The Perfect Cupu

The Perfect Cupu
Part 53


__ADS_3

Sebenarnya kenapa dulu aku harus menjadi Siti, kenapa juga aku harus mencintai kak Brayn? Ahhh... Kalo dipikir pikir bikin jijik juga. Tapi mau gimana lagi waktu sudah berlalu. Dan kali ini aku benar benar ingin membuka kisah baru. Tentang aku dan siapapun yang masih abu - abu.


"Rayhan" teriakku dalam lobi depan kelas Rayhan


"Eh lyn, lo mau apa? " Jawab Rayhan


"Ray, nanti temenin gua beli buku ya" ucapku menatap mata Rayhan yang lebih tinggi dariku


"Iya"


"Makasih Rayhan, nanti gua jemput dikelas lo aja ya"


"Jangan, biar gua yang jemput lo ke kelas lo"


"Tapikann gua yang minta temenin sama lo, kenapa lo harus ke kelas gua? "


"Lo itu perempuan, ngga pantes nyameperin lawan jenis. Pantesnya lo itu disamperin"


"Iya udah nanti gua tunggu sehabis pulang sekolah ya"


"Iya"


Aku kembali ke kelas. Ternyata jam terakhir adalah jamkos, aku benar benar ngga mood untuk kali ini. Yang lain sibuk ceritain doi, lah aku cuman bisa diem dengerin cerita mereka.


"Lyn hubungan lo sekarang gimana? Terus sama siapa?" ujar Saras


"Apaan sih" ketusku


"Ih Alyn, pasti lagi pms ya.. " ujar Anggi


"Gais ternyata kelas yang lain juga pada jamkos soalnya gurunya pada rapat semua" ucap Arka didepan kelas


"Ahh masa sih Ar, kok si Dino ngga bales chat gua" teriak Saras


"Mana gua tahu, okeee... Gua izin mau ke kelas sebelah mau nemuin Rara dulu ya gaiss" teriak Arka kembali


Oke sekarang mereka disibukkan dengan hpnya sendiri sendiri karena dalam satu gengku udah punya pacar semua kecuali aku. Aku tetep sabar ngehadapi temen temen aku yang bucinnya kuadrat.


"Permisi Alynnya ada? " ujar seorang laki - laki diambang pintu


"Woy lyn, dicariin nih" Teriak Bara


"Males ah" teriakku


"Woy lyn, keluar dulu napa" teriak kembali Bara


"Baraa... Perut gua lagi sakit, udah biarin aja suruh dia pergi bilang aja gua sakit"


"Ya elah Alyn, dia udah denger sendiri kali" sahut Bara menatap aneh kepadaku


"Lo sakit ya lyn? Ya ampun pantesan lo dari tadi diem mulu. Gua kira lo cacingan tapi ternyata lo sskit beneran, sorry" ujar Saras


"Eh lyn, lo ke UKS aja kalo sakit, gua anter deh" ucap wulan


"Gua ngga papa kok, kalian tenang aja" sahutku


Langkah kaki masuk terdengar. Ternyata itu adalah Rayhan. Ia mempercepat langkahnya mengamati bangku demi bangku. Setelah ia menemukan keberadanaku ia berjalan ke arahku.


"Sumpah ganteng banget sih" ujar Saras


"Eh ini gua ngga mimpi ya? Ada pangeran dateng ke kelas ini" ucap Wulan


"Bentar deh, kita sejak kapan punya kakak kelas seganteng ini?" ujar kembali Saras


"Lyn, lo ngga papa? " tanya Rayhan


"Ngga papa, nanti juga sembuh. Lo sendiri ngapain kesini? Kan belum bel pulang? " Ucapku


"Ya ampun Alyn, biarin napa kalo si ganteng kesini" Ujar Anggi


"Ishhh... " decakku


"Kakak dari jurusan apa? Terus apa hubungan kakak sama si Alyn? Kakak sejak kapan sekolah disini? Eh kak nanti pulang bareng yuk. Oiya kakak udah makan? Kenapa sih kakak ganteng banget" ucap Fitri membuatku geli

__ADS_1


Rayhan hanya tersenyum aneh melihat tingkah laku teman temanku. Apalagi si Fitri, Rayhan melihatku menutup kedua telingaku.


"Kalian bisa biasa aja ngga sih? " bentakku


"Alyn, sorry lyn sorry" ujar Fitri


"Habisnya lo punya pacar baru ngga bilang bilang ke kita" Jawab Saras


"Gua bukan pacarnya Alyn, oh iya jagain Alyn bentar yaa.. Gua mau ambil tas sama jaket" ucap Rayhan ke teman temanku.


"Lyn, gua tinggal bentar ya. " ucap Rayhan kembali


Rayhan melangkah keluar dari dalam kelas. Seketika aku langsung disuguhkan dengan beberapa pertanyaan yang ngga masuk akal. Aku tak terlalu mempermasalahkan hal ini. Tapi kewajarannya kelewat batas. Teman temanku bahkan tak memberikan sedikit celah bagiku untuk menjawab semua pertanyaanya.


"Kalian bisa diem ngga sih?" Teriakku.


"Santuy dong Lyn" Sahut Bara yang beridiri diambang pintu


"Bar, nih para permaisuri lo suruh diem!" Ujarku


"Baiklah Ratu" sahut Bara


"Alyn alyn... Lo kok bisa bisanya ngelucu sih" Ucap Wulan


"Ustt.. Para permaisuriku, para pendampingku tolong dijaga ya tutur bicaranya. Nanti nyonya ratu Alyn marah sama aa Bara" ujar Bara


"Bara jijik tau" Teriak Fitri


"Yayang Fitri diem dulu ya sayang" sahut Bara kembali.


Tak cukup lama aku menunggu kehadiran Rayhan kembali kehadapanku. Bahkan saat ini Rayhan sudah terlihat nampak jelas dihadapanku.


"Lyn, perut lo masih sakit? " Tanya Rayhan


"Masih sih, tapi dikit" ujarku


"Lo udah makan? " Tanya Rayhan kembali


"Jadi? "


"Jadi apa Ray? " Tanyaku


"Jadi beli buku? " ujar Rayhan


"Jadi"


Rayhan mengambil tasku. Dan ia merapikan buku bukuku yang berserakan diatas meja. Ia menbawa tasku dan menuntun jalanku. Semua teman teman kelas meneriaki kami. Karena terlihat cukup romantis bagi para bucin bucin dikelas ini.


******


Kami mulai memasuki salah satu toko buku yang ada di kota kami. Rayhan memilih berada dibelakangku.


"Ray sini dong" ucapku


"ngga mau" ujar Rayhan sambil bersikap dingin


"Lo kenapa sih? " tanyaku


Aku memberhentikan langkah berharap bisa sejajar dengan Rayhan. Namun Rayhan memilih untuk memberhentikan langkah juga.


"Rayhan sini" ucapku


"Ngga mauu" sahut Rayhan


"Rayhan marah ya sama Alyn? " tanyaku


"Enggak"


"Terus kenapa ngga mau jalan disebelah Alyn? "


"Ngga papa, sana pilih buku"


Aku memberhentikan langkahku. Melanagkah mundur supaya bisa sejajar dengan Rayhan.

__ADS_1


"Rayhann.. Kalo semisal marah sama Alyn, Alyn minta maaf yang sebesar besarnya yaaa"


Rayhan terlihat dingin untuk saat ini. Ngga seperti biasanya Rayhan memberikan raut muka yang jutek terhadapku.


"Ya udah kalo marah puas puasin aja. Alyn mau pilih buku"


Rayhan terlihat memilih arah lain agar terpisah denganku. Aku bersikap bodo amat dengan sikap acuh Rayhan. Mungkin dia sedang pms, hehee..


Mataku terfokus dengan beberapa buku besar yang bertuliskan "Kumpulan soal - soal UN, Simulasi UTBK, Bedah TPA" Tanganku tergerak untuk mengambil buku Kumpulan UN. Aku tahu mungkin waktuku menghadapi UN masih Satu tahun lagi. Berbeda dengan Rayhan diakan menghadapi UN bulan depan. Aku mencari keberadaan Rayhan. Ternyata ia memilih untuk membaca buku Kimia.


"Rayhan" ujarku


"Apa? "


"Ini buku UN buat Rayhan, nanti Alyn yang bayarin. Rayhan maukann? " ujarku


Sambil menghela nafas berat Rayhan menutup buku kimia dan mengembalikan ke rak buku.


"Gua udah punya Alyn, kalo lo mau beli buku itu buat diri lo sendiri ngga papa. Nanti kita belajar bareng bareng"


"Ya udah Alyn mau beli buku ini. Tapi lo harus janji jangan bersikap dingin ke gua"


"Iyaa, sana bayar"


Beberapa menit kemudian aku dan Rayhan keluar dari toko buku itu. Sembari membawa beberapa buku karena toko tidak menyediakan kantong plastik.


"Tokonya bagus ya Ray"


"Iya emang semha toki harus bersikap seperti itu"


Aku memasuki mobil Rayhan. Dalam perjalanan suasana hening mencekampun terjadi. Rayhan tidak memulai pembeicaraan terlebih dahulu.


"Rayhan, kalo lulus mau lanjut dimana? "


"Entah, gua pinginnya sih di harvard" jawab Rayhan


"Ke luar negeri yaa.. " sahutku


"Iya"


"Kenapa ngga di Indonesia aja? Kan universitas di Indonesia banyak"


"Tapi kalo gua pinginnya di Harvard gimana? "


"Ya udah deh serah lo" sahutku


"Lo takut jauh dari gua? "


"Ngga"


"Yakin? "


"Enggak"


"Bener nih"


"bener enggak"


"Ya udah"


"Ya udah"


"Kalo takut bilang aja"


"Ihhh Rayhan, ngapain takut! "


"Ya udah, gua udah ngisi form beasiswa. Kalo semisal kita pisah lo harus baik baik aja"


"Iya"


Seketika heningpun terjadi. Aku menatap keluar jendela kaca mobil. Rayhan yang fokus menyetir dan aku yang fokus terhadap malam. Terlalu hening jika seperti ini.


Apakah seterusnya akan seperti ini?

__ADS_1


__ADS_2