
"Siti, bagaimana keadaan Brayn?" ujar Reynan di ruang tamu
"Masih belum sadar Reyn" ucapku tanpa melihat Reynan
"Nggak ada perkembangan sama sekali?" ucap Reynan
"Enggak Rey, padahal aku selalu berharap pada Tuhan bahwa umurnya akan panjang" Sahutku
"Sabar ya" ujar Reynan mencoba menggengggam tanganku
"Rey, apa gue harus bongkar semua rahasia gue di hadapan kak Brayn?" ucapku dengan serius
"Kalo kamu sudah siap, silahkan" sahut Reynan
"Tapi Rey, aku belum siap untuk di benci kak Brayn apa lagi disaat saat terahir hidup kak Brayn" ujarku
"Itu semua tergantung kamu, daripada kamu menyesal di akhir?" Sahut Reynan
"Baiklah Rey, temani aku untuk menceritakan semua ini pada Kak Brayn karna mungkin aku tidak siap 100% untuk dibencinya" Ucapku memohon pada Reynan
"Yahhh, dengan senang hati" sahut Reynan
Aku masuk ke dalam kamar dan merubah penampilanku dari Siti ke catlyn karna mungkin aku tau ini adalah saat saat terahir kak Brayn ada di dunia ini sebelum ia meninggalkannya.
"Sumpah lo cantik banget Lyn" ucap Reynan yang ternganga melihat penampilanku yang sekarang
"Ahhh, nggak mempan tau nggak pujianmu" ujarku
Cring... (Terlfon handphoneku berbunyi)
Tante Rani ???
"Hallo tante" ucapku
"Siti, Brayn sudah sadar sayang dan dia mencari kamu" ujar Tante Rani dengan nada suara yang cukup terdengar senang
"Iya tante, Siti kesana sekarang" ujarku menutup telfon dan memasuki mobil untuk segera menemui Brayn
******
Aku berjalan cukup tergesa gesa, yang ada dipikiranku untuk kali ini hanyalah kak Brayn dan cukup kak Brayn.
Crekkk.. (Aku memasuki ruangan kak Brayn)
"Kamu siapa?" ujar tante Rani secara heran
"Siti tante" sahutku
"Siti, kamu kok..." ujar tante Rani semakim heran
"Hay, kak Brayn apa kabar?" ujarku menatap mata kak Brayn yang mulai membuka
"Kamu bukan Siti" ketus kak Brayn
Reynan melirik ke arahku dia memberi isyarat kepadaku.
"Saya memang Siti, namun saya sebenarnya bukan Siti saya Catlyn, saya berpura pura menjadi sosok Siti agar saya tidak terus terusan hidup di dalam kekerasan" jelasku
"Selama ini, selama 16 tahun ini saya hidup ketakutan, melihat musuh bisnis keluarga saya yang terus mengincar saya agar menjadi tawanan mereka dan berharap agar keluarga saya bisa menyerahkan bisnisnya" ucapku
"Sejak bayi saya telah hidup di Indonesia, namun karna saat saya berusia 10 tahun saya diculik oleh musuh dari papah saya, itu membuat kedua orang tua saya memutuskan untuk pindah diluar negeri, tapatnya di England" ujarku
"Nggak, kamu bohongkan" teriak Kak Brayn
"Saya tidak bohong, saya memang terlahir dari keluarga Nugroho salah satu pemegang saham terbesar di negara Indonesia" ucapku
"Gue nggak nyangka, lo sebusuk itu" ketus kak Brayn sambil menggelengkan kepalanya
__ADS_1
"Gue benci sama lo, kenapa sih lo harus bohongin diri lo sendiri dan berpura pura jadi Cupu" teriak kak Brayn
"Pergiiii....!!!!!!!!" Teriak kak Brayn membuatku terkejut
Aku menahan air mataku agar tak lolos kembali,
"Kak maaf" ujarku sambil melangkah keluar dari ruangan kak Brayn
*******
Hari ini adalah hari libur sedunia. Hummm cukup menarik sih bagiku.
"Siti kamu mau kemana?" ujar Pak Parman melihat penampilanku yang cukup menarik
"Pak Parman, jangan panggil aku Siti" sahutku
"Iya non Catlyn, mau kemana rapi sekali?" ujar Pak Parman yang sedang asik menyantap kopi diteras rumah
"Joginglah" sahutku sambil lari lari kecil di tempat
"Sama siapa non?" ucap kembali pak Parman membuatku geram
"Sendiri" sahutku
"Pakai BodyGuard ya non" pinta pak Parman menghentikan aktivitasnya seketika
"Ya udah, tapi nanti jaga jarak sama aku ya" sahutku sebelum pergi meninggalkan pak Parman
"Siap" sahut Pak Parman siap 45
Aku lari lari kecil mengelilingi kampung yang cukup membuatku nyaman. Banyak sekali sorotan mata menuju ke arahku, entah karna faktor apa.
"Neng, anak mana?" ujar salah satu ibuk ibuk yang sedang jalan sambil ngerumpi
"Kampung sebelah buk" sahutku sambil melebarkan senyuman
Masih dalam keadaan santai aku tak memikirkan hal apapun, bersenandung dengan suara musik ditelingaku yang terpasang oleh headshet. Aku menyebrangi jalan tanpa melihat arah ke kanan maupun ke kiri. Dan seketika....
Tinnnttt...... (Bruk)
Dunia seakan gelap gulita, aku tak mendengar suara musik lagi dari headshetku, tak ada satupun suara dan pembicaraan pada kali ini.
"Non Catlyn" Teriak salah satu BodyGuard dari arah belakang
******
Ku rasa untuk kali ini aku sudah terbangun namun entah kenapa dunia seakan masih gelap dan seakan mataku masih tertutup.
"Kak Raka??" ujarku meraba keadaan
"Catlyn, syukurlah" sahut Kak Raka
"Kak, lampunya jangan dimatiin" rengekku
"Ini lampunya nyala sayang" sahut Kak Raka sambil memelukku
"Kakak bohong yaa, jelas jelas ini itu gelap" decakku sambil mencoba meraba kembali
"Dear, maafin dady ya" ucap suara yang tak asing ditelingaku
"Dad?" sahutku sambil mencoba mencari keberadaannya
"Dad, udah jangan nangis didepan Catlyn" ucap Kak Raka terdengar jelas ditelingaku
"Kak Raka? Dady kenapa nangis?" sahutku tanpa tau apa apa
"Catlyn, sabar ya sayang" ujar Momy sambil memelukku
__ADS_1
"Mom, kenapa ini gelap? Catlyn benar benar nggak bisa ngelihat apa apa" ujarku meraba mataku dan memastikan apakah sudah benar benar terbuka
"Sayang, kamu harus sabar" sahut kembali Kak Raka
"Ini sebenarnya ada apa sih? Kenapa gelap? Mom, Dad, Kak Raka?" teriakku
"Kamu buta Dear" ujar Dady membuatku meloloskan air mataku
"Enggak, Catly nggak mau butaaa" teriakku tak ingin keadaan dulu terulang lagi
"Maafin Momy" sahut momy sambil memelukku dan mencoba untuk menenangkanku
Dady keluar dari ruanganku, yang ku dengar dady cukup tak kuasa akan kehidupanku yang begitu rumit ini.
"Enggak, Catly nggak mau Mom" bentakku
"Alyn" ujar suara yang tak asing di telingaku
"Reynan?" ujarku mencoba untuk menebak
"Sabar ya, gue akan nemenin lo sampai kapanpun, meskipun keadaan lo seperti saat ini" ujar Reynan menggenggam telapan tanganku
Kali ini aku sudah cukup tenang. Aku mencoba untuk menerima keadaan toh ini bukan yang pertama kalinya aku mengalami kebutaan.
*******
"Reynan, ini udah sampai sekolah yaa?" ujarku
"Udah, kamu udah siap menerima keadaan?" ucap Reynan yang kasih senantiasa herada disampingku untuk memastikan bahwa diriku akan baik baik saja
"Rey, siapa itu? Murid baru?" ujar amel di koridor depan kelas
"Bukan" sahut Reynan yang masih menuntunku perlahan lahan
"Cantik sih tapi sayang dia buta" sindir Amel
"Mel, udah" ketus Reynan
Aku tak begitu jelas mendengar pembicaraan dari mereka. Aku duduk disalah satu bangku yang tak asing bagiku dan Reynan tiba tiba pergi setelah membiarkanku untuk duduk.
"Jadi yang perlu kalian ketahui dia itu bukan murid baru" teriak Reynan didepan kelas
Dan aku masih tak mengerti apa yang sekarang ini Reynan lakukan.
"Maksutnya?" tanya Ditto
"Jadi sebenarnya itu Siti, cewek Cupu yang selama ini dia kenal" teriak Reynan membuat satu kelas tercengang
"Hah Cupu? Tapi kok bisa secantik itu?" sahut Amel
"Panjang ceritanya yang jelas ini Siti, dan yang perlu kalian ketahui lagi jangan panggil ia Siti lagi karna sebenarnya namanya itu Catlyn bukan Siti ataupun Cupu" teriak Reynan kembali
"Dan gue harap lo lo lo semua bisa panggil dia dengan sebutan Catlyn, dan gue minta jangan ganggu Catlyn lagi sebagaimana saat ia menjadi Siti" ujar Reynan
"Rey" teriak Amel dengan mimik wajah yang judes
"Dia kemarin habis kecelakaan, jadi gue mohon kalian dapat memahaminya" sahut Reynan
Jalan terbaik mungkin melupakanmu, dan berusaha membuat hidupku bahagia tanpa keberadaan dirimu yang sebenarnya.
Gimana readers ceritanya??
Jangan lupa vote and koment;)
Budayakan vote yaaa:)
Love you:v
__ADS_1