
Kali ini aku telah kembali di habitat Siti yaitu di Indonesia aku berjalan dengan penuh semringah melewati gang menuju ke rumah kecilku.
"Morning Pak Parman" ujarku
"Eh, Siti udah pulang aja" sahut Pak Parman
"Hehehe, ya udah pak Siti mau ke masuk dulu" sahutku sebelum masuk ke dalam rumah.
******
Kali ini aku berhasil merebut hati Kak Raka supaya dia tidak akan mengungkit ngungkit masalah kecelakaan itu.
Aku menaiki sepeda tuaku dengan gayuhan yang santai sembari menikmati pemandangan alam ini.
Sesampainya di sekolah aku telah di sambut oleh Ditto dengan senyuman hangatnya.
"Siti, gue kangen banget sama lu" ucap Ditto yang mengikuti langkahku
"Oh ya?" sahutku duduk di kursi biasanya
"Eh Sit, kemarin lu di cariin sama Kak Brayn tau" ucap Ditto dengan serius
"Buat apa?," sahutku sambil membereskan buku buku yang berserakan di mejaku
"Entah, intinya lu itu kayak buronan di cari kesana kemari" ucap Ditto yang berdiri di sampingku
"What buronan?" sahutku dengan terkejut
"Dan lu tau kak Brayn sampai cari cari lu di rumah sakit tapi katanya lu udah di pindahin ke luar negeri" ujar Ditto dengan serius
"Untubglah, karna aku nggak mau bertemu dengan cowok songong kayak Kak Brayn" sahutku
"Ehhh Sit sit sit, lu..." ucap Ina salah satu teman kelas yang terengah engah
"Lu kenapa In?" sahut Ditto yang terkejut
"Ituu... Lu Siti di cari sama Kak Brayn and the gengs" ujar Ina yang terengap engap ketakutan
"Dimana dia?" sahutku
"Di halaman belakang sekolah" ucap Ina
__ADS_1
"Oke, gue temen lu Sit" ucap Ditto
"Nggak perlu kok Dit, aku bisa sendiri" sahutku
"Lu yakin Sit?, geng Kak Brayn nggak main main Sit" ujar Ditto dengan raut wajah khawatir
"Dit, percayalah aku bisa ngadepin sendiri kok karna aku bukan seorang pecundang...!" sahutku menegaskan kembali
Aku berjalan keluar kelas menuju halaman belekang sekolah tanpa rasa takut. Entah apa yang akan di lakukan kak Brayn lagi padaku nanti namun kali ini aku benar benar pasrah.
Aku terus melangkahkan kakiku dengan penuh keraguan mengenai hal ini.
Sesampainya di belakang halaman sekolah aku melihat ada sosok Kak Brayn, Amel, dan segerombolan siswa lain yang mungkin menurutku itu adalah gengnya mereka.
"Kak Brayn panggil aku?" ucapku dengan polos
"Ehhh jangan sok belagu dulu deh lu Pu" ketus Amel
"Maaf" ucapku tanpa basa basi
"Gays enaknya kita apaain yaa, nih Cupu?" teriak Kak Brayn
"Bantai aja" ketus Amel
"No" teriak Kak Brayn dengan nada marah
"Pemikiran kalian itu sampah semua..!" ucap Kak Brayn
"Hah?" melongo satu geng itu
"Brayn lu apa apaan sih? Lu masih mau ngebela dia?" sahut Amel dengan nada tak mengenakan
Amel mendekatkan tubuhnya ke arahku dan mencengkram kedua pipiku dengan tangan kasarnya.
"Eh Cupu, kenapa sih lu harus hadir di kehidupan gue?" ucap amel yang masih menatap tajam mataku
"Say.....ya nggak tau apa apa" ujarku dengan polos
"Belaga sok polos juga nih anak" ucap salah satu dari anggota itu
"Kacamata lu itu nggak guna,...!" ujar Amel sambil merampas dan membuang kacamata yang sedang aku pakai
__ADS_1
"Lu tau nggak sih, kenapa gue marah sama lu..!" ketus Amel dengan tatapan raut wajah yang sinis
"Karna gue nggak suka kalo lu masih dekat dekat dengan Ditto...!" teriak Amel
Kedua tangan amel mendorong tubuhku dengan keras sampai aku terjatuh seketika. Rasanya aku ingin melawan mereka semua namun apalah dayaku yang bermutasi sebagai Siti.
Kak Brayn, ia hanya menatapku dengan tatapan kosong tanpa arti. Secara sengaja ia hanya berdiam diri tanpa melakukan tindakan sesuatu untukku.
"Gays kita tinggalin aja nih Cupu di sini" teriak Amel dan pergi meninggalkan keadaanku
Aku masih terdiam duduk di tanah tanpa alas. Wajahku menunduk tanpa berani menatap ke atas, kenapa sungguh kejam sekali mereka mereka yang tak punya harga diri.
Yang tersisa kali ini hanya ada aku dan Kak Brayn. Aku berusaha untuk tetap bangkit dan menatap ke atas meskipun tubuhku mengadu lemas. Aku tak tau apa yang akan mereka perbuat selanjutnya.
Terlihat ke dua tangan yang mengarah ke tubuhku, menandakan dia akan bersiap untuk menolongku. Aku mencoba untuk berusaha menatap kedua tangan itu yang tak kusangka adalah Ditto dengan Kak Brayn.
Tanpa pikir panjang akupun mengulurkan tanganku ke arah Ditto yang sudah bersiap untuk membantuku. Berbeda dengan Kak Brayn mungkin ia kali ini hanya akan membuat drama baru lagi kepadaku.
Tanpa sedikitpun aku menatap kak Brayn, aku berusaha untuk bangkit dengan uluran tangan dari Ditto
"Sini gue bantu" ucao Ditto
Aku mencoba untuk berdiri, namun kakiku kali ini benar benar sakit. Aku melihat sekejap kakiku yang ternyata terdapat luka yang mengeluarkan darah yang masih segar. Aku ingin terjatuh namun Ditto telah siaga untuk menjagaku. Lagi lagi aku mencoba tapi tak membuahkan hasil.
Kak Brayn, ia menatapku seperti iba. Ia hanya bergerak sesuai gerakanku yang ia tanpa berani untuk menyentuhku sedikitpun
"Dit, sakit" sahutku merengek
Tanpa pikir panjang Ditto langsung membopongku untuk menuju UKS dan meninggalkan keberadaan Kak Brayn. Aku menatap mata Ditto yang penuh ketulusan.
Seberapapun hebatnya seorang yang kamu sayang
Tak akan lebih hebat dari seorang sahabat
Gimana gays ceritanya??
Jangan lupa vote and follow ya
Maaf updatenya lama, soalnya author lagi banyak tugas :v
Tetap tunggu kisah kelanjutannya ya gays
__ADS_1
Love you...