The Perfect Cupu

The Perfect Cupu
Part 46


__ADS_3

Pagi ini aku nerasa lega setelah semalaman aku menangis tanpa henti. Hingga membuat bengkak kedua mataku. Aku menatap tubuhku dari sudut kaca.


"Lyn lo pasti bisa" gumamku dalam hati


Aku menyisir rambut agar terlihat rapi. Lagi lagi aku menatap wajahku dengan penuh heran.


"Siti kenapa lo bisa berada di samping Reynan sebelum ia tiada?" ujarku


Tok tok...


"Non, sudah ditunggu Den Raka di ruang makan" ucap bibi


"Iya bi bentar, bilang aja sama Raka gua lagi siap siap" ucapku.


aku memasukkan semua buku buku yang sudah aku persiapkan semalam kedalam tasku. Tak lupa make up dan seperangkatnyapun aku masukan ke dalam tas. Satu persatu anak tangga aku turunin hingga aku menatap sudut mata yang berbinar binar.


"Dara?" Tanyaku dalam keheranan


Tampak wajah raut Kak Raka terlihat jelas bahagia.


"Kak, lo ngapain sih ajak siluman ke rumah kita?" Tanyaku sambil membuang muka dari tatapan Dara yang menyapaku dengan senyuman.


"Hustt.. Sopan dikit sama calon kakak ipar" Jawab kak Raka


Seraya tak mau kalah dengan Kak Raka. Akupun mengambil segelas air dan menyiramkan ke tubuh siluman itu hingga sekujur tubuhnya basah kuyup.


"Jangan harap deh lo buat jadi kakak ipar gua" Ketusku sembari mengambil roti panggang yang sudah disiapkan diatas meja.


"Sabar - sabar" Gumam dara


"Gimana masih kuat jadi calon kakak ipar gua??" Tanyaku sambil tersenyum sinis.


"Astaga Alyn..." Ujar Kak Raka sambil menepuk jidatnya.


"Mwahhhhh, see you kakakku yang paling ganteng seduniaa" ucapku setelah mencium pipi kanan kak Raka dan membawa roti panggang yang masih hangat.


****

__ADS_1


Aku seakan tak menampik sedikitpun perihal keberadaan kak Brayn. Masa lalu sudah kututupi rapat rapat hingga aku bisa mendapatkan sebuah kesimpulan yang mampu merubah pribadiku. Bukan karna Kak Brayn, Namun semua ini sebab karna Reynan ia yang masih tegar menghadapi sikapku dan ia yang masih mau menemaniku sampai saat ini. Andai saja waktu bisa kuputar kembali. Mungkin saja aku tak akan jatuh sampai sesakit ini.


Dalam barisan upacara aku mendapati Brayn sedang berbincang bincang bersama teman teman satu gengnya. Namun kini aku hanya bisa terdiam dan membisu melihat segrombolan orang orang tak berdosa itu tak bisa menghormati sedikitpun keberadaan sang saka.


"Eh Alyn, lo tahu ngga sih geng yang sok sokan tenar disekolah ini?" Tanya Mawar dalam keheningan barisan


"Enggak gua ngga tahu" ucapku


"Lo tenang aja Lyn ntar gua ceritain!" sahut Mawar yang ku jawab dengan anggukan kepala.


Semua siswa dan siswi membubarkan barisan setelah ada intruksi begitupun juga aku dan mawar. Untuk saat ini aku memilih untuk tidak memasuki ruang kelas yang dulu pernah ditempati oleh Siti, sebab aku tak lagi mau mengingat kejadian itu kembali.


"Jadi gini lym ceritanya.. Geng itu tuh geng yang paling wahh disekolah ini. Apalagi tuh ketua gengnya" ucap mawar


"Lo kalo minum es buble tuh jangan sambil ngomong bla bla bla bla.."  ujarku sambil mengisyaratkan seolah olah berbicara


" Ah lo tuh kayak ngga tau gua aja" ujar mawar sambari meneguk es buble yang dibawanya


"Eh itu ada apaan sih lyn? Kok rame banget?" Tanya Mawar sembari berjalan dengan langkah yang semakin cepat.


"Ngga tau juga gua" jawabku


"Lyn sini" ujar Mawar sambil menggeret pergelang tanganku dan mendorong siswa siswa lain untuk memberikanku jalan


"Kenapa sih?"


"Ituu.. Barynn dia lagi marahain junior yang penampilannya seperti kutu buku gitu" Ucap Mawar membuat mataku nelihat secara tepat bagaimana perlakuan kak Brayn memarahi Rara adek kelas yang kemarin mengajakku untuk berteman.


Secara kasar Kak Brayn mengucap kata kata dengan nada yang lebih tinggi. Disudut sisi, Rara hanya terdiam menunduk. Tanpa membantah satu katapun. Mataku geram melihat perlakuan sadis ini.


"Sopan dikit dong sama perempuan!" ucapku membuat alihan mata siswa lainnya menuju ke arahku.


"Lo siapa sok sokan jadi pahlawan kesiangan" ketus Kak Brayn


"Lo yang siapa.! Berani sekali sama perempuan!" jawabku


"Jangan sok sokan jadi orang ya" ucap Kak Brayn berusaha mengambil ancang ancang untuk menamparku

__ADS_1


"Kenapa mau nampar?" tanyaku menghadang tangan kak Brayn yang akan menamparku


Spontan tangan kak Brayn membuang begitu saja tanganku.


"Ngapain sih lo harus ikut ikutan antara urusanku sama si cupu ini?" Tanya kak Brayn


"Hah?? Cupu?? Dia itu Rara bukan Cupu!" Ketusku


"Its okey, Rara! Lo dibayar berapa buat Rara?" Ujar kak Brayn


"Nggak semuanya perlu dibayar! Rara itu temen gua! Dan lo sendiri buat apa harus menghina hina Rara seperti itu? Pantaskah loo?" ketusku


"Gua benci sama cupu!" ucap kak Brayn dengan nada tinggi


"Kenapa lo harus benci Cupu? Padagal dulu lo pernah begitu menyayangi seorang Cupu!" Ketusku


Aku membopong Rara dan membawa Rara pergi dari keramaian ini sebelum bu Mia datang untuk membubarkan masa. Membawa Rara ketempat yang lebih tenang bersama Mawar.


"Ra, lo punya masalah apa sama si Brayn?" Tanya Mawar mengintrogasi


"Rara ngga punya masalah apa apa sama kak Brayn kak. Rara cuman jalan aja dihadapan Kak Brayn udah itu aja" ucap Rara setelah merasa lebih tenang.


"Gua bingung deh sama otak tuh orang. Punya hati ngga sih dia" ujarku


"Udah Lyn. Santai aja, Tuh orang emang gila" jawab Mawar.


"Kak Alyn makasih ya udah baik sama Rara, udah mau nolongin Ara yang cupu ini" ucap Rara.


"Iya santai aja, lo itu temen gua jadi gua harus nolongin lo" ucapku menatap mata Rara yang masih penuh kekhawatiran


"Ra kita anterin lo ke kelas ya" sahut Mawar


"Ngga usah kak, Rara bisa sendiri kok" ujar Rara dengan penuh ragu ragu


"Lo yakin?" tanyaku


"Yakin kak, makasih ya untuk semuanya. Rara masuk kelas dulu" ucap Rara sebelum meninggalkanku dan Mawar.

__ADS_1


Aku tahu mungkin Kak Brayn seperti ini karna ia benar benar membenciku. Saat semua kedok Siti terbongkar sudah. Tak kusangka ia masih terus mengancam keberadaan anak anak Cupu disekolah ini. Padahal saat itu aku benar benar tak ingin masalah ini malah menjadi jadi seperti ini.


Setelah ada perpisahan mengapa harus ada peetemuan yang menyakitkan?.


__ADS_2