The Perfect Cupu

The Perfect Cupu
Part 34


__ADS_3

"Siti" teriak amel di depan kelas


Aku ternganga melihat Amel sedang menggandeng seorang pria, ya tepatnya dia adalah Brayn Natanegara. Mataku terpejap seketika seakan mengingat masa masa dimana aku dan Kak Brayn bersama sampai titik dimana aku lelah dengan keadaanku kali ini.


Reynan yang duduk disebelahku hanya menaikkan alisnya saat melihat tingkah dari Amel yang terlihat sama sekali tidak mempunyai sopan santun.


"Kak brayn" bibirku berdecak pelan seketika


"Jadi itu yang namanya Brayn?" ujar Reynan


"Siti" ujar Kak Brayn melihat ke arahku


Aku terdiam tanpa membalas satupun pertanyaan yang aku dengar ditelingaku saling bersaut sautan.


"Semuanya harap tenang" teriak Amel


Aku hanya diam melihat kak Brayn yang wajahnya demakin lesu dan pucat. Entah kemo kemarin gagal atau gimana akupun nggak tau.


"Sit, gue cuman mau nyampein surat ini ke lu" ujar Kak Brayn berjalan ke arahku dan menyerahku sepucuk amplop diatas meja


"Kak Brayn??" ujarku


Brakkk...


Tubuh kak Brayn jatuh dihadapanku seketika, Reynan dia memasang raut wajah yang heran. Reynan membiarkan sekejap keadaan kak Brayn didepannya sampai aku suruh dia untuk membawa kak Brayn ke UKS.


"Kak Brayn" teriakku seketika melihat tubuh kak Brayn yang jatuh dihadapanku kali ini


Suasana kelas menjadi hening seketika.


"Rey, angkat kak Brayn sekarang ke UKS" sahutku dengan khawatir


Reynan dengan sigap membawa kak Brayn ke UKS dan aku emngikuti langkah Reynan dari belakang dengan harap harap keadaan kak Brayn baik baik saja. Seluruh warga SMABhak memperhatikanku, Reynan, Kak Brayn, dan Amel.


Dokter dengan sigap memeriksa keadaan kak Brayn untuk saat ini. Tubuhku semakin gemetar, melihat keadaa kak Brayn yang sangat pucat. Entah apa yang Kak Brayn rasakan sekarang, namun aku slalu berdoa agar dia baik baik saja.


"Dok bagaimana keadaan Brayn?" ujar Amel


"Maaf, Brayn harus butuh penangan khusu di Rumah Sakit dan untuk sekarang ini keadaan Brayn sedang kritis" ujar Dokter UKS


"Apa?" teriakku yang membuat badanku melemas seketika


Reynan dengan sigap menguatkanku dan memegang erat tanganku agar aku tidak terjatuh untuk kali ini.


"Lu yang sabar ya" bisik Reynan dalam telingaku


Air mataku yang tak bisa ku bendung sudah lolos dengan derasnya, kali ini aku memang merasa benar benar bersalah atas sikapku kepada kak Brayn yang seoerti anak kecil.


"Dok, bawa kak Brayn ke Rumah Sakit terdekat sekarang" ujar Reynan sambil menguatkan tubuhku


"Rey, gue mau nelfon tante Rani dulu" bisikku dalam telinga Reynan


******

__ADS_1


Rumah Sakit Graha Medika tempat dimana Kak Brayn sekarang dirawat. Aku terus menenangkanpikiranku sendiri, seperti orang bodoh dan lebih kebih lagi seperti orang gila yang mondar mandir kesana kemari didepan ruang kak Brayn.


"Sit, udah jangan mondar mandir mulu, sini duduk" ujar Reynan


"Iya sit duduk aja kali" Ucap Amel yang tumben bisa respect denganku


"Bagaimana saya bisa terdiam melihat keadaan salah satu orang yang selama ini saya menyayanginya dengan diam bisa terbujur lemah seperti tadi" ucapku sambil menggigit jari jariku tanda akus edang penuh kekhawatiran


"Sit sebenarnya gue mau cerita ke lu" ujar Amel mempersilahkanku untuk duduk dan mendengarkan ceritanya.


Aku duduk ditengah tengah antara Amel dan Reynan.


"Sebenarnya Brayn udah menceritakan hal ini kepadaku lama banget" ujar Amel


"Maksut kamu?" ujarku dengan heran


"Ya seperti yang kamu tau, Kak Brayn juga menyayangi kamu, namun dia takut" ucap Amel menjelaskan


"Takut kenapa?" sahutku


"Dia takut nanti dia akan ninggalin kamu untuk selama lamanya, dan akan membuat kamu terpukul" ujar Amel dengan serius


"Kenapa ia harus takut mel" ujarku kembali meloloskan air mata


Kedua telapak tanganku dipegang erat oleh kedua telapak tangan Amel. Buat kali ini Amel benar benar ada untukku dan aku merasa Amel sudah berubah ternhata dia adalah orang baik dan tidak sebusuk yang aku kira sebelumnya


"Gue tau lu pasti terpukul banget Sit, dan sebenarnya gue juga udah tau kalo Brayn itu mengidap penyakit radang selaput otak" ujar Amel kembali


"Tapi kenapa kamu nggak pernah cerita ke aku?" ujarku semakin heran


"Saya nggak mau kehilangan kak Baryn mel" ujarku memeluk tubuh Amel yang disaksikan oleh Reynan


"Lu sabar ya" ucap Amel kembali


Aku benar benar tau kali ini bahwa kak Brayn juga diam siam menyimpan perasaan ke aku sampai sekarang.


"Siti" teriak tante Rani


"Tante" sahutku sambil memeluk Tante Rani dengan erat


"Tan, Kak Brayn" ujarku yang ekmbali meloloskan air mataku


"Tante tau" ujar tante Rani menguatkanku


"Tan, Siti nggak mau kehilangan Kak Brayn" ujarku dalam pelukan tante Rani


"Brayn nggak akan ninggalin kamu" ujar Tante Rani


Dokyer keluar dari ruang penangannya, ya tepatnya ruangan kak Brayn sekarang ini berada.


"Dok bagaimana keadaan Brayn?" ujar Tante Rani


"Brayn kritis" sahut dokter dengan sangat memasang raut wajah kecewa

__ADS_1


"Tapi kak Brayn masih bisa sembuhkan dok" sahutku sambil dirangkul oleh Tante Rani


"Untuk saat ini, kalian harus perbanyak berdoa agar keadaan pasien bisa pulih seperti semula" ujar dokter


"Apakah saya boleh masuk dok?" ujarku yang ingin melohat keadaan Kak Brayn sekarang


"Silahkan, tapi hanya boleh dua orang saja yang masuk ke ruangan pasien" ujar dokter


Reynan dan amel mempersilahkanku untuk memasuki ruangan Kak Brayn. Tante Rani memegang tanganku dengan erat memnandakan ia tak ingin melihat anak semata wayangnya sedang bertarung dengan maut.


"Sit, tante nggak bisa ngelihat Brayn seperti itu" ujar Tante Rani membuka pintu kamar


"Tante, Brayn butuh tante" ujarku menguatkan tante Rani


Crekkk....


Aku dan tante Rani memasuki ruangan itu dan memberanikan diri agar air mataku tidak lolos kembali. Ku lihat di ranjang kamar tubuh kak Brayn terkapar lemah dan wajah kak Brayn terlihat lesu. Selang oksigen terpasang rapi dihudung kak Brayn dan cairan infus yang terus menetes dan mengalir ke tubuh kak Brayn.


"Kak, maafin siti kalo siti punya salah" ujarku sambil menggenggam telapak tangan kak Brayn yang begitu dingin


"Brayn, sadar sayang mamah nggak mau kamu seperti ini" ujar Tante Rani sambil mengelus elus rambut kak Brayn


"Tante, boleh nggak Siti temenin tante dan Kak Brayn disini?" ujarku memohon dihadapan tante Rani


"Boleh sayang" sahut tante Rani


Aku keluar dari kamar kak Brayn dengan keadaan mata yang sembab


"Sit, gimana keadaan kak Brayn?" ujar Amel


"Tak ada perubahan sama sekali" ucapku dalam lamunan kosong


"Sabar ya Sit" ujar Amek memelukku


Aku mempersilahkan Amel dan Reynan untuk pergi pulang dan aku tetap berada di rumah sakit untuk melihat kondisi Kak Brayn.


"Siti, maafin tante ya udah buat repot kamu" ujar tante Rani yang duduk disampingku


"Tante nggak salah kok" ujarku


Aku duduk tepat didepan ruangan kak Brayn. Pandangkanku terlihat kosong dan mataku terlihat sembab mungkin karna aku terlalu khawatir dengan keadaan Kak Brayn untuk kali ini.


Mungkin untuk kali ini aku harus berjalan agar bisa menjauh dari kenangan manis yang dulu telah dia berikan dalam dalam kediriku


Gimana gays ceritanya?


Maaf ya kalo banyak typo🙏


Maaf juga kalo updatenya lama🙏


Budayakan Vote and follow👍


Tunggu part part berikutnya ya...!

__ADS_1


Love you😘


__ADS_2