The Perfect Cupu

The Perfect Cupu
Part 36


__ADS_3

Reynan menggenggam tanganku dengar sangat kuat dan membawaku pergi dari tempat ini.


"Rey, sakit" rengekku dan berusaha melepaskan genggaman tangan reynan


"Sit, kenapa lu diem waktu lu diinjak injak sama tuh orang" ujar Reynan yang terlihat kecewa dengan sikapku yang seperti ini.


"Gue itu CUPU rey, gue nggak bisa berlaga seperti anak anak yang lain gue cupu" ujarku menatap mata Reynan dengan penuh rasa


aku meninggalkan Reynan seketika aku berlari menjauh dari Reynan. Untuk kali ini aku benar benar ingin sendiri. aku tau sebenarnya Amel itu baik dan tak sejahat yang mereka pikirkan.


Aku memasuki ruang kelas. Tatapan Amel semakin tak mengenakan terhadapku. Dia menatap penuh kebencian untuk kali ini. Aku berfikir bahwa Amel benar benar mencintai Reynan.


"Pu, ngapain lu masuk?" ketus amel ke arahku


"Kan.. Ini kelas saya" ucapku sedikit menunduk


"Kelas kamu?, nggak ada sejarahnya ini kelas si CUPU" ketus Amel kembali


"Mel, lu kenapa sih?" teriak Ditto yang melihat ulah Amel seperti ini


"Dit diem ya" sahut Dara


"Sit, duduk aja" ucap Ditto


Tanpa pikir panjang aku duduk di samping Amel dan Amel ia menggretakku seketika aku mau duduk dibangku sampingnya.


"Gue nggak mau bersebelahan sama orang CUPU kayak lu" ujar Amel membuang kursi yang ada disebelahnya


"Tap..i mel apa salah saya, sampai sampai kamu membenci orang seperti saya?" ucapku tanpa sedikit menatap muka ke arah Amel


"Pikir aja sendiri" ketus Amel seketika


Aku mengambil tasku yang jatuh dari kursi.

__ADS_1


"Mel, berhenti lu sakitin Siti" teriak Reynan


Aku pergi minanggalkan kelas dan memilih pulang kebih awal. Aku menyetop angkot di depan sekolah dan menju ke rumah sakit tempat Kak Brayn di rawat.


Tok tok tok(sapaku memasuki ruangan Kak Brayn)


Aku berjalan melangkahkan kakiku dengan masih memakai seragam sekolah. Dan kali ini aku dikejutkan oleh perubahan tubuh kak Brayn. Rambutnya terpangkas dan dia sekarang sudah botak tanpa ada rambut sehelaipun di kepalanya.


"Kak Brayn?" sapaki terkejut melihat perubahan dari kak Brayn


"Cupu" ujar Kak Brayn menatap ke arahku


"Siti, duduk nak" ucap Tante Rani mempersilahkanku untuk duduk


Aku masih terlihat nganga melihat kak Brayn botak seperti ini. Yang ku bayangin kali ini adalah penyakit kak Brayn yang sudah menyebar kemana-mana.


"Kenapa? Terkejut lihat gua dibotak?" tanya kak Brayn


"Yah begitulah keadaan Brayn" ujar Mamah kak Brayn menatap wajah kak Brayn yang semakin lesu dan pucat


"Jujur siti nggak pernah nyangka kalo penyakit itu sampai menggrogoti tubh kak Brayn seperti ini" ucapku dengan polosnya


"Sebenarnya tante juga mau bilang sama kamu, tapi Brayn yang melarang tante untuk bilang sama kamu" ujar Tante Rani


"Kak, pasti sakit banget ya?" ujarku melihat kak Brayn


"Kalo nggak sakit gue nggak bakal di rumah sakit pu" decak kak Brayn


"Oh iya Siti, Brayn bilang kalo dia akan memutuskan untuk berhenti sekolah" ujar Tante Rani yang membuatku terkejut kembali


"Why? Kenapa harus keluar sekolah" shautku seketika


"Kalo Brayn masih sekolah pasti dia akan merepotkan banyak orang, dia harus pake kursi roda Siti" Terang tante Rani kepadaku

__ADS_1


"Gue juga nggak sehebat dulu lagi Pu, tubuh gue udah lemah, tenan teman gua udah pergi ninggalin gue" sahut Kak Brayn membuatku merasa iba


"Tante, kak Brayn nggak boleh keluar sekolah, Siti yang akan ngurus kak Brayn selama dia ada di sekolah" jelasku sambil meloloskan kembali air mataku


"Siti, tante nggak mau ngerepotin kamu" ujar Tante Rani


"Tan, Siti yakin kak Brayn akan sembuh" ucapku membuat kak Brayn terkesima


"Udah sit udah, gue nggak punya harapan hidup lagi" ketus kaj Brayn


"Kak, nggak ada di dunia ini yang tidak mungkin" sahutku membuat suasana dikmar kak Brayn hening seketika


"Seharusnya kamu nggak perlu seperti ini anak mungil" ujar dokter yang tiba tiba datang


"Umur brayn hanya tinggal beberapa hari sayang, itu juga karna alat yang tenaga nedis pasang ditubuh Brayn" jekas dokter membuat tubuhku melemas seketika


"Tapp..i dok" ujarku cukup ragu


"Bawalah Brayn kemanapun yang kamu mau untuk yang teriahir kali, jadikan momen terakhir itu terkesan bagi Brayn dan kamu" ujar Dokter menatap mataku


Aku keluar dari kamar kak Brayn tanpa pamit aku berlari menuju lorong yang sepi. Aku kembali mencurahkan isi hatiku ditempat itu, saatku dengar umur kak Brayn nggak akan lama lagi, itulah hal yang membuatku ragu akan adanya Tuhan.


Tuhan, ku mohon janganlah ambil dia dariku. Sebagi gantinya cukup ambil aku saja Tuhan


Gimana gays ceritanya?


Maaf banyak typonya🙏


Budayakan vote🙏


Terimakasih sudah menghantarkan author sampai ke titik ini🙏


Love you💕

__ADS_1


__ADS_2