
Haruskah aku untuk memulai kehidupanku yang baru??.
"Siti, bangun sayang" ucap bi Ani dengan lembut sembari menarik tirai jendela dikamarku
"Ahhh" ujarku sambil menarik slimutku ke tubuhku
"Jangan malas sayang" ujar bi Ani
"Ayok siti bangun, udah di tunggu" sahut bi Ani menggeret slimut di tubuhku.
"Siapa sih bi?" ucapku dengan malas
"Mana bibi tau" sahut bi Ani membereskan kamarku
"Udah ayok bangun" ujar bi Ani lagi
"Ishhh, nggak tau apa kalo ini itu weekend" ucapku dengan malas
"Ya Ampun majikan bibi kok malas sih" sahut bi ani
"Siti" Teriak pak Parman dari luar
"Tuhkan, udah cepet bangun terus keluar" sahut bi Ani menngeret tanganku untuk bangun.
"Iya iya" sahutku
Aku mencoba untuk membuka mataku walaupun masih lengket. Aku berjalan dengan lesu menuju ke ruang tamu dengan kondisiku yang habis bangun tidur.
Aku berjal ke ruang tamu sambil mengacak acak rambutku dan masih terus menguap.
"Ya Ampun nih anak" ucap Pak Parman
"Siapa sih dateng pagi pagi apa nggak tau kalo ini itu weekend" sahutku masih ngantuk
"Sorry, Sit kalo kedatangan gue ngegganggu tidur lu" ucap orang itu
Mataku lantas terpejap mendengar sumber suara itu.
"Kak Brayn?" sahutku setelah membuka mataku secara sempurna
"Jcihh baru nyadar?" sahut kak Brayn
"Ya udah Siti, bapak mau berangkat dulu, kamu temenin temen kamu ya" ucap Pak Parman sebelum pergi
"Maaf ya kak" ucapku dengan malu
"Eh sit btw kalo lu nggak pake kacamata terus rambut lu nggak lu kepang lu cantik juga" ucap Kak Brayn
"Ishhh, kak Brayn apa apaan sih Siti jadi malu tau nggak" sahutku eambil merapikan rambutku yang acak
"Kak Brayn kenapa? Nahan tawa? Atau jangan jangan kak Brayn mau ngetawain Siti ya?" sahutku melihat tingkah Kak Brayn yang ingin ke tawa
"Iya, eh maksutku enggak kok" ujar kak Brayn
"Au ah kak Brayn nih bikin Siti kesel aja pagi pagi" ucapku dengan pipi memerah
"Udah gih sana mandi" sahut Kak Brayn
"Tapi kak Brayn kalo Siti tinggal mandi nggak papakan?" ucapku yang masih berdiri
"Lu pikir gue apaan" sahut kak Brayn
"Okey, kalo gitu Siti mandi dulu ya" ucapku pergi meninggalkan kak Brayn
"Sono gih mandi cepat, bauk tau" ujar Kak Brayn melihat tingkah anehku
"Eh kak Brayn beneran nggak papa kalo Siti tinggal mandi?" ujarku kembali lagi ke ruang tamu
"Iya Siti" ucap Kak Brayn
"Okey" sahutku kemudian pergi menuju kamar mandi
2 Jam kemudian...
"Lama banget, lu mandi dimana sih?" ujar Kak Brayn
"Di Kamar Mandi lah" sahutku
"Hmmm, ya iya" sahut Kak Brayn
"Kak bentar ya Siti ambilin minum sama cemilan dulu" ucapku
"Kelamaan, yok pergi" ujar Kak Brayn
"Kemana?" sahutku sambil merapikan kacamataku
"Kemana aja boleh" ujar Kak Brayn
__ADS_1
"Okey," sahutku
Kali ini aku berada satu mobil bersama Kak Brayn. Aku merasa Happy saat itu. Diamana Kak Brayn kali ini yang membuatku tersenyum dan tertawa bersama
"Sit, lu nggak mabok kan?" ucap Kak Brayn
"Ya enggaklah, emang kak Brayn pikir siti nggak pernah naik mobil gitu" sahutku
"Ya bisa jadi" ujar Kak Brayn menatapku
"Kak, kalo lagi nyetir mobil itu lihat ke arah jalan bukan malah ke Siti" ujarku melihat Tatapan mata kak Brayn
"Habisnya lu cantik tau, apalagi kalo lu nggak pake kacamata" ucap Kak Brayn
"Nggak ah" sahutku sambil mengambil novel dalam tas
"Coba aja dulu" sahut Kak Brayn
"Apaan sih kak" sahutku tidak suka
Aku mulai membaca novelku yang berjudul "Dream".
"Menurut Kak Brayn apa yang lebih indah dari mimpi?" ujarku
"Yang lebih indah dari mimpi?" ucap kak Brayn berfikir
Aku mencoba untuk membuka kacamata yang aku gunakan di tubuhku. Dan aku melepaskan kacamata itu.
"Kamu" ucap Kak Brayn menuju kek arahku
"Maksut kak Brayn?"sahutku dengan terkejut
"Menurut aku yang kebih indah dari mimpi adalah kamu" ucap Kak Brayn sambil menatap ke arahku.
"Kenapa aku?" sahutku dengan penasaran
"Kamu percaya?" ujar Kak Brayn
"Percaya" ujarku sambil mengagguk anggukan kepalaku
"Satu kosong, jangan kepedean dulu deh lu" sahut Kak Brayn sambil tertawa
"Seneng?" ucapku sedikit marah
"Sorry" ujar kak Brayn
"Yang lebih indah dari mimpi adalah Hujan" sahut Kak Brayn
"Hah? Kak Brayn yakin?" ucapku dengan terkejut
"Yah gue yakin, kalo lu sendiri" sahut Kak Brayn
"Kalo Siti, Siti suka sama hangatnya senja, karna senja mengahdirkan berbagai warna di kehidupan Siti" sahutku
Di dalam mobil kami terus berbicang dan bercanda. Kak Brayn adalah sosok yang kuat meskipun ia sedang dalam keadaan sakit.
"Loh kak kita kok salon sih?" sahutku saat melihat Kak Brayn memarkirkan mobilnya di salah satu salon termewah
"Udah ikut aja" sahut kak Brayn yang menggandengku masuk ke dalam.
"Permisi mbak" ucap Kak Brayn
"Selamat datang apa yang bisa saya bantu?" ucap pegawai salon
"Saya mau mbak make over pacar saya" ujar Kak Brayn secara spontan
"Baiklah, mari mbak ikut saya" ucap Pegawai salon itu sambil mempersilahkan aku untuk masuk.
2 Jam kemudian
Aku keluar dari kamar salah satu salon tersebut dengan perubahan diriku. Yah lebih tepatnya gue kali ini seperti Catlyn. Aku melangkah dan berjalan menggunakan gaun yang berwarna biru muda, rambut terurai dengan rapi, dan menggunakan high glis.
"Wow, god job, cantik banget lu Sit" ujar Kak Brayn secara spontan.
"Kak Brayn suka?" sahutku
"Suka banget, lu bener bener cantik kalo begini tanpa kacamata dan rambut terurai seperti ini"ujar kak Brayn
"Tapii kak?" sahutku dengan ragu
Dalam hatiku aku merada bahwa kalo aku membiarkan tubuhku seprti ini dan tanpa penyamaran bisa bisa musuhnya bokap bisa ngerencanain kejahatan ke aku. Aku bergegas memasuki mobil Kak Brayn.
"Kak, Siti mah pulang aja ya" sahutku
"Loh kenapa?" ucap Kak Brayn dengan penasaran
"Nggak papa Kak, Siti merasa nggak enak badan aja" ujarku mencari cari alasan
__ADS_1
"Kalo lu sakit kenapa lu nggak bilang sih, ya udah kita pulang sekarang" Sahut Kak Brayn sambil memutar balikkan mobilnya.
Di tengah perjalanan, mobil kak Brayn seperti ada yang mengikuti dari belakang.
"Kak, ada yang ngikutin ya?" ucapku melihat sepion mobil yang mengarah ke belakang
"Iya nih, gue juga nggak tau siapa tuh orang" ucap Kak Brayn
"Kak Siti takut" sahutku
"Lu tenang aja ya" ujar Kak Brayn mencoba untuk emngiburku
Mobil yang mengikuti mobil Kak Brayn mencoba untuk menyelip mobil Kak Brayn. Dan menghadang mobil Kak Brayn.
"Kak, Siti benar benar takut" ujarku melihat posisi yang sekarang
"Lu diem di sini, biar kakak aja yang keluar" ujar kak brayn
Kak Brayn keluar dan yang terjadi tepat di depan mataku adalah kak Brayn mencoba untuk melawan orang orang itu dan kak Brayn di kroyok oleh mereka. Aku yang masih berada di dalam mobil mencoba untuk menguci rapat rapat mobilnya dan menelfon satpam dan Body guardku.
Tubuh kak Brayn jatuh saat Body guard dan satpam dari green house datang seketika. Aku mencoba untuk membawa kak Brayn menuju ke rumah sakit terdekat dan mencoba untuk menelfon Tante Rani selaku mamahnya Kak Brayn
Aku merasa bersalah buat kali ini. Aku bodoh karna aku nggak bisa menjaga kak Brayn dengan baik. Tubuhku cemas melihat keadaan kak Brayn yang sekarang dan teringat akan penyakit yang di hadapi oleh ka Brayn kali ini.
"Siti" ucap Tante Rani yang sudah datang
"Tante, Kak Brayn" sahutku memeluk Tante Rani
"Sudah sayang, jangan nagis ya" ucap Tante Rani memelukku
"Ini salah Siti tante, kenapa Siti nggak bisa ngejagain Kak Brayn" ujarku yang terus menyalahkan diriku sendiri
"Hey jangan nangis atuh, cantih kamu jangan nangis kalo Brayn lihat kamu nangis pasti dia akan sedih" ucap tante Rani
"Tante, kenapa nggak Siti aja yang berada di posisi kak Brayn sekarang" ucapku masih dalam pelukan tante Rani
"Udah ya, hapus air matamu dan jangan salahin diri kamu" sahut Tante Rani yang melepaskan pelukan
Dokter keluar dari ruangan.
"Dok, bagaimana keadaan anak saya?" ujar Tante Rani
"Sebenarnya luka yang di dapatkannya nggak terlalu parah, yang paling parah adalah kanker yang di idap oleh pasien yang mulai menyebar" ucap Dokter tersebut
Air mataku mulai jatuh kembali saat melihat kabar itu
"Apa saya boleh masuk?" sahutku ke dokte itu
"Oh ya silahkan, kebetulan tadi Brayn memanggil manggil nama Siti" ucap Dokter tersebut
Aku memasuki ruangan itu dan melihat tubuh kak Brayn yang tepasang oksigen.
"Kak" sapaku dengan merintihkannair mata
"Siti kamu kenapa nangis?" ujar Kak Brayn yang melemah
"Siti bodoh, siti nggak bisa melindungi Kak Brayn" ujarku
"Siti, lu nggak salah, jangan salahin diri kamu terus" ucap Kak Brayn
Aku masih terus menangis melihat keadaan kak Brayn yang terbari di atas tempat tidur rumah sakit.
"Gue mohon lu jangan nangis" ujar kak Brayn sambil mencoba menggerakan tangannya untuk menghapus air mataku.
Aku mencoba untuk memegang tangan kak Brayn yang mencoba untuk menghapus air mataku.
"Plis gue mohon, gue nggak selamanya bis ngehapus air mata lu" ujar Kak Brayn
Aku masih terdiam melihat keadaan kak Brayn.
Jika kelak kamu akan pergi
Lantas mengapa kali ini kamu ada?
Apa hanya untuk mematahkan hatiku saja?
Atau hanya untuk sekedar menegur sapa?
Hay gays bagaimana ceritanya?
Baper or nggak?
Jangan lupa koment an vote ya
Follow akun author juga...!
Love you..!
__ADS_1