The Perfect Cupu

The Perfect Cupu
Part 55


__ADS_3

Rayhan menungguku didepan rumah.  Aku menuruni tangga dengan terburu  - buru.


"Hati - hati nanti kalo jatuh" ujar kak Raka yang sudah menunggu di meja makan.


"Kak, Alyn berangkat dulu ya" Ucapku sambil berpamitan


"Makan dulu"


Aku meraih roti yang ada dimeja makan dan segera pergi.


"See you" teriakku.


Aku keluar dari dalam rumah menemui kak Brayn yang sedang duduk diteras rumah.


"Udah lama? " tanyaku


"Ya kurang lebih 30 menitan"


"Ah masa sih? "


"Nggak percaya? "


"Nggak"


Aku melangkah mendahului Rayhan. Menuju mobil Rayhan yang sudah terparkir di depan rumah.


"Rayhan" ujarku menghentikan langkah persis didepan pintu masuk mobil


"Apa? "


"Tolong bukain pintu buat princes dong"


"Bukak aja sendiri"


"Ihhh Rayhan sombong banget"


"Bukak aja sendiri"


Secara terpaksa akupun membuka pintu mobil Rayhan dengan sendirinya. Dalam perjalanan menuju sekolah suasana heningpun kembali terjadi.


*****


Pelajaran Pak Handoko akhirnya selesai juga. Aku menuju UKS dan membereskan ruang UKS yang terlihat sangat berantakan. Disisi lain aku melihat Rayhan yang sedang sibuk bermain basket di lapangan. Kembali membereskan ruang UKS akupun mengecek beberapa obat yang perlu dibeli karena UKS sudah kehabisan stock.


"Lyn obati dahi gua" ujar seseorang dari arah tubuhku


"Rayhan.. "


Aku membalikkan tubuhku. Melihat Rayhan dengan kondisi dshi yang terluka. Aku mengambil P3k dan beberapa kapas untuknya.


"Kok bisa sampe gitu sih Ray? " tanyaku


"Tadi habis kena bola basket"


Aku mengobati dahi Rayhan. Jarak antaraku dengan Rayhan cukup dekat. Tanganku terlihat agak gugup untuk mengobati dahi Rayhan yang terluka.


"Lain kali hati - hati" ujarku


"Iya"


"Auu.. Perih, pelan pelan Lyn" rengek Rayhan


"Hmmm.. Ini udah pelan Ray"


"Kalo pelan kenapa masih sakit"


"Yaa kalo ngga mau sakit jangan main basket lagi"


"Iya Iyaa"


Setelah mengobati dan memberikan plester ke dahi Rayhan. Akupun kembali memberes bereskan ruang UKS hingga waktu istirahat selesai.


"Lyn, lo mau balik ke kelas kapan? "


"Sekarang"


"Ya udah, ayok bareng aku anter sempe ke kelas"

__ADS_1


"Hmmm.. "


"Perempuan jalan dulu"


"Emang harus ya seperti ini terus Ray? Aku selalu berada didepanmu. Bahkan aku yang selalu menyamakan langkahmu. Ku fikir kamu tahu akan hal ini"


"Ray, aku tahu diantara kita tidaka pernah terjalin apa - apa. Aku tahu mungkin selamanya akan seperti ini. Bahkan bisa jadi sampai kamu mulai menyukaiku"


"Tapi.. Aku tahu kok Ray untuk saat ini kamu belum menyukaiku. Perihal aku adalah seorang gadis buta dan akupun berbeda dengan yang lainnya. "


"Lyn.. Memang harus ya kita berjalan sejajar? Memang harusnya kita bersebelahan? Lyn.. Jika diperbolehkan,  aku ingin satu hari melepas penat. Tanpa apapun dari hidupku"


"Rayhan bilang saja kalo Rayhan lelah sama Alyn? Rayhan capek jalan sama Alyn? Kalo Rayhan capek Rayhan boleh belok ke kelas Rayhan mumpung masih di pertigaan jalan"


"Aku bukan pecundang Lyn.. Aku harus bertanggung jawab atas apa yang pernah Aku ucap"


"Tapi Alyn mempersilahkan Rayhan untuk belok menuju kelas. Tanpa harus lurus bersama Alyn. Jujur Alyn seneng kita bisa berbincang menggunakan bahasa aku dan kamu. Tapi Rayhan udah ngga mau sama Alyn. Alyn harus dihadapkan oleh dua pilihan. Tetap melangkah ke depan. Ataupun berjalan mundur dan mempersilahkan Rayhan untuk mendahului langkah"


"Bukan gitu Lyn"


"Terus apa? Alyn harus menjauh dari Rayhan? "


"Bukan.. Ak..u"


"Udahlah Ray. Alyn juga capek kayak gini mulu. Alyn pergi ke kelas dulu! "


Aku memilih tetap berjalan cepat menuju kelas. Tanpa menoleh ke belakang dan tanpa sedikitpun melihat keberadaan Rayhan.


*****


Aku berjalan menuju arah yang tak ditentukan.  Antara aku dengan Rayhan sudah membeku. Sama - sama dingin dan sama - sama pergi. Akupun memilih untuk datang ke makam Reynan dan bercerita banyak tentang Rayhan.


"Rey, Lo apa kabar? Sejak saat gua bertemu dengan Rayhan gua lupa sama lo. Rayhan adalah seseorang yang begitu baik sekali seperti halnya lo. Rayhan berwajah mirip seperti lo. Bahkan ku kira Rayhan adalah lo. Rey... Tak selamanya Rayhan itu baik seperti halnya lo. Rayhan itu angkuh, dingin, peduli, tapi kepeduliannya tidak mencapai 100%"


"Rey, Gua kangen sama lo. Kenapa sih harus lo yang pergi mendahului gua. Bukan hanya lo. Kak Braynpun juga memilih untuk pergi. Kalian kenapa sama - sama jahat sih. Pergi secara diam diam. Kenapa harus kalian. Padahalkan lo tau gua temenan cuman sama lo Rey. Lo itu segalanya buat gua. Rey jangan pernah pergi lagi ya. Gua ingin bercerita banyak tentang Rayhan. Gua ingin lo tau tentang apapun yang berhubungan dengan gua."


"Reynan. Gua ngga tau jalan arah pikiran Rayhan seperti apa. Kita memang selalu bersama. Tapi kita tak pernah sejajar Ray. Ada jarak yang menjadi bagian dari kisah kita. Berulang kali gua yang mensejajarkan langkah dengannya. Rey.... Gua benci sama Rayhan. Rayhan jahat Rey. Rayhan suka emosional. Aku benci sama dia Rey. "


Disisi lain Rayhan yang datang dimakam menyembunyikan dirinya di belakang pohon yang jaraknya cukup dekat dengan makam Reynan. Rayhan melihat wajahku yang sedang bercengkrama dengan Reynan.


Akupun mulai meninggalkan makam Reynan dengan menaburkan bunga diatas makamnya. Rayhan masih saja menyembunyikan dirinya agar tak terllihat olehku. Aku berjalan menjauh dan pergi dari area pemakaman. Rayhan berjalan menuju makam Reynan sejenak ia menatap nisan yang bertuliskan nama Reynan.


*****


"Kak Rakaaaa...! " Teriakku dari dalam kamar


"Kenapa sih? Berisik! " ucap kak Raka dari ambang pintu


"Pasti kak Raka kan yang udah tanda tanganin semua kontrak dari klaien gua? "


"Lo sendiri lama ngasih keputusan keburu klaien lo kabur"


"Tapikan kak.. Alyn harus meneliti semua proposalnya. Jangan asal main tanda tangan. Nanti kalo perusahaan Alyn bangkrut gimana? "


"Hmmmm... Udah tenang aja. Udah gua teliti semuanya. Lo tinggal ngejalanin sesuai prosedur"


"Yakin udah semua? "


"Iya udah, bawel banget sih jadi orang"


"Kan bawaan dari kakaknya.. "


"Idih gua sama lo itu beda 360°"


"Auk ah, Malesss debat"


Aku kembali masuk ke dalam kamar. Meneliti apakah ia sedang aktif. Dan ternyata dia memang sedang aktif, namun sekali lagi aku tak ingin mengganggu waktunya. Aku memutuskan untuk kembali ke layar awal tanpa harus membaca lagi kalimat yang dulu dulu pernah menjadi pokok pembicaraanku dengan Rayhan.


"Catlyn... " ucap Momy


"Iya masuk aja" teriakku.


"Beby, apa kabar kamu? Kamu sehatkan? "


"Iya mom, Alyn sehat kok. Momy ke Indonesia sendirian? "


"Iya soalnya Dady banyak kerjaan jadi momy kesini sendiri soalnya momy udah kangen sama kamu"

__ADS_1


"Ahhh momy"


Ujarku mememeluk tubuh Momy yang terasa hangat.


"Kamu gimana? Udah dapet pacar? "


Seketika aku merenggangkan pelukan momy. Bibirku seakan terdiam seketika.


"Kenapa? Ada masalah? "


Aku menggeleng - gelengkan kepalaku. Momy mengelus elus rambutku dengan penuh kasih sayang. Mungkin ikatan batin seorsng ibu tidak bisa dibhongi oleh bagaimanapun keadaan.


"Alyn ngga mau jatuh cinta lagi"


"Loh. Kenapa?"


"Alyn cuma dapat dua pilihan antara disakiti atau tersakiti. Sejak dulu sampai sekarang Alyn ngga pernah ngerasain pacaran yang menurut Alyn saling menyayangi"


"Sayang.. Semua itu butuh proses"


"Tapi apakah harus terus terusan proses itu membuat Alyn jatuh? Mom.. Alyn udah cukup pedih. Alyn udah ditinggalkan. Apa yang harus Alyn perjuangin lagi? Jujur untuk saat ini Alyn ngga mau jatuh cinta dulu"


"Terus kamu yakin akan sendiri? Siapa yang akan menemani kamu? Kamu untuk saat ini dalam zona bahaya Alyn.. Momy khawatir sama kamu"


"Momy ngga usah khawatir. Alyn udah besar. Kan ada kak Raka yang nantinya akan ngejagain Alyn. Alyn mau jatuh cinta sama kak Raka aja biar nantinya Alyn ngga tersakiti"


"Lohhh... Kamu ngga boleh gitu. Kamu harus semangat. Mony tau kamu sedang kecewa mungkin. Tapi kamu harus tau roda itu berputar sayang. Kamu jangan nyerah gitu aja. Bukankah dari dulu Momy ngga pernah lihat kamu lemah? "


"Alyn tau mom.. Tapi Alyn lagi tidak ingin jatuh cinta"


"Semua ada ditangan kamu sayang. Momy mau menemui kakak kamu dulu ya. Kamu istirahat saja"


"Iya mom"


Momy keluar dari kamarku. Membiarkanku untuk tertidur lelap.


*****


Dari arah kejauhan sorot mataku tertuju kepada Rayhan. Dia berjalan dengan menggandeng seseorang yang asing bagiku. Tatapanku mulai sinis dan pikiranku mulai negatif. Namun berulang kali aku meyakinkan hati. Bahwa aku bukan seseorang yang sedang di cari. Mereka tertawa lepas.


"Kenapa? " Tanya kak Raka


"Nggak papa, cuman heran aja sama Rayhan. Ternyata tuh orang bisa punya pacar aja"


"Cemburu? "


"Ya enggaklah"


"Ya udah"


"Ahh.. Alyn jadi males, kita ke toko bukunya besok aja ya kak"


"Loh, kan kita udah didepan"


"Alyn males kak"


"Katna Rayhan? "


"Enggak"


"Terus? "


Kakiku melangkah dengan sendirinya. Menuju mobil yang terparkir di depan toko. Dalam mobil aku terdiam sejenak. Menatap arahkaca mobil.


"Rey, gua kangen sama lo" decakku


"Aku benci sama Rayhan. Kenapa dia harus hadir?"


Air mataku kembali lolos. Aku masih menunggu ke hadiran kak Raka yang tak terlihat sama sekali. Kenapa Rayhan bisa begitu akrab dengan perempuan itu?. Aku menatap layar hpku yang mati. Aku mengaca melihat dengan jelas bentuk wajahku seperti apa.


"Rayhan, kenapa gua suka sama lo? "


"Kenapa bisa semudah ini buat gua untuk terjatuh sih Ray? "


Jatuh memang bukanlah hal yang aku inginkan. Bahkan jika harus tersungkur seperti ini. Jatuh oleh mahluk ciptaan Tuhan yang masih aku harapkan.


NB: Redears yang baik adalah reader yang menghargai karya penulis dengan memberikan vote dan komen.

__ADS_1


__ADS_2