
Aku memasuki kamar Kak Brayn dan memberikan parcel buah buahan dan didalamnya terdapat sepucuk surat yang telah aku rangkai untuknya.
"Tante, gimana keadaan kak Brayn?" ujarku melihat kondisi kak Brayn yang masih sama
"Brayn belum bisa merespon apa apa, dia masih kritis" uajr Tante Rani menatap wajah Kak Brayn
"Kasihan kak Brayn, oh ya tan ini aku bawain makanan dari rumah" ujarku memberikan kotak makanan ke tante Rani
"Makasih sayang, tante mau makan dikantin aja" ujar Tante Rani memegang kotak makan yang ku berikan
"Iya tan sama sama" sahutku
"Jagain Brayn dulu ya, tante mau ke kantin" ujar Tante Rani sebelum pergi meninggalkanku dan kak Brayn
Dalam diamnya kak Brayn aku duduk dan memandangi wajah kak Brayn yang masih melawan penyakitnya itu. Entah sampai kapan ia harus begini. Tanganku menggenggam erat telapak tangan kak Brayn, dan tak ku sangka air mataku kembali lolos dan jatuh di tangan kak Brayn.
"Kak maafin siti kalo siti punya banyak salah" ujarku dengan gugup
Ku rasa jari jemari kak Brayn bergerak higga aku melihatnya bahwa salah satu jari dari tangan kak Brayn itu benar benar bergerak.
"Siti?" decak kak Brayn
"Kak, kakak sudah sadar" ucapku melihat kak Brayn yang sedikit demi sedikit membuka matanya
"Syukurlah kak Brayn sudah sadar" ujarku dengan sangat senang
"Kamu kenapa nangis?" tanya kak Brayn dengan nada suara yang masih lemah
"Nggak kok Siti nggak nangis" sahutku menghapus bekas air mataku
"Udah jangan boong" sahut kembali kak Brayn
"Emmm, bentar ya kak aku panggilin dokter dulu" ujarku mengalihkan pembicaraan
Aku keluar dari kakar kak Brayn dan mencoba untuk menghapus air mataku yang selama ini sudah lolos beberapa kali dan mencari dokter untuk memeriksa keadaan kak Brayn sekarang ini.
Saat ku telah menemukan dokternya dan akupun memasuki ruangan kak Brayn lagi.
"Alhamdulilah, keadaan pasien sudah mulai membaik dan masa kritisnya sudah lewat" ujar dokter
"Syukurlah" sahutku senang mendengar apa kata dokter
"Ini disebabkan karena dukungan dari orang orang yang dia sayang" ujar dokter yang melihat ke arahku
"Maksut dokter apa" sahutku merasa heran
"Iya sit, lu yang udah ngebikin gue bangkit" sahut kak Brayn yang menbuatku terkejut seketika
"Ohhh jadi ini pacarnya, soalnya dari kemarin slalu nungguin mas terus sampai sampai dia rela tidur di luar kedinginan" sahut dokter yang membuatku malu seketika
"Dokter jangan bercanda deh" ujarku dengan malu
"Baiklah kalo gitu saya keluar dulu" uajr dokter meninggakkan ruangan ini.
"Sit,itu tadi kata dokter bener?" ujar kak Brayn
"Enggak kok" sahutku dengan gugup
"Harapanku sih semoga benar" sahut kak Brayn yang membuatku salting seketika
"Kak, maafin siti ya" ucapku dengan menunduk
"Maaf? Kamu nggak salah apa apa kok" ujar Kak Brayn
"Intinya siti punya banyak salah ke kakak" ujarku kembali
"Siti, lu ada disini aja gue seneng banget karna lu merupakan salah satu orang yang gue sayang" ujar kak Brayn yang membuatku terkejut
__ADS_1
"Kakak yakin sayang sama orang cupu kayal saya?" sahutku tanpa menatap mata kak Bray
"Gue tau lu cupu, tapi entah kenapa gue itu nyaman banget kalo gue bisa deket dengan lu pu" ujar kak Brayn
"Brayn" ujar tante Rani yang tiba tiba datang
"Brayn anak mamah" ujar Tante Rani
Seketika Tante Rani memeluk kak Brayn yang terlihat jelas sekali bahwa tante Rani sangat sangat sekali menyayangi Kak Brayn
"Tante, Kak Brayn Siti pamit pulang dulu ya" ujarku berpamitan pulang
"Iya Sit, ini juga udah malem" ujar Kak Brayn
"Tante Siti pulang dulu ya" ucapku sambil mencium telapak tangan tante Rani berpamitan dengannya
"Kak Brayn cepat sembuh ya" ujarku kepada Kak Brayn sebelum meninggalkan ruangan
*****
Pagi ini aku berangkat sekolah, aku menutup pintu kamarku dan keluar dari kamar. Langkahan kakiku bersemangat ingin segera ke sekolah dan menjenguk kak Brayn yang masih ada di rumah sakit.
Langkahan kakiku terhenti seketika tepat berada diruang tamu aku melihat Reynan sudah berada di ruang tamu dan duduk sambil bermain hanphone secara asiknya.
"Ngapain lu kesini" ketusku
"Yeee, suka suka gue lah" sahut Reynan
"Emm, Pu yok berangkat bareng sama gue" ujar Reynan yang bangkit dari tempat duduknya
"Ogah" sahutku
"Udah ayok" ujar Reynan sambil menarik tanganku dengan cukup kuat
"Emang harus gini banget ya hidupnya Siti setalah udah kenal Reynan" decakku
Sepatah kata dari Reynan tak kujawab. Aku berjalan menuju mobil Reynan dengan sangat penuh terpaksa. Reynan berkali kali membuatku badmood seketika. Namun aku telah tau sifat Reynan dari kecil jadi membuatku badmood seketika adalah hal yang wajar.
"Eh lyn, gimana keadaan Brayn?" ujar Reynan yang membuatku mengingat kembali dengan sosok Brayn
"Au ah" decakku dengan kesal
Aku dan Reynan sampai disekolah tepat pukul 06.45. Seperti kebiasaan Reynan ia slalu membukakan pintu mobilnya untukku.
Aku keluar dari mobil Reynan dengan sangat terpaksa. Ku lihat semua sudut arah mata yang saat ini berada diparkiran menuju ke arahku, bisikan bisikan yang nggak karuan terdengar jelas ditelinga, terutama dari wajah siswi siswi yang sangat kesal melihatku.
"Rey, jalan dulu gih" ujarku sambil melotot
"Kenapa?" sahut Reynan sambil menggam tanganku.
"Rey, tuh liat wajahnya udah pada serem serem" ujarku ke arah Reynan dan mencoba untuk melepaskan genggaman tangan Reynan
Kami melewati koridor demi koridor, disetiap koridornya tatapan sudut mata slalu mengarah ke arah kami, seketika aku malu dengan semua ini rasanya ingin cepat cepat sampai di rumah.
"Udah jangan panas dingin"sapa Reynan yang merasa tubuhku gerogi seketika
" apaan sih" decakku
Aku memasuki kelas dengan tatapan para siswa dan siswi yang tak kalah sama mereka memojokkan matanya dan memfokuskan untuk melihat ke arah kami, termasuk Amel.
"Reynan??" Teriak Amel yang penuh tanda tanya
"Kenapa?" ujar Reynan dengan santainya
"Pu, ngapain sih pegang pegang tangan Reynan?" ketus Amel
"Kenapa? Nggak suka?" sahut Reynan dengan nada menantang
__ADS_1
"Bukan gitu rey" ujar Amel merasa tak ingin Reynan marah dengannya
"Terus gimana? Jelas jelas gue denger dari telinga gue sendiri" ketus Reynan dengan nada yang tinggi
"Rey, udah" sahutku dalam bisikan telinga Reynan yang tak ingin ada kegaduhan di kelas
Aku menduduki bangkuku tepat persis di sebelah Amel. Dan untuk saat ini amel memasang wajah curiga kepadaku, entah apa sebabnya.
Cring.... (Bel istirahat berbunyi)
Seperti biasanya aku keluar dari kelas dan berjalan menuju kamar mandi secara sendirian, langkahku tanpa ragu namun ada seseorang yang membuatku ragu seketika. Yaapp dia adalah Dara, Dara memasang wajah datar ke arahku dan dia menghadang jalanku untuk menuju ke kamar mandi.
"Sendirian aja Pu" ketus Viola sambil memangkukan kedua tangannya
aku tak menjawabnya, dan aku mencoba untuk mencari celah agar bisa ke kamar mandi. Saat kakiku terus membcoba untuk mencari celah, kekanan, kekiri, berulang kali terus ku ulangi namun Dara tetap masih terus menghadangku sampai pada akhirnya Dara mendorong tubuhku hingga terjatuh.
Brukkk...
"Hahahaha" tawa picik Viola melihatku terjatuh
"Jadi orang itu jangan sok kegenitan sama Reynan" Ujar seseorang yang berjalan dari arah belakang Dara
"Amel" ucapku menatap Amel berada didepanku
"Kenapa takut?" sahut Amel
Amel membantuku untuk berdiri sampai aku mencoba untuk berdiri dan untuk kali ini Amel benar benar sudah merencanakan sesuatu diluar pwngetahuanku.
aku berdiri tepat berada didepan Amel, namun seketika Amel mengangkat tangannya dan berusaha ingin menamparku seketika.
Tak kusangka saat tangan Amel berusaha untuk menyentuh pipiku ada tangan penopang agar Amel tidak menyentuh pipiku sedikitpun.
"Reynan" ujarku
"Mel, gue tekanin sekali lagi sama lu jangan sekali kali lu berani menyentuh pacar gue" teriak Reynan dengan nada yang sangat marah
"Pacar?" decakku dalam hati
"Rey, lu buta apa gimana sih? Jelas jelas ada gue yang jauh lebih cantik dari si Cupu ini" ketus Amel
"Cupu?, dia punya nama Mel dan dia bukan Cupu" teriak Reynan yang membuatku terkejut seketika
"Rey, lu habis dipelet dia apaan sih? Sampai sampai lu tunduk pada tuh CUPU?" ucap Viola seketika
"Dia bukan CUPU mel..!!!" Teriak kembali Reynan sampai sampai titik dimana aku tau Reynan begitu marah
"Rey, sadar...!" ketus Viola
"Gue sadar, seharusnya kalian yang sadar karna apa yang kalian lakuin ke Siti ini salah" Jelas kembali Reynan.
Reynan menggandeng tanganku dan mengajakku untuk pergi dari zona ini seketika, sampai Reynan membawaku ke UKS karna kakiku terluka akibat terdorong oleh tangan Dara.
"Lyn, maafin gue karna gue nggak bisa jaga lu sepenuhnya" ujar Reynan yang duduk dibawahku
Reynan menutup lukaku dengan Hansaplast, dengan posisi aku duduk di kuersi UKS dan posisi Reynan berada dibawahku.
Tuhan jagalah dia karna sampai kapanpun hanya dia yang bisa membuatku pulih seperti semula.
Gimana gays ceritanya???
Maaf updatenya agak telat, soalnya Author jadi panitia dari berbagai acara :v
Makasih buat dukungan, Komentarnya, dan Votenya🙏
Budayakan Vote, jangan ngasal baca🙏
Love you readers💕
__ADS_1