Namun aku rasa kak Brayn kali ini lagi kesambet sesuatu deh, soalnya dia tiba tiba baik sama aku. Padahalkan biasanya kalo ketemu aja kayam tom and jerry.
"Awas ya kalo mobil gue kecet lagi dan lu nangis seperti tadi" ujar kak Brayn keluar dari mobilnya
"Biarin, biar nggak songong lagi" sahutku yang menjagang sepedaku
Aku berjalan melewati hol, dan koridor dalam kelas bersama Kak Brayn. Dan entah kenapa semha mata yang melihat kejadian pagi ini memasang ke arah aku dan kak Brayn.
"Kak, kakak mending duluan aja" ucapku yang berada dj smaping kak Brayn
"Loh kenapa? " sahut kak Brayn yang berjalan dengan santainya
"Lihat siswa siswa yang lain, mereka melihatku dengan penuh keanehan" sahutku
"Ya biarin, emang gue pikirin" sahut kembali kak Brayn
Aku kemudian mempercepat langkahku agara aku tidak berjalan sejajar dengan kak Brayn lagi.
Aku sangat bahagia
Karna kamu telah memberikan senyummu kali ini untuku
Meskipun kamu orangnya nyebelin, tapi aku suka
Jangan lupa vote..vote..dan vote..
Komen dan aspirasinya juga..
Love you😘
__ADS_1